Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Apa?” kata Ron, matanya melebar. Bantalnya yang berikut, terbang memelintir tinggi ke udara, menghindari kandelar, dan jatuh terbanting di meja Flitwick.

“Harry… mungkin Moody mengira Snape-lah yang memasukkan namamu dalam Piala Api!”

“Oh, Ron,” kata Hermione, menggelengkan kepalanya dengan ragu, “kita pernah mengira Snape berusaha membunuh Harry sebelum ini, dan ternyata dia malah menyelamatkan nyawa Harry, ingat?”

Hermione mengusir bantal dan bantalnya melayang seberang ruangan, lalu mendarat di kotak yang memang sasaran mereka. Harry menatap Hermione, berpikir… benar Shape pernah menyelamatkan hidupnya sekali, tetapi anehnya, Snape jelas membencinya, sama seperti dia membenci ayah Harry ketika mereka bersama-sama bersekolah di Hogwarts. Shape senang mengurangi angka Harry dan jelas tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghukumnya atau bahkan menyarankan agar Harry

diskors.

“Aku tak peduli apa kata Moody,” Hermione melanjutkan. “Dumbledore tidak bodoh. Dia benar mempercayai Hagrid dan Profesor Lupin, meskipun banyak orang tak mau memberi pekerjaan kepada mereka berdua, jadi kenapa dia tidak benar juga tentang Snape, bahkan kalaupun Shape agak…”

“… jahat,” sambar Ron. “Coba pikir, Hermione, kenapa semua penangkap penyihir hitam ini menggeledah kantornya, kalau begitu?”

“Kenapa Mr Crouch berpura-pura sakit?” kata Hermione, tak mengacuhkan Ron. “Agak aneh kan, dia tak bisa datang ke pesta dansa Natal, tetapi bisa ke sini di tengah malam kalau dia mau?”

“Kau tak suka Crouch gara-gara si peri Winky itu,” kata Ron, mengirim bantal meluncur ke jendela.

“Kau cuma mau berpikir Shape sedang merencanakan sesuatu,” kata Hermione, meluncurkan bantalnya dengan mulus ke dalam kotak.

“Aku cuma ingin tahu apa yang dilakukan Shape dengan kesempatan pertamanya, kalau sekarang dia diberi kesempatan kedua,” kata Harry muram, dan bantalnya, membuatnya sangat keheranan, terbang lurus ke seberang ruangan dan mendarat tepat di atas bantal Hermione. Memenuhi keinginan Sirius untuk mendengar segala sesuatu yang aneh di Hogwarts, Harry mengiriminya surat lewat burung hantu cokelat malam itu, menjelaskan segalanya tentang Mr Crouch yang memasuki kantor Snape, dan percakapan antara Moody dan Snape. Kemudian Harry dengan bersemangat mengalihkan perhatiannya

pada masalah paling penting yang dihadapinya: bagaimana bisa bertahan di bawah air selama satu jam pada tanggal dua puluh empat Februari.

Ron cukup menyukai ide menggunakan Mantra Panggil lagi Harry telah menjelaskan tentang alat bernapas untuk menyelam dan Ron tak mengerti kenapa Harry tidak memanggil saja satu alat itu dari toko Muggle terdekat. Hermione mematikan usul ini dengan menjelaskan bahwa sekalipun Harry berhasil mempelajari bagaimana menggunakan alat bernapas itu dalam batas waktu satu jam yang diberikan dan ini tak mungkin dia jelas akan didiskualifikasi karena melanggar Undang-Undang Internasional tentang Kerahasiaan Sihir–keterlaluan kalau berharap tak ada Muggle yang akan melihat alat selam yang melayang di atas pedesaan menuju Hogwarts.

“Tentu saja, solusi paling ideal adalah kau ber-Transfigurasi menjadi kapal selam atau apa,” kata Hermione. “Sayang kita belum mempelajari Transfigurasi manusia! Kita baru akan belajar itu di kelas enam, dan bisa kacau jadinya kalau kau tak tahu apa yang kau lakukan…”

“Yah, aku tak mau ke sana kemari dengan periskop menyembul dari kepalaku,” kata Harry. “Kurasa aku bisa mencoba menyerang orang di depan Moody; mungkin dengan begitu dia mau menyihirku…”

“Tapi kurasa dia tak akan mengizinkan kau memilih mau jadi apa,” kata Hermione serius. “Tidak, kurasa kesempatan terbaikmu adalah menggunakan mantra tertentu.”

