Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Snape memberi isyarat agar Narcissa duduk di sofa. Narcissa membuka mantelnya, melemparnya, dan duduk, memandang tangannya yang putih gemetar terkatup di pangkuannya. Bellatrix menurunkan kerudungnya lebih pelan. Jika adiknya berkulit putih, kulitnya gelap, dengan mata berpelupuk tebal dan rahang kuat. Dia tak melepaskan pandangan dari Snape ketika bergerak untuk berdiri di belakang Narcissa.

“Nah, apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Snape, seraya duduk di kursi berlengan di hadapan kedua kakak-beradik itu.

“Kita … kita sendiri, kan?” Narcissa bertanya pelan.

“Ya, tentu saja. Wormtail ada di sini, tapi tikus tidak masuk hitungan, kan?”

Snape mengacungkan tongkat sihirnya ke dinding buku di belakangnya dan, dengan bunyi letupan, sebuah pintu rahasia menjeblak terbuka, memperlihatkan sebuah tangga sempit, di atasnya seorang pria kecil berdiri membeku.

“Seperti yang jelas telah kau ketahui, Wormtail, ada tamu,” kata Snape santai.

Pria itu merayap dengan membungkuk menuruni beberapa anak tangga terakhir dan masuk ke dalam ruangan. Matanya kecil, berair, hidungnya runcing, dan senyumnya tidak menyenangkan. Tangan kirinya mengelus tangan kanannya, yang kelihatannya seakan terbungkus sarung tangan perak terang.

“Narcissa!” katanya, dengan suara melengking, “dan Bellatrix! Sungguh menyenangkan –”

“Wormtail akan mengambilkan minuman, jika kalian mau minum,” kata Snape. “Dan kemudian dia akan kembali ke kamarnya.”

Wormtail berjengit seakan Snape melemparnya dengan sesuatu.

“Aku bukan pembantumu!” lengkingnya, menghindari mata Snape.

“Masa? Setahuku Pangeran Kegelapan menempatkanmu di sini untuk membantuku.”

“Untuk membantu, ya tetapi bukan untuk membuatkan minuman dan — dan membersihkan rumahmu!”

“Aku tak tahu, Wormtail, bahwa kau menginginkan tugas yang lebih berbahaya,” kata Snape licik. “Ini bisa diatur dengan mudah. Aku akan bicara kepada Pangeran Kegelapan –”

“Aku bisa bicara sendiri dengannya kalau aku mau!”

“Tentu saja,” kata Snape, menyeringai. “Tetapi sementara itu, ambilkan kami minuman. Anggur buatan peri bolehlah.”

Wormtail bimbang sejenak, tampaknya dia akan membantah, namun kemudian berbalik dan masuk ke pintu tersembunyi kedua. Mereka mendengar bunyi berkelontangan, dan denting gelas beradu. Dalam waktu beberapa detik dia sudah kembali, membawa sebuah botol berdebu dan, tiga gelas di atas nampan. Semua diletakkannya di atas meja reyot, lalu dia bergegas meninggalkan mereka, membanting pintu berlapis buku menutup di belakangnya.

Snape menuang tiga gelas anggur merah-darah dan mengulurkan dua di antaranya kepada dua bersaudara itu. Narcissa menggumamkan ucapan terima kasih, sementara Bellatrix tidak berkata apa-apa, kecuali terus memandang galak Snape. Ini tampaknya tidak mempengaruhi ketenangan Snape; sebaliknya, dia malah tampak agak geli.

“Pangeran Kegelapan,” katanya, mengangkat gelasnya dan menenggaknya habis.

Kedua kakak-beradik melakukan hal yang sama. Snape mengisi kembali gelas mereka.

Seraya meminum gelasnya yang kedua, Narcissa berkata buru-buru, “Severus, aku minta maaf datang ke sini seperti ini, tetapi aku harus bertemu denganmu. Kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku –”

Snape mengangkat tangan menghentikannya, kemudian mengacungkan lagi tongkat sihirnya ke arah pintu tangga yang tersembunyi. Terdengar letusan keras dan jeritan, diikuti suara Wormtail yang bergegas menaiki tangga.

“Maaf,” kata Snape. “Belakangan ini dia suka menguping di belakang pintu. Aku tak tahu apa maunya … kau tadi mau bilang apa, Narcissa?”

Narcissa bergidik, menarik napas dalam-dalam, dan mulai lagi.

“Severus, aku tahu seharusnya aku tak boleh berada di sini, aku sudah dilarang berkata apa pun kepada siapa pun.”

