Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kena!” teriak Ron, menarik polong kedua dari dalam batang, tepat ketika Hermione berhasil membuka polong yang pertama, sehingga mangkuk sekarang pebuh akar umbi yang menggeliat-geliat seperti cacing hijau pucat.

Sisa pelajaran berlangsung tanpa mereka menyebut-nyebut lagi pesta Slughorn. Meskipun Harry mengamati kedua sahabatnya dengan lebih teliti selama beberapa hari berikutnya, Ron dan Hermione tidak tampak berbeda kecuali bahwa mereka sedikit lebih sopan daripada biasanya terhadap masing-masing. Harry menganggap dia tinggal menunggu apa yang akan terjadi di bawah pengaruh Butterbeer dalam ruang Slughorn yang berlampu remang-remang pada malam pesta nanti. Untuk sementara ini, dia punya kecemasan yang lebih mendesak.

Katie masih dirawat di Rumah Sakit St Mungo tanpa prospek akan pulang, yang berarti bahwa tim Gryffindor yang menjanjikan, yang telah dilatih Harry dengan cermat sejak bulan Desember, kekurangan satu Chaser. Dia terus-menerus menunda mencari pengganti Katie dengan harapan dia akan pulang, namun pertandingan pembuka mereka melawan Slytherin sudah akan berlangsung dan akhirnya dia harus menerima kenyataan bahwa Katie tak akan pulang pada waktunya untuk bermain.

Harry merasa dia tak akan tahan menghadapi uji coba terbuka lagi. Dengan perasaan tertekan yang nyaris tak ada hubungannya dengan Quidditch, dia mendekati Dean Thomas sesudah pelajaran Transfigurasi pada suatu hari. Sebagian besar anak-anak sudah pergi, meskipun beberapa burung kuning yang berkicau masih berputar-putar dalam ruangan, semua ciptaan Hermione, tak ada anak lain yang berhasil menyulap bahkan sehelai bulu pun dari udara kosong.

“Apakah kau masih berminat bermain sebagai Chaser?”

“Ap-? Yeah, tentu saja!” kata Dean bersemangat. Lewat atas bahu Dean, Harry melihat Seamus Finnigan menjejalkan buku-bukunya ke dalam tas, tampangnya masam. Salah satu alasan kenapa Harry sebetulnya lebih suka tidak meminta Dean bermain adalah karena dia tahu Seamus tidak akan suka. Sebaliknya, Harry harus melakukan apa yang terbaik bagi tim, dan Dean terbang mengalahkan Seamus dalam uji coba.

“Nah, kalau begitu kau masuk tim,” kata Harry. “Ada latihan malam ini, jam tujuh.”

“Baik” kata Dean. “Trims, Harry! Wah, aku sudah tak sabar mau memberitahu Ginny!”

Dia berlari keluar ruangan, meninggalkan Harry dan Seamus berdua saja, saat tidak menyenangkan yang tidak menjadi lebih enak ketika ada kotoran burung mendarat di kepala Seamus, selagi salah satu kenari Hermione meluncur di atas mereka.

Seamus bukan satu-satunya yang tidak puas atas pilihan pengganti Katie. Ada banyak kasak-kusuk dalam ruang rekreasi tentang fakta bahwa Harry sekarang telah memilih dua teman sekelasnya sebagai anggota tim. Berhubung Harry sudah menerima kasak-kusuk yang lebih buruk daripada ini dalam kariernya di sekolah, dia tidak begitu terganggu, namun tetap saja tekanan untuk memenangkan pertandingan yang akan datang melawan Slytherin semakin besar. Jika Gryffindor menang, Harry tahu seluruh asrama akan bersumpah bahwa mereka telah mengkritiknya dan bersumpah bahwa mereka dari awal sudah tahu tim itu tim hebat. Jika mereka kalah … yah, harry membatin kecut, dia toh sudah pernah menderita kasak-kusuk yang lebih parah.

Harry tak punya alasan menyesali pilihannya begitu dia melihat Dean terbang malam itu. Dean bekerja sama baik dengan Ginny dan Demelza. Kedua Beater, Peakes dan Coote, semakin lama semakin baik. Satu-satunya masalah hanyalah Ron.

Harry sudah tahu Ron pemain tidak konsisten yang gampang senewen dan kurang percaya diri, dan celakanya, prospek pertandingan pembukaan untuk musim ini yang semakin mendekat membuat semua rasa tidak amannya keluar. Setelah kebobolan setengah lusin gol, sebagian besar dicetak oleh Ginny, teknik Ron semakin lama semakin liar, sampai akhirnya dia meninju Demelza yang terbang mendekat pada mulutnya.

