Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Voldemort memodifikasi ingatannya, sama seperti yang dilakukannya terhadap Morfin!”

“Ya, begitu jugalah kesimpulanku,” kata Dumbledore. “Dan sama seperti terhadap Morfin, Kementerian cenderung mencurigai Hokey”

“-karena dia peri-rumah,” kata Harry. Jarang sekali dia merasa lebih bersimpati terhadap perkumpulan yang didirikan Hermione, SPEW.

“Persis,” kata Dumbledore. “Dia sudah tua, dia mengakui melakukan sesuatu terhadap minuman itu, dan tak seorang pun di Kementerian yang mau bersusah-susah untuk menyelidiki lebih jauh. Seperti dalam kasus Morfin, ketika aku menemukan Hokey dan berhasil menyadap kenangan ini, hidupnya sudah hampir berakhir-tetapi kenangannya, tentu saja, tidak membuktikan apa-apa, kecuali bahwa Voldemort tahu tentang adanya piala dan kalung itu.

“Pada saat Hokey dihukum, keluarga Hepzibah telah menyadari bahwa dua hartanya yang paling berharga hilang. Perlu beberapa waktu bagi mereka untuk memastikan ini, berhubung Hepzibah punya banyak tempat persembunyian, karena dia selalu menjaga semua koleksinya dengan sangat hati-hati. Tetapi sebelum mereka yakin tanpa keraguan lagi bahwa piala dan kalung ini hilang, pelayan yang bekerja di Borgin and Burkes, pemuda yang rutin mengunjungi Hepzibah, yang telah sangat memesonanya, telah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menghilang. Majikannya sama sekali tak tahu ke mana dia pergi; mereka sama herannya seperti yang lain atas menghilangnya dia. Dan itulah yang terakhir kalinya dilihat atau didengar tentang Tom Riddle untuk waktu yang lama sekali.”

“Sekarang,” kata Dumbledore, “kalau kau tak keberatan, Harry, aku ingin jeda dulu sekali lagi, untuk menarik perhatianmu terhadap poin-poin tertentu dalam cerita kita. Voldemort telah melakukan pembunuhan lagi; apakah ini yang pertama setelah dia membunuh keluarga Riddle, aku tidak tahu, tetapi kupikir begitu. Kali ini, seperti yang telah kaulihat, dia membunuh bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk mendapatkan sesuatu. Dia menginginkan kedua trofi luar biasa yang ditunjukkan perempuan tua malang yang tergila-gila kepadanya. Sama seperti ketika dia pernah merampas barang anak-anak lain di panti asuhannya, sama seperti ketika dia mencuri cincin pamannya Morfin, maka dia sekarang kabur membawa piala dan kalung Hepzibah.”

“Tapi,” kata Harry, mengernyit, “gila sekali … mempertaruhkan segalanya, melepas pekerjaannya, hanya untuk …”

“Gila bagimu, barangkali, tetapi tidak untuk Voldemort,” kata Dumbledore. “Kuharap kau mengerti pada saatnya nanti, persisnya apa arti benda-benda itu untuknya, Harry, tapi kau harus mengakui bahwa tidaklah sulit membayangkan dia menganggap kalung itu paling tidak, sebagai miliknya yang sah.”

“Kalung itu mungkin,” kata Harry, “tapi kenapa mengambil piala itu juga?”

“Piala itu tadinya milik pendiri Hogwarts yang lain,” kata Dumbledore. “Kurasa dia masih merasakan tarikan kuat terhadap sekolah dan dia tidak bisa menahan godaan untuk memiliki benda yang sangat erat hubungannya dengan sejarah Hogwarts. Ada alasanalasan lain, menurutku … kuharap aku bisa menunjukkannya kepadamu, pada waktunya nanti.

“Dan sekarang untuk kenangan paling akhir yang kupunyai untuk diperlihatkan kepadamu, paling tidak sampai kau berhasil mendapatkan kenangan Profesor Slughorn untuk kita. Sepuluh tahun memisahkan kenangan Hokey dan kenangan yang ini, dan kita hanya bisa menebak-nebak apa yang dilakukan Lord Voldemort selama sepuluh tahun itu …”

Harry bangkit sekali lagi ketika Dumbledore menuang kenangan terakhir ke dalam Pensieve.

“Kenangan siapa itu?” tanyanya.

“Kenanganku;’ kata Dumbledore.

