Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kalau kau ada di sana untuk melindunginya … Severus, maukah kau bersumpah? Maukah kau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar?”

“Sumpah Tak-Terlanggar?” ekspresi Snape kosong, tak bisa ditebak: Bellatrix, sebaliknya, tertawa terbahak.

“Apa kau tidak mendengarkan, Narcissa? Oh, dia akan berusaha, aku yakin … kata-kata kosong yang biasa, penghindaran yang biasa … oh, atas perintah Pangeran Kegelapan, tentunya!”

Snape tidak memandang Bellatrix. Matanya yang hitam menatap mata biru Narcissa yang digenangi air mata, sementara Narcissa terus menggenggam tangannya.

“Tentu, Narcissa, aku mau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar,” katanya pelan. “Barangkali kakakmu bersedia menjadi Pengikat kita.”

Mulut Bellatrix ternganga. Snape berlutut di depan Narcissa. Di bawah tatapan tercengang Bellatrix, tangan kanan mereka berpegangan.

“Kau perlu tongkat sihirmu, Bellatrix,” kata Snape dingin.

Bellatrix mencabut tongkat sihirnya, masih tampak keheranan.

“Dan kau perlu mendekat sedikit,” kata Snape. Bellatrix melangkah maju sehingga dia berdiri di depan mereka dan meletakkan ujung tongkat sihirnya ke tangan mereka yang bersatu. Narcissa bicara.

“Maukah kau, Snape, menjaga anakku Draco ketika dia berusaha memenuhi keinginan Pangeran Kegelapan?”

“Aku mau,” kata Snape.

Lidah api tipis cemerlang meluncur dari tongkat sihir dan meliliti tangan mereka seperti kawat panas merah.

“Dan maukah kau, semampumu, melindunginya dari bahaya?”

“Aku mau,” kata Snape.

Lidah api kedua meluncur dari tongkat sihir dan berjalin dengan yang pertama, menjadi rantai indah membara.

“Dan, jika diperlukan …. jika tampaknya Draco akan gagal …” bisik Narcissa (tangan Snape mengejang dalam tangan Narcissa, namun Snape tidak menariknya),

“maukah kau menyelesaikan pekerjaan yang telah ditugaskan Pangeran Kegelapan kepada Draco?”

Sejenak hening. Bellatrix mengawasi, tongkat sihirnya di atas tangan mereka yang saling genggam, matanya terbelalak.

“Aku mau,” kata Snape.

Wajah keheranan Bellatrix berpendar merah dalam cahaya lidah api ketiga, yang meluncur dari tongkat sihirnya, berjalin dengan yang lain dan mengikat kuat tangan mereka seperti tali, seperti ular api.

-oO0O0-

03. MAU DAN TAK MAU

Harry potter mendengkur keras. Dia sudah duduk di kursi dekat jendela kamarnya selama hampir empat jam, menatap ke luar jalan yang gelap, dan akhirnya tertidur dengan sebelah pipinya menempel di kaca jendela, kacamatanya miring, dan mulutnya terbuka lebar. Uap hangat yang ditinggalkan napasnya di jendela berkilau kena cahaya jingga lampu jalan di luar, dan lampu artifisial itu membuat wajahnya kehilangan warna sehingga dia tampak pucat di bawah rambut hitamnya yang awut-awutan.

Bermacam barang dan sampah bertebaran di dalam kamar itu. Bulu burung hantu, bagian tengah apel; dan bungkus permen berserakan di lantai, beberapa buku mantra tergeletak sembarangan di antara jubah-jubah yang teronggok begitu saja di atas tempat tidurnya, dan berbagai surat kabar tertebar kacau dalam sorotan cahaya di mejanya. Salah satu kepala beritanya berbunyi:

HARRY POTTER: SANG TERPILIH?

Desas-desus masih terus beredar tentang gangguan misterius di Kementerian Sihir baru-baru ini. Dalam peristiwa itu Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut sekali lagi terlihat.

“Kami dilarang bicara soal itu, jangan tanya apa-apa kepada saya,” kata salah seorang Obliviator yang gelisah, yang menolak menyebutkan namanya ketika dia meninggalkan Kementerian semalam.

Kendatipun demikian, sumber-sumber yang ditempatkan di posisi strategis dalam Kementerian menegaskan bahwa kekacauan itu berpusat di Ruang Ramalan yang banyak diceritakan.

