Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Saya tidak menganggap apa yang akan Anda sampaikan tidak penting, Sir!” kata Harry kaku.

“Yah, kau betul, karena yang akan kusampaikan memang penting,” kata Dumbledore tajam. “Ada dua kenangan yang akan kutunjukkan kepadamu malam ini. Keduanya didapatkan dengan kesulitan luar biasa, dan yang kedua adalah, kurasa, yang paling penting yang sudah kukumpulkan.”

Harry tidak berkomentar apa-apa. Dia masih merasa marah atas tanggapan yang diterimanya terhadap ceritanya, namun tak melihat apa untungnya kalau dia terus berargumentasi.

“Jadi,” kata Dumbledore, dengan suara nyaring, “kita bertemu malam ini untuk melanjutkan kisah Tom Riddle, yang kita tinggalkan dalam pelajaran yang lalu siap memasuki Hogwarts. Kau pasti ingat betapa bersemangatnya dia mendengar bahwa dia adalah penyihir, bahwa dia menolak kutemani ke Diagon Alley dan bahwa aku, sebaliknya, memperingatkannya agar tidak terus melakukan pencurian ketika dia sudah tiba di sekolah.”

“Nah, awal tahun ajaran baru tiba dan bersama itu tiba jugalah Tom Riddle, seorang anak laki-laki pendiam memakai jubah bekas, yang antre bersama anak-anak kelas satu lainnya untuk diseleksi. Dia ditempatkan di Asrama Slytherin nyaris langsung setelah Topi Seleksi menyentuh kepalanya, Dumbledore melanjutkan, melambaikan tangannya yang hitam ke arah rak di atas kepalanya, tempat Topi Seleksi berada, kuno dan tak bergerak. “Seberapa cepat Riddle tahu bahwa pendiri asramanya yang tersohor bisa bicara dengan ular, aku tidak tahu barangkali malam itu juga. Pengetahuan ini hanya bisa menambah semangatnya dan memperbesar perasaan bahwa dirinya penting.”

“Meskipun demikian, jika dia menakut-nakuti atau membuat teman-teman Slytherin-nya terkesan dengan memperlihatkan kemampuannya berbicara Parseltongue di ruang rekreasi, tak ada petunjuk tentang itu yang sampai ke ruang guru. Dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keangkuhan ataupun agresi. Sebagai anak yatim-piatu yang berbakat luar biasa dan sangat tampan, wajar kalau dia menarik perhatian dan simpati dari para guru, hampir dari saat kedatangannya. Dia tampak sopan, pendiam, dan haus pengetahuan. Hampir semua sangat terkesan olehnya.”

“Apakah Anda tidak memberitahu mereka, Sir, seperti apa dia waktu Anda menemuinya di panti asuhan?” tanya Harry.

“Tidak. Meskipun dia tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan, mungkin saja dia menyesali sikapnya sebelumnya dan memutuskan untuk memulai hidup baru. Aku memilih memberinya kesempatan itu.”

Dumbledore berhenti dan memandang ingin tahu Harry, yang sudah membuka mulut siap bicara. Di sini, sekali lagi, tampak kecenderungan Dumbledore untuk memercayai orang, meskipun sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang itu tak layak dipercaya! Namun kemudian Harry teringat sesuatu …

“Tetapi Anda tidak betul-betul memercayainya, kan, Sir? Dia memberitahu saya … si Riddle yang keluar dari buku harian mengatakan ‘Dumbledore tak pernah menyukaiku, tidak seperti guru-guru lainnya’.”

“Kita katakan saja aku tidak begitu saja menganggap bahwa dia bisa dipercaya,” kata Dumbledore. “Aku sudah memutuskan, seperti yang sudah kutunjukkan, untuk mengawasinya dengan ketat, dan itu kulakukan. Aku tak bisa berpura-pura mengatakan banyak yang kudapatkan dari pengamatanku awalnya. Dia sangat menjaga diri terhadapku; dia merasa, aku yakin, bahwa dalam kegembiraannya mengetahui identitasnya yang sebenarnya dia telah memberitahuku terlalu banyak. Dia berhati-hati agar tak pernah lagi membuka diri sebanyak itu, tetapi dia tak dapat menarik kembali apa yang telah telanjur dibukanya dalam kegembiraannya, ataupun apa yang telah disampaikan Mrs Cole kepadaku. Meskipun demikian, dia cukup bijaksana untuk tak pernah mencoba memikatku seperti dia memikat begitu banyak rekan guruku.”

