Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Dan itu dia, tercatat di atas daftar panjang penangkal racun.

Masukkan saja bezoar ke tenggorokan mereka.

Harry menatap kata-kata itu selama beberapa saat. Bukankah dia pernah, dulu sekali, mendengar tentang bezoar? Bukankah Snape menyebutnya dalam pelajaran Ramuan mereka yang pertama? “Batu yang diambil dari perut kambing, yang akan menangkal hampir semua racun.”

Ini bukan pemecahan untuk masalah Golpalott, dan seandainya Snape masih guru mereka, Harry tak akan berani melakukannya, namun ini saat untuk melakukan tindakan terpepet. Dia bergegas ke lemari bahan dan mencari-cari di dalamnya, menyingkirkan tanduk unicorn dan tanam-tanaman obat kering sampai dia menemukan, di bagian paling belakang lemari, sebuah kotak kardus kecil dengan tulisan “Bezoar”.

Dia membuka kotak itu tepat ketika Slughorn berseru, “Tinggal dua menit, anak-anak!” Di dalamnya ada setengah lusin benda cokelat berkerut, lebih kelihatan seperti ginjal yang dikeringkan daripada batu betulan. Harry mengambil sebutir, mengembalikan kotak itu ke bagian belakang lemari, dan bergegas kembali ke kualinya.

“Waktunya …. HABIS!” seru Slughorn riang. “Nah, mari kita lihat hasil pekerjaan kalian! Blaise … apa yang telah kau hasilkan untukku?”

Perlahan, Slughorn bergerak berkeliling ruangan, mengamati berbagai penangkal. Tak seorang pun berhasil menyelesaikan tugas itu, meskipun Hermione berusaha memasukkan beberapa bahan lagi ke dalam botolnya sebelum Slughorn mencapai tempatnya. Ron sudah menyerah sama sekali, dan hanya berusaha menghindari menghirup asap berbau busuk yang keluar dari kualinya. Harry berdiri menunggu, dengan bezoar tergenggam dalam tangannya yang agak berkeringat.

Slughorn mendatangi meja mereka paling akhir. Dia mengendus ramuan Ernie dan berpindah ke kuali Ron sambil meringis. Dia tidak berlama-lama di depan kuali Ron, melainkan buru-buru mundur, mau muntah.

“Dan kau, Harry,” katanya. “Apa yang bisa kau perlihatkan kepadaku?”

Harry mengulurkan tangannya, dengan bezoar tergeletak di atas telapaknya.

Slughorn menatapnya selama sepuluh detik penuh. Harry membatin, apakah dia akan memarahinya. Kemudian Slughorn mendongak dan terbahak-bahak.

“Berani sekali kau, Nak!” gelegarnya, seraya mengambil bezoar itu dan mengangkatnya sehingga seluruh kelas bisa melihatnya. “Oh, kau seperti ibumu … yah, aku tak bisa menyalahkanmu … bezoar jelas akan menjadi penangkal semua racun ini!”

Hermione, yang wajahnya berkeringat dan hidungnya tercoreng hangus, tampak pucat. Penangkalnya yang separo-selesai, terdiri atas lima puluh dua bahan termasuk sejumput rambutnya sendiri, menggelegak di belakang Slughorn, yang tak memperhatikan siapa pun kecuali Harry.

“Dan kau berhasil memikirkan sendiri bezoar itu kan Harry?” tanya Hermione dengan gigi mengertak.

“Itu semangat individu yang diperlukan oleh pemuat ramuan sejati!” kata Slughorn senang, sebelum Harry bisa menjawab. “Persis ibunya, dia dulu juga memiliki intuisi yang sama dalam hal pembuatan ramuan, tak diragukan lagi dia mewarisinya dari Lily … ya, Harry, ya, jika kau punya bezoar untuk diserahkan, tentu saja itu benar … meskipun demikian, karena bezoar tidak bisa menangkal segala racun, dan cukup langka, Ia perlu tahu bagaimana meramu penangkal …”

Satu-satunya orang di ruangan itu yang tampak lebih marah daripada Hermione adalah Malfoy, yang Harry senang melihatnya, telah menumpahkan sesuatu seperti muntahan kucing di tubuhnya sendiri. Namun, belum salah satu dari mereka bisa mengutarakan kemarahan mereka karena Harry telah menjadi paling hebat di kelas tanpa melakukan sesuatu, bel telah berbunyi.

