Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Dan Smith Hufflepuff membawa Quaffle,” kata suara melamun, bergaung di atas lapangan. “Smith yang jadi komentator pada pertandingan lalu itu, dan Ginny Weasley terbang menabraknya, kurasa sengaja kelihatannya begitu. Smith waktu itu kurang ajar terhadap Gryffindor, kukira dia menyesalinya sekarang, setelah bermain melawan Gryffindor — oh, lihat, dia kehilangan Quaffle-nya, Ginny mengambilnya darinya. Aku suka sekali Ginny, orangnya baik banget …”

Harry menatap podium komentator. Tentunya, orang yang waras tak akan mengizinkan Luna Lovegood mengomentari pertandingan? Namun bahkan dari atas, tak salah lagi itu pasti Luna, rambutnya yang pirang kotor panjang, ataupun kalungnya yang dari untaian gabus Butterbeer … Di samping Luna, Profesor McGonagall tampak sedikit canggung, seolah dia memang menyesali pilihannya.

“… tapi sekarang pemain Hufflepuff yang besar itu merebut Quaffle dari Ginny. Aku tak ingat namanya, kalau tak salah Bibble-eh, bukan, Buggins-”

“Namanya Cadwallader!” kata Profesor McGonagall keras dari sebelah Luna. Penonton tertawa.

Harry memasang mata mencari Snitch lagi; tak ada tanda-tanda adanya Snitch. Sejenak kemudian Cadwallader mencetak gol. McLaggen sibuk meneriak dan kritikan kepada Ginny karena telah melepas Quaffle dari pegangannya, akibatnya dia tak melihat bola besar merah itu meluncur melewati telinga kanannya.

“McLaggen, tolong perhatikan tugasmu sendiri dan jangan gerecoki yang lain!” teriak Harry, terbang memutar untuk menghadapi Keeper-nya.

“Kau tidak memberi contoh yang baik!” McLaggen balas membentak, marah, wajahnya merah padam.

“Dan Harry Potter sekarang berantem dengan Keeper-nya, kata Luna tenang, sementara anak-anak Hufflepuff dan Slytherin yang menonton di bawah bersorak dan mengejek. “Menurutku itu tidak akan membantunya menemukan Snitch, tapi barangkali itu tipu muslihat yang cerdik …”

Mengumpat marah, Harry berputar dan terbang mengelilingi lapangan lagi, meneliti langit, mencari-cari bola emas kecil bersayap.

Ginny dan Demelza mencetak gol masing-masing sekali, memberi kesempatan bagi suporter mereka yang berpakaian merah-emas untuk bersorak. Kemudian Cadwallader memasukkan bola lagi, membuat skor seimbang, tetapi Luna tampaknya tidak menyadarinya. Dia rupanya tidak tertarik pada hal-hal biasa seperti gol, dan terus-menerus berusaha menarik perhatian penonton pada hal-hal seperti awan-awan yang berbentuk menarik dan kemungkinan bahwa Zacharias Smith, yang sejauh ini gagal mempertahankan Quaffle lebih lama dari semenit, menderita sesuatu yang disebut “Penyakit Pecundang”.

“Tujuh puluh – empat puluh untuk Huffepuff!” hardik Profesor McGonagall ke dalam megafon Luna

“Sudah segitu?” kata Luna tak jelas. “Oh lihat! Keeper Gryffindor merebut salah satu pemukul Beater.

Harry berputar-balik di tengah udara. Betul saja, McLaggen, untuk alasan yang hanya dia sendiri yang tahu, telah menarik pemukul Peakes darinya dan rupanya sedang mendemonstrasikan bagaimana caranya menghantam Bludger ke arah Cadwallader yang sedang terbang ke arah mereka.

“Kembalikan pemukulnya dan kembali ke tiang gawangmu!” raung Harry, meluncur ke arah McLaggen tepat ketika McLaggen dengan ganas menghantam Bludger dan meleset.

Rasa sakit yang luar biasa … kilatan cahaya … jeritanjeritan di kejauhan … dan sensasi terjatuh ke dalam terowongan panjang …

Dan hal berikutnya yang diketahui Harry, dia terbaring di tempat tidur yang hangat dan sangat nyaman, dan memandang lampu yang memancarkan lingkaran cahaya keemasan ke langit-langit gelap. Dia mengangkat kepalanya dengan canggung. Di sebelah kirinya ada orang dengan pipi berbintik-bintik dan berambut-merah yang rasanya dikenalnya.