“Itu kecelakaan, sori, Demelza, aku benar-benar minta maaf!” Ron berteriak di belakang Demelza yang terbang zig-zag turun ke tanah, darah bercucuran di mana-mana. “Aku hanya-”

“Panik,” kata Ginny marah, mendarat di sebelah Demelza dan memeriksa bibirnya yang rata. “Dasar bego, kau, Ron, lihat keadaannya!”

“Aku bisa membetulkannya,” kata Harry, mendarat di sebelah kedua gadis itu, mengarahkan tongkat sihirnya ke mulut Demelza dan berkata “Episkey”. “Dan, Ginny, jangan membego-begokan Ron, kau bukan kapten tim ini-”

“Nah, kau tampaknya terlalu sibuk untuk membegobegokan dia dan menurutku harus ada yang mengatakannya-”

Harry memaksa diri agar tidak tertawa.

“Naik lagi, semua, kita mulai lagi …”

Secara keseluruhan itu latihan mereka yang terburuk sepanjang semester ini, meskipun demikian Harry berpendapat tidaklah bijaksana menerapkan kejujuran adalah yang terbaik, mengingat waktu pertandingan sudah begini dekat.

“Kerja bagus, kawan-kawan, kurasa kita akan menggilas Slytherin,” dia berkata cerah, dan para Chaser dan Beater meninggalkan ruang ganti dengan wajah cukup cerah.

“Aku bermain seperti sekarung kotoran naga,” kata Ron dengan suara hampa, ketika pintu sudah menutup di belakang Ginny.

“Tidak,” kata Harry tegas. “Kau Keeper terbaik yang kuujicoba, Ron. Satu-satunya masalahmu adalah senewen.”

Harry terus memberikan semangat sepanjang perjalanan pulang ke kastil, dan saat mereka tiba di lantai dua Ron sudah tampak sedikit lebih ceria. Namun, ketika Harry mendorong permadani hias untuk mengambil jalan pintas menuju Menara Gryffindor, ternyata mereka melihat Dean dan Ginny, yang sedang berpelukan erat dan berciuman mesra, seakan direkat dengan lem.

Rasanya ada sesuatu yang besar dan bersisik mendadak hidup dalam perut, Harry, mencakari organ-organ dalamnya: darah panas seakan mengaliri otaknya, sehingga semua pikiran dipadamkan, digantikan keinginan liar untuk mengutuk Dean menjadi agar-agar. Bergulat dengan kegilaan mendadak ini, dia mendengar suara Ron seakan dari tempat yang sangat jauh.

“Oi!”

Dean dan Ginny memisahkan diri dan menoleh.

“Apa?”, kata Ginny.

“Aku tak mau menemukan adikku ciuman di depan umum!”

“Ini koridor kosong sebelum kalian muncul mengganggu” kata Ginny.

Dean tampak malu. Dia nyengir salah tingkah kepada Harry, namun Harry tidak membalas, karena monster yang baru lahir dalam dirinya meraung agar Dean langsung dikeluarkan dari tim.

“Er … yuk, Ginny,” ajak Dean, “kita kembali ke ruang rekreasi …”

“Kau duluan!” kata Ginny. “Aku mau bicara dengan kakakku tersayang!”

Dean pergi, kelihatannya dia tidak menyesal meninggalkan situasi itu.

“Baik,” kata Ginny, menyibak rambut merahnya yang panjang dari wajahnya dan memelototi Ron, “kita luruskan ini supaya jelas. Bukan urusanmu dengan siapa aku berkencan atau apa yang kulakukan dengan mereka, Ron-” `

“Yeah, itu urusanku!” sanggah Ron, sama marahnya. “Kaupikir aku mau orang-orang mengatakan adikku adalah-”

“Adaian apa: teriak Ginny, mencabut tongkat sihirnya. “Adalah apa tepatnya?”

“Dia tidak bermaksud apa-apa, Ginny-” kata Harry otomatis, meskipun monsternya meraungkan persetujuannya atas kata-kata Ron.

“Oh ya, dia mengata-ngataiku” kata Ginny, menjadi panas terhadap Harry. “Hanya karena dia belum pernah berciuman dengan siapa pun seumur hidupnya, hanya karena ciuman terbaik yang pernah diterimanya adalah ciuman dari bibi kami Muriel-“

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.