“Waktunya berkemas!” kata Slughorn. “Dan sepuluh angka ekstra untuk Gryffindor karena kelancangan!” Masih terkekeh, dia berjalan kembali ke mejanya di depan kelas.

Harry sengaja berlama-lama, mengambil banyak sekali waktu untuk membereskan tasnya. Baik Ron maupun Hermione tidak mengucapkan semoga sukses ketika mereka pergi; keduanya tampak agak jengkel.

Akhirnya tinggal Harry dan Slaughorn yang masih ada dalam ruangan itu.

“Ayo, Harry, kau akan terlambat untuk pelajaranmu yang berikutnya” kata Slughorn ramah, menceklek jepitan-penutup dari emas pada tas kerjanya.

“Sir,” kata Harry, mau tak mau jadi teringat Voldemort, “saya ingin menanyakan sesuatu.”

“Tanyakan saja, kalau begitu, anakku, tanyakan saja …”

“Sir, apakah yang Anda ketahui tentang … tentang Horcrux?”

Slughorn membeku. Wajahnya yang bundar tampak seperti terbenam sendiri. Dia menjilat bibirnya dan berkata parau, “Apa katamu?”

“Saya bertanya apakah Anda tahu sesuatu tentang Horcrux, Sir. Soalnya …”

“Dumbledore yang menyuruhmu,” bisik Slughorn.

Suaranya sudah berubah total. Tak lagi ramah, melainkan kaget, takut. Dia mencari-cari di saku dalamnya dan menarik keluar saputangan, menyeka alisnya yang berkeringat.

“Dumbledore sudah memperlihatkan kepadamu … kenangan itu,” kata Slughorn. “Betul, kan?”

“Ya,” kata Harry, memutuskan saat itu juga bahwa paling baik tidak berbohong.

“Ya, tentu saja,” kata Slughorn pelan, masih mengusap-usap wajahnya yang pucat. “Tentu saja … nah, kalau kau sudah melihat kenangan itu, Harry, kau akan tahu bahwa aku tak tahu apa pun — apa pun–” dia mengulang kata itu dengan tekanan kuat “tentang Horcux.”

Dia menyambar tas kulit-naganya, menjejalkan kembali saputangan ke dalam sakunya, dan keluar dari pintu kelas bawah tanah.

“Sir,” kata Harry putus asa, “Saya hanya mengira ada sedikit yang belum disampaikan dalam kenangan itu”

“Begitu?” kata Slughorn. “Kalau begitu kau keliru, kan? KELIRU!”

Dia meneriakkan kata terakhir itu, dan sebelum Harry bisa mengatakan apa-apa lagi, membanting pintu tertutup di belakangnya.

Baik Ron maupun Hermione tidak bersimpati ketika Harry menceritakan kepada mereka wawancara yang membawa malapetaka, ini. Hermione masih marah pada cara Harry menang tanpa melakukan tugasnya dengan benar. Ron menyesalinya karena Harry tidak mengambilkan bezoar untuknya juga.

“Kan konyol kalau kita berdua sama-sama pegang bezoar!” kata Harry jengkel. “Aku harus berusaha melunakkannya supaya bisa menanyainya tentang Voldemort, kan? Oh, masa masih belum terbiasa sih!” dia menambahkan dengan putus asa, ketika Ron berjengit mendengar nama itu.

Jengkel atas kegagalannya dan atas sikap Ron dan Hermione, Harry memikirkan apa yang akan dilakukannya selanjutnya terhadap Slughorn. Dia memutuskan bahwa, untuk sementara waktu, dia akan membiarkan Slughorn berpikir bahwa dia telah lupa sama sekali tentang Horcrux. Pastinya paling baik membiarkan Slughorn merasa aman dulu sebelum dia kembali menyerangnya.

Ketika Harry tidak menanyai Slughorn lagi, guru ramuan itu kembali memperlakukannya dengan penuh kasih sayang seperti biasanya, dan tampaknya sudah melupakan peristiwa itu. Harry menunggu undangan ke salah satu pesta-malamnya, bertekad untuk menerimanya kali ini, bahkan sekalipun dia harus menjadwal ulang latihan Qudditch-nya. Sayangnya, undangan itu tak pernah datang. Harry menanyai Hermione dan Ginny; mereka juga tidak menerima undangan, dan sejauh mereka tahu, tak ada anak-anak lain yang menerimanya. Mau tak mau Harry bertanya-tanya dalam hati apakah ini berarti Slughorn tidak sepelupa tampaknya, melainkan hanya bertekad tidak memberi Harry kesempatan tambahan untuk menanyainya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.