Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tapi bagaimana Kementerian bisa tidak menyadari bahwa Voldemort-lah yang telah melakukan itu semua kepada Morfin?” Harry bertanya berang. “Dia masih di bawah-umur waktu itu, kan? Saya pikir mereka bisa mendeteksi sihir di bawah-umur!”

“Kau betul — mereka bisa mendeteksi sihir, tapi bukan pelakunya. Kau pasti ingat kau pernah disalahkan oleh Kementerian melakukan Mantra Melayang. yang sebetulnya dilakukan oleh”

“Dobby” geram Harry; ketidakadilan ini masih melukai perasaannya. “Jadi, kalau kita di bawah umur dan kita melakukan sihir di dalam rumah penyihir dewasa, Kementerian tidak akan tahu?”

“Mereka pasti tidak akan tahu siapa yang melakukan sihirnya” kata Dumbledore, tersenyum kecil melihat kegusaran besar di wajah Harry. “Mereka mengandalkan orangtua penyihir untuk melaksanakan kepatuhan anak-anak mereka selagi berada dalam rumah mereka.”

“Itu omong kosong,” bantah Harry keras. “Lihat apa yang terjadi di sini, lihat apa yang terjadi pada Morfin!”

“Aku setuju,” kata Dumbledore. “Bagaimanapun sikap Morfin, dia tidak layak meninggal seperti itu, dipersalahkan melakukan pembunuhan yang tidak dilakukannya. Tapi sudah semakin malam, dan aku ingin kau melihat kenangan yang satu lagi sebelum kita berpisah …”

Dumbledore mengeluarkan dari saku dalamnya botol kristal kecil lain dan Harry langsung terdiam, teringat Dumbledore mengatakan bahwa itu kenangan paling penting yang telah dikumpulkannya. Harry memperhatikan bahwa isinya sulit dikeluarkan ke dalam Pensieve, sepertinya sudah agak membeku. Apakah kenangan bisa hilang?

“Ini tidak akan makan waktu lama,” kata Dumbledore setelah akhirnya berhasil mengosongkan botol kecil itu. “Kita sudah akan kembali sebelum kau menyadarinya. Sekali lagi masuk Pensieve, kalau begitu …”

Dan Harry terjatuh lagi menembus permukaan perak, kali ini mendarat di hadapan seorang laki-laki yang langsung dikenalinya.

Horace Slughorn yang jauh lebih muda. Harry sudah sangat terbiasa melihatnya botak, sehingga melihat Slughorn dengan rambut tebal, berkilau, berwarna jerami cukup membuatnya bingung; kelihatannya seolah kepalanya ditambal, meskipun sudah ada kebotakan seukuran Galleon yang berkilat di kepalanya. Kumisnya, yang kalah besar daripada yang sekarang, berwarna jingga-pirang. Dia tidak segemuk Slughorn yang dikenal Harry, meskipun rompinya yang berbordir indah tampak sesak, sehingga kancing-kancing emasnya tertarik. Kakinya yang kecil diletakkan pada tumpuan kaki beludru. Dia sedang duduk bersandar pada kursi berlengan yang nyaman, satu tangan memegang gelas anggur kecil, tangan yang lain merogoh kotak permen nanas.

Harry berpaling ketika Dumbledore muncul di sebelahnya dan melihat bahwa mereka berdiri di kantor Slughorn. Enam anak laki-laki duduk mengelilingi Slughorn, semuanya di tempat duduk yang lebih keras atau lebih rendah daripada tempat duduknya, dan semuanya remaja belasan tahun. Harry langsung mengenali Riddle. Wajahnya paling tampan dan dia yang paling santai di antara remaja-remaja pria itu. Tangan kanannya tergeletak sembarangan di lengan kursi. Harry tersentak melihat dia memakai cincin emas Marvolo yang berbatu hitam; dia sudah membunuh ayahnya.

“Sir, betulkah Profesor Merrythought akan pensiun?” Riddle bertanya.

“Tom, Tom, kalaupun tahu aku tak bisa memberitahumu,” kata Slughorn, menegur dengan menggoangkan jari berlumur-gula ke arah Riddle, namun efeknya agak gagal karena dia mengedip. “Terus terang, aku ingin tahu dari mana kau dapatkan informasimu, Nak kau ini lebih tahu daripada separo staf guru.”

Riddle tersenyum; anak-anak yang lain tertawa dan melempar pandang kagum kepadanya.

