Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Apa kabar, Tom?” kata Dumbledore, berjalan mendekatinya dan mengulurkan tangan.

Anak laki-laki itu ragu-ragu, kemudian menerima tangan Dumbledore dan mereka berjabat tangan. Dumbledore menarik kursi kayu keras ke sebelah Riddle, sehingga mereka berdua tampak agak seperti pasien rumah sakit dan penjenguknya.

“Aku Profesor Dumbledore.”

“Profesor?” ulang Riddle. Dia tampak waspada. “Apa itu seperti ‘dokter’? Untuk apa Anda ke sini? Apakah dia memanggil Anda untuk memeriksa saya?”

Dia menunjuk ke pintu, lewat mana Mrs Cole baru saja pergi.

“Tidak, tidak,” kata Dumbledore, tersenyum.

“Saya tidak percaya pada Anda,” kata Riddle. “Dia ingin saya diperiksa, kan? Katakan yang sebenarnya!”

Dia mengucapkan ketiga kata terakhir dengan dering kekuatan yang mengejutkan. Itu perintah, dan kedengarannya dia telah sering kali mengucapkannya sebelumnya. Matanya melebar dan dia mendelik kepada Dumbledore, yang tidak menjawab apa pun kecuali terus tersenyum ramah. Setelah beberapa saat Riddle berhenti mendelik, namun dia tampak semakin waspada.

“Siapa Anda?”

“Sudah kukatakan tadi. Namaku Profesor Dumbledore dan aku bekerja di sekolah yang bernama Hogwarts. Aku datang untuk menawarimu tempat di sekolah-sekolah barumu, jika kau mau datang.”

Reaksi Riddle terhadap ucapan Dumbledore sungguh sangat mengejutkan. Dia melompat dari tempat tidur dan mundur menjauh dari Dumbledore, tampak marah.

“Anda tak bisa membohongi saya! Rumah sakit jiwa, dari situlah Anda, kan? ‘Profesor’, ya tentu saja — nah, saya tak mau pergi, tahu? Kucing tua itulah yang seharusnya masuk rumah sakit jiwa. Saya tak pernah melakukan apa pun terhadap Amy Benson atau Dennis Bishop, dan Anda bisa menanyai mereka, mereka akan memberitahu Anda!”

“Aku bukan dari rumah sakit jiwa,” kata Dumbledore sabar. “Aku guru dan, jika kau mau duduk tenang, akan kuceritakan kepadamu tentang Hogwarts. Tentu saja, jika kau tidak mau ke sekolah itu, tak akan ada yang memaksamu-”

“Coba saja mereka memaksa saya. Saya mau lihat,” cemooh Riddle.

“Hogwarts,” Dumbledore melanjutkan, seakan dia tidak mendengar kata-kata terakhir Riddle, “adalah sekolah untuk orang-orang dengan kemampuan istimewa-”

“Saya tidak gila!”

“Aku tahu kau tidak gila. Hogwarts bukan sekolah untuk orang gi1a. Hogwarts adalah sekolah sihir.”

Sunyi. Riddle membeku, wajahnya tanpa ekspresi namun matanya bergerak-gerak memandan bergantian kedua mata Dumbledore, seolah berusaha menangkap salah satunya berbohong.

“Sihir?” dia mengulang dalam bisikan.

“Betul,” kata Dumbledore.

“Apakah … apakah itu sihir, apa yang bisa saya lakukan?”

“Apa yang bisa kaulakukan?”

“Segala macam,” desah Riddle. Rona merah kegairahan menyebar dari leher ke pipinya yang cekung; dia tampak seperti orang demam. “Saya bisa membuat benda-benda bergerak tanpa menyentuhnya. Saya bisa membuat binatang-binatang melakukan apa yang saya ingin mereka lakukan, tanpa melatih mereka. Saya bisa membuat hal-hal buruk terjadi pada orang-orang yang menjengkelkan saya. Saya bisa membuat mereka celaka kalau saya mau.”

Kakinya gemetar. Dia terhuyung ke depan dan duduk di tempat tidur lagi, memandang tangannya, kepalanya menunduk seakan sedang berdoa.

“Saya tahu saya berbeda, bisiknya kepada jari-jarinya yang gemetar. “Saya tahu saya istimewa. Dan dulu saya tahu ada sesuatu.”

“Kau benar,” kata Dumbledore, yang tak lagi tersenyum, melainkan mengawasi Riddle dengan sungguh-sungguh, “Kau penyihir.”

Riddle mengangkat kepalanya. Wajahnya bertransfigurasi: ada kebahagiaan liar di wajah itu, namun entah kenapa itu tidak membuatnya semakin tampan; sebaliknya malah, roman mukanya yang tampan tampak lebih kasar, ekspresinya nyaris seperti binatang.