“Kalau begitu kau harus tutup mulut!” gertak Bellatrix. “Khususnya kepada orang ini!”

“Orang ini?” ulang Snape sinis. “Dan apa maksudmu berkata begitu, Bellatrix?” .

“Bahwa aku tidak memercayaimu, Snape, seperti yang kau ketahui dengan baik!”

Narcissa mengeluarkan suara yang mungkin saja isak kering dan menutupi wajah dengan tangannya. Snape meletakkan gelas di atas meja dan duduk lagi, tangannya di atas lengan kursi, tersenyum kepada wajah gusar Bellatrix.

“Narcissa, kurasa kita harus mendengar apa yang sudah ingin sekali disampaikan Bellatrix; ini akan mencegah interupsi-interupsi membosankan. Nah, teruskan, Bellatrix,” kata Snape. “Kenapa kau tidak memercayaiku?”

“Ratusan alasan!” katanya keras, berjalan dari balik sofa untuk membanting gelasnya di atas meja. “Mulai dari mana! Di mana kau ketika Pangeran Kegelapan jatuh? Kenapa kau tidak pernah berusaha mencarinya ketika dia menghilang? Apa yang kau lakukan selama bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman Dumbledore? Kenapa kau mencegah Pangeran Kegelapan mendapatkan Batu Bertuah? Kenapa kau tidak segera datang ketika Pangeran Kegelapan lahir kembali? Di mana kau beberapa minggu yang lalu, ketika kami bertempur untuk memperoleh kembali ramalan bagi Pangeran Kegelapan? Dan kenapa, Snape, Harry Potter masih hidup, padahal dia ada dalam kekuasaanmu selama lima tahun?”

Bellatrix berhenti, dadanya naik-turun dengan cepat, pipinya memerah. Di belakangnya Narcissa duduk bergeming, wajahnya masih tersembunyi di balik tangannya.

Snape tersenyum.

“Sebelum aku menjawabmu — oh, ya, Bellatrix, aku akan menjawab! Kau boleh menyampaikan kata-kataku kepada yang lain yang berbisik-bisik di balik punggungku, dan menyiarkan kabar bohong tentang pengkhianatanku terhadap Pangeran Kegelapan! Sebelum aku menjawabmu, kataku, izinkan aku balas menanyaimu. Apakah kau benar-benar mengira bahwa Pangeran Kegelapan tidak mengajukan semua pertanyaan itu? Dan apakah kau benar-benar mengira bahwa, kalau aku tidak sanggup memberikan jawaban yang memuaskan, aku akan duduk di sini bicara denganmu?”

Bellatrix bimbang.

“Aku tahu dia memercayaimu, tapi –”

“Kau pikir dia keliru? Atau bahwa aku berhasil memperdayainya? Membodohi Pangeran Kegelapan, penyihir paling hebat, Legilimens paling piawai yang pernah ada di dunia?”

Bellatrix tidak berkata apa-apa, tetapi untuk pertama kalinya dia tampak sedikit bingung. Snape tidak mendesak lebih jauh. Dia mengambil kembali minumannya, menghirupnya, dan melanjutkan, “Kau bertanya di mana aku ketika Pangeran Kegelapan jatuh. Aku berada di tempat di mana aku harus berada, sesuai perintah Pangeran Kegelapan, di Sekolah Sihir Hogwarts, karena dia menginginkan aku memata-matai Albus Dumbledore. Kau tahu, kukira, bahwa aku menerima jabatanku di sana atas perintah Pangeran Kegelapan?”

Bellatrix mengangguk nyaris tak tampak, dan membuka mulutnya, tetapi Snape mencegahnya.

“Kau bertanya kenapa aku tidak berusaha mencarinya ketika dia menghilang. Karena alasan yang sama yang membuat Avery, Yaxley, pasangan Carrow, Greyback, Lucius,” dia mengedikkan kepalanya sedikit ke arah Narcissa, “dan banyak lagi tidak berusaha mencarinya. Aku mengira dia sudah tamat. Aku tidak bangga karenanya, aku keliru, tetapi ya begitulah … jika dia tidak memaafkan kami yang kehilangan kepercayaan terhadapnya waktu itu, dia hanya akan punya sedikit pengikut.”

“Dia akan memilikiku!” kata Bellatrix emosional. “Aku, yang melewatkan bertahun-tahun di Azkaban demi dia!”

“Ya, betul, pantas dikagumi,” kata Snape dengan suara bosan. “Tentu saja, kau tak banyak gunanya baginya di penjara, tetapi langkahmu tak diragukan lagi baik–“

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.