Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Arthur!” kata Mrs Weasley tiba-tiba. Dia telah bangkit dari kursinya, tangannya menekan jantungnya dan dia menatap ke luar jendela dapur. “Arthur-Percy datang!”

“Apa?”

Mr Weasley menoleh ke belakang. Semua orang cepat-cepat melihat ke jendela. Ginny berdiri agar bisa melihat lebih baik. Betul juga, tampak Percy Weasley berjalan di halaman bersalju, kacamatanya yang berbingkai-tulang berkilat tertimpa cahaya matahari. Namun dia tidak sendirian.

“Arthur, dia-dia bersama Menteri!”

Dan betul saja, laki-laki yang pernah Harry lihat di Daily Prophet berjalan di belakang Percy, agak timpang, rambut lebatnya yang kelabu dan mantel hitamnya tertempel salju di sana-sini. Sebelum salah satu dari mereka bisa mengatakan apa-apa, sebelum Mr dan Mrs Weasley bisa melakukan sesuatu selain bertukar pandang, pintu belakang terbuka dan Percy berdiri di sana.

Keheningan yang menyusul menyakitkan. Kemudian Percy berkata agak kaku, “Selamat Natal, Ibu.”

“Oh, Percy!” kata Mrs Weasley, dan dia melempar dirinya ke dalam pelukan Percy.

Rufus Scrimgeour berhenti di ambang pintu, bertumpu pada tongkatnya dan tersenyum mengawasi adegan penuh kasih-sayang ini.

“Kalian harus memaafkan gangguan ini,” katanya, ketika Mrs Weasley menoleh memandangnya, tersenyum dan menyeka matanya. “Percy dan aku berada di dekat sini bekerja, kalian tahu dan dia tak tahan tidak mampir dan bertemu kalian semua.”

Namun Percy tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyalami anggota keluarganya yang lain. Dia berdiri tegak dan tampak kikuk, dan memandang di atas kepala semua orang. Mr Weasley, Fred, dan George mengawasinya, dengan pandangan dingin.

“Silakan, silakan masuk, silakan duduk, Pak Menteri!” kata Mrs Weasley gugup, merapikan rambutnya. “Silakan mencicipi palkun, atau kuding … maksud saya-”

“Tak usah, tak usah, Molly,” kata Scrimgeour. Harry menduga dia sudah menanyakan nama Mrs Weasley kepada Percy sebelum mereka masuk rumah. “Aku tak mau mengganggu, tak akan berada di sini kalau Percy tidak ingin sekali bertemu kalian semua …”

“Oh, Perce!” kata Mrs Weasley bercucuran air mata, berjingkat untuk menciumnya.

“… kami cuma mampir lima menit, jadi aku akan berjalan-jalan di halaman selama kalian melepas rindu dengan Percy. Tidak, tidak, aku betul-betul tak mau mengganggu! Nah, kalau ada yang bersedia mengantarku melihat kebun kalian yang indah … ah, pemuda itu sudah selesai, bagaimana kalau dia berjalan-jalan bersamaku?”

Suasana di sekeliling meja makan kentara sekali berubah. Semua orang memandang Scrimgeour dan Harry bergantian. Tak seorang pun menganggap kepura-puraan Scrimgeour tidak tahu nama Harry meyakinkan, atau menganggap wajar bahwa Harry-lah yang dipilih menemani Menteri berkeliling kebun, sementara piring Ginny, Fleur, dan George juga sudah bersih.

“Yeah, baiklah,” kata Harry ke dalam kesunyian.

Harry tidak teperdaya. Walaupun Scrimgeour mengatakan mereka kebetulan ada di daerah itu, bahwa Percy ingin bertemu keluarganya, ini pastilah alasan sebenarnya kenapa mereka datang, supaya Scrimgeour bisa bicara berdua saja dengan Harry.

“Tak apa-apa,” katanya pelan, ketika dia melewati Lupin, yang sudah setengah bangkit dari kursinya. “Tak apa-apa,” dia menambahkan, ketika Mr Weasley membuka mulut untuk bicara.

“Bagus sekali!” kata Scrimgeour, mundur untuk membiarkan Harry melewati pintu, mendahuluinya. “Kami akan berkeliling kebun sekali, dan kemudian Percy dan aku pergi. Silakan melanjutkan makan kalian!”

Harry berjalan menyeberangi kebun keluarga Weasley yang tanamannya sudah perlu dipangkas dan berselimut salju. Scrimgeour berjalan agak pincang di sebelahnya. Harry tahu dia sebelumnya menjabat Kepala kantor Auror. Penampilannya tegar dan banyak bekas luka pertempurannya, sangat berbeda dengan si gendut Fudge dengan topi bowler-nya.

