Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Aku tak pernah bilang semua itu cuma ada dalam kepalamu,” kata Ron, sekarang ganti dia yang menyangga dirinya pada sikunya dan memandang Harry dengan mengernyit, “tapi tak ada peraturan yang mengatakan hanya satu orang setiap kali yang boleh merencanakan sesuatu di tempat ini! Kau jadi agak terobsesi dengan Malfoy, Harry. Maksudku, sampai memikirkan tidak ikut pertandingan hanya agar bisa mengikutinya …”

“Aku ingin menangkap basah dia!” kata Harry frustrasi. “Maksudku, ke mana dia pergi ketika dia menghilang dari peta?”

“Aku tak tahu … Hogsmeade?” usul Ron, menguap.

“Aku tak pernah melihatnya melewati salah satu jalan rahasia di peta. Lagi pula, kukira jalan-jalan itu dijaga sekarang?”

“Yah, kalau begitu aku tak tahu.”

Hening di antara mereka. Harry menatap lingkaran cahaya di atasnya, berpikir …

Kalau saja dia memiliki kekuasaan seperti Rufus Scrimgeour, dia akan bisa menyuruh orang untuk membuntuti Malfoy, tetapi sayangnya Harry tidak memiliki kantor yang penuh Auror yang bisa diperintahnya … sekilas dia berpikir akan mengatur sesuatu dengan LIDw, namun tetap akan ada masalah anak-anak yang tak bisa ikut pelajaran; sebagian besar dari mereka masih memiliki jadwal pelajaran yang padat …

Terdengar dengkur pelan dari tempat tidur Ron. Selewat beberapa saat Madam Pomfrey keluar dari kantornya, kali ini memakai gaun tidur tebal. Paling mudah berpura-pura tidur. Harry berbaring miring dan mendengar semua gorden menarik menutup ketika Madam Pomfrey melambaikan tongkat sihirnya. Lampu meredup, dan dia kembali ke kantornya. Harry mendengar pintu menceklik menutup di belakangnya, dan tahu bahwa Madam Pomfrey pergi tidur.

Ini, Harry mengenang dalam gelap, ketiga kalinya dia dirawat di rumah sakit disebabkan kecelakaan dalam Quidditch. Yang terakhir kali dia terjatuh dari sapunya gara-gara kehadiran para Dementor di sekeliling lapangan, dan sebelum itu, semua tulang lenyap dari lengannya, akibat ulah konyol Profesor Lockhart … itu kecelakaan yang paling menyakitkan … dia masih ingat betapa menderitanya menumbuhkan kembali tulang-tulang lengannya, sakitnya tidak menjadi berkurang dengan kunjungan tamu tak diharapkan di tengah ma-

Harry langsung duduk tegak, jantungnya berdegup kencang, perbannya miring. Dia mendapatkan solusinya akhirnya: ada jalan untuk membuntuti Malfoy — bagaimana dia bisa melupakannya, bagaimana dia bisa tak memikirkannya sebelumnya?

Namun pertanyaannya adalah, bagaimana memanggilnya? Apa yang harus dilakukannya?

Perlahan, dengan coba-boba, Harry bicara ke dalam kegelapan.

“Kreacher?”

Terdengar lecutan keras dan bunyi orang berkelahi dan jeritan memenuhi ruangan yang sunyi. Ron terbangun sambil memekik.

“Apa yang-?”

Harry buru-buru mengacungkan tongkatnya ke arah pintu kantor Madam Pomfrey dan menggumamkan “Muf fliato!” supaya dia tidak datang berlarian. Kemudian dia merayap ke tepi tempat tidurnya untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi.

Dua peri-rumah sedang berguling-guling di tengah lantai kamar, yang satu memakai sweter mengkeret merah tua dan beberapa topi wol, yang satunya lagi memakai kain lap kumal yang diikatkan pada pinggulnya seperti cawat. Kemudian terdengar letupan keras lagi, dan Peeves, si hantu jail muncul di tengah udara di atas kedua peri-rumah yang sedang bergumul.

“Aku sedang menonton itu, Potty” dia memberitahu Harry dengan marah, menunjuk pergumulan di bawahnya, sebelum terkekeh keras. “Lihat makhluk lucu itu berantem, gigit, gigit, pukul, pukul-”

“Kreacher tak akan bisa menghina Harry Potter di depan Dobby, tak bisa, Dobby akan menutup mulut Kreacher untuk Harry Potter!” seru Dobby dengan suara melengking tinggi.

