Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Namun Harry tidak punya banyak waktu untuk memikirkan masalah ini; mana bisa, dengan adanya latihan Quidditch, PR, dan kenyataan bahwa ke mana saja dia pergi dia sekarang diikuti oleh Cormac McLaggen dan Lavender Brown.

Dia tak bisa memutuskan yang mana dari mereka berdua yang lebih mengesalkan. McLaggen tak putus-putusnya memberi petunjuk bahwa dia akan jadi Keeper permanen yang lebih baik bagi tim daripada Ron, dan sekarang setelah Harry melihatnya bermain secara tetap, pastilah dia akan berpendapat demikian juga. McLaggen juga senang mengkritik pemain-pemain yang lain dan memberi Harry rancangan latihan yang terperinci, sehingga lebih dari sekali Harry terpaksa mengingatkan dia siapa yang Kapten.

Sementara itu, Lavender terus-menerus merendengi Harry untuk membicarakan Ron, dan bagi Harry ini malah hampir lebih melelahkan daripada kuliah Quidditch McLaggen. Awalnya, Lavender sangat jengkel karena tak ada yang ingat memberitahu dia bahwa Ron ada di rumah sakit “gimana sih, aku ini kan ceweknya!” namun sayangnya dia sekarang telah memutuskan untuk memaafkan Harry atas kealpaannya ini dan gemar sekali ngobrol mendalam dengannya tentang perasaan Ron, pengalaman sangat tidak menyenangkan yang kalau bisa dihindari, Harry akan senang sekali.

“Dengar, kenapa kau tidak bicara dengan Ron tentang semua ini?” Harry bertanya, setelah interogasi superlama dari Lavender yang mencakup segala sesuatu dari apa persisnya yang dikatakan Ron tentang jubah resmi Lavender yang baru sampai apakah menurut Harry, Ron menganggap hubungannya dengan Lavender “serius”.

“Mauku sih begitu, tapi dia selalu tidur kalau aku datang menjenguknya!” kata Lavender resah.

“Masa?” Harry heran karena Ron selalu siap siaga sepenuhnya setiap kali dia ke rumah sakit, sangat tertarik mendengar kabar tentang pertengkaran Dumbledore dan Snape dan senang mengumpat McLaggen sebanyak mungkin.

“Apakah si Hermione Granger masih mengunjunginya?” Lavender tiba-tiba bertanya.

“Yeah, kurasa begitu. Mereka teman, kan?” kata Harry kikuk.

“Teman, jangan bikin aku tertawa,” kata Lavender menghina. “Dia tidak bicara pada Ron selama berminggu-minggu setelah Ron jadian denganku! Tapi kurasa dia mau baikan dengan Ron sekarang setelah dia jadi menarik …”

“Kau menganggap keracunan itu menarik?” tanya Harry. “Tapi-sori deh, aku harus pergi-tuh McLaggen datang mau ngomong tentang Quidditch,” kata Harry buru-buru, dan dia melesat ke samping, memasuki pintu yang menyamar menjadi dinding padat dan berlari sepanjang jalan pintas yang akan membawanya ke kelas Ramuan. Untunglah baik Lavender maupun McLaggen tak bisa mengikutinya ke kelas Ramuan.

Pada pagi hari pertandingan Quidditch melawan Hufflepuff, Harry singgah di rumah sakit sebelum menuju lapangan. Ron sangat gelisah. Madam Pomfrey menolak memberinya izin menonton pertandingan, karena merasa itu akan membuatnya terlalu tegang.

“Jadi, bagaimana perkembangan McLaggen?” dia bertanya kepada Harry dengan gugup. Rupanya dia lupa sudah mengajukan pertanyaan yang sama itu dua kali.

“Sudah kukatakan, kan” kata Harry sabar, “dia boleh saja berkelas dunia dan aku tak ingin mempertahankannya. Dia terus-menerus berusaha memberitahu setiap orang apa yang harus dilakukan, dia menganggap dirinya bisa memainkan semua posisi lebih baik daripada kita semua. Aku sudah tak sabar ingin lepas darinya. Dan ngomong-ngomong soal lepas dari orang,” Harry menambahkan, bangkit berdiri dan mengambil Firebolt-nya, “kau jangan pura-pura tidur lagi dong kalau Lavender datang menengokmu. Dia juga bikin aku senewen.”

“Oh,” kata Ron malu. “Yeah. Baiklah.