“Dengan kemampuanmu yang luar biasa untuk mengetahui hal-hal yang seharusnya tak boleh kau ketahui, dan sanjungan penuh perhitungan kepada orang-orang yang penting — oh ya, terima kasih untuk permen nanas ini, kau benar, ini favoritku”

Sementara beberapa anak terkekeh, sesuatu yang sangat aneh terjadi. Seluruh ruangan mendadak dipenuhi kabut putih tebal, sehingga Harry tak bisa melihat apa-apa kecuali wajah Dumbledore, yang berdiri di sampingnya. Kemudian suara Slughorn terdengar dari dalam kabut, keras tak wajar, “kau akan jadi orang hebat, Tom, aku belum pernah keliru menilai muridku.”

Kabut menghilang sama mendadaknya seperti munculnya, namun tak seorang pun menyebut-nyebutnya, dan tak seorang pun tampaknya merasa sesuatu yang aneh baru saja terjadi. Bingung, Harry berpaling ketika jam meja emas kecil di atas meja Slughorn mendentangkan pukul sebelas malam.

“Astaga, sudah semalam ini?” kata Slughorn. “Kalian sebaiknya pergi, anak-anak, kalau tidak kita semua bisa mendapat kesulitan. Lestxange, aku menginginkan esaimu besok pagi, kalau tidak detensi. Sama, kau juga, Avery.”

Slughorn bangkit dari kursi berlengannya dan membawa gelas kosongnya ke mejanya, sementara anak-anak meninggalkan ruangannya. Meskipun demikian, Riddle tinggal. Harry bisa melihat bahwa dia sengaja berlama-lama, ingin menjadi yang terakhir berada di ruangan itu bersama Slughorn.

“Hati-hati, Tom,” kata Slughorn, berbalik dan melihatnya masih ada. “Kau tak ingin tertangkap masih belum di tempat tidur di luar jam yang ditentukan, dan kau prefek …”

“Sir, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Anda.” “Tanyakan saja, kalau begitu, Nak, tanyakan saja …” “Sir, saya ingin tahu apa yang Anda ketahui tentang … tentang Horcrux?”

Dan kejadian tadi berulang lagi: kabut tebal memenuhi ruangan sehingga Harry sama sekali tidak bisa melihat Slughorn maupun Riddle, hanya Dumbledore, tersenyum tenang di sisinya. Kemudian suara Slughorn menggelegar lagi, persis seperti sebelumnya,

“Aku tak tahu apa-apa tentang Horcrux dan aku tak akan memberitahumu kalaupun aku tahu! Nah, sekarang tinggalkan tempat ini segera dan jangan sampai aku mendengarmu menyebut-nyebut itu lagi!”

“Nah, itu semua,” kata Dumbledore tenang di samping Harry. “Sudah waktunya kita pulang.”

Dan kaki Harry terangkat dari lantai, lalu mendarat, beberapa detik kemudian, kembali di karpet di depan meja Dumbledore.

“Hanya itu?” tanya Harry bingung.

Dumbledore telah berkata bahwa ini kenangan yang paling penting, namun Harry tak bisa melihat apanya yang penting. Harus diakui bahwa kabut itu, dan fakta bahwa tak seorang pun tampaknya menyadarinya, memang aneh, tetapi selain itu tak ada yang terjadi, kecuali bahwa Riddle mengajukan pertanyaan dan gagal memperoleh jawaban.

“Seperti yang mungkin kau perhatikan,” kata Dumbledore, duduk kembali di belakang mejanya, “kenangan itu sudah dikotak-katik.”

“Dikotak-katik?” ulang Harry, ikut duduk juga.

“Tentu,” kata Dumbledore. “Profesor Slughorn telah memodifikasi kenangannya sendiri.”

“Tapi kenapa begitu?”

“Karena, kurasa, dia malu akan apa yang diingatnya,” kata Dumbledore. “Dia berusaha mengubah kenangannya agar dirinya tampak lebih baik, dengan menghilangkan bagian-bagian yang dia tak ingin kulihat. Seperti yang kau lihat, penghilangan bagian-bagian itu dilakukan dengan sangat kasar, dan itu menguntungkan kita, karena itu menunjukkan bahwa kenangan yang sebenarnya masih ada di bawah perubahan itu.”

“Maka, untuk pertama kalinya, aku memberimu PR, Harry. Tugasmulah untuk membujuk Profesor Slughorn agar mau memberitahukan kenangan yang sebenarnya, yang tak diragukan lagi akan menjadi informasi kita yang paling penting.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.