Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Di Borgin and Burkes?” Harry mengulang, keheranan.

“Di Borgin and Burkes,” ulang Dumbledore tenang. “Kurasa kau akan melihat daya tarik apa yang dipunyai tempat itu untuknya kalau kita sudah memasuki kenangan Hokey. Tetapi ini bukan pekerjaan pilihan pertama Voldemort. Hampir tak ada yang tahu soal ini waktu itu aku salah satu dari sedikit orang yang diceritai Kepala Sekolah rahasia ini tetapi Voldemort mula-mula mendatangi Profesor Dippet dan bertanya apakah dia bisa tetap tinggal di Hogwarts sebagai guru.”

“Dia ingin tinggal di sini? Kenapa?” tanya Harry, semakin heran.

“Aku yakin dia punya beberapa alasan, meskipun dia tak mengatakan satu pun alasannya kepada Profesor Dippet,” kata Dumbledore. “Yang pertama, dan sangat penting, aku yakin Voldemort lebih merasa lekat kepada sekolah ini daripada kepada orang manapun. Di Hogwarts-lah dia merasa paling bahagia; tempat pertama dan satu-satunya di mana dia merasa betah.”

Harry merasa agak kurang nyaman mendengar kata-kata ini, karena dia juga merasa persis seperti itu terhadap Hogwarts.

“Yang kedua, kastil ini adalah kubu sihir kuno. Tak diragukan lagi Voldemort telah memasuki jauh lebih banyak rahasia kastil ini daripada sebagian besar murid yang melewati tempat ini, namun dia mungkin merasa bahwa masih ada misteri untuk diungkapkan, kisah-kisah sihir untuk disadap.”

“Dan yang ketiga, sebagai guru, dia akan memiliki kekuasaan dan pengaruh besar terhadap penyihir-penyihir muda. Barangkali dia mendapatkan ide ini dari Profesor Slughorn, guru yang hubungannya paling baik dengannya, yang telah mendemonstrasikan bagaimana besarnya pengaruh yang bisa dimainkan guru. Aku tak membayangkan sekejap pun bahwa Voldemort merencanakan menghabiskan sisa hidupnya di Hogwarts, tetapi aku berpendapat dia memandang sekolah ini sebagai tempat rekrutmen yang sangat berguna, dan tempat di mana dia bisa mulai membentuk pasukan untuknya sendiri.”

“Tetapi dia tidak mendapatkan pekerjaan itu, Sir?”

“Tidak. Profesor Dippet memberitahunya bahwa dia terlalu muda pada usia delapan belas tahun, tetapi mempersilakannya untuk melamar lagi beberapa tahun kemudian, jika dia masih ingin mengajar.”

“Bagaimana perasaan Anda tentang itu, Sir?” tanya Harry ragu-ragu.

“Sangat khawatir,” kata Dumbledore. “Aku memberi Armando saran agar tidak menerimanya — aku tidak memberikan alasannya seperti yang kuberikan kepadamu, karena Profesor Dippet sangat menyukai Voldemort dan yakin akan kejujurannya tetapi aku tak ingin Lord Voldemort kembali ke sekolah ini, dan terutama tidak dalam posisi yang punya kekuasaan.”

“Pekerjaan apa yang diinginkannya, Sir? Dia ingin mengajar apa?”

Entah bagaimana, Harry sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum Dumbledore memberikannya.

“Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Saat itu pelajaran ini diajarkan oleh seorang profesor tua bernama Galatea Merrythought, yang sudah mengajar di Hogwarts selama hampir lima puluh tahun.”

“Jadi, Voldemort pergi ke Borgin and Burkes, dan semua guru yang mengaguminya mengatakan sungguh sia-sia, penyihir muda yang brilian seperti itu, bekerja di toko. Meskipun demikian, Voldemort bukan cuma sekadar pelayan toko. Sopan dan tampan dan pintar, dia segera saja diberi pekerjaan khusus yang jenisnya hanya ada di tempat seperti Borgin and Burkes, yang mengkhususkan diri, seperti yang kau ketahui, Harry, pada benda-benda luar biasa dan memiliki kekuatan istimewa. Voldemort dikirim oleh Borgin and Burkes untuk membujuk orang-orang agar mau melepas harta mereka untuk dijual, dan dia, bagaimanapun juga, sangat berbakat melakukan ini.”

