Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

bersama Snape… pergilah… Mrs Norris memandang dari balik kaki Filch. Harry mendapat kesan kuat kucing itu bisa membauinya… Kenapa tadi dia mengisi bak mandi dengan begitu banyak busa harum?

“Persoalannya, Profesor,” kata Filch sedih, “Kepala Sekolah harus mendengarkan saya sekarang. Peeves sudah mencuri dari pelajar. Mungkin ini satu-satunya kesempatan saya membuatnya diusir dari kastil…”

“Filch, aku tak peduli tentang si hantu jail sialan itu. Kantorkulah yang…” Keletok. Keletok. Keletok.

Snape mendadak saja berhenti bicara. Dia dan Filch memandang ke dasar tangga. Melalui celah di antara

kedua kepala mereka, Harry melihat Mad-Eye Moody timpang mendatangi. Moody memakai mantel

bepergiannya yang sudah usang di atas baju tidurnya dan bertumpu pada tongkatnya seperti biasanya.

“Pesta piama rupanya?” dia menggerung ke atas tangga.

“Profesor Snape dan saya mendengar suara-suara, Profesor,” kata Filch segera. “Peeves si hantu jail, melempar-lempar barang seperti biasanya dan kemudian Profesor Snape menyadari bahwa ada orang yang memasuki kan…”

“Diam!” Snape mendesis kepada Filch.

Moody maju selangkah mendekati kaki tangga. Harry melihat mata gaib Moody memandang melewati Snape, dan kemudian, tak salah lagi, menatapnya.

Jantung Harry mencelos. Moody bisa melihat menembus Jubah Gaib… dia sendirilah yang bisa melihat keganjilan pemandangan ini: Snape dalam jubah tidurnya, Filch mencengkeram telur, dan dia, Harry, terperangkap di tangga di belakang mereka. Mulut Moody yang berupa lubang miring menganga

keheranan. Selama beberapa detik dia dan Harry saling Pandang. Kemudian Moody menutup mulutnya dan mengalihkan mata birunya kepada Snape lagi.

“Apakah benar yang kudengar, Snape?” tanyanya lambat-lambat. “Ada yang memasuki kantormu?”

“Itu tidak penting,” jawab Snape dingin.

“Sebaliknya,” geram Moody, “itu penting sekali. Siapa yang ingin menyelundup ke dalam kantormu?”

“Seorang pelajar, pasti,” kata Snape. Harry bisa melihat ada otot yang berkedut kencang di dahi Snape yang berminyak. “Sudah pernah terjadi sebelumnya. Bahan-bahan ramuan menghilang dari lemari persediaan bahanku… murid-murid yang berusaha membuat ramuan terlarang, pasti…”

“Menurutmu yang dicari bahan ramuan, eh?” kata Moody. “Kau tidak menyembunyikan sesuatu yang lain dalam kantormu?”

Harry melihat tepi wajah pucat Snape berubah merah padam, otot di dahinya berkedut semakin cepat.

“Kau tahu aku tidak menyembunyikan apa-apa, Moody,” katanya dalam suara pelan dan berbahaya, “kau sendiri kan sudah menggeledah kantorku dengan menyeluruh.”

Wajah Moody mengernyit dalam senyum. “Hak istimewa Auror, Snape. Dumbledore memberitahuku agar waspada…”

“Dumbledore mempercayaiku,” kata Snape dengan gigi, mengertak. “Aku menolak percaya bahwa dia memberimu perintah untuk menggeledah kantorku.”

“Tentu saja Dumbledore mempercayaimu,” geram Moody. “Dia orang yang gampang percaya, kan? Dia percaya pada kesempatan kedua. Tetapi aku–menurutku ada noda-noda yang tak bisa hilang, Snape.

Noda yang tak pernah hilang, kau tahu apa maksudku?”

Mendadak Snape melakukan sesuatu yang sangat aneh. Tangan kanannya mencengkeram lengan kirinya dengan gerakan mengejang, seakan ada yang melukai tangan kiri itu.

Moody tertawa. “Kembalilah ke tempat tidur, Snape.”

“Kau tak punya kekuasaan untuk menyuruhku ke mana pun! Snape mendesis, melepas lengannya seakan marah pada dirinya sendiri. “Aku punya hak sama besarnya denganmu untuk berpatroli di kastil ini di malam hari!”

“Silakan saja patroli,” kata Moody, tetapi suaranya penuh ancaman. “Aku ingin sekali ketemu kau di koridor gelap suatu kali… Barangmu ada yang jatuh, itu..”

