Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tolong tutup pintunya dan silakan duduk, Harry,” kata Dumbledore, kedengarannya agak lelah.

Harry mematuhinya. Ketika dia duduk di kursinya yang biasa di depan meja Dumbledore, dilihatnya Pensieve sudah siap lagi di antara mereka, demikian juga dua botol kristal mungil berisi kenangan yang berpusar.

“Profesor Trelawney masih tidak suka Firenze mengajar?” Harry bertanya.

“Ya,” kata Dumbledore. “Ramalan ternyata pelajaran yang jauh lebih merepotkan daripada yang bisa kuperkirakan, mengingat aku sendiri tak pernah mengambil pelajaran ini. Aku tak bisa meminta Firenze kembali ke Hutan, dia sudah diusir dari sana, dan aku pun tak bisa meminta Sybill Trelawney pergi. Antara kita berdua saja, dia tidak menyadari bahaya yang mengintainya di luar kastil. Soalnya dia tidak tahu dan kurasa tidaklah bijaksana memberitahunya bahwa dia membuat ramalan tentang kau dan Voldemort.”

Dumbledore menghela napas dalam-dalam, kemudian berkata, “Tapi sudahlah, itu masalah staf guruku. Kita punya masalah yang jauh lebih penting untuk dibicarakan. Yang pertama-apakah kau sudah berhasil melaksanakan tugas yang kuberikan pada akhir pelajaran kita yang sebelumnya?”

“Ah,” kata Harry, kaget sendiri. Dengan pelajaran Apparition dan Quidditch dan Ron keracunan dan tengkoraknya sendiri retak dan tekadnya untuk mengetahui apa yang hendak dilakukan Draco Malfoy, Harry hampir lupa tentang kenangan yang diminta Dumbledore agar dikoreknya dari Profesor Slughorn … “Saya bertanya kepada Profesor Slughorn tentang itu, pada akhir pelajaran Ramuan, Sir, tetapi, er, beliau tidak mau memberikannya kepada saya.”

Hening sejenak.

“Begitu,” kata Dumbledore akhirnya, menatap Harry dari atas kacamata bulan-separonya dan membuat Harry merasakan sensasi yang biasa, sepertinya dia sedang dirontgen. “Dan kau merasa sudah melakukan usaha yang terbaik dalam hal ini, kan? Bahwa kau sudah mengeluarkan semua kepintaranmu? Bahwa tak ada lagi kecerdikanmu yang belum tergali dalam upayamu untuk mendapatkan kenangan itu?”

“Yah,” Harry terdiam, tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Satu-satunya usaha untuk mendapatkan kenangan itu tiba-tiba saja terasa sangat lemah memalukan. “Yah … pada hari Ron tidak sengaja meminum racun, saya membawanya ke Profesor Slughorn. Saya pikir barangkali kalau saya barangkali Profesor Slughorn cukup senang”

“Dan berhasilkah itu?” tanya Dumbledore.

“Tidak, Sir, karena Ron keracunan”

“yang, wajar saja, membuatmu lupa sama sekali tentang usahamu untuk mendapatkan kembali kenangan itu. Aku tak mengharapkan yang lain, sementara sahabatmu dalam bahaya. Tetapi setelah jelas bahwa Mr Weasley akan sehat kembali, aku tentunya berharap kau kembali ke tugas yang kuberikan kepadamu. Kupikir aku sudah mengatakan dengan jelas kepadamu betapa pentingnya kenangan ini. Malah, aku berusaha sebaik mungkin memberi impresi kepadamu, bahwa ini kenangan yang paling penting dari semuanya dan bahwa kita akan menyia-nyiakan waktu saja tanpa kenangan itu.”

Rasa malu yang panas menusuk-nusuk menyebar dari kepala ke seluruh tubuh Harry. Dumbledore tidak meninggikan suaranya, dia bahkan tidak kedengaran marah, namun Harry lebih suka kalau dia berteriak; kekecewaan yang dingin ini lebih buruk daripada segalanya.

“Sir,” katanya, agak putus asa, “bukannya saya tidak peduli atau apa. Hanya saja ada-ada hal-hal lain …”

“Hal-hal lain dalam pikiranmu,” Dumbledore menyelesaikan kalimat itu untuknya. “Begitu.”

Hening lagi di antara mereka, keheningan paling tidak nyaman yang pernah dialami Harry bersama Dumbledore. Keheningan itu rasanya berlanjut terus, hanya disela oleh dengkur kecil dari lukisan Armando Dippet di atas kepala Dumbledore. Harry merasa aneh, sepertinya tubuhnya menyusut, menjadi lebih kecil daripada ketika dia baru masuk ke ruangan itu.

