Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Usaha kedua tidak lebih baik daripada yang pertama. Yang ketiga sama buruknya. Baru pada usaha keempat terjadi sesuatu yang seru. Terdengar jerit kesakitan mengerikan dan semua anak menoleh, ketakutan, melihat Susan Bones, anak Hufflepuff melompat-lompat di dalam hulahopnya sementara kaki kirinya masih ketinggalan berdiri satu setengah meter jauhnya di tempat dia semula berdiri.

Keempat Kepala Asrama mengerumuninya, terdengar letusan keras dan muncullah asap ungu. Ketika asap memudar tampaklah Susan Bones terisak, sudah bersatu kembali dengan kakinya, namun masih tampak ngeri.

“Splinching, atau terpisahnya bagian-bagian tubuh,” kata Wilkie Twycross tenang, “terjadi jika pikiran kita kurang determinasi. Kalian harus berkonsentrasi terus pada destinasi kalian, dan bergerak, tanpa terburu-buru, tapi dengan pertimbangan matang, dengan deliberasi … begini.”

Twycross melangkah maju, berputar anggun di tempat dengan tangan terentang dan lenyap dalam pusaran jubah, muncul kembali di bagian belakang Aula.

“Ingatlah tiga D,” katanya, “dan coba lagi … satu-dua-tiga-”

Namun satu jam kemudian, Splinching yang terjadi pada Susan masih tetap hal paling menarik yang terjadi. Twycross tampaknya tidak berkecil hati. “Sampai Sabtu depan, anak-anak, dan jangan lupa: Destinasi. Determinasi. Deliberasi.”

Dengan kata-kata itu dia melambaikan tongkat sihirnya, melenyapkan hulahop, dan meninggalkan Aula ditemani Profesor McGonagall. Anak-anak langsung ramai sambil bergerak ke Aula.

“Bagaimana kau tadi?” tanya Ron, bergegas mendekati Harry. “Aku merasa sesuatu waktu terakhir kali mencoba seperti kesemutan di kaki.”

“Sepatumu kekecilan kali, Won-Won,” kata suara di belakang mereka menyeringai.

“Aku tidak merasakan apa-apa,” kata Harry, mengabaikan interupsi ini. “Tapi aku tidak peduli soal itu sekarang”

“Apa maksudmu, kau tidak peduli … apa kau tidak ingin belajar ber-Apparate?” tanya Ron tak percaya.

“Aku tidak terlalu mementingkan soal ini sih, sebetulnya. Aku lebih suka terbang,” kata Harry, menoleh mencari di mana Malfoy, dan mempercepat langkahnya ketika mereka tiba di Aula Depan. “Yuk, cepat, ada yang ingin kulakukan …”

Bingung, Ron mengikuti Harry berlari kembali ke Menara Gryffindor. Untuk sementara mereka tertahan oleh Peeves, yang telah mengganjal pintu di lantai empat dan menolak siapa pun masuk kalau mereka tidak membakar celana mereka sendiri, namun Harry dan Ron langsung berbalik dan mengambil salah satu jalan pintas mereka yang tepercaya. Dalam waktu lima menit mereka sudah memanjat lubang lukisan.

“Apa kau mau memberitahuku apa yang akan kita lakukan?” tanya Ron, sedikit terengah.

“Di atas,” kata Harry, dan dia menyeberangi ruang rekreasi, lalu masuk lebih dulu ke pintu yang menuju tangga ke kamar anak laki-laki.

Kamar mereka, seperti diharapkan Harry, kosong. Dia membuka kopernya dan mulai mencari-cari di dalamnya, sementara Ron mengawasi tak sabar.

“Harry …”

“Malfoy menggunakan Crabbe dan Goyle sebagai pengintai. Dia bertengkar dengan Crabbe tadi. Aku ingin tahu … aha.”

Dia telah menemukannya, lipatan perkamen yang kelihatannya kosong, yang sekarang dibukanya dan diketuknya dengan ujung tongkat sihirnya.

“Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa aku orang tak berguna … atau Malfoy yang tak berguna, paling tidak.”

Langsung saja Peta Perampok muncul pada permukaan perkamen. Peta itu memperlihatkan secara rinci bagan masing-masing lantai di kastil itu dan, bergerak pada setiap lantai, titik-titik hitam mungil yang merupakan masing-masing penghuni kastil.

“Bantu aku menemukan Malfoy,” kata Harry mendesak.

Dihamparkannya peta itu di atas tempat tidurnya dan dia dan Ron membungkuk di atasnya, mencari.

