Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Bagus banget Harry!” kata Ron antusias, melambaikan sepasang sarung tangan Keeper Quidditch yang dihadiahkan Harry kepadanya.

“Tak masalah,” kata Harry asal, sementara dia meneliti asrama Slytherin, mencari-cari Malfoy. “Hei … dia tak ada di tempat tidurnya …”

Ron tidak menjawab, dia terlalu sibuk membukai hadiah-hadiahnya, dari waktu ke waktu berseru girang.

“Bagus-bagus tahun ini!” dia mengumumkan, mengangkat arloji emas berat dengan simbol-simbol aneh di sekeliling tepi lingkarannya dan bintang-bintang mungil yang bergerak alih-alih jarum. “Lihat apa yang diberikan Mum dan Dad kepadaku? Wah, asyik banget kalau tahun depan aku akil balig lagi …”

“Keren,” gumam Harry, sekilas melirik arloji itu sebelum kembali meneliti peta dengan lebih cermat. Di mana Malfoy? Dia tampaknya tidak sedang sarapan di meja Slytherin di Aula Besar … dia tak ada di dekat Snape, yang sedang duduk dalam kantornya … dia tidak ada di toilet mana pun ataupun di rumah sakit …

“Mau?” kata Ron dengan mulut penuh, mengulurkan sekotak Cokelat Kuali.

“Tidak, terima kasih,” kata Harry, mengangkat keila. “Malfoy pergi lagi!”

“Tak mungkin,” kata Ron, menjejalkan cokelat kedua ke dalam mulutnya seraya meluncur turun dari tempat tidur untuk berganti pakaian. “Yuk, kalau tidak buru-buru kau harus ber-Apparate dengan perut kosong …, barangkali malah lebih mudah, ya …”

Ron memandang kotak Cokelat Kuali sambil berpikir, kemudian mengangkat bahu dan melahap cokelat ketiga.

Harry mengetuk peta dengan tongkat sihirnya, menggumamkan, “Keonaran sudah terlaksana,” kendatipun belum, dan berganti pakaian, berpikir keras. Harus ada penjelasan untuk menghilangnya Malfoy secara berkala, namun dia tak bisa memikirkan apa penjelasannya. Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah menguntitnya, tetapi sekalipun memakai Jubah Gaib, ide ini tidak praktis. Harry harus ikut pelajaran, latihan Quidditch, mengerjakan PR, dan ikut pelajaran Apparition. Dia tak mungkin mengikuti Malfoy ke mana-mana keliling sekolah sepanjang hari tanpa mengundang komentar atas absennya sendiri.

“Siap?” katanya kepada Ron.

Dia sudah separo jalan menuju pintu kamar ketika menyadari bahwa Ron tidak bergerak, melainkan hanya bersandar ke tiang tempat tidurnya, memandang jendela yang tersiram hujan dengan pandangan hampa yang ganjil.

“Ron? Sarapan?” “Aku tidak lapar.” Harry terbelalak.

“Lho, bukarikah kau baru saja bilang?”

“Oke, baiklah, aku akan turun denganmu” Ron menghela napas, “tapi aku tak mau makan.”

Harry mengamati Ron dengan teliti.

“Kau baru saja menghabiskan setengah dos Cokelat Kuali, kan?”

“Bukan itu,” Ron menghela napas lagi. “Kau … kau tak akan mengerti.”

“Ya sudah,” kata Harry, walaupun dia bingung, ambil berbalik membuka pintu.

“Harry!” panggil Ron tiba-tiba.

“Apa?”

“Harry, aku tak tahan lagi!”

“Kau tak tahan apa?” tanya Harry, sekarang benar-benar mulai takut. Ron agak pucat dan kelihatannya mau muntah.

“Aku tak bisa berhenti memikirkannya!” kata Ron parau.

Harry melongo memandangnya. Dia sama sekali tak mengira Ron akan berkata begitu dan tak yakin dia ingin mendengarnya. Kendatipun mereka sahabat karib, kalau Ron mulai memanggil Lavender “Lav-Lav”, dia terpaksa harus mengambil tindakan tegas.

“Tapi kenapa kau jadi tak mau sarapan?” tanya Harry, berusaha membuat Ron berpikir menggunakan akal sehat.

“Kurasa dia tak tahu aku ada,” kata Ron dengan gerakan putus asa.

“Dia jelas tahu kau ada,” kata Harry, bingung.

“Bukankah dia tak henti-hentinya menciummu?”

Ron mengerjap. “Siapa yang kau bicarakan?”

