Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Betul, dia,” kata Harry, meramalkan adanya bahaya besar dan bertekad langsung mencegahnya. “Dan kau dilarang memberinya petunjuk, Kreacher, atau menunjukkan kepadanya apa yang sedang kau lakukan, bahkan bicara dengannya sekalipun, atau menulis pesan kepadanya, atau … mengontaknya dengan cara apa pun. Mengerti?”

Harry melihat Kreacher berjuang mencari jalan keluar dalam instruksi yang baru saja diberikan kepadanya, dan menunggu. Selewat beberapa saat, dan Harry puas sekali karenanya, Kreacher membungkuk rendah lagi dan berkata, menyesali dengan getir, “Tuan memikirkan segalanya dan Kreacher harus mematuhinya, meSkipun Kreacher jauh lebih suka menjadi pelayan Tuan Malfoy itu, oh ya …”

“Beres, kalau begitu” kata Harry. “Aku menginginkan laporan berkala, tapi pastikan aku tidak sedang dikerumuni orang-orang kalau kalian muncul. Kalau Ron dan Hermione sih oke. Dan jangan bilang siapa-siapa apa yang sedang kalian lakukan. Tempel saja terus Malfoy, seperti sepasang plester pencabut kutil.”

-oO0O0-

20. PERMOHONAN LORD VOLDEMORT

Harry dan Ron meninggalkan rumah sakit hari Senin pagi-pagi, kembali sehat walafiat berkat perawatan Madam Pomfrey dan sekarang bisa menikmati manfaatnya dihantam sampai pingsan dan diracuni, manfaat terbaik adalah bahwa Hermione berbaikan lagi dengan Ron. Hermione bahkan mengawal mereka turun sarapan, membawa berita bahwa Ginny bertengkar dengan Dean. Makhluk yang selama ini tertidur dalam dada Harry mendadak mengangkat kepalanya, mengendus-endus udara dengan penuh harap.

“Apa yang mereka pertengkarkan?” Harry bertanya, berusaha terdengar biasa ketika mereka membelok ke koridor di lantai tujuh yang sepi, hanya ada seorang anak perempuan sangat kecil yang sedang mengamati permadani luas bergambar para troll yang memakai tutu, rok balet. Dia tampak ngeri melihat anak-anak kelas enam mendekat dan menjatuhkan timbangan kuningan berat yang dibawanya.

“Tak apa-apa!” kata Hermione ramah, bergegas maju untuk menolongnya. “Ini …” Dia mengetuk timbangan yang patah dengan tongkat sihirnya dan berkata, “Reparo.”

Anak itu tidak mengucapkan terima kasih, namun tetap terpaku di tempatnya ketika mereka lewat dan mengawasi mereka menghilang dari pandangan. Ron menoleh kembali melihatnya.

“Heran anak-anak itu makin lama makin kecil,” katanya.

“Tak usah pedulikan dia,” ujar Harry, sedikit tidak sabar. “Apa yang dipertengkarkan Ginny dan Dean, Hermione?”

“Oh, Dean menertawakan soal McLaggen yang memukul Bludger menghantammu,” kata Hermione.

“Pastinya lucu,” kata Ron masuk akal.

“Sama sekali tidak lucu!” kata Hermione panas. “Mengerikan malah, dan kalau Coote dan Peakes tidak menangkap Harry, dia bisa luka parah!” .

“Yeah, tapi Ginny dan Dean tak perlu putus gara-gara itu,” kata Harry, masih berusaha terdengar biasa. “Atau apakah mereka masih jadian?”

“Ya, masih — tapi kenapa sih kau begitu tertarik?” tanya Hermione, menatap tajam Harry.

“Aku cuma tak ingin tim Quidditch-ku kacau lagi!” kata Harry buru-buru, namun Hermione masih tampak curiga dan Harry lega sekali ketika ada suara di belakang mereka memanggil, “Harry!”, memberinya alasan untuk membelakangi Hermione.

“Oh, hai, Luna.”

“Aku ke rumah sakit mencarimu,” kata Luna, mencari-cari di dalam tasnya. “Tapi mereka bilang kau sudah pergi …”

Luna menyorongkan benda-benda yang tampaknya seperti bawang hijau, jamur payung besar bertotol, dan onggokan sesuatu seperti kotoran kucing ke tangan Ron, akhirnya menarik keluar gulungan perkamen agak kotor yang lalu diserahkannya kepada Harry.

“… aku disuruh memberikan ini kepadamu.”

Harry langsung mengenali gulungan kecil perkamen itu sebagai undangan untuk pelajaran dengan Dumbledore.