“Apakah Anda juga penyihir?”

“Ya.”

“Buktikan,” kata Riddle segera, dengan nada memerintah yang sama seperti yang digunakannya ketika dia berkata “katakan yang sebenarnya”.

Dumbledore mengangkat alis.

“Jika, seperti yang kuperkirakan, kau menerima tempatmu di Hogwarts-”

“Tentu saja saya terima!”

“Kalau begitu kau akan menyapaku dengan sebutan ‘Profesor’ atau ‘Sir’.”

Ekspresi Riddle mengeras sekilas sebelum dia berkata, dalam suara sopan yang hampir tak bisa dikenali, “Saya minta maaf, Sir. Maksud saya tadi-tolong, Profesor, bisakah Anda memperlihatkan kepada saya?”

Harry yakin bahwa Dumbledore akan menolak, bahwa dia akan memberitahu Riddle masih banyak waktu untuk demonstrasi praktek di Hogwarts, bahwa mereka saat itu dalam gedung yang penuh Muggle, dan karenanya harus berhati-hati. Betapa herannya Harry, ketika Dumbledore mencabut tongkat sihirnya dari saku dalam jasnya, mengacungkannya ke lemari kusam di sudut dan menjentik santai tongkat itu.

Lemari langsung berkobar terbakar.

Riddle melompat bangun. Harry hampir tak bisa menyalahkannya berteriak-teriak dalam shock dan kemarahan. Semua barang duniawinya pastilah di dalam lemari itu. Namun, baru saja Riddle maju untuk menyerang Dumbledore, lidah api sudah lenyap, meninggalkan lemari itu sama sekali tak bercacat.

Riddle memandang lemari, lalu Dumbledore. Kemudian, ekspresinya tamak, dia menunjuk ke tongkat sihir.

“Di mana saya bisa mendapatkan tongkat seperti itu?”

“Semuanya pada waktunya,” kata Dumbledore. “Ku rasa ada yang ingin keluar dari lemarimu.”

Dan betul saja, bunyi gemeretak samar terdengar dari dalam lemari. Untuk pertama kalinya, Riddle tampak ketakutan.

“Buka pintunya,” kata Dumbledore.

Riddle bimbang, menyeberang ruangan dan membuka pintu lemarinya. Di rak paling atas, di atas sederet pakaian lusuh, sebuah kotak kardus kecil berguncang dan bergemeretak seolah ada beberapa tikus panik yang terperangkap di dalamnya.

“Keluarkan,” kata Dumbledore.

Riddle menurunkan kotak yang bergetar itu. Dia tampak terkesima.

“Apakah dalam kotak itu ada sesuatu yang seharusnya tidak kaumiliki?” tanya Dumbledore.

Riddle melempar pandang lama, tajam, dan penuh pertimbangan ke arah Dumbledore. “Ya, saya rasa begitu, Sir,” katanya akhirnya, dengan suara tanpa ekspresi. “Bukalah,” kata Dumbledore.

Riddle membuka tutupnya dan menuang isinya ke tempat tidurnya tanpa memandangnya. Harry, yang sudah mengharap sesuatu yang lebih seru, melihat sekumpulan barang kecil sehari-hari; di antaranya ada yo-yo, bidal perak, dan harmonika berkarat. Begitu bebas dari kungkungan kotaknya, barang-barang itu berhenti bergetar dan tergeletak diam di atas selimut tipis.

“Kau akan mengembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya disertai ucapan maafmu,” kata Dumbledore kalem, mengembalikan tongkat sihir ke dalam jasnya. “Aku akan tahu apakah itu sudah dilaksanakan. Dan ketahuilah pencurian tidak bisa ditoleransi di Hogwarts.”

Riddle sama sekali tidak kelihatan malu; dia masih memandang Dumbledore dengan dingin dan menilai. Akhirnya dia berkata dengan suara datar, “Ya, Sir.”

“Di Hogwarts,” Dumbledore melanjutkan, “kami tidak hanya mengajarimu menggunakan sihir, tetapi juga mengontrolnya. Selama ini kau — dengan kurang hati-hati, aku yakin telah menggunakan kemampuanmu dalam cara yang tidak diajarkan ataupun ditoleransi di sekolah kami. Kau bukan yang pertama, ataupun yang terakhir, yang membiarkan sihirmu merajalela. Tetapi kau harus tahu bahwa Hogwarts bisa mengeluarkan murid, dan Kementerian Sihir-ya, ada Kementerian-akan menghukum pelanggar hukum dengan lebih berat lagi. Semua penyihir baru harus menerima itu, dengan memasuki dunia kami, mereka mematuhi undang-undang kami.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.