“Baik sekali kau mau menemaniku,” kata Ron, nyengir.

Harry mengerjap dan memandang berkeliling. Tentu saja, dia ada di rumah sakit. Langit di luar berwarna ungu tua dengan semburat merah. Pertandingan pastilah sudah usai berjam-jam yang lalu … dan hilang jugalah kesempatannya untuk menyudutkan Malfoy.

Kepala Harry rasanya berat sekali; dia mengangkat tangan dan merasakan perban yang membentuk turban kaku.

“Apa yang terjadi?”

“Tengkorak retak,” kata Madam Pomfrey, bergegas datang dan mendorongnya kembali ke bantalnya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku langsung memperbaikinya, tapi aku menahanmu semalam di sini. Kau tak boleh bekerja terlalu keras selama beberapa jam.”

“Aku tak mau tinggal di sini semalaman,” kata Harry marah, duduk dan melempar selimutnya. “Aku mau mencari McLaggen dan membunuhnya.”

“Sayangnya itu termasuk dalam kategori ‘kerja keras’,” kata Madam Pomfrey, dengan tegas mendorong Harry ke tempat tidurnya lagi dan mengangkat tongkat sihirnya dengan sikap mengancam. “Kau akan tinggal di sini sampai kuizinkan pulang, Potter, kalau tidak akan kupanggilkan Kepala Sekolah.”

Madam Pomfrey kembali ke kantornya dan Harry membenamkan diri kembali ke bantal-bantalnya, menggerutu.

“Apakah kau tahu seberapa banyak kita kalah?” dia menanyai Ron dengan gigi mengertak.

“Yeah, tahu,” kata Ron dengan nada meminta maaf.

“Skor final adalah tiga ratus dua puluh lawan enam puluh.”

“Hebat,” kata Harry buas. “Benar-benar hebat! Kalau aku berhasil menangkap McLaggen

“Kau jangan menangkapnya, ukurannya sebesar troll,” saran Ron masuk akal. “Aku pribadi berpendapat mendingan dia dikutuk dengan kutukan kuku-nya si Pangeran itu. Bagaimanapun juga, anggota tim yang lain mungkin sudah menanganinya sebelum kau keluar dari sini, mereka tidak senang …”

Ada nada riang yang tak berhasil disembunyikan dalam suara Ron. Harry bisa menerka Ron senang sekali McLaggen mengacaukan pertandingan begitu rupa. Harry berbaring di tempat tidurnya, menatap lingkaran cahaya di langit-langit, tengkoraknya yang baru diperbaiki tidak sakit, persisnya, namun terasa agak lunak di bawah semua perban itu.

“Aku bisa mendengar komentar pertandingan dari sini,” kata Ron, suaranya sekarang berguncang karena tawa. “Kuharap Luna terus yang akan jadi komentator mulai sekarang… Penyakit Pecundang…”

Namun Harry masih terlalu marah untuk melihat kelucuan dalam situasi itu, dan selewat beberapa saat dengus tawa Ron mereda.

“Ginny datang menengok waktu kau masih pingsan,” katanya, setelah diam lama, dan imajinasi Harry langsung melesat, dengan cepat mereka-reka adegan di mana Ginny, tersedu-sedu di atas tubuhnya yang tak bergerak, menyatakan ketertarikannya yang mendalam terhadapnya, sementara Ron merestui hubungan mereka … “Dia bilang kau tiba ketika pertandingan sudah hampir mulai. Bagaimana bisa begitu? Kau berangkat dari sini cukup pagi.”

“Oh …” kata Harry, ketika adegan dalam benaknya meledak buyar. “Yeah … soalnya aku melihat Malfoy menyelinap dengan dua cewek yang kelihatannya tidak mau berada bersamanya, dan itu untuk kedua kalinya dia memastikan dia tidak berada di lapangan Quidditch bersama anak-anak lain. Dia juga tidak ikut pertandingan yang lalu, ingat?” Harry menghela napas. “Kalau tahu pertandingannya hancur begini, mending aku tadi mengikutinya …”

“Jangan bodoh,” ” kata Ron tajam. “Kau tak mungkin tak ikut pertandingan Quidditch hanya demi mengikuti Malfoy, kau kan Kapten-nya!”

“Aku ingin tahu dia sedang merencanakan apa,” kata Harry. “Dan jangan bilang semua itu cuma ada dalam kepalaku, tidak setelah apa yang kudengar dibicarakan antara dia dan Snape”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.