Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Harry menatapnya.

“Tetapi tentunya, Sir,” katanya, menjaga agar suaranya sehormat mungkin, “Anda tidak memerlukannya tidak bisa menggunakan Legihmency … atau Leritaserum …”

“Profesor Slughorn penyihir sangat cakap yang akan menduga dua cara itu,” kata Dumbledore. “Dia jauh lebih lihai dalam Ocdumency dibanding Morfin Gaunt ang malang, dan aku akan heran kalau dia tidak membawa penangkal Veritaserum ke mana-mana sejakku berhasil membujuknya memberiku kenangannya yang disamarkan itu.

“Tidak, kurasa bodoh kalau kita berusaha mendapatkan kebenaran dari Profesor Slughorn dengan keerasan, dan mungkin akan lebih banyak mudaratnya aripada manfaatnya. Aku tak ingin dia meninggalkan Hogwarts. Meskipun demikian, dia juga punya kelemahan, seperti kita semua, dan aku yakin kaulah itu satunya orang yang barangkali bisa menembus pertahanannya. Penting sekali kita mendapatkan kenangan yang sebenarnya, Harry … seberapa pentingnya, kita baru akan tahu setelah kita melihatnya. Jadi, semoga berhasil … dan selamat tidur.”

Agak kaget karena mendadak diminta pergi, Harry cepat-cepat bangkit dari kursinya.

“Selamat tidur, Sir.”

Ketika menutup pintu kantor di belakangnya, dia jelas sekali mendengar Phineas Nigellus berkata, “Aku tak mengerti kenapa anak itu akan bisa melakukannya lebih baik daripadamu, Dumbledore.”

“Aku tak mengharap kau mengerti, Phineas,” jawab Dumbledore dan Fawkes kembali mengeluarkan jeritan merdu, pelan.

-oO0O0-

18. KEJUTAN ULANG TAHUN

Esoknya Harry memberitahu Ron dan Hermione tentang tugas yang diberikan Dumbledore kepadanya, sendiri-sendiri, karena Hermione masih menolak berada bersama Ron lebih lama daripada waktu yang dibutuhkannya untuk memberinya pandang menghina.

Ron berpendapat Harry tak akan mendapat kesulitan sama sekali dengan Slughorn.

“Dia menyayangimu,” katanya selagi sarapan, melambaikan garpunya yang telah mencucus telur goreng. “Tak akan menolak apa pun yang kau minta. Kau kan Pangeran Ramuan-nya yang tersayang. Tinggallah di kelas setelah pelajaran sore ini dan tanyai dia.”

“Dia pasti bertekad menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi jika Dumbledore tidak berhasil megoreknya” katanya. dengan suara pelan, ketika mereka berdiri di halaman kosong, bersalju, waktu istirahat. “Horcrux … Horcrux … aku belum pernah mendegarnya …”

“Belum?”

Harry kecewa. Dia tadinya berharap Hermione bisa memberinya petunjuk, Horcrux itu apa.

“Pastinya ini Sihir Hitam tingkat tinggi, kalau tidak kenapa Voldemort ingin tahu tentangnya? Kurasa akan sulit mendapatkan informasi itu, Harry, kau harus sangat berhati-hati dalam caramu mendekati Slughorn, pikirkan strateginya …”

“Menurut Ron aku cuma perlu tinggal di kelas setelah pelajaran Ramuan sore ini …”

“Oh, yah, kalau Won-Won berpendapat begitu, sebaiknya kau lakukan saja,” katanya, langsung naik pitam. “Lagian, kapan sih pertimbangan Won-Won pernah keliru?”

“Hermione, tak bisakah kau”

“Tidak!” katanya marah, dan langsung pergi, meninggalkan Harry sendirian dan terbenam di salju sampai pergelangan kakinya.

Pelajaran Ramuan tidak nyaman hari-hari ini, mengingat Harry, Ron, dan Hermione harus berbagi meja. Hari ini Hermione memindahkan kualinya sehingga dia dekat dengan Ernie, dan tidak mengacuhkan baik Harry maupun Ron.

“Apa yang telah kau lakukan?” gumam Ron kepada Harry, memandang profil angkuh Hermione.

Namun sebelum Harry sempat menjawab, Slughorn menyuruh diam dari depan kelas.

“Tenang, harap tenang! Cepat-cepat, sekarang, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini! Hukum Ketiga Golpalott … siapa yang bisa memberitahuku? Tetapi Miss Granger bisa, tentu!”

Hermione menyitir dengan kecepatan kilat: “Hukum-Ketiga-Golpalott-menyatakan-bahwa-penangkaluntuk-racun-campuran-jumlahnya-lebih-banyak-daripada-jumlah-penangkal-untuk-masing-masing-komponen-secara-terpisah.”

