Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Harry, yang berpendapat sangatlah tidak mungkin Rufus Scrimgeour adalah vampir, namun terbiasa mendengar Luna mengulangi pandangan-pandangan ayahnya yang ajaib seolah semua itu fakta, tidak menanggapi. Mereka sudah hampir tiba di kantor Slughorn dan semakin dekat, suara tawa, musik, dan obrolan semakin keras terdengar.

Entah apakah memang demikian, ataukah karena dia memakai trik sihir, kantor Slughorn tampak lebih besar daripada kantor guru yang biasanya. Langit-langit dan dinding-dindingnya didekorasi dengan hiasan gantung hijau-zamrud, merah, dan emas, sehingga kesannya mereka berada di dalam tenda yang sangat luas. Ruangan itu padat dan pengap dan bermandi cahaya merah yang dipancarkan oleh lampu emas berhias yang tergantung di tengah langit-langit. Di dalam lampu itu peri-peri sungguhan mengepakkan sayap, masing-masing merupakan bola cahaya cemerlang. Nyanyian keras diiringi musik yang kedengarannya mandolin terdengar dari sudut yang jauh; kepulan asap pipa menggantung di atas beberapa penyihir berusia lanjut yang sedang asyik mengobrol, dan sejumlah peri-rumah berjalan menyelip-nyelip dengan bising di antara hutan lutut, tersembunyi oleh piringpiring perak berat berisi makanan yang mereka bawa, sehingga mereka tampak seperti meja berjalan.

“Harry, anakku!” dentum Slughorn, segera setelah Harry dan Luna menyeruak masuk. “Masuk, masuk, banyak orang yang aku ingin kautemui!”

Slughorn memakai topi beludru berjambul yang serasi dengan jasnya. Mencengkeram lengan Harry kuat-kuat seolah akan ber-Disapparate dengannya, Slughorn dengan sengaja membawanya ke tengah pesta. Harry menyambar tangan Luna dan menyeretnya ikut.

“Harry, aku ingin kau bertemu Eldred Worple, mantan muridku, pengarang buku Saudara Sedarah: Hidupku di Tengah Para Vampir-dan, tentu slaja, temannya Sanguini.” Nama yang cocok untuk vampir, karena kata Latin “sanguinis” berarti “darah”.

Worple, seorang laki-laki kecil, berkacamata, menyambar tangan Harry dan menjabatnya dengan antusias. Si vampir Sanguini, yang jangkung dan kurus kerempeng dengan lingkaran hitam di bawah matanya, hanya mengangguk. Dia tampak agak bosan. Sekelompok gadis berdiri di dekatnya, tampak ingin tahu dan bergairah.

“Harry Potter, aku senang sekali!” kata Worple, memandang wajah Harry dengan matanya yang minus. “Aku baru berkata kepada Profesor Slughorn kemarin dulu, Mana biografi Harry Potter yang sudah ditunggu-tunggu kita semua?”

“Er,” kata Harry, “begitukah?”

“Sungguh rendah hati seperti dikatakan Horace!” kata Worple. “Tapi serius nih-” sikapnya berubah, mendadak menjadi seperti sedang bertransaksi, “aku senang sekali kalau bisa menulisnya orang-orang ingin sekali tahu tentang, kau, Nak, ingin sekali! Jika kau bersedia memberiku beberapa kali wawancara, katakanlah setiap kali pertemuan empat atau lima jam, nah, kita bisa menyelesaikan bukunya dalam hitungan bulan. Dan kau sama sekali tak perlu bersusah payah, kupastikan itu tanyalah Sanguini ini kalau itu tidak Sanguini, tetap di sini!” Worple menambahkan, mendadak galak, karena si vampir sudah bergeser mendekati kelompok gadis-gadis yang ada di dekat situ, ada pancaran agak kelaparan di matanya.

“Ini, makan pai saja,” kata Worple, menyambar sebuah pai dari peri-rumah yang lewat dan menjejalkannya ke tangan Sanguini sebelum kembali mencurahkan perhatiannya ke Harry.

“Nak, emas yang bisa kau hasilkan, tak bisa kaubayangkan”

“Saya sama sekali tidak tertarik,” kata Harry tegas, “dan saya baru saja melihat teman saya, maaf.”

Dia menyeret Luna mengikutinya ke dalam kerumunan, dia memang baru saja melihat rambut cokelat panjang menghilang di antara dua orang yang kelihatannya anggota Weird Sisters.

“Hermione! Hermione!”

“Harry! Untung kau datang! Hai, Luna!”

“Kau kenapa?” tanya Harry, karena Hermione kentara sekali berantakan, sepertinya dia baru berhasil meloloskan diri dari belitan Jerat Setan.

