Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Dan selama ini kami diharapkan percaya Dumbledore tidak pernah mencurigaimu?” tanya Bellatrix.

“Dia sama sekali tak menyadari kepada siapa sebetulnya kesetiaanmu kauberikan, dia masih memercayaimu sepenuhnya?”

“Aku memainkan peranku dengan baik,” kata Snape.

“Dan kau melupakan kelemahan terbesar Dumbledore: dia memercayai yang terbaik dari setiap orang. Aku mengarang cerita penyesalan teramat dalam ketika aku bergabung menjadi stafnya, langsung setelah meninggalkan hari-hariku sebagai Pelahap Maut, dan dia menerimaku dengan tangan terbuka meskipun, seperti kukatakan, sebisanya tak pernah mengizinkan aku dekat dengan Ilmu Hitam. Dumbledore penyihir hebat oh ya, dia penyihir hebat” (karena Bellatrix mengeluarkan suara tajam) “Pangeran Kegelapan mengakuinya. Meskipun demikian, aku senang mengatakan, bahwa Dumbledore sekarang sudah tua. Duel dengan Pangeran Kegelapan bulan lalu mengguncangnya. Sejak duel itu dia menderita luka serius, karena reaksinya lebih lambat daripada sebelumnya. Tetapi selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah berhenti memercayai Severus Snape, dan itulah sebabnya aku sangat berharga bagi Pangeran Kegelapan.”

Bellatrix masih tidak puas, meskipun dia tampak sangsi bagaimana cara paling baik menyerang Snape berikutnya. Menggunakan kesempatan diamnya Bellatrix, Snape menoleh memandang adiknya.

“Nah … kau datang untuk meminta bantuanku, Narcissa?”

Narcissa mengangkat muka menatapnya, wajahnya dipenuhi keputusasaan.

“Ya, Severus. Ku — kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku. Tak ada orang lain yang bisa kumintai tolong. Lucius di penjara dan …”

Dia memejamkan mata dan dua butir air mata besar bergulir dari bawah pelupuknya.

“Pangeran Kegelapan telah melarangku membicarakan ini;” Narcissa melanjutkan, matanya masih terpejam. “Dia tak mau orang lain tahu tentang rencana ini. Ini … sangat rahasia. Tapi –”

“Kalau dia melarang, kau tak boleh membicarakannya,” kata Snape segera. “Kata-kata Pangeran Kegelapan adalah hukum.”

Narcissa kaget seakan Snape telah menyiramnya dengan air dingin. Bellatrix tampak puas untuk pertama kalinya sejak dia memasuki rumah itu.

“Nah!” katanya penuh kemenangan kepada adiknya. “Bahkan Snape melarangmu bicara, jadi jangan bicara!”

Namun Snape telah bangkit dan berjalan ke jendela kecil, mengintip melalui gorden ke arah jalan yang sepi, kemudian menutup kembali gorden dengan sentakan. Dia berbalik menghadapi Narcissa, mengernyit.

“Kebetulan aku tahu rencana ini;” katanya pelan. “Aku salah satu dari sedikit orang yang diberitahu Pangeran Kegelapan. Meskipun demikian, seandainya aku tak mengetahui rahasia ini, Narcissa, kau akan bersalah melakukan pengkhianatan besar terhadap Pangeran Kegelapan.”

“Kupikir kau pasti tahu tentang ini!” kata Narcissa, bernapas lebih lega. “Dia amat memercayaimu, Severus …”

“Kau tahu rencana itu?” kata Bellatrix, ekspresi kepuasan yang cuma sekilas kini digantikan kemurkaan.

“Kau tahu?”

“Tentu,” kata Snape. “Tetapi, bantuan seperti apa yang kau kehendaki, Narcissa? Kalau kau membayangkan aku bisa membujuk Pangeran Kegelapan untuk mengubah pikirannya, aku khawatir tak ada harapan, sama sekali tak ada harapan.”

“Severus,” bisiknya, air mata mengalir di pipinya yang pucat. “Anakku … anak tunggalku …”

“Draco mestinya bangga,” kata Bellatrix tak peduli. “Pangeran Kegelapan memberinya kehormatan besar. Dan aku akan mengatakan ini untuk Draco: dia tidak menyingkir dari tugasnya, dia tampaknya senang punya kesempatan untuk membuktikan diri, bersemangat mau melakukannya –”

Narcissa mulai menangis tersedu, tak hentinya menatap Snape dengan pandangan memohon.

“Itu karena dia baru enam belas tahun dan sama sekali tak tahu apa yang akan dihadapinya! Kenapa, Severus? Kenapa anakku? Ini terlalu berbahaya! Ini pembalasan bagi kesalahan Lucius. Aku tahu!”