“Persis!” sambut Slughorn berseri-seri. “Sepuluh angka untuk Gryffindor. Nah, kalau kita menerima Hukum Ketiga Golpalott ini benar …”

Harry terpaksa menerima saja kata-kata Slughorn bahwa Hukum Ketiga Golpalott benar, karena dia sama sekali tidak mengerti. Juga, tak seorang pun, kecuali Hermione, tampaknya bisa mengikuti apa yang dikatakan Slughorn berikutnya.

“… yang berarti, tentu saja, bahwa mengandaikan kita sudah berhasil mengidentifikasi dengan benar bahan-bahan racun itu menggunakan Mantra Pengungkapan Scarpin, tujuan utama kita bukanlah menyeleksi penangkal untuk masing-masing bahan itu, yang relatif mudah, melainkan menemukan komponen tambahannya, yang dengan proses yang hampir alkimia, mentransformasi elemen-elemen yang berlainan ini”

Ron duduk di sebelah Harry dengan mulut separo terbuka, sambil melamum menggambar-gambar asal di buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut-nya yang baru. Ron lupa terus bahwa dia tak bisa lagi mengandalkan Hermione untuk membantunya keluar dari kesulitan jika dia tak berhasil memahami apa yang sedang terjadi.

“… nah,” Slughorn mengakhiri, “aku ingin kalian semua maju dan masing-masing mengambil botol dari mejaku. Tugas kalian adalah membuat penangkal untuk racun dalam botol itu sebelum akhir pelajaran. Semoga sukses, dan jangan lupa memakai sarung tangan kalian!”

Hermione meninggalkan bangkunya dan sudah separo jalan menuju meja Slughorn sebelum anak-anak yang lain menyadari sudah waktunya bergerak, dan pada saat Harry, Ron, dan Ernie kembali ke meja, Hermione sudah menuang isi botolnya ke dalam kualinya dan sedang menyalakan api di bawahnya.

“Sayang Pangeran tidak bisa banyak membantumu dalam hal ini, Harry,” katanya cerah ketika dia menegakkan diri. “Kau harus mengerti prinsip-prinsip yang digunakan kali ini. Tak ada jalan pintas atau tipuan!”

Jengkel, Harry membuka gabus botol racun yang diambilnya dari meja Slughorn, yang warnanya merah jambu berkilat, menuangnya ke dalam kualinya, dan menyalakan api di bawahnya. Dia sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukannya berikutnya. Dia nengerling Ron, yang sekarang berdiri saja, agak bengong, setelah meniru segalanya yang dilakukan, Harry.

“Kau yakin Pangeran tidak punya petunjuk?” Ron bergumam kepada Harry.

Harry mengeluarkan buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut yang diandalkannya dan membuka bab tentang Penangkal. Ada Hukum Ketiga Golpalott, persis seperti yang dikatakan Hermione, namun tak ada satu catatan pun dalam tulisan tangan Pangeran yang menjelaskan apa artinya itu. Rupanya Pangeran, seperti Hermione, tak mendapat kesulitan memahaminya.

“Tak ada,” kata Harry muram.

Hermione sekarang melambai-lambaikan tongkat sihirnya dengan antusias di atas kualinya. Sayangnya, mereka tidak bisa meniru mantra yang digunakannya karena dia sekarang sudah mahir sekali melakukan mantra non-verbal, sehingga dia tak perlu mengucapkan kata-kata mantranya keras-keras. Namun Ernie Macmillan menggumamkan, “Specialis revelio!” di atas kualinya, yang kedengarannya mengesankan, maka Harry dan Ron buru-buru menirunya.

Hanya perlu lima menit bagi Harry untuk menyadari bahwa reputasinya sebagai pembuat-ramuan paling hebat di kelasnya sudah hancur. Slughorn telah mengintip kualinya dengan penuh harap dalam putaran pertamanya keliling kelas, sudah siap menyerukan kegirangannya seperti biasanya, namun alih-alih girang, dia buru-buru menarik kembali kepalanya, terbatuk-batuk, ketika bau telur busuk menerpanya. Ekspresi Hermione tak bisa lebih senang dari itu; dia selama ini sebal dikalahkan dalam setiap pelajaran Ramuan. Sekarang Hermione sedang menuang bahan-bahan racunnya yang telah berhasil dipisahkannya secara misterius ke dalam sepuluh botol kristal berlainan. Lebih untuk menghindari melihat pemandangan mengesalkan ini daripada karena alasan lain. Harry membungkuk di atas buku Pangeran Berdarah-Campuran dan membalik-balik beberapa halaman dengan kekuatan berlebihan.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.