“Setelah naik ke kelas yang lebih tinggi, dia mengumpulkan sekelompok teman yang berdedikasi kepadanya. Aku menyebutnya begitu, karena tak ada istilah yang lebih baik, meskipun seperti yang telah kutunjukkan, Riddle tak diragukan lagi tidak memiliki perasaan sayang kepada satu pun dan mereka. Grup ini memiliki semacam glamor gelap di dalam kastil. Mereka bervariasi; campuran orang-orang lemah yang mencari perlindungan, orang-orang ambisius yang mencari cipratan kebesaran, dan orang-orang kejam yang tertarik kepada pemimpin yang bisa menunjukkan kepada mereka bentuk-bentuk kekejaman yang lebih canggih. Dengan kata lain, mereka adalah pelopor Pelahap Maut, dan memang beberapa di antaranya menjadi para Pelahap Maut pertama setelah meninggalkan Hogwarts.”

“Dikontrol ketat oleh Riddle, mereka tak pernah terdeteksi melakukan pelanggaran secara terbuka. Kendati selama tujuh tahun mereka di Hogwarts ditandai dengan sejumlah insiden mengerikan, tak bisa dibuktikan secara memuaskan mereka ada hubungannya dengan insiden-insiden itu. Insiden yang paling serius tentunya adalah dibukanya Kamar Rahasia, yang berakibat meninggalnya seorang anak perempuan. Seperti yang kau ketahui, Hagrid telah keliru dituduh melakukan kejahatan itu.”

“Aku tidak berhasil menemukan banyak kenangan tentang Riddle di Hogwarts,” kata Dumbledore, meletakkan tangannya yang gosong di atas Pensieve. “Hanya sedikit orang yang kenal dia waktu itu bersedia bicara tentangnya; mereka kelewat takut. Apa yang berhasil kuketahui, kudapatkan setelah dia meninggalkan Hogwarts, dengan usaha yang sangat berhati-hati, setelah melacak sedikit orang yang bisa diperdaya itu agar bicara, setelah mencari-cari catatan lama dan menanyai saksi-saksi Muggle maupun penyihir.

“Mereka yang berhasil kubujuk untuk bicara memberitahuku bahwa Riddle terobsesi dengan asal-usulnya. Ini bisa dimengerti, tentunya; dia besar di panti asuhan dan wajar kalau ingin tahu bagaimana dia bisa sampai di sana. Rupanya dia tak berhasil mencari jejak Tom Riddle Senior pada plakat di ruang piala; pada daftar prefek di arsip lama sekolah, bahkan dalam buku-buku sejarah sihir. Akhirnya dia terpaksa menerima bahwa ayahnya belum pernah menginjakkan kaki di Hogwarts. Aku yakin saat itulah dia melepas namanya untuk selamanya, mengganti identitas dengan Lord Voldemort, dan mulai menginvestigasi keluarga ibunya yang semula dilecehkannya. Kau pasti ingat, dia tadinya menganggap ibunya tak mungkin penyihir kalau dia mengalah pada kelemahan manusia yang memalukan, yaitu kematian.”

“Satu-satunya petunjuk yang dimilikinya hanyalah nama ‘Marvolo’, yang diketahuinya dari mereka yang mengelola panti asuhan sebagai nama kakeknya dari pihak ibu. Akhirnya, setelah melakukan riset yang sangat teliti pada buku-buku lama tentang keluarga-keluarga sihir, dia menemukan keberadaan garis keturunan Slytherin yang masih hidup. Pada musim panas di usianya yang keenam belas, dia meninggalkan panti asuhan, tempat dia pulang setahun sekali, dan mulai mencari keluarganya yang bermarga Gaunt. Dan sekarang, Harry, jika kau mau berdiri …”

Dumbledore bangkit, dan Harry melihat bahwa dia sekali lagi memegang botol kristal kecil berisi kenangan yang berpusar dan berkilau seperti mutiara.

“Aku beruntung sekali bisa mendapatkan ini;” kata nya, seraya menuang zat berkilauan itu ke dalam pensieve. “Kau akan mengerti setelah kita berdua mengalaminya. Kita berangkat?”

Harry melangkah mendekati baskom batu dan menunduk dengan patuh sampai wajahnya membenam di permukaan kenangan itu; dia merasakan sensasi yang sudah dikenalnya, seperti terjatuh dalam kekosongan dan kemudian mendarat pada lantai kotor dalam kegelapan yang nyaris total.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.