“Kalau kau tak mau lagi jadian dengannya, bilang saja padanya,” kata Harry.

“Yeah … tapi … tidak segampang itu, kan?” kata Ron. Dia berhenti sejenak. “Hermione akan ke sini sebelum pertandingan?” dia bertanya sambil lalu.

“Tidak, dia sudah ke lapangan dengan Ginny.”

“Oh” kata Ron, tampak agak muram. “Baiklah. Semoga sukses. Mudah-mudahan kau menggebuk Mac-Lag maksudku, Smith.”

“Akan kuusahakan,” kata Harry, memanggul sapunya. “Sampai nanti, habis pertandingan.”

Harry bergegas melewati koridor-koridor kosong. Seluruh penghuni sekolah sudah di luar, kalau tidak sudah duduk di stadion ya sedang menuju ke sa Dia sedang memandang ke luar jendela-jendela yang dilewatinya, berusaha menaksir kekuatan angin yang akan mereka hadapi, ketika suara di depannya membuat dia menoleh dan dia melihat Malfoy berjalan ke arahnya, ditemani dua anak perempuan, yang duaduanya tampak kesal dan marah.

Malfoy mendadak berhenti melihat Harry, kemudian tertawa pendek, garing, dan berjalan lagi.

“Mau ke mana kau?” tuntut Harry.

“Yeah, aku akan memberitahu kau karena ini urusanmu, Potter,” cemooh Malfoy. “Kau sebaiknya buruan, mereka akan menunggu Sang Kapten Terpilih — Anak yang Mencetak Gol — apa pun julukan mereka untukmu sekarang ini.”

Salah seorang anak perempuan itu terkikik terpaksa. Harry memandangnya. Wajahnya langsung merona merah. Malfoy melewati Harry dan anak perempuan itu bersama temannya mengikutinya, membelok di sudut dan menghilang dari pandangan.

Harry berdiri terpaku di tempatnya dan mengawasi mereka menghilang. Ini sungguh menjengkelkan. Sudah mepet sekali baginya untuk bisa tiba di tempat pertandingan pada waktunya, padahal di sini ada Malfoy, menyelinap kabur sementara sekolah sedang kosong. Sejauh ini, sekaranglah kesempatan terbaik Harry untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Malfoy. Detik demi detik berlalu hening, dan Harry tetap berdiri di tempatnya, membeku, menatap tempat Malfoy menghilang …

“Dari mana saja kau?” tuntut Ginny, ketika Harry berlari masuk ke ruang ganti. Seluruh tim sudah berganti pakaian dan siap. Coote dan Peakes, kedua Beater, memukul-mukulkan tongkat pemukul mereka dengan gelisah ke kaki mereka.

“Aku bertemu Malfoy,” Harry memberitahu Ginny pelan, seraya memakai jubah merahnya lewat kepalanya.

“Jadi?”

“Jadi, aku ingin tahu kenapa dia ada di kastil dengan dua cewek, sementara semua anak lain ada di sini …”

“Apakah itu penting sekarang?”

“Yah, aku tak akan tahu, kan?” kata Harry, menyambar Firebolt-nya dan meluruskan kacamatanya. “Yuk!”

Dan tanpa kata lagi, dia keluar ke lapangan disambut sorakan dan ejekan “buu” yang membahana. Hanya ada sedikit angin, awan di sana-sini, dan dari waktu ke waktu ada sorot cahaya matahari yang menyilaukan.

“Kondisi yang rumit!” McLaggen berkata menguatkan tim. “Coote, Peakes, kalian harus terbang dari arah matahari, jadi mereka tidak melihat kalian datang”

“Aku Kapten-nya, McLaggen, berhenti memberi instruksi kepada mereka,” kata Harry jengkel. “Pergilah ke tiang gol!”

Begitu McLaggen sudah pergi, Harry menoleh ke pada Coote dan Peakes.

“Pastikan kalian memang terbang dari arah matahari,” dia memberitahu mereka dengan enggan.

Harry berjabat tangan dengan Kapten Hufflepuff, dan kemudian, pada tiupan peluit Madam Hooch menjejak dan melesat ke angkasa, lebih tinggi daripada anggota timnya, meluncur mengelilingi lapangan, mencari Snitch. Jika dia berhasil menangkap Snitch dengan cepat, barangkali masih ada kesempatan dia bisa kembali ke kastil, mengambil Peta Perampok-nya dan mencari tahu apa yang sedang dilakukan Malfoy.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.