“-tendang, cakar!” teriak Peeves gembira, sekarang melempar-lempar potongan kapur kepada dua peri-rumah itu untuk membuat mereka semakin marah, “Jewer, tonjok!”

“Kreacher mau omong apa saja yang dia suka tentang tuannya, oh ya, dan tuan macam apa dia, berteman dengan Darah-lumpur, oh, apa yang akan dikatakan majikan lama Kreacher yang malang?”

Apa persisnya yang akan dikatakan majikan Kreacher mereka tidak akan tahu, karena saat itu Dobby membenamkan tinjunya yang kecil dan bertulang ke dalam mulut Kreacher dan merontokkan separo giginya. Harry dan Ron melompat turun dari tempat tidur masing-masing dan memisahkan kedua peri-rumah itu, walaupun mereka masih terus berusaha saling tendang dan pukul, dipanasi oleh Peeves yang melayang-layang mengelilingi lampu, berteriak-teriak, “Colokkan jarimu ke hidungnya, jewer telinganya-”

Harry mengarahkan tongkat sihirnya kepada Peeves dan berkata, “Langlock!” Peeves mencengkeram tenggorokannya, menelan ludah, kemudian melayang pergi dari kamar dengan membuat gerakan-gerakan kurang ajar, tetapi tak bisa bicara, karena lidahnya sudah melekatkan diri ke langit-langit mulutnya,

“Bagus,” kata Ron memuji, mengangkat Dobby ke atas supaya tangan dan kakinya yang menonjok dan menendang tidak bisa mengenai Kreacher. “Itu salah satu kutukan Pangeran yang lain, kan?”

“Yeah,” kata Harry, menelikung sebelah lengan Kreacher yang keriput. “Baik aku melarang kalian berantem! Nah, Kreacher, kau kularang menyerang Dobby. Dobby, aku tahu aku tak boleh memberimu perintah”

“Dobby peri-rumah merdeka dan dia bisa mematuhi siapa saja yang dia suka dan Dobby akan melakukan apa saja yang diinginkan Harry Potter!” kata Dobby, air mata sekarang bercucuran di wajah mungilnya yang keriput dan menetes ke sweaternya.

“Oke, kalau begitu,” kata Harry dan dia dan Ron melepaskan kedua peri-rumah itu, yang terjatuh ke lantai, namun tidak melanjutkan bergumul.

“Tuan memanggilku” tanya Kreacher parau, membungkuk rendah, kendatipun dia melempar pandangan kepada Harry yang jelas sekali mengharapkan Harry mati dengan menderita.

“Yeah, aku memanggilmu,” Harry, mengerling ke arah pintu kantor Madam bahwa mantra Muffliato masih bekerja. Tak ada tanda-tanda bahwa dia mendengar keributan itu. “Aku punya tugas untukmu.”

“Kreacher akan melakukan apa pun yang diinginkan Tuan,” kata Kreacher, membungkuk rendah sekali sehingga bibirnya nyaris menyentuh jari-jari kakinya yang berbonggol, “karena Kreacher tak punya pilihan, tapi Kreacher malu punya majikan seperti ini, ya”

“Dobby akan melaksanakannya, Harry Potter!” lengking Dobby, matanya yang sebesar bola tenis masih digenangi air mata. “Dobby akan mendapat kehormatan kalau bisa membantu Harry Potter!”

“Kalau dipikir-pikir, bagus kalau kalian berdua melakukannya,” kata Harry. “Oke, kalau begitu … aku ingin kalian berdua diam-diam membuntuti Draco Malfoy.”

Mengabaikan campuran keheranan dan putus asa di wajah Ron, Harry melanjutkan, “Aku ingin tahu ke mana dia pergi, siapa yang ditemuinya, dan apa yang dilakukannya. Aku ingin kalian berdua membuntutinya dua puluh empat jam sehari.”

“Baik, Harry Potter!” kata Dobby langsung menyanggupi, matanya yang besar berkilauan penuh semangat. “Dan jika Dobby salah melakukannya, Dobby akan melempar dirinya dari menara yang paling tinggi, Harry Potter!”

“Tak perlu begitu,” kata Harry buru-buru.

“Tuan ingin aku membuntuti anggota keluarga Malfoy yang paling muda?” teriak Kreacher parau. “Tuan ingin aku memata-matai cucu-keponakan berdarah-murni majikanku yang dulu?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.