Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Perlu beberapa detik baginya untuk mengenali tempat itu; saat itu Dumbledore sudah mendarat di sebelahnya. Rumah keluarga Gaunt sekarang sudah jauh lebih kotor daripada tempat mana pun yang pernah dilihat Harry. Langit-langitnya dipenuhi sarang labah-labah, lantainya berlapis debu dan kotoran; makanan busuk dan berjamur tergeletak di atas meja, di antara tumpukan panci berkerak. Satu-satunya penerangan berasal dari Win meleleh yang ditempatkan di kaki seorang laki-laki dengan rambut dan jenggot yang sudah kelewat panjang-berantakan, sampai Harry tak bisa melihat mata ataupun mulutnya. Dia duduk merosot di kursi berlengan di sebelah perapian, dan sesaat Harry membatin apakah dia mati. Namun kemudian terdengar ketukan keras di pintu dan laki-laki itu tersentak bangun, mengangkat tongkat sihir di tangan kanannya, dan pisau pendek di tangan kirinya.

Pintu berderik terbuka. Di ambang pintu, memegang sebuah lampu model lama, berdiri seorang pemuda. Harry langsung mengenalinya, jangkung, pucat, berambut hitam, dan tampan — Voldemort remaja.

Mata Voldemort bergerak lambat-lambat mengitari gubuk itu dan kemudian menemukan laki-laki di kursi berlengan. Selama beberapa saat mereka saling pandang, kemudian laki-laki itu terhuyung berdiri, botol-botol kosong yang banyak berserakan di kakinya berkelontangan dan berdenting menggelinding ke seberang ruangan.

“KAU!” raungnya. “KAU!”

Dan dia terhuyung menyerbu Riddle dengan mabuk, tongkat sihir dan pisau diangkat tinggi.

“Stop.”

Riddle bicara dalam Parseltongue. Laki-laki itu berhenti menabrak meja, membuat panci-panci berlumut berkelontangan jatuh ke lantai. Dia menatap Riddle. Sunyi lama selagi mereka saling pandang. Laki-laki itu yang memecah keheningan.

“Kau bisa Parseltongue?”

“Ya, aku bisa,” kata Riddle. Dia melangkah masuk ruangan, membiarkan pintu berayun menutup di belakangnya. Mau tak mau Harry mengagumi Voldemort yang sama sekali tak kenal rasa takut. Wajahnya cuma mengekspresikan kejijikan dan, barangkali, kekecewaan.

“Di mana Marvolo?” dia bertanya.

“Mati,” jawab yang lain. “Sudah mati bertahun-tahun yang lalu, kan?”

Riddle mengernyit.

“Kau siapa, kalau begitu?”

“Aku Morfin, kan?”

“Anak Marvolo?”

“Tentu saja …”

Morfin menyibakkan rambut dari wajahnya yang kotor, agar bisa melihat Riddle lebih jelas, dan Harry melihat dia memakai cincin Marvolo yang berbatu hitam pada tangan kanannya.

“Kukira tadi kau si Muggle itu,” bisik Marvolo. “Kau mirip sekali dengan Muggle itu.”

“Muggle mana?” kata Riddle tajam.

“Si Muggle yang ditaksir adikku, Muggle yang tinggal di rumah besar di sana itu,” kata Morfin, dan tanpa diduga dia meludah di lantai di antara mereka. “Kau persis seperti dia. Riddle. Tapi dia sudah lebih tua sekarang, kan? Dia lebih tua daripada kau, kalau kupikir …”

Morfin tampak agak bingung dan berayun sedikit, masih mencengkeram tepi meja untuk menyangga tubuhnya.

“Dia pulang, tahu,” dia menambahkan dengan bego.

Voldemort menatap tajam Morfin, seolah mempertimbangkan kemungkinannya. Sekarang dia bergerak mendekat sedikit dan berkata, “Riddle pulang?”

“Ya, dia meninggalkannya. Tahu rasa dia, menikahi sampah!” kata Morfin, meludah di lantai lagi. “Merampok kami, sebelum dia kabur! Di mana kalungnya, eh, di mana kalung Slytherin?”

Voldemort tidak menjawab. Morfin marah-marah lagi, dia mengayun-ayunkan pisaunya dan berteriak, “Bikin malu kami, sundal murahan! Dan siapa kau, datang , ke sini dan tanya-tanya tentang semua itu? Sudah berakhir, kan … sudah berakhir …”

Laki-laki itu berpaling, sedikit terhuyung, dan Voldemort bergerak maju. Ketika dia bergerak, kegelapan yang tak wajar menyelimuti, memadamkan lampu Voldemort dan Win Morfin, memadamkan segalanya …

Jari-jari Dumbledore memegang erat lengan Harry dan mereka meluncur kembali ke masa kini. Cahaya keemasan lembut di kantor Dumbledore serasa menyilaukan mata Harry setelah gelap gulita yang tak tertembus tadi.

