Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tutup mulutmu!” bentak Ron, langsung merah padam tanpa melewati merah dulu.

“Tidak, aku tak mau tutup mulut!” teriak Ginny, tak dapat menguasai diri. “Aku sudah melihatmu dengan Dahak, berharap dia akan mencium pipimu setiap kali kau bertemu dengannya. Kasihan deh, kau! Jika kau sendiri kencan dan ciuman, kau tak akan begitu keberatan orang lain melakukannya!”

Ron telah mencabut tongkat sihirnya juga; Harry dengan cepat melangkah di antara mereka.

“Kau tak tahu apa yang kaubicarakan!” raung Ron, berusaha menyerang Ginny melewati Harry, yang sekarang berdiri di depan Ginny dengan tangan terentang. “Hanya karena aku tidak melakukannya di depan umum-!”

Ginny tertawa mengejek, berusaha menyingkirkan Harry.

“Habis nyiumin Pigwidgeon, ya? Atau kau menyimpan foto Bibi Muriel di bawah bantalmu?”

“Kau-”

Kilatan cahaya jingga meluncur dari bawah lengan kiri Harry dan nyaris saja mengenai Ginny, hanya meleset beberapa senti. Harry mendorong Ron ke dinding.

“Jangan bodoh-”

“Harry mencium Cho Chang!” teriak Ginny, yang sekarang kedengarannya hampir menangis. “Dan Hermione mencium Viktor Krum, hanya kau yang bersikap seakan ciuman itu sesuatu yang menjijikkan, Ron, dan itu karena pengalamanmu sama banyaknya dengan anak dua belas tahun!”

Usai berkata begitu, Ginny pergi. Harry cepat-cepat melepaskan Ron. Tampang Ron seperti orang yang siap membunuh. Mereka berdua berdiri di sana, bernapas berat, sampai Mrs Norris, kucing Filch, muncul dari belokan, memecah ketegangan.

“Ayo,” ajak Harry, ketika bunyi kaki Filch yang diseret mencapai telinga mereka.

Mereka bergegas menaiki tangga dan berjalan sepanjang koridor lantai tujuh. “Oi, minggir!” bentak Ron pada seorang anak perempuan kecil yang terlonjak ketakutan dan menjatuhkan sebotol telur katak.

Harry hampir tak menyadari bunyi botol yang pecah. Dia merasa bingung, pusing; tersambar petir pastilah begini rasanya. Ini hanya karena dia adik Ron, dia memberitahu diri sendiri. Kau tidak suka melihatnya mencium Dean hanya karena dia adik Ron.

Namun tanpa bisa dicegah muncullah dalam benaknya bayangan koridor kosong yang sama, dengan dirinya yang mencium Ginny … monster di dalam dadanya mendengkur senang … tetapi kemudian dilihatnya Ron menarik terbuka permadani hias dan mengacungkan tongkat sihirnya kepada Harry, meneriakkan tuduhan-tuduhan seperti “pelanggaran kepercayaan” … “katanya kau temanku” …

“Menurutmu Hermione benar mencium Krum?” Ron bertanya tiba-tiba, ketika mereka sudah dekat si Nyonya Gemuk. Harry tersentak dan merasa bersalah. Direnggutkannya khayalannya menjauh dari koridor yang tak didatangi Ron yang mengganggu, koridor tempat dia dan Ginny hanya berdua saja

“Apa?” tanyanya bingung. “Oh … er …”

Jawaban yang jujur adalah “ya”, tetapi dia tak ingin memberikannya. Meskipun demikian Ron rupanya menyimpulkan yang terburuk dari ekspresi di wajah Harry.

“Dilligrout,” katanya muram kepada si Nyonya Gemuk, dan mereka memanjat masuk melalui lubang lukisan ke dalam ruang rekreasi.

Tak seorang pun dari mereka menyebut-nyebut Ginny atau Hermione lagi. Malah, mereka nyaris tak saling bicara malam itu dan pergi tidur dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Lama Harry berbaring tak bisa tidur, memandang langit-langit kelambu tempat tidurnya dan berusaha meyakinkan diri bahwa perasaannya terhadap Ginny sepenuhnya perasaan kakak terhadap adiknya. Bukankah mereka hidup bersama seperti kakak dan adik sepanjang musim panas, bermain Quidditch, menggoda Ron, dan menertawakan Bill dan Dahak? Dia sudah mengenal Ginny selama beberapa tahun sekarang … wajar kalau dia merasa protektif … wajar kalau dia ingin menjaganya … ingin mencabik-cabik Dean karena menciumnya … tidak … dia harus mengontrol perasaan kakak-adik khusus yang ini … Ron mendengkur.