“Indah,” kata Scrimgeour, berhenti di pagar halaman dan memandang ke padang rumput bersalju dan tanam-tanaman yang tak bisa dikenali. “Indah.”

Harry diam saja. Dia merasa Scrimgeour mengawasinya.

“Aku sudah lama sekali ingin bertemu denganmu,” kata Scrimgeour, selewat beberapa saat. “Kau tahu itu?”

“Tidak,” kata Harry jujur.

“Oh ya, sudah lama sekali. Tapi Dumbledore sangat protektif terhadapmu,” kata Scrimgeour. “Wajar, tentu saja, wajar, setelah apa yang kau alami … teristimewa apa yang terjadi di Kementerian …”

Dia menunggu Harry mengatakan sesuatu, namun Harry diam saja, maka dia melanjutkan, “Aku sudah berharap mendapat kesempatan bicara denganmu sejak aku menjabat, tapi Dumbledore-sangat bisa di pahami, seperti kataku-mencegahnya.”

Harry tetap belum berkata apa-apa, menunggu.

“Desas-desus yang beredar!” kata Scrimgeour. “Yah, tentu saja kita berdua tahu bagaimana cerita-cerita ini dibumbui … semua bisik-bisik tentang ramalan … tentang kau yang adalah ‘Sang Terpilih’ …”

Mereka sudah dekat ke pokok masalah sekarang, Harry membatin, alasan Scrimgeour berada di sini.

“… kukira Dumbledore telah membicarakan hal-hal ini denganmu?” Harry berbohong atau tidak. Dia memandang jejak-jejak jembalang pada petak-petak bunga, dan bagian tanah yang licin tempat Fred menangkap jembalang yang sekarang memakai tutu di puncak pohon Natal. Akhirnya dia memutuskan mengatakan yang sebenarnya … atau sebagian kecil dari kebenaran.

“Yeah, kami telah membicarakannya.”

“Ah, kalian telah membicarakannya …” kata Scrimgeour. Harry bisa melihat, dari sudut matanya, Scrimgeour menyipitkan mata memandangnya, maka dia berpura-pura sangat tertarik pada jembalang yang baru saja memunculkan kepalanya dari bawah rumpun bunga rhododendron yang membeku. “Dan apa yang dikatakan Dumbledore kepadamu, Harry?”

“Maaf, tapi itu antara kami berdua,” kata Harry.

Diusahakannya suaranya semenyenangkan mungkin, dan nada Scrimgeour juga ringan dan ramah ketika dia berkata, “Oh, tentu saja, jika itu masalah kepercayaan, aku tak ingin kau membuka rahasia … oh, tidak … dan lagi pula, apakah betul-betul penting kau ini Sang Terpilih atau bukan?”

Harry harus memikirkan kalimat terakhir itu selama beberapa detik sebelum menanggapi.

“Saya sungguh tidak tahu apa yang Anda maksudkan, Pak Menteri.”

“Yah, tentu saja, bagimu itu sangat berarti,” kata Scrimgeour sambil tertawa. “Tapi untuk komunitas sihir secara umum … itu semua hanya persepsi, kan? Yang penting adalah apa yang dipercaya orang.”

Harry tidak berkata apa-apa. Dia mengira dia melihat, samar-samar, ke mana arah pembicaraan mereka, namun dia tak akan membantu Scrimgeogur tiba di sana. Jembalang di bawah rhododendron sekarang menggali cacing di akarnya dan Harry menancapkan pandangannya ke jembalang itu.

“Orang-orang mengira kaulah Sang Terpilih,” kata Scrimgeour. “Mereka menganggapmu sebagai pahlawan tentu saja kau pahlawan, Harry, terpilih ataupun tidak! Berapa kali sudah kau menghadapi Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut? Yah, bagaimanapun juga,” dia melanjutkan, tanpa menunggu jawaban, “poinnya adalah, kau simbol harapan bagi banyak orang, Harry. Ide bahwa ada orang yang mungkin bisa, yang mungkin sudah ditakdirkan, untuk membinasakan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebutyah, wajar saja itu membuat orang-orang bersemangat. Dan mau tak mau aku merasa bahwa, begitu kau menyadari ini, kau akan menganggap bahwa, yah, sudah menjadi kewajibanmulah, untuk berdiri berdampingan dengan Kementerian, dan memberi semangat kepada semua orang.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.