Walaupun juru bicara Kementerian sampai sekarang bahkan masih menolak mengonfirmasi keberadaan tempat itu, makin banyak anggota komunitas sihir yang percaya bahwa para Pelahap Maut yang sekarang menjalani hukuman di Azkaban dengan tuduhan pelanggaran dan upaya pencurian sebetulnya berusaha mencuri ramalan. Ramalan apa itu sebetulnya tetap tidak diketahui, meskipun spekulasi yang beredar luas mengatakan bahwa itu ada hubungannya dengan Harry Potter, satu-satunya orang yang diketahui berhasil selamat dari Kutukan Kematian. Harry Potter juga diketahui berada di Kementerian malam itu. Beberapa orang bahkan sudah menyebut Potter “Sang Terpilih”. Mereka percaya bahwa ramalan itu menyebutnya sebagai satu-satunya yang akan sanggup membebaskan kita dari Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut.

Keberadaan ramalan itu saat ini, jika ramalan itu memang benar ada, tidak diketahui, meskipun (bersambung ke hal 2, kol 5)

Surat kabar kedua tergeletak di sebelah yang pertama. Yang ini dengan kepala berita:

SCRIMGEOUR MENGGANTIKAN FUDGE

Sebagian besar halaman depan surat kabar ini terisi oleh foto besar hitam-putih seorang pria dengan rambut tebal seperti – surai singa dan wajah dengan beberapa bekas luka. Foto ini bergerak-gerak-pria ini melambai ke langit-langit.

Rufus Scrimgeour, yang tadinya menjabat Kepala Kantor Auror di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, menggantikan Cornelius Fudwge sebagai Menteri Sihir. Penunjukan ini disambut sangat antusias oleh komunitas sihir, meskipun gunjingan adanya keretakan antara menteri baru dan Albus Dumbledore, yang belum lama ini diangkat lagi menjadi Hakim Ketua Wizengamot, muncul hanya beberapa jam setelah Scrimgeour menjabat.

Wakil-wakil Scrimgeour mengakui bahwa dia langsung bertemu dengan Dumbledore begitu menduduki jabatan tinggi ini, namun menolak mengomentari topik yang didiskusikan. Albus Dumbledore diketahui (bersambung ke hal 3, kol 2)

Di sebelah kiri surat kabar ini ada surat kabar lain, yang dilipat sedemikian rupa, sehingga artikel dengan judul KEMENTERIAN MENJAMIN KESELAMATAN PELAJAR tampak jelas:

Menteri Sihir yang baru diangkat, Rufus Scrimgeour, hari ini bicara tentang langkah-langkah baru dan sulit yang diambil Kementeriannya untuk memastikan keamanan para pelajar yang akan kembali ke Sekolah Sihir Hogwarts musim gugur ini.

“Karena alasan yang jelas, Kementerian tidak akan membeberkan dengan terperinci rencana keamanan barunya yang ketat,” kata Menteri, meskipun orang dalam mengonfirmasi bahwa langkah yang diambil termasuk mantra dan jampi defensif, sederet kontra-kutukan yang rumit, dan satgas kecil Auror yang khusus didedikasikan untuk perlindungan Sekolah Hogwarts.

Sebagian besar komunitas sihir merasa tenteram dengan usaha menteri baru untuk menjaga keselamatan para pelajar. Kata Mrs Augusta Longbottom, “Cucu saya Neville — kebetulan sahabat Harry Potter, yang melawan para Pelahap Maut berdampingan dengannya di Kementerian Juni lalu dan –

Lanjutan cerita ini terhalang oleh sangkar burung besar yang berdiri di atasnya. Di dalam sangkar itu ada burung hantu gagah seputih salju. Matanya yang kuning meneliti ruangan dengan angkuh, kepalanya dari waktu ke waktu menoleh memandang tuannya yang mendengkur. Sekali-sekali dia mengatupkan paruhnya dengan tak sabar, namun Harry tidur sangat lelap sehingga tak mendengarnya.

Sebuah koper besar tergeletak persis di tengah kamar. Tutupnya terbuka, seperti penuh harap, namun koper itu nyaris kosong. Hanya ada beberapa pakaian dalam tua, permen, botol-botol tinta kosong, dan pena bulu patah di dasar koper itu. Di dekatnya, di lantai, tergeletak selebaran ungu dihiasi huruf-huruf:

DITERBITKAN ATAS NAMA

KEMENTERIAN SIHIR

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.