Dia adik Ron, Harry menegur dirinya dengan tegas. Adik Ron. Dia terlarang. Dia tak mau mempertaruhkan persahabatannya dengan Ron demi apa pun. Dia meninju bantalnya ke bentuk yang lebih nyaman dan menunggu datangnya kantuk, berusaha keras tidak membiarkan pikirannya melayang ke dekat-dekat Ginny.

Harry terbangun keesokan harinya merasa agak linglung dan bingung gara-gara tidurnya diganggu sederet impian dan dalam mimpinya dia dikejar-kejar Ron yang membawa pemukul Beater, namun tengah harinya dia dengan senang hati menukar Ron dalam impiannya dengan Ron yang sebenarnya, yang tidak hanya mendiamkan Ginny dan Dean, namun juga memperlakukan Hermione yang sakit hati dan bingung dengan sikap tak peduli yang dingin dan mencemooh. Lebih-lebih lagi, dalam semalam Ron tampaknya berubah menjadi gampang tersinggung dan gampang marah seperti Skrewt Ujung-Meletup. Harry melewatkan hari itu berusaha mendamaikan Ron dan Hermione, namun sia-sia saja. Akhirnya Hermione pergi tidur dengan mendongkol dan Ron berjalan ke kamar anak laki-laki setelah menyumpah-nyumpah marah pada beberapa anak kelas satu yang ketakutan, hanya karena anak-anak itu memandangnya.

Betapa kecewanya Harry, agresi baru Ron ini tidak mereda selama beberapa hari berikutnya. Yang lebih buruk lagi, kemampuannya sebagai Keeper juga mecuram, dan membuatnya semakin agresif, sehingga dalam latihan final Quidditch sebelum pertandingan pada hari Sabtu, dia gagal menangkap semua gol yang diarahkan Chaser kepadanya, namun rnembentak-bentak semua pemain lain terus-menerus, sampai Demelza Robins menangis.

“Tutup mulut dan jangan ganggu dia!” teriak Peakes, yang tingginya cuma dua per tiga Ron, namun membawa pemukul yang berat.

“CUKUP!” bentak Harry, yang sudah melihat Ginny mendelik ke arah Ron, dan teringat reputasinya sebagai ahli Kutukan Kepak-Kelelawar. Harry meluncur mendekati mereka untuk menengahi sebelum situasi menjadi tak terkendali. “Peakzes, simpan Bludger-nya. Demelza, kuasai dirimu, kau bermain baik hari ini. Ron …” dia menunggu sampai anggota tim yang lain sudah di luar jangkauan pendengaran sebelum mengatakannya, “kau sahabatku terkarib, tapi kalau kau terus memperlakukan anggota tim yang lain seperti tadi, aku akan mengeluarkanmu dari tim.”

Sejenak dia benar-benar mengira Ron mungkin akan memukulnya, tetapi sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi. Ron tampak merosot di atas sapunya, semua keinginan melawan tampaknya telah meninggalkan dirinya, dan dia berkata, “Aku mengundurkan diri, aku parah sekali.”

“Kau tidak parah dan kau tidak mengundurkan diri!” kata Harry tegas, menyambar bagian depan jubah Ron. “Kau bisa menangkap apa saja kalau kau sedang oke, sakitmu ini mental, kaitannya dengan jiwa!”

“Kau mengataiku sakit jiwa?” “Yeah, mungkin begitu!”

Mereka saling melotot selama beberapa saat, kemudian Ron menggelengkan kepala dengan letih.

“Aku tahu kau tak punya waktu lagi untuk mencari Keeper lain, jadi aku akan bermain besok pagi, tapi kalau kita kalah, dan kita pasti kalah, aku akan mengeluarkan diri dari tim.”

Apa pun yang dikatakan Harry tak membawa hasil. Harry berusaha membesarkan semangat Ron selama makan malam, tetapi Ron terlalu sibuk marah dan bermuka masam kepada Hermione sehingga tidak memperhatikannya. Harry melanjutkannya di ruang rekreasi, namun pernyataan tegasnya bahwa seluruh tim akan kecewa berat jika Ron mundur agak diruntuhkan oleh fakta bahwa para anggota tim yang lain duduk bergerombol di sudut yang jauh, jelas sedang kasak-kusuk tentang Ron dan melempar pandang sebal ke arahnya. Akhirnya, Harry mencoba marah lagi dengan harapan bisa memprovokasi Ron agar bersikap menantang dan mudah-mudahan bertekad akan menyelamatkan gol, namun strategi ini sama tak berhasilnya seperti dorongan semangat. Ron pergi tidur dengan masih patah semangat dan tanpa harapan seperti sebelumnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.