“Itu dia!” kata Ron setelah beberapa saat. “Dia di ruang rekreasi Slytherin, lihat … dengan Parkinson dan Zabini dan Crabbe dan Goyle …”

Harry memandang peta itu, kecewa, namun langsung pulih lagi.

“Aku akan mengawasinya mulai sekarang,” katanya tegas. “Dan begitu aku melihatnya di suatu tempat, dengan Crabbe dan Goyle berjaga di luar, aku akan langsung memakai Jubah Gaib dan mencari tahu apa yang di-”

Dia berhenti karena Neville masuk kamar, membawa bersamanya bau kain terbakar, dan mulai mencari-cari celana untuk ganti.

Kendati bertekad untuk menangkap basah Malfoy, Harry sama sekali tak beruntung selama dua minggu berikutnya. Meskipun dia mengecek petanya sesering mungkin, di antara pelajaran kadang-kadang ke toilet walaupun tak ingin ke belakang, untuk mengecek, dia tidak sekali pun melihat Malfoy di tempat yang mencurigakan. Harus diakui dia melihat Crabbe dan Goyle berkeliaran di kastil berdua saja lebih sering daripada biasanya, kadang-kadang hanya berdiri di koridor-koridor kosong, namun pada saat-saat itu Malfoy bukan hanya tidak berada di dekat mereka, melainkan bahkan sama sekali tak bisa ditemukan di peta. Ini sangatlah misterius. Harry mempertimbangkan kemungkinan bahwa Malfoy benar-benar meninggalkan lahan sekolah, namun tak tahu bagaimana dia bisa melakukannya, mengingat tingkat keamanan yang sangat tinggi yang sekarang diberlakukan dalam kastil. Dia hanya bisa menduga bahwa Malfoy tak bisa ditemukan di antara ratusan bintik hitam kecil di peta. Sedangkan soal fakta bahwa Malfoy, Crabbe, dan Goyle tampaknya berjalan sendiri-sendiri, padahal biasanya mereka tak terpisahkan, hal-hal seperti ini sa terjadi kalau orang sudah bertambah dewasa — Ron dan Hermione, Harry mengingat dengan sedih, adalah bukti nyatanya.

Februari berganti Maret tanpa perubahan cuaca, kecuali selain hujan sekarang juga berangin. Anak-anak kesal ketika ada pengumuman muncul di papan pengumuman di semua ruang rekreasi bahwa kunjungan berikut ke Hogsmeade dibatalkan. Ron marah kali.

“Kunjungan itu pas hari ulang tahunku!” katanya.

“Bukan kejutan besar, kan?” kata Harry. “Tidak setelah apa yang terjadi pada Katie.”

Katie belum pulang dari St Mungo. Tambahan lagi, berita-berita tentang orang hilang bermunculan di prophet, termasuk beberapa saudara murid-murid Hogwarts.

“Tapi sekarang yang bisa kutunggu-tunggu hanyalah Apparition konyol itu!” gerutu Ron. “Hadiah ulang tahun hebat deh …”

Tiga pelajaran kemudian, Apparition ternyata masih sama saja sulitnya, meskipun beberapa anak telah berhasil ber-Splinching. Frustrasi semakin memuncak dan ada kesebalan terhadap Wilkie Twycross dan tiga D-nya, yang telah menginspirasikan sejumlah panggilan untuknya, yang paling sopan adalah Dogol dan Dungu.

“Selamat ulang tahun, Ron,” kata Harry, ketika mereka terbangun pada tanggal satu Maret oleh Seamus dan Dean yang turun sarapan dengan bising. “Ini hadiahmu.”

Dia melemparkan bungkusannya ke tempat tidur Ron, di sana bungkusan itu bergabung dengan gundukan kecil hadiah lain yang mestinya, Harry memperkirakan, diantar oleh para peri-rumah semalam.

“Trims,” kata Ron masih mengantuk, dan selagi dia merobek bungkusnya, Harry turun dari tempat tidur, membuka kopernya sendiri dan mulai mencari-cari Peta Perampok, yang selalu disimpannya setelah digunakannya. Dia melempar keluar separo isi kopernya sebelum menemukan peta itu tersembunyi di bawah gulungan kaus kaki yang dipakainya menyimpan botol ramuan keberuntungannya, Felix Felicis.

“Bagus,” dia bergumam. Dibawanya peta itu ke tempat tidurnya, diketuknya pelan sambil bergumam, “Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa orang tak berguna,” supaya Neville yang sedang melewati kaki tempat tidurnya tidak mendengarnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.