“Malam ini,” dia memberitahu Ron dan Hermione, begitu dia sudah membuka gulungannya.

“Komentar yang menarik pertandingan lalu!” kata Ron kepada Luna, ketika dia mengambil kembali bawang hijau, jamur payung, dan kotoran kucingnya. Luna tersenyum samar.

“Kau meledekku, ya?” katanya. “Semua orang bilang aku parah.”

“Tidak, aku serius,” kata Ron sungguh-sungguh. “Seingatku, belum pernah aku menikmati komentar Quidditch seperti waktu mendengar komentarmu! Ngomong-ngomong, ini apa sih?” dia menambahkan, mengangkat benda seperti bawang itu ke depan matanya.

“Oh, itu akar Gurdy, kata Luna, memasukkan lagi kotoran kucing dan jamur payung ke dalam tasnya. “Boleh buatmu kalau kau mau. Aku punya beberapa. Akar Gurdy manjur sekali untuk menghilangkan jerawat besar.”

Dan Luna pergi, meninggalkan Ron tertawa terkekeh-kekeh, masih memegangi akar Gurdy.

Kalian tahu, aku makin suka Luna, katanya, ketika mereka meneruskan berjalan menuju Aula Besar. “Aku tahu dia sinting, tapi dalam arti baik, gitu-”

Ron mendadak berhenti bicara. Lavender Brown berdiri di kaki tangga pualam, tampak sangat berang.

“Hai ” sapa Ron gugup

“Yukz” Harry bergumam kepada Hermione, dan mereka bergegas pergi. Meskipun demikian mereka masih sempat mendengar Lavender berkata, “Kenapa kau tidak memberitahuku kau keluar hari ini? Dan kenapa dia bersamamu?”

Ron tampak sebal dan jengkel ketika dia muncul untuk sarapan setengah jam kemudian, dan meskipun dia duduk dengan Lavender, Harry tidak melihat mereka bertukar kata sama sekali selama mereka bersama-sama. Hermione bersikap seakan dia tidak melihat semua ini, namun sekali atau dua kali Harry melihat seringai yang tak bisa dijelaskan menghiasi wajahnya. Sepanjang hari itu Hermione tampak sangat girang, dan malam itu di ruang rekreasi dia bahkan bersedia memeriksa (dengan kata lain, menyelesaikan menulis) esai Herbologi Harry, sesuatu yang selama ini dengan tegas ditolaknya, karena dia tahu bahwa Harry kemudian akan mengizinkan Ron menyalin pekerjaannya.

“Terima kasih banyak, Hermione,” kata Harry, memberinya belaian buru-buru pada punggungnya, seraya mengecek arlojinya dan melihat sudah hampir jam delapan. “Dengar, aku harus cepat-cepat, kalau tidak aku akan terlambat untuk pelajaran dengan Dumbledore …”

Hermione tidak menjawab, melainkan hanya mencoret beberapa kalimat Harry yang kurang oke dengan gaya jemu. Nyengir, Harry bergegas keluar melewati lubang lukisan dan menuju kantor Kepala Sekolah. Gargoyle melompat minggir ketika dia menyebut permen karamel dan Harry menaiki tangga spiral dua anak tangga sekali langkah, mengetuk pintu tepat ketika jam di dalam berdentang delapan kali.

“Masuk,” Dumbledore mempersilakan, namun ketika Harry mengulurkan tangan untuk mendorong pintu, pintu itu ditarik terbuka dari dalam. Profesor Trelawney berdiri di depannya.

“Aha!” serunya, menunjuk Harry secara dramatis ketika dia mengerjap memandangnya lewat kacamatanya yang seperti kaca pembesar. “Jadi, inikah alasannya aku diusir begitu saja dari kantormu, Dumbledore?”

“Sybill yang baik,” kata Dumbledore dengan nada agak mendongkol, “tak ada yang mengusirmu begitu saja dari mana pun, tapi Harry memang punya janji denganku dan aku sungguh berpendapat tak ada lagi yang bisa dikatakan”

“Baiklah,” kata Profesor Trelawney, dengan suara amat tersinggung. “Kalau kau tak mau mengusir kuda tua yang merampas jabatanku, ya sudah … barangkali aku akan mencari sekolah yang lebih menghargai bakatku …”

Dia melewati Harry dan menghilang menuruni tangga spiral. Mereka mendengarnya terjatuh separo jalan dan Harry menebak bahwa dia terserimpet salah satu syalnya yang panjang menjuntai.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.