Dengan ngeri Harry melihat Moody menunjuk Peta Perampok, yang masih tergeletak enam anak tangga di bawahnya. Ketika Snape dan Filch menoleh untuk melihatnya, Harry menyingkirkan kehati-hatiannya.

Dia mengangkat tangannya di bawah jubahnya dan melambai-lambaikannya dengan keras kepada Moody untuk menarik perhatiannya, mulutnya mengucapkan tanpa suara, “Punya saya! Punya saya!”

Snape telah mengulurkan tangan untuk memungutnya, ekspresi wajahnya menyiratkan pemahaman…

“Accio perkamen!”

Peta itu melayang ke udara, melewati jari-jari Snape yang terentang, dan meluncur ke bawah tangga ke tangan Moody.

“Aku keliru,” kata Moody kalem. “Ini milikku… pasti tak sengaja terjatuh tadi…”

Tetapi mata hitam Snape bergantian memandang telur di tangan Filch dan peta di tangan Moody, dan Harry bisa tahu dia sedang menghubungkan dua hal ini…

“Potter,” katanya tenang.

“Apa?” tanya Moody tenang, melipat peta dan mengantonginya.

“Potter!” Shape menjawab geram, dan dia benar-benar memutar kepalanya dan memandang lurus ke tempat Harry berada, seakan mendadak bisa melihatnya. “Telur itu telur Potter. Perkamen itu milik Potter. Aku pernah melihatnya, aku mengenalinya! Potter ada di sini. Potter, memakai Jubah Gaib-nya!”

Snape mengulurkan tangannya seperti orang buta dan mulai menaiki tangga. Harry melihat jelas hidungnya yang kelewat besar semakin melebar, berusaha mengendus Harry. Terperangkap, Harry mencondongkan tubuhnya ke belakang, berusaha menghindari ujung-ujung jari Snape, tetapi setiap saat sekarang…

“Tak ada apa-apa di situ, Snape!” bentak Moody. “Tetapi aku akan senang memberitahu Kepala Sekolah betapa cepatnya pikiranmu melompat ke Harry Potter!”

“Apa artinya?” Shape menoleh memandang Moody, tangannya masih terjulur, tinggal beberapa senti dari dada Harry.

“Artinya Dumbledore sangat tertarik untuk mengetahui siapa yang menjebak anak itu!” kata Moody, berjalan timpang semakin mendekati kaki tangga. “Dan begitu juga aku, Shape… sangat tertarik…”

Cahaya obor berkelip di wajah Moody yang rusak, sehingga bekas lukanya, dan hidungnya yang gerowong, tampak lebih dalam dan lebih gelap daripada biasanya.

Shape menunduk memandang Moody, dan Harry tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Sesaat tak ada yang bergerak atau mengucapkan apa pun. Kemudian Shape perlahan menurunkan tangannya.

“Aku cuma berpikir,” kata Shape dengan suara tenang yang dipaksakan, “bahwa jika Potter berkeliaran melewati Batas waktu yang diizinkan… itu hobinya yang tidak menguntungkan… dia harus dihentikan.

Demi… demi keselamatannya sendiri.”

“Ah, begitu,” kata Moody pelan. “Memikirkan keselamatan Potter, rupanya?”

Sejenak sunyi. Shape dan Moody masih saling pandang. Mrs Norris mengeong keras, masih mengintip dari balik kaki Filch, mencari sumber bau busa sabun Harry.

“Kurasa aku mau tidur,” kata Shape pendek.

“Ide terbaikmu sepanjang, malam ini,” kata Moody. “Nah, Filch, kalau kau berikan telur itu kepadaku…”

“Tidak!” kata Filch” mencengkeramnya seakan telur itu anak kesayangannya. “Profesor Moody, ini bukti pengkhianatan Peeves.”

“Itu milik juara dari siapa dia mencurinya,” kata Moody. “Serahkan sekarang.”

Snape berkelebat turun dan melewati Moody tanpa sepatah kata pun. Filch mengajak pergi Mrs Norris, yang menatap bengong Harry beberapa detik lagi sebelum berbalik dan mengikuti tuannya. Masih bernapas cepat, Harry mendengar Shape menjauh di koridor. Filch menyerahkan telur kepada Moody dan ikut menghilang, bergumam kepada Mrs Norris, “Tak apa-apa, manisku… kita akan menemui Dumbledore besok pagi-pagi… memberitahu dia apa yang dilakukan Peeves…”

Terdengar pintu dibanting. Tinggal Harry menunduk menatap Moody, yang meletakkan tongkatnya di anak tangga paling bawah dan mulai menaiki tangga dengan susah payah mendekatinya, kaki palsunya mengeluarkan bunyi keletok setiap kali menginjak anak tangga.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.