Snape diam saja. Dia memalingkan pandangan dari air mata Narcissa, seakan itu tak pantas, namun dia tak bisa berpura-pura tidak mendengarnya

“Itulah sebabnya dia memilih Draco, kan?” Narcissa mendesak. “Untuk menghukum Lucius?

“Jika Draco berhasil,” kata Snape, masih tidak memandangnya, “dia akan menerima kehormatan lebih daripada yang lain.”

“Tetapi dia tak akan berhasil!” isak Narcissa. “Bagaimana mungkin, kalau Pangeran Kegelapan sendiri?”

Bellatrix kaget, menahan napas. Narcissa tampaknya kehilangan keberanian.

“Aku cuma bermaksud mengatakan … bahwa belum pernah ada yang berhasil … Severus … tolonglah … kau, dari dulu, adalah guru favorit Draco … kau teman lama Lucius … kumohon … kau favorit Pangeran Kegelapan, penasihatnya yang paling dipercaya … maukah kau bicara kepadanya, membujuknya?”

“Pangeran Kegelapan tak bisa dibujuk, dan aku tak begitu bodoh sehingga mau membujuknya,” kata Snape datar. “Aku tak bisa berpura-pura bahwa Pangeran Kegelapan tidak marah kepada Lucius. Luciuslah penanggung jawab waktu itu. Dia malah tertangkap, bersama entah berapa banyak yang lain, dan gagal mendapatkan kembali ramalannya. Ya, Pangeran Kegelapan marah, Narcissa, amat sangat marah.”

“Kalau begitu aku benar, dia memilih Draco untuk balas dendam!” isak Narcissa. “Dia tak bermaksud Draco sukses, dia ingin Draco terbunuh dalam usahanya!”

Ketika Snape diam saja, Narcissa tampak kehilangan pertahanan dirinya yang hanya tersisa sedikit. Bangkit berdiri, dia terhuyung mendekati Snape dan menjambret bagian depan jubahnya. Wajahnya dekat ke wajah Snape, air matanya menetes ke dada Snape, dia tersedu, “Kau bisa melakukannya. Kau bisa melakukannya, alih-alih Draco, Severus. Kau akan berhasil, pasti kau berhasil, dan dia akan memberimu penghargaan melebihi yang pernah kami semua terima”

Snape memegang pergelangan tangan Narcissa dan menyingkirkan tangannya yang mencengkeram jubahnya. Menunduk memandang wajah Narcissa yang basah oleh air mata, dia berkata perlahan, “Dia bermaksud pada akhirnya aku yang melakukannya, kurasa. Tetapi dia berkeras Draco mencobanya lebih dulu. Soalnya, walaupun kelihatannya tak mungkin, seandainya Draco berhasil, aku akan bisa tinggal di Hogwarts sedikit lebih lama, menjalankan fungsiku yang berguna sebagai mata-mata.”

“Dengan kata lain, tak jadi persoalan baginya kalau Draco terbunuh!”

“Pangeran Kegelapan sangat marah,” . Snape mengulang pelan. “Dia gagal mendengar ramalan itu. Kita sama-sama tahu, Narcissa, dia tidak mudah memaafkan.”

Narcissa merosot, terpuruk di kaki Snape, tersedu dan meratap di lantai.

“Anakku … anak tunggalku …”

“Kau mestinya bangga!” kata Bellatrix tanpa belas kasihan. “Kalau aku punya anak laki-laki, dengan senang hati akan kuserahkan untuk melayani Pangeran Kegelapan!”

Narcissa menjerit putus asa dan mencengkeram rambut pirangnya yang panjang. Snape membungkuk, memegang lengannya, mengangkatnya dan mendudukkannya kembali di sofa. Dia kemudian menuangkan anggur lagi untuk Narcissa dan menyorongkan gelasnya ke tangannya.

“Narcissa, sudah cukup. Minumlah ini. Dengarkan aku.”

Tangis Narcissa mereda sedikit. Tangannya berguncang, sehingga anggur tumpah ke tubuhnya. Dengan gemetar dia meneguknya sedikit.

“Ada kemungkinan … aku bisa membantu Draco.”

Narcissa duduk tegak, wajahnya pucat pasi, matanya membesar.

“Severus oh, Severus — kau mau membantunya? Maukah kau menjaganya, supaya dia tidak celaka?”

“Aku bisa mencoba.”

Narcissa melempar gelasnya; gelas itu meluncur di atas meja ketika Narcissa merosot turun dari sofa dalam posisi berlutut di depan kaki Snape, menyambar tangan Snape dengan kedua tangannya dan menekankan bibirnya ke tangan itu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.