Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Pada hitungan ketiga, kalau begitu. Satu… dua… tiga!”

Peluit bergema nyaring memecah kesunyian udara yang dingin. Penonton meledak dalam tepuk dan sorakan. Tanpa melihat apa yang dilakukan para juara Harry melepas sepatu dan kaus kakinya keluar gumpalan Gillyweed dari dalam sakunya, menjejalkannya ke mulutnya, dan berjalan masuk ke danau.

Airnya dingin sekali, sehingga Harry merasa kulit kakinya terselomot seperti kena api, bukan air dingin.

Jubahnya yang basah kuyup memberatinya ketika dia berjalan ke tempat yang lebih dalam. Sekarang air

sudah mencapai atas lututnya, dan kakinya yang mati rasa terpeleset lumpur dan bebatuan licin. Dia mengunyah Gillyweed, sekeras dan secepat mungkin. Rasanya berlendir dan alot, seperti tentakel gurita.

Ketika air mencapai pinggangnya, dia berhenti, menelan, dan menunggu sesuatu terjadi.

Dia bisa mendengar tawa para penonton dan tahu dia pasti kelihatan tolol, berjalan masuk ke dalam air tanpa menunjukkan kemampuan sihir. Bagian tubuhnya yang masih kering merinding, setengahnya lagi terbenam dalam air sedingin es. Angin kejam mengibarkan rambutnya. Harry mulai gemetar keras. Dia menghindari memandang ke tempat duduk penonton. Tawa mereka semakin keras, dan terdengar

teriakanteriakan mencemooh dari anak-anak Slytherin….

Kemudian, mendadak saja, Harry merasa seakan ada bantal tak kelihatan yang ditekapkan ke mulut dan hidungnya. Dia berusaha bernapas, tetapi kepalanya jadi pusing. Paru-parunya kosong, dan dia mendadak merasa kedua sisi lehernya sakit seperti tertusuk…

Dia menekankan tangan ke sekeliling lehernya dan teraba olehnya dua torehan di bawah telinganya, menganga di udara yang dingin… Dia punya insang.

Tanpa berpikir lagi, dia melakukan satu-satunya hal yang masuk akal dia terjun ke air.

Tegukan pertama air danau yang sedingin es terasa bagaikan napas kehidupan. Kepalanya berhenti berputar. Dia meneguk air lagi dan air itu dengan lancar keluar lagi melewati insangnya, mengirim udara kembali ke otaknya. Dia menjulurkan tangan di depannya dan menatapnya. Kedua tangannya tampak hijau dan pucat di bawah air, dan keduanya berselaput. Dia berputar dan ganti memandang kakinya.

Telapak kaki nya telah memanjang dan jari-jarinya juga berselaput. Rasanya sekarang dia punya sirip.

Air juga tak terasa sedingin es lagi… sebaliknya malah, dia merasa nyaman dan sangat ringan… Harry menjejak Sekali lagi, kagum betapa jauh dan cepat kakinya yang bersirip mendorongnya menembus air, dan sadar dia bisa melihat dengan jelas sekali, dan dia tak perlu lagi berkedip. Segera saja dia sudah berenang jauh sehingga tak bisa lagi melihat dasar danau. Dia menjungkirkan tubuh dan menukik ke dasar.

Keheningan menekan telinganya sementara dia melayang melewati pemandangan aneh yang gelap dan berkabut. Dia hanya bisa melihat sejauh tiga meter di depannya, sehingga ketika dia meluncur di air, pemandangan-pemandangan baru seakan bermunculan di depannya dari dalam kegelapan. Hutan

ganggang hitam yang saling berbelit dan beriak, hamparan lumpur dengan, tebaran batu berkilau suram.

Harry berenang makin jauh ke dalam, menuju ke tengah danau, matanya terbuka lebar, memandang menembus air yang berpenerangan abu-abu di sekitarnya ke keremangan di bawah, ke tempat air menjadi buram tak tertembus cahaya.

Ikan-ikan kecil berkelip melewatinya seperti jarum perak. Sekali-dua kali dia merasa melihat sesuatu yang lebih besar bergerak di depannya, tetapi setelah dekat, ternyata cuma batang kayu besar yang menghitam, atau gumpalan ganggang lebat. Tak ada tanda-tanda ketiga juara yang lain, manusia duyung, Ron-ataupun, syukurlah, si cumi-cumi raksasa.