Dan Harry terjun setelah Dumbledore ke dalam zat perak yang bergerak-gerak, mendarat di kantor yang sama yang baru saja ditinggalkannya. Fawkes sedang tidur dengan bahagia di tempat hinggapnya, dan di sana, di belakang mejanya, Dumbledore, yang tampak mirip sekali dengan Dumbledore yang berdiri di sebelah Harry, meskipun kedua tangannya utuh dan tak bercacat dan kerut di wajahnya, barangkali, lebih sedikit. Satu-satunya perbedaan dengan kantor di masa kini dan yang ini adalah dulu salju sedang turun. Butir-butir putih kebiruan melayang-layang melewati jendela dalam kegelapan dan mendarat jadi tumpukan salju di birai luar jendela.

Dumbledore yang lebih muda tampaknya sedang menunggu sesuatu dan betul saja, beberapa saat setelah mereka datang, terdengar ketukan di pintu dan dia berkata, “Masuk.”

Harry terpekik, yang buru-buru ditahannya. Voldemort telah memasuki ruangan. Wajahnya tidak seperti yang dilihat Harry muncul dari kuali batu besar hampir dua tahun sebelumnya. Wajahnya belum semirip ular seperti waktu itu, matanya belum merah, roman mukanya belum seperti topeng, namun toh dia bukan lagi Tom Riddle yang tampan. Seakan telah terbakar dan rusak, wajahnya seperti terbuat dari lilin dan berubah bentuk menjadi aneh, dan bagian putih matanya sudah permanen merah darah, meskipun pupilnya belum menjadi celah seperti yang kemudian diketahui Harry. Dia memakai mantel panjang hitam dan wajahnya sama pucatnya dengan salju yang berkilauan pada bahunya.

Dumbledore yang di belakang meja tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan. Jelas kunjungan ini sudah diatur berdasarkan janji.

“Selamat malam, Tom,” kata Dumbledore ringan. “Silakan duduk.”

“Terima kasih,” kata Voldemort, dan dia duduk di kursi yang diisyaratkan Dumbledore kursi yang sama, kalau dilihat dari bentuknya, yang baru saja dikosongkan Harry di masa kini. “Saya dengar Anda sudah menjadi Kepala Sekolah,” katanya, dan suaranya sedikit lebih tinggi dan lebih dingin daripada sebelumnya. “Pilihan yang berharga.”

“Aku senang kau berpendapat begitu,” kata Dumbledore, tersenyum. “Boleh aku menawarimu minum?”

“Dengan senang hati,” kata Voldemort. “Saya datang dari jauh.”

Dumbledore berdiri dan berjalan ke lemari tempat sekarang dia menyimpan Pensieve, namun dulu penuh botol minuman. Setelah mengulurkan piala berisi anggur kepada Voldwemort dan menuang untuknya sendiri, dia kembali ke tempat duduknya di belakang meja.

“Nah, Tom … untuk alasan apa aku mendapat kunjungan menyenangkan ini?”

Voldemort tidak langsung menjawab, melainkan hanya menyeruput anggurnya.

“Mereka tidak lagi memanggil saya ‘Tom’,” katanya. “Sekarang ini saya dikenal sebagai”

“Aku tahu kau dikenal sebagai siapa,” kata Dumbledore, tersenyum ramah. “Tetapi bagiku, maaf saja, kau akan selalu tetap Tom Riddle. Ini salah satu hal menjengkelkan pada guru-guru tua. Kurasa mereka tidak pernah bisa melupakan awal mula anak didik mereka.”

Dia mengangkat gelasnya seakan menyulangi Voldemort, yang wajahnya tetap tanpa ekspresi. Meskipun demikian Harry merasa atmosfer di dalam ruangan itu berubah tak kentara. Penolakan Dumbledore untuk menggunakan nama yang dipilih Voldemort sekaligus adalah penolakan untuk mengizinkan Voldemort menentukan syarat-syarat pertemuan itu, dan Harry bisa melihat Voldemort menganggapnya begitu.

“Saya heran Anda tetap bertahan di sini begini lama,” kata Voldemort setelah diam sejenak. “Saya selalu bertanya-tanya sendiri kenapa penyihir seperti Anda tak pernah ingin meninggalkan sekolah.”

“Oh,” kata Dumbledore, masih tersenyum, “bagi penyihir seperti aku, tak ada yang lebih penting daripada mewariskan keterampilan kuno, membantu mengasah pikiran anak-anak muda. Kalau aku tak salah ingat, kau pernah melihat daya tarik mengajar juga.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.