Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kau baik-baik saja, Harry?” gumam Hagrid, menyisih sedikit sementara sebagian besar anak-anak mengerumuni kedua bayi Unicorn.

“Yeah,” kata Harry.

“Cuma gelisah, eh?” kata Hagrid.

“Sedikit,” kata Harry.

“Harry,” kata Hagrid, menepukkan tangannya yang besar ke bahu Harry, sehingga lutut Harry tertekuk karena keberatan, “aku akan cemas kalau belum lihat kau kalahkan Ekor-Berduri itu, tetapi sekarang aku tahu kau bisa lakukan apa saja kalau kau mau. Aku sama sekali tidak cemas. Kau akan baik-baik saja.

Sudah berhasil pecahkan petunjukmu, kan?”

Harry mengangguk, tetapi bahkan saat mengangguk itu, dorongan gila untuk mengakui bahwa dia sama sekali tak punya bayangan bagaimana bisa bertahan hidup di dasar danau selama satu jam

menguasainya. Dia mendongak memandang Hagrid–mungkin Hagrid harus masuk ke danau kadang-

kadang, untuk menangani makhluk-makhluk di dalamnya? Kan dia menangani semua makhluk di

daratan…

“Kau akan menang,” Hagrid menggeram, menepuk bahu Harry lagi, sehingga Harry bisa merasakan dirinya terbenam beberapa senti ke tanah yang lunak. “Aku tahu. Aku bisa rasakan itu. Kau akan menang, Harry.”

Harry tak tega menghapus senyum yakin dan bahagia di wajah Hagrid. Berpura-pura tertarik pada bayi Unicorn, dia memaksa diri tersenyum, dan maju untuk ikut membelai Unicorn bersama yang lain.

Malam sebelum menghadapi tugas keduanya, Harry merasa terperangkap dalam mimpi buruk. Dia sadar benar bahwa jika, berkat keajaiban, dia berhasil mendapatkan mantra yang tepat, tak mungkin baginya untuk menguasai mantra itu dalam semalam. Bagaimana mungkin dia membiarkan ini terjadi? Kenapa dia tidak memecahkan petunjuk telur itu lebih awal? Kenapa dia sering membiarkan pikirannya melantur di kelas-bagaimana kalau ada guru yang pernah menyebutkan bagaimana caranya bernapas dalam air?

Dia duduk bersama Hermione dan Ron di perpustakaan, sementara di luar matahari terbenam, membuka halaman demi halaman buku mantra dengan panik, saling tersembunyi di balik tumpukan buku di depan mereka masing-masing. Hati Harry mencelos setiap kali melihat kata “air” di halaman, tetapi kebanyakan bunyinya ternyata hanyalah, “Ambil dua gelas air, satu ons irisan Mandrake, dan seekor kadal…”

“Kurasa tak bisa dilakukan,” terdengar suara Ron datar dari sisi lain meja. “Tak ada apa-apa. Sama sekali. Yang paling dekat hanyalah mengeringkan genangan air dan kolam, Mantra Kemarau, tapi mana cukup kuat untuk mengeringkan danau.”

“Pasti ada pemecahannya,” gumam Hermione, memindahkan lilin ke dekatnya. Matanya lelah sekali. Dia membaca tulisan kecil-kecil buku Kutukan dan Mantra Kuno yang Terlupakan dengan hidung Cuma dua setengah senti dari halaman. “Mereka tak akan memberikan tugas yang tak bisa dilaksanakan.”

“Nyatanya sekarang begitu,” kata Ron. “Harry, pergi saja ke danau besok, masukkan kepalamu ke air berteriaklah kepada manusia duyung untuk mengembalikan apa yang sudah mereka curi, dan lihat apakah mereka melemparnya ke atas. Itu yang paling baik yang bisa kaulakukan, sobat.”

“Ada cara untuk melakukannya!” kata Hermione galak. “Pasti ada!”

Rupanya dia menganggap ketidaksanggupan perpustakaan untuk memberikan informasi yang berguna dalam masalah ini sebagai penghinaan pribadi. Perpustakaan belum pernah mengecewakannya selama ini.

“Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan,” kata Harry, mengistirahatkan kepalanya, menelungkup di atas buku Jurus Jitu Menghadapi Tipuan Seru. “Seharusnya aku belajar menjadi Animagus seperti Sirius.”

Animagus adalah penyihir yang bisa bertransformasi menjadi binatang.

“Yeah, kau bisa berubah menjadi ikan mas setiap kali kau mau!” kata Ron.

“Atau jadi kodok,” Harry menguap. Dia lelah sekali.