“Saya yakin dia berbakat,” kata Harry, tak bisa menahan diri.

“Yah, memang,” kata Dumbledore, tersenyum samar. “Dan sekarang sudah waktunya mendengar dari

Hokey si peri-rumah, yang bekerja untuk penyihir

perempuan yang sangat tua, sangat kaya, bernama Hepzibah Smith.”

Dumbledore mengetuk botol itu dengan tongkat sihirnya, gabusnya lepas terlempar, dan dia menuang kenangan yang berpusar ke dalam Pensieve, sambil berkata, “Kau duluan, Harry.”

Harry bangkit berdiri dan membungkuk sekali lagi di atas perak beriak dalam baskom batu sampai wajahnya menyentuhnya. Dia terjatuh ke dalam kekosongan yang gelap dan mendarat di ruang duduk di depan seorang perempuan tua yang luar biasa gemuk memakai wig berwarna kemerahan dengan model rumit dan jubah berwarna merah jambu cerah, yang menjurai di sekelilingnya, sehingga kesannya dia seperti kue es krim yang meleleh. Dia sedang memandang ke cermin kecil bertatah permata dan mengusapkan pemerah pipi pada pipinya yang sudah merah menggunakan tepuk bedak besar, sementara peri-rumah paling kecil dan paling tua yang pernah dilihat Harry sedang menalikan pita sandal satin ketat di kaki gemuknya.

“Cepat sedikit, Hokey!” perintah Hepzibah. “Dia bilang akan datang pukul empat, tinggal beberapa menit lagi dan selama ini dia belum pernah terlambat!”

Disimpannya tepuk bedaknya ketika si peri-rumah menegakkan diri. Puncak kepala si peri-rumah nyaris tak mencapai tempat duduk kursi Hepzibah dan kulitnya yang kering seperti kertas menggantung di tubuhnya, persis seperti kain linen kaku yang dipakainya seperti toga.

“Bagaimana penampilanku?” tanya Hepzibah, memalingkan kepala untuk mengagumi berbagai sudut wajahnya di cermin.

“Cantik, Madam,” cicit Hokey.

Harry hanya bisa menduga bahwa di kontrak Hokey tercantum dia harus berbohong kalau disodori pertanyaan ini, karena Hepzibah Smith tampak jauh dari cantik menurut pendapat Harry.

Bel pintu berdenting nyaring dan baik majikan maupun peri-rumah terlonjak.

“Cepat, cepat, dia datang, Hokey!” seru Hepzibah dan si peri-rumah tergopoh-gopoh meninggalkan ruangan, yang penuh sesak dengan barang sehingga sulit dipahami bagaimana orang bisa berjalan ke seberang ruangan tanpa menabrak paling tidak selusin barang. Ada lemari penuh berisi kotak berpernis, peti-peti penuh buku dengan tulisan emas-timbul, rak-rak penuh tiruan bulan, planet, dan badan-badan angkasa lain, dan tanaman pot subur dalam wadah-wadah kuningan. Sejujurnya, ruangan itu kelihatan seperti campuran antara toko barang antik sihir dan rumah kaca.

Si peri-rumah muncul kembali beberapa menit kemudian, diikuti oleh seorang pemuda yang dengan mudah langsung dikenali Harry sebagai Voldemort.

Dia memakai setelan jas hitam sederhana; rambutnya sedikit lebih panjang daripada waktu dia masih di sekolah dan pipinya cekung, namun semua ini pantas untuknya; dia tampak lebih tampan daripada sebelumnya. Dia berjalan melewati barang-barang yang penuh sesak itu dengan sikap yang memperlihatkan bahwa dia telah acap kali datang sebelumnya dan membungkuk rendah di atas tangan kecil gemuk Hepzibah, menyentuhnya dengan bibirnya.

“Saya membawa bunga untuk Anda,” katanya pelan, memproduksi seikat mawar dari kekosongan.

“Anak nakal, tak usah repot-repot” pekik gembira si Hepzibah tua, meskipun Harry melihat bahwa dia sudah menyiapkan vas kosong di meja kecil terdekat. “Kau sungguh memanjakan ibu tua ini, Tom … duduklah, duduklah … di mana Hokey … ah …”

Si peri-rumah bergegas kembali ke dalam ruangan, membawa senampan kue-kue kecil, yang diletakkannya dekat siku majikannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.