Maka Harry merasa bahwa tak lama lagi dia sudah akan muak dengan perpustakaan sehingga tak mau ke situ lagi seumur hidup–membenamkan diri sekali lagi di antara buku-buku berdebu, mencari mantra yang bisa memungkinkan manusia hidup tanpa oksigen. Tetapi, meskipun dia, Ron, dan Hermione telah mencari setiap waktu makan siang, pada malam hari, dan sepanjang akhir minggu–meskipun Harry sudah meminta izin tertulis dari Profesor McGonagall untuk menggunakan Seksi Terlarang, dan bahkan meminta bantuan Madam Pince, petugas perpustakaan yang pemarah dan mirip burung nasar–mereka tak menemukan apa-apa yang bisa membantu Harry melewatkan satu jam di bawah air dan masih bisa hidup untuk menceritakan pengalamannya.

Getar-getar kepanikan yang sudah dikenalnya mulai mengganggu Harry sekarang, dan sulit baginya untuk berkonsentrasi di kelas lagi. Danau, yang selama ini diterima begitu saja oleh Harry sebagai bagian halaman sekolah, menarik matanya setiap kali dia berada dekat jendela kelas, hamparan air dingin yang gelap, yang kedalaman dan kegelapannya mulai terasa sama jauhnya dengan bulan.

Sama seperti sebelum dia menghadapi naga Ekor-Berduri, waktu berjalan cepat seakan ada yang telah menyihir jam agar berjalan ekstra-cepat. Masih seminggu sebelum tanggal dua puluh empat Februari (masih ada waktu)… masih lima hari (pasti dia segera mendapat pemecahan)… tiga hari lagi (tolong aku menemukan cara… tolong)…

Ketika tinggal dua hari, Harry tak doyan makan lagi. Satu-satunya hal menyenangkan pada waktu makan hari Senin adalah pulangnya si burung hantu cokelat yang dikirimnya kepada Sirius. Harry menarik perkamennya, membuka gulungannya, dan melihat surat terpendek yang pernah ditulis Sirius

kepadanya. Kirim tanggal kunjungan Hogsmeade berikutnya dengan burung ini. Harry membalik

perkamen itu dan memeriksa belakangnya, berharap melihat sesuatu yang lain, tetapi perkamen itu kosong.

“Akhir minggu sesudah minggu depan,” bisik Hermione, yang telah membaca surat dari belakang bahu Harry. “Ini… pakai pena buluku dan langsung kirim balik burung ini.”

Harry menuliskan tanggal itu di batik surat Sirius, mengikatkannya ke kaki si burung hantu, dan mengawasi burung itu terbang lagi. Apa yang diharapkannya? Petunjuk bagaimana bertahan hidup di bawah air? Dia kelewat asyik menceritakan kepada Sirius segalanya tentang Snape dan Moody sampai lupa Sama sekali menyebutkan tentang tugas keduanya.

“Buat apa dia mau tahu tanggal kunjungan Hogsmeade berikutnya?” tanya Ron.

“Entahlah,” kata Harry lesu. Kebahagiaan sesaat yang berkobar di hatinya ketika melihat burung hantu itu telah padam. “Ayo… saatnya Pemeliharaan Satwa Gaib ”

Apakah Hagrid berusaha menebus karena telah mengajar mereka Skrewt Ujung-Meletup, atau karena hanya tinggal dua Skrewt yang tersisa, atau karena dia mau membuktikan bahwa dia bisa melakukan apa saja yang dilakukan Profesor Grubbly-Plank, Harry tak tahu. Tetapi Hagrid meneruskan pelajaran tentang Unicorn itu setelah dia kembali mengajar. Ternyata Hagrid tahu sama banyaknya tentang Unicorn seperti yang diketahuinya tentang monster, walaupun jelas bahwa Hagrid kecewa Unicorn tak punya taring.

Hari ini dia berhasil menangkap dua anak Unicorn. Tak seperti Unicorn dewasa, keduanya keemasan.

Parvati dan Lavender memekik kegirangan melihat mereka, bahkan Pansy Parkinson harus bersusah payah menyembunyikan kesenangannya.

“Lebih mudah dilihat daripada yang dewasa,” Hagrid memberitahu kelasnya. “Mereka berubah perak ketika berumur kira-kira dua tahun, dan tanduknya tumbuh pada usia empat tahun. Belum berbulu putih bersih sebelum benar-benar dewasa, kira-kira tujuh tahun. Mereka lebih jinak sewaktu masih bayi… tak begitu keberatan pada anak laki-laki… Ayo, maju sedikit, kalian boleh belai mereka kalau mau… beri mereka gula batu ini…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.