“Hanya itu?” tanya Harry segera. “Kenapa jadi gelap, apa yang terjadi?”

“Karena Morfin tak bisa mengingat apa-apa lagi dari saat itu,” kata Dumbledore, memberi isyarat agar Harry duduk lagi di kursinya. “Ketika dia bangun keesokan harinya, dia terbaring di lantai, sendirian. Cincin Marvolo sudah lenyap.”

“Sementara itu, di desa Little Hangleton, seorang pembantu berlari ke jalan raya, menjerit-jerit ada tiga mayat di ruang keluarga rumah besar. Tom Riddle Senior, serta ibu dan ayahnya.”

“Pihak berwenang Muggle bingung. Sejauh yang kutahu, mereka tetap tidak tahu sampai hari ini bagaimana keluarga Riddle meninggal, karena Kutukan Avada Kedavra biasanya tidak meninggalkan tanda-tanda kerusakan, perkecualiannya duduk di depanku,” Dumbledore menambahkan, mengangguk ke arah bekas luka Harry. “Kementerian, sebaliknya, langsung tahu ini pembunuhan oleh penyihir. Mereka juga tahu seorang mantan napi pembenci-Muggle tinggal di seberang lembah dari rumah Riddle; pembenci-Muggle yang pernah dipenjara sekali karena menyerang salah satu korban pembunuhan.”

“Maka Kementerian mendatangi Morfin. Mereka tidak perlu menanyainya, menggunakan Veritaserum ataupun Legilimency. Dia langsung mengakui pembunuhan itu, memberikan rincian yang hanya bisa diketahui oleh si pembunuh. Dia bangga, katanya, berhasil membunuh Muggle-Muggle itu, dia sudah menunggu kesempatan ini selama bertahun-tahun. Dia menyerahkan tongkat sihirnya, yang langsung terbukti telah digunakan untuk membunuh keluarga Riddle. Dan dia membiarkan dirinya dibawa ke Azkaban tanpa perlawanan. Satu-satunya yang mengganggunya adalah lenyapnya cincin ayahnya. ‘Dia akan membunuhku karena menghilangkannya,’ dia memberitahu para penangkapnya, berulang-ulang. Dan hanya itulah, rupanya, yang diucapkannya sesudah itu. Dia menghabiskan sisa hidupnya di Azkaban, meratapi hilangnya pusaka terakhir Marvolo, dan dikubur di sebelah penjara, berdampingan dengan jiwa-jiwa malang lainnya, yang meninggal di dalam temboknya.”

“Jadi, Voldemort mencuri tongkat sihir Morfin dan menggunakannya?” tanya Harry, duduk tegak.

“Betul,” kata Dumbledore. “Kita tak punya kenangan untuk menunjukkan ini, tapi kurasa kita bisa cukup yakin apa yang terjadi. Voldemort memantrai pamannya dengan Mantra Bius, mengambil tongkat sihirnya, dan menyeberang lembah ke ‘rumah besar di sana itu’. Di sana dia membunuh laki-laki Muggle yang telah meninggalkan ibunya yang penyihir, dan, sebagai tambahan, kakek-nenek Muggle-nya, dengan demikian melenyapkan keturunan terakhir dalam garis keluarga Riddle yang tak berharga dan membalas dendamnya terhadap ayah yang tak pernah menginginkannya. Kemudian dia kembali ke gubuk Gaunt, melakukan sihir rumit yang akan menanamkan ingatan yang keliru dalam pikiran pamannya, meletakkan tongkat sihir Morfin di sebelah pemiliknya yang pingsan, mengantongi cincin kuno yang dipakainya, dan pergi.”

“Dan Morfin tak pernah menyadari dia tidak melakukannya?”

“Tak pernah,” kata Dumbledore. “Seperti kukatakan, dengan bangga dia memberikan pengakuan yang terperinci.”

“Tapi kan selama ini dia masih punya ingatannya yang sebenarnya!”

“Ya, tapi perlu Legilimency yang hebat untuk mengorek ini darinya,” kata Dumbledore, “dan kenapa harus ada orang yang masuk lebih dalam ke dalam pikiran Morfin kalau dia sudah mengakui melakukan kejahatan itu? Bagaimanapun juga, aku berhasil melakukan kunjungan kepada Morfin dalam mingguminggu terakhir hidupnya, pada saat itu aku sedang berusaha menemukan sebanyak mungkin tentang masa lalu Voldemort. Aku mengeluarkan kenangan ini dengan susah payah. Ketika melihat apa isinya, aku berusaha menggunakannya untuk mendapatkan kebebasan Morfin dari Azkaban. Sebelum Kementerian mengambil keputusan, Morfin telah meninggal.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.