“Oh, aku baru kabur — maksudku, aku baru meninggalkan Cormac,” katanya. “Di bawah mistletoe,” dia menambahkan keterangan, ketika Harry terus menatapnya dengan pandang bertanya.

“Rasain kau, pergi dengannya sih,” tegur Harry keras.

“Kupikir dia yang akan membuat Ron paling sakit hati,” kata Hermione datar. “Aku sempat mau mengajak Zacharias Smith, tapi kupikir, secara keseluruhan”

“Kau mempertimbangkan Smith?” kata Harry, muak.

“Ya, dan aku menyesal tidak memilihnya. Grawp saja lebih sopan daripada McLaggen. Yuk kita ke sana, kita akan bisa melihat kalau dia datang, dia jangkung sekali …”

Mereka bertiga menuju ke sisi lain ruangan, mengambil piala berisi mead sembari berjalan, terlambat menyadari bahwa Profesor Trelawney berdiri di sana sendirian.

“Halo,” Luna menyapa sopan Profesor Trelawney., “Selamat malam, Nak,” kata Profesor Trelawney, sedikit kesulitan memandang Luna dengan jelas. Harry bisa membaui sherry lagi. “Aku tidak melihatmu di kelasku belakangan ini …”

“Tidak, saya mendapat Firenze tahun ini;” kata Luna.

“Oh, tentu saja,” kata Profesor Trelawney dengan kekeh marah dan mabuk. “Atau si kuda beban, aku lebih suka menganggapnya begitu. Pastinya kalian mengira sekarang setelah aku kembali ke sekolah, Profesor Dumbledore akan menyingkirkan kuda itu, kan? Tapi tidak … kami berbagi kelas … ini penghinaan, betul-betul penghinaan. Tahukah kau …”

Profesor Trelawney tampaknya terlalu mabuk untuk mengenali Harry. Selagi dia gencar mengritik Firenze, Harry mendekat ke Hermione dan berkata, “Ada yang perlu kita luruskan. Apakah kau berencana memberitahu Ron bahwa kau campur tangan dalam uji coba Keeper?”

Hermione mengangkat alisnya.

“Apakah kau mengira aku akan serendah itu?”

Harry menatapnya tajam.

“Hermione, kalau kau bisa mengajak McLaggen-”

“Itu beda,” kata Hermione gengsi. “Aku tak punya rencana memberitahu Ron apa yang mungkin terjadi, atau tidak terjadi, pada saat uji coba Keeper.”

“Bagus,” kata Harry sungguh-sungguh. “Karena dia akan terpukul dan hancur lagi dan kita akan kalah dalam pertandingan berikutnya”

“Quidditch!” kata Hermione berang. “Cuma itukah yang dipedulikan cowok? Cormac tidak mengajukan satu pertanyaan pun mengenai diriku, tidak, aku disuguhi Seratus Tangkapan Hebat oleh Cormac McLaggen non-stop, dari-oh tidak, dia datang!”

Hermione bergerak cepat sekali sehingga sepertinya dia ber-Disapparate. Satu saat dia masih di sana, dan saat berikutnya dia menyelinap di antara dua penyihir wanita yang sedang terbahak-bahak dan menghilang.

“Lihat Hermione?” tanya McLaggen, menyeruak di

antara kerumunan tamu sekejap kemudian.

“Tidak, sori,” kata Harry, dan dia cepat-cepat berpaling untuk ikut mengobrol bersama Luna, selama sepersekian detik lupa kepada siapa Luna sedang bicara.

“Harry Potter!” kata Profesor Trelawney dengan suara dalam bergetar, baru saat itu menyadari ada Harry.

“Oh, halo,” kata Harry tidak antusias.

“Anakku!” katanya dalam bisikan yang bisa terdengar ke mana-mana. “Desas-desus yang beredar! Macam-macam cerita! Sang Terpilih! Tentu saja, aku sudah lama sekali tahu … pertanda-pertandanya tidak pernah bagus, Harry … tapi kenapa kau tidak ikut , Ramalan lagi? Untukmu, terutama, pelajaran ini sangatlah penting!”

“Ah, Sybill, kami semua menganggap pelajaran kitalah yang paling penting!” kata suara keras, dan Slughorn muncul di sisi lain Profesor Trelawney, wajahnya merah padam, topi beludrunya agak miring, segelas mead di satu tangan dan sepotong besar pai daging di tangan yang lain. “Tapi menurutku belum pernah aku mendapat murid seberbakat dia di kelas Ramuan!” kata Slughorn, memandang Harry dengan sayang, kendatipun matanya merah. “Instingtif, kau tahu seperti ibunya! Aku hanya pernah mengajar sedikit murid saja yang punya kemampuan seperti kuberitahu kau, Sybill-betul, bahkan Severus”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.