“Siapa yang kau bicarakan?” timpal Harry, semakin merasa bahwa mereka membicarakan pepesan kosong.

“Romilda Vane,” kata Ron lembut, dan seluruh wajahnya tampak bercahaya ketika dia mengucapkan nama itu, seolah diterpa sinar matahari yang paling murni.

Mereka saling pandang selama hampir semenit penuh, sebelum Harry berkata, “Ini gurauan, kan? Kau cuma bercanda.”

“Kurasa … Harry, kurasa aku mencintainya,” kata Ron dengan suara tersendat.

“Oke,” kata Harry, berjalan mendekati Ron sehingga bisa melihat lebih jelas matanya yang kosong dan wajahnya yang pucat. “Oke … katakan sekali lagi dengan serius.”

“Aku mencintainya,” ulang Ron mendesah. “Kau sudah melihat rambutnya, hitam dan berkilau dan selembut sutra … dan matanya? Matanya yang besar hitam? Dan-”

“Iya deh, memang lucu,” kata Harry tak sabar, “tapi lelucon sudah selesai, oke? Tak perlu diteruskan.”

Harry berbalik untuk pergi. Dia baru berjalan dua langkah menuju pintu ketika pukulan keras menghantam telinga kanannya. Terhuyung, dia menoleh. Tinju Ron sudah ditarik kembali, wajahnya tegang diliputi kemarahan, Ron siap memukul lagi.

Harry bereaksi secara naluriah, tongkat sihirnya sudah dicabut dari sakunya dan, mantra diucapkan dalam benaknya tanpa disadarinya: Levicorpus!

Ron berteriak ketika tumitnya sekali lagi ditarik ke atas dengan paksa; dia terjungkir menggantung tak berdaya, kepala di bawah, jubahnya terjuntai di sekelilingnya.

“Kenapa kau memukulku?” Harry berteriak

“Kau menghinanya, Harry! Kau bilang itu cuma lelucon!” Ron balas berteriak, wajahnya perlahan berubah menjadi ungu ketika semua darah mengalir ke kepalanya.

“Ini gila!” kata Harry. “Kau kerasukan apa s-?”

Dan saat itu terlihat olehnya kotak yang terbuka di atas tempat tidur Ron dan kesadaran menghantamnya seperti serbuan troll.

“Dari mana kau dapatkan Cokelat Kuali itu?” “Hadiah ulang tahun!” teriak Ron, berputar perlahan di udara ketika dia meronta ingin membebaskan diri.

“Kan tadi kau kutawari?”

“Kau mengambilnya dari lantai, kan?”

“Cokelat itu terjatuh dari tempat tidurku, oke? Lepaskan aku!”

“Cokelat itu tidak terjatuh dari tempat tidurmu, bego, tak mengertikah kau? Cokelat itu punyaku, kulemparkan dari koper ketika aku mencari peta. Itu Cokelat Kuali yang diberikan Romilda kepadaku sebelum Natal dan semuanya sudah diberi ramuan cinta!”

Namun rupanya hanya satu kata yang ditangkap Ron.

“Romilda?” dia mengulang. “Kau bilang Romilda? Harry kau kenal dia? Kenalin aku dong!”

Harry menatap Ron yang tergantung terbalik, yang wajahnya sekarang tampak sangat berharap, dan susah-payah menahan diri untuk tidak tertawa. Sebagian dirinya bagian yang paling dekat dengan telinga kanannya yang berdenyut-denyut ingin sekali menurunkan Ron dan menontonnya bertingkah gila-gilaan sampai efek ramuan itu memudar … namun di lain pihak, mereka kan sahabat. Ron tidak sadar ketika menyerangnya, dan Harry berpikir dia layak mendapat satu pukulan lagi kalau dia membiarkan Ron menyatakan cinta abadinya kepada Romilda Vane.

“Yeah, akan kukenalkan kau,” kata Harry, berpikir cepat. “Aku akan menurunkanmu sekarang, oke?”

Dia melepas Ron terjun keras ke lantai (telinganya benar-benar sakit), namun Ron cuma melompat bangun lagi, nyengir

“Dia akan ada di kantor Slughorn,” kata Harry yakin, berjalan lebih dulu ke pintu.

“Kenapa dia di sana?” tanya Ron cemas, bergegas menyusul Harry.

“Oh, dia ada pelajaran tambahan dengan Slughorn” kata Harry, mengarang alasan asal saja.

“Barangkali aku bisa tanya kalau-kalau boleh ikut pelajaran tambahan bersamanya?” tanya Ron bersemangat.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.