“Perlu bertahun-tahun untuk menjadi Animagus, dan kemudian kau harus mendaftarkan diri dan macam-macam lagi,” kata Hermione tak jelas, sekarang menyipitkan mata membaca indeks Dilema Sihir Aneh dan. Solusinya. “Profesor McGonagall pernah memberitahu kita, ingat… kau harus mendaftar di Kantor Sihir untuk Penggunaan Sihir yang Tidak Pada Tempatnya… jadi binatang apa kau, dan tanda-tandamu, supaya kau tidak menyalahgunakannya…”

“Hermione, aku cuma bergurau,” kata Harry lelah. “Aku tahu aku tak mungkin bisa jadi kodok besok pagi…”

“Oh, ini tak ada gunanya,” kata Hermione, menggabrukkan Dilema Sihir Aneh sampai menutup. “Lagi pula, siapa yang mau membuat bulu hidungnya tumbuh keriting?”

“Aku tak keberatan,” terdengar suara Fred Weasley. “Akan jadi topik pembicaraan, kan?”

Harry, Ron, dan Hermione mendongak. Fred dan George baru muncul dari balik rak buku.

“Sedang apa kalian berdua di sini?” tanya Ron.

“Mencari kalian,” kata George. “McGonagall mencarimu, Ron. Dan kau juga, Hermione.”

“Kenapa?” tanya Hermione, keheranan.

“Entahlah… tapi dia tampak muram,” kata Fred.

“Kami disuruh membawa kalian ke kantornya,” kata George.

Ron dan Hermione memandang Harry, yang perutnya langsung mulas. Apakah Profesor McGonagall akan menyuruh Ron dan Hermione menjauhinya? Mungkin dia memperhatikan bagaimana mereka

membantunya, padahal seharusnya dia menghadapi tugasnya ini sendirian.

“Kita ketemu lagi di ruang rekreasi nanti,” kata Hermione kepada Harry ketika dia bangkit untuk pergi bersama Ron–keduanya tampak cemas. “Bawa buku-buku ini sebanyak mungkin, oke?”

“Baik,” kata Harry gelisah.

Pukul delapan, Madam Pince memadamkan semua lampu dan menyuruh Harry meninggalkan

perpustakaan. Terhuyung keberatan membawa sebanyak mungkin buku, Harry kembali ke ruang rekreasi Gryffindor, menarik meja ke sudut, dan meneruskan mencari. Tak ada apa-apa dalam Sihir Sinting untuk Penyihir Gila… tak ada juga di Penuntun Persihiran Abad Pertengahan… tak sekali pun soal keberanian masuk bawah air disebut di Antologi Mantra-Mantra Abad Kedelapan Belas, atau Penghuni Air yang Mengerikan, atau Kekuatan yang Tak Kausadari Kaumiliki dan Apa yang Bisa Kaulakukan dengannya Setelah Kau Tahu.

Crookshanks merayap ke pangkuan Harry dan melingkar, mendengkur dalam. Ruang rekreasi perlahan menjadi kosong. Anak-anak bergantian mengucapkan “semoga besok sukses” kepada Harry dengan suara riang dan mantap seperti Hagrid. Rupanya semuanya yakin dia akan tampil luar biasa seperti sewaktu melaksanakan tugas pertama. Harry tak bisa menjawab mereka, dia hanya mengangguk,

rasanya seperti ada bola golf yang menyumbat mulutnya. Sepuluh menit sebelum tengah malam, dia tinggal sendirian di ruang rekreasi bersama Crookshanks. Dia telah mencari di semua buku yang tersisa, dan Ron dan Hermione belum juga kembali.

Sudah berakhir, kata Harry kepada dirinya sendiri. Kau terpaksa harus ke danau besok pagi dan memberitahu para juri…

Harry membayangkan dirinya menjelaskan dia tak bisa melakukan tugasnya. Dia membayangkan

Bagman yang matanya melebar keheranan, senyum gigi-kuning Karkaroff yang puas. Dia nyaris bisa mendengar Fleur Delacour mengatakan, “Aku sudah tahu… dia terlalu muda, dia masih kecil.” Dia melihat Malfoy menyalakan lencana POTTER BAU-nya di bagian depan penonton, dan melihat wajah Hagrid yang kecewa tak percaya…

Lupa bahwa Crookshanks ada di pangkuannya, Harry mendadak bangkit. Crookshanks mendesis marah ketika mendarat di lantai, melempar pandang jijik kepada Harry, dan berjalan pergi dengan ekor sikat-botolnya terangkat tinggi, tetapi Harry sudah bergegas menaiki tangga spiral menuju ke kamarnya… Dia akan mengambil Jubah Gaib-nya dan kembali ke perpustakaan, berada di sana sepanjang malam kalau terpaksa…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.