Ketika sudah tak tahan lagi dia berkata, “Profesor Dumbledore, saya betul-betul minta maaf. Saya seharusnya melakukan lebih … saya seharusnya menyadari Anda tidak akan meminta saya melakukannya jika itu tidak benar-benar penting.”

“Terima kasih telah mengatakan itu, Harry,” kata Dumbledore pelan. “Bolehkah aku berharap, kalau begitu, bahwa kau memberi prioritas lebih tinggi kepada masalah ini mulai sekarang? Tak ada gunanya kita bertemu lagi setelah malam ini kalau kita tidak memiliki kenangan itu.”

“Saya akan melakukannya, Sir, saya akan mendapatkannya dari beliau,” kata Harry bersungguh-sungguh.

“Kalau begitu kita tidak akan berkata apa-apa lagi soal itu sekarang,” kata Dumbledore lebih ramah, “melainkan melanjutkan cerita kita dari tempat kita tinggalkan waktu itu. Kau ingat di mana?”

“Ya, Sir,” kata Harry cepat-cepat. “Voldemort membunuh ayahnya dan kakek-neneknya dan membuatnya tampak seakan pamannya Morfin yang melakukannya. Kemudian dia kembali ke Hogwarts dan dia bertanya … dia bertanya kepada Profesor Slughorn tentang Horcrux,” dia bergumam dengan malu.

“Bagus sekali,” kata Dumbledore. “Nah, kau masih ingat, kuharap, aku memberitahumu pada awal pertemuan kita bahwa kita akan memasuki dunia tebakmenebak dan spekulasi?”

“Ya, Sir.”

“Sejauh ini, kuharap kau setuju, aku telah memperlihatkan kepadamu sumber-sumber fakta yang cukup kuat untuk deduksiku tentang apa yang dilakukan Voldemort sampai berusia tujuh belas tahun?”

Harry mengangguk.

“Tetapi sekarang, Harry,” kata Dumbledore, “sekarang keadaan menjadi lebih kelam dan lebih aneh. Jika mencari bukti-bukti tentang Riddle sebagai anak saja sudah sulit, sekarang bahkan nyaris tak mungkin menemukan orang yang bersedia mengingat tentang Voldemort dewasa. Malah, aku meragukan apakah ada orang yang masih hidup, kecuali dirinya sendiri, yang bisa menuturkan kepada kita kisah lengkap hidupnya sejak dia meninggalkan Hogwarts. Meskipun demikian, aku punya dua kenangan terakhir yang ingin kubagi denganmu.” Dumbledore menunjuk dua botol kristal kecil yang berkilauan di sebelah Pensieve. “Setelah itu aku akan senang mendengar pendapatmu soal apakah kesimpulan yang kutarik dari dua kenangan itu masuk akal.”

Fakta bahwa Dumbledore menghargai pendapatnya begini tinggi membuat Harry semakin merasa sangat malu dia telah gagal melaksanakan tugas mendapatkan kenangan tentang Horcrux, dan dia bergerak dengan rasa bersalah di tempat duduknya sementara Dumbledore mengangkat botol pertama ke arah sinar lampu dan mengamatinya.

“Kuharap kau tidak bosan masuk ke dalam kenangan orang lain, karena ini kenangan yang aneh, yang dua ini” dia berkata. “Yang pertama ini datang dari peri-rumah perempuan yang sudah sangat tua bernama Hokey. Sebelum kita melihat apa yang disaksikan Hokey, aku harus menceritakan dengan cepat bagaimana Lord Voldemort meninggalkan Hogwarts.”

“Dia menyelesaikan tujuh tahun pendidikannya dengan, seperti yang mungkin telah kau duga, angka tertinggi dalam semua ujian yang diikutinya. Di sekitarnya, teman-teman sekelasnya sibuk memutuskan pekerjaan apa yang akan mereka kejar setelah meninggalkan Hogwarts. Hampir semua orang mengharapkan hal-hal spektakuler dari Tom Riddle, prefek, Ketua Murid, pemenang Penghargaan Istimewa untuk Pengabdian kepada Sekolah. Aku tahu bahwa beberapa guru, Profesor Slughorn di antaranya, menyarankan dia bergabung dengan Kementerian Sihir, menawarkan untuk membuatkan janji, memperkenalkannya dengan kontak-kontak yang berguna. Dia menolak semua tawaran. Hal berikutnya yang diketahui para guru, Voldemort bekerja di Borgin and Burkes.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.