Ganggang hijau muda terhampar di depannya sejauh mata memandang, sedalam enam puluh senti, seperti padang rumput yang tumbuh tinggi. Harry memandang tak berkedip ke depan, berusaha melihat bentuk-bentuk di dalam keremangan… dan kemudian, tanpa peringatan, ada yang mencengkeram pergelangan kakinya.

Harry memutar tubuhnya dan melihat Grindylow, setan air kecil bertanduk, muncul dari dalam ganggang, jari-jarinya yang panjang mencengkeram kuat kaki Harry, mulutnya menyeringai memamerkan taringnya yang tajam. Harry cepat-cepat memasukkan tangannya yang berselaput ke dalam jubahnya dan meraba-raba mencari tongkatnya. Saat dia berhasil menemukan tongkatnya, dua Grinfinclow yang lain sudah muncul dari dalam ganggang, mencengkeram jubah Harry, dan berusaha menariknya ke bawah.

“Relashio!” Harry berteriak, hanya saja tak ada suara yang keluar… Gelembung besar muncul dari mulutnya, dan tongkat sihirnya, alih-alih menyemburkan bunga api ke Grindylow, menyiram mereka dengan air panas. Kelihatannya begitu, karena di tempat air itu mengenai mereka, bercak-bercak merah membara bermunculan di kulit mereka yang hijau. Harry me narik, lepas pergelangan kakinya dari cengkeraman Grindylow dan berenang, secepat mungkin, beberapa kali mengirim semburan air panas dari balik bahunya secara serampangan. Sekali-sekali dia merasakan salah satu Grindylow menangkap kakinya lagi, dan dia me nendang keras-keras. Akhirnya dia merasa kakinya menyepak kepala bertanduk, dan menoleh, dia melihat Grindylow yang pusing berenang menjauh, dengan mata juling, sementara teman-temannya mengacungkan tinju ke arah Harry, dan membenamkan diri kembali ke dalam

ganggang.

Harry sedikit melambat, menyelipkan tongkatnya ke balik jubahnya lagi, dan memandang berkeliling, mendengarkan lagi. Dia berputar melingkar di dalam air, kesunyian menekan lebih keras gendang telinganya. Dia tahu dia pasti berada lebih dalam lagi sekarang, tetapi tak ada yang bergerak kecuali ganggang yang beriak.

“Bagaimana kemajuanmu?”

Harry mengira dia mendapat serangan jantung. Dia berbalik dan melihat Myrtle Merana melayang samar di depannya, memandangnya lewat kacamatanya yang tebal mengilap.

“Myrtle!” Harry berusaha berteriak-tetapi sekali lagi tak ada yang keluar dari mulutnya kecuali gelembung sangat besar. Myrtle Merana terkikik geli.

“Cobalah ke sana!” katanya, menunjuk. “Aku tak mau ikut kau… aku tak begitu suka mereka, mereka selalu mengejarku kalau aku datang terlalu dekat…”

Harry mengacungkan kedua ibu jarinya untuk menunjukkan terima kasihnya dan meluncur lagi, berhati-hati berenang agak jauh dari ganggang untuk menghindari Grindylow yang siapa tahu bersembunyi di situ.

Dia berenang kira-kira dua puluh merit paling tidak. Via melewati hamparan luas lumpur hitam sekarang, yang berpusar keruh ketika dia lewat. Kemudian, akhirnya, dia mendengar potongan nyanyian duyung yang sangat diingatnya.

“Satu jam penuh kau harus mencari,

Dan mengambil kembali yang telah kami curi…”

Harry berenang lebih cepat dan segera saja melihat batu karang besar muncul dari dalam air keruh di depannya. Ada lukisan manusia-manusia duyung pada karang itu. Mereka membawa tombak dan

mengejar sesuatu yang tampak seperti cumi-cumi raksasa. Harry berenang melewati karang itu, mengikuti nyanyian duyung.

“…waktumu tinggal separo, jangan berlambat-lambat lagi nanti yang kaucari, tak bisa kaudapatkan kembali…”

Sekelompok gua batu yang ditumbuhi ganggang mendadak muncul dalam keremangan dari segala

jurusan. Di sana-sini di balik jendela gelap, Harry melihat wajah-wajah… wajah yang sama sekali tidak mirip dengan lukisan putri duyung di dalam kamar mandi prefek…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.