Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Ini” kata Dumbledore, melambaikan tongkat sihirnya sekali ketika dia menyerahkan kertas itu kepada Mrs Cole, “saya rasa ini akan membuat segalanya jelas.”

Mata Mrs Cole bergerak-gerak meneliti kertas kosong itu selama beberapa saat.

“Tampaknya semuanya beres,” katanya tenang, mengembalikan kertas itu. Kemudian matanya menatap sebotol gin dan dua gelas yang jelas tak ada di situ beberapa detik sebelumnya.

“Er — bolehkah saya menawari Anda segelas gin?” katanya ekstra-sopan.

“Terima kasih banyak,” kata Dumbledore, berseri-seri.

Segera nyata bahwa Mrs Cole bukan orang baru dalam soal minum gin. Menuangkan gin masing-masing segelas penuh untuk mereka berdua, dia menghabiskan isi gelasnya dalam sekali teguk. Mencecap lidahnya secara terang-terangan, dia tersenyum kepada Dumbledore untuk pertama kalinya, dan Dumbledore tidak ragu-ragu menggunakan kesempatan baik ini.

“Saya tadi bertanya dalam hati, apakah Anda bisa menceritakan kepada saya tentang apa saja yang menyangkut sejarah Tom Riddle? Saya kira dia lahir di panti asuhan ini?”

“Betul,” kata Mrs Cole, menuang gin lagi untuk dia sendiri. “Saya masih ingat jelas, karena saya sendiri baru mulai bekerja di sini. Malam Tahun Baru dan dingin sekali, hujan salju, Anda tahu. Malam yang buruk. Dan gadis ini takjauh lebih tua daripada saya sendiri waktu itu, datang tertatih-tatih menaiki undakan depan. Yah, dia bukan yang pertama. Kami membawanya masuk dan dia melahirkan dalam waktu satu jam. Dan meninggal dalam jam berikutnya.”

Mrs Cole mengangguk impresif dan meneguk gin-nya lagi dengan lahap.

“Apakah dia mengatakan sesuatu sebelum meninggal?” tanya Dumbledore. “Sesuatu tentang ayah si bayi, misalnya?”

“Kebetulan memang ya,” kata Mrs Cole, yang tampaknya meniknati perannya sekarang, dengan gin di satu tangan dan pendengar yang bersemangat mendengarkan ceritanya.

“Saya ingat dia berkata kepada saya, ´kuharap dia seperti papanya,’ dan saya tidak akan berbohong dia benar berharap begitu, karena dia tidak cantik dan kemudian dia memberitahu saya bayi itu harus di namakan Tom, seperti ayahnya, dan Marvolo, seperti ayahnya, ayah si gadis – ya, saya tahu, nama yang aneh, kan? Kami bertanya-tanya sendiri

apakah dia datang dari sirkus — dan dia berkata nama keluarga anak ini Riddle. Dan dia meninggal tak lama kemudian tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

“Nah, kami menamai dia seperti yang dimintanya, kelihatannya itu penting sekali bagi gadis malang itu, tapi tak ada Tom ataupun Marvolo maupun Riddle yang datang mencarinya. Tak ada ‘teka-teki’ apa pun, juga tak ada keluarga sama sekali, maka dia tinggal di panti asuhan sampai sekarang.” Kata “riddle” memang artinya “teka-teki”.

Mrs Cole menuang gin lagi untuk dirinya, nyaris tanpa sadar, segelas penuh. Dua semburat merah telah muncul pada tulang pipinya yang tinggi. Kemudian dia berkata, “Dia anak yang aneh.”

“Ya,” kata Dumbledore. “Saya sudah menduganya.”

“Dia bayi yang aneh juga. Dia hampir tak pernah menangis, Anda tahu. Dan kemudian, ketika dia sudah agak besar, dia … ganjil.”

“Ganjil, seperti apa?” tanya Dumbledore lembut. “Yah, dia-”

Namun Mrs Cole mendadak berhenti bicara, dan tak ada yang samar atau ragu tentang pandangan menyelidik yang dilayangkannya kepada Dumbledore di atas gelas gin-nya.

“Dia sudah pasti diterima di sekolah Anda, kata Anda?”

“Pasti,” kata Dumbledore.

“Dan tak ada apa pun yang saya – katakan akan mengubah itu?”

“Tak ada,” kata Dumbledore.

“Anda akan tetap membawanya pergi, apa pun yang terjadi?”

“Apa pun,” ulang Dumbledore serius.

Mrs Cole menyipit memandang Dumbledore, seolah mempertimbangkan akan memercayainya atau tidak. Rupanya dia memutuskan bisa memercayainya, karena dia mendadak berkata, “Dia membuat anak-anak lain, takut. ”

“Maksud Anda dia mengancam anak-anak lain?” tanya Dumbledore.

“Saya rasa mestinya begitu,” kata Mrs Cole, mengernyit sedikit, “tapi sulit sekali memergokinya. Telah terjadi beberapa insiden … hal-hal mengerikan …”

Dumbledore tidak mendesaknya, meskipun Harry bisa melihat dia tertarik. Mrs Cole menghirup gin-nya lagi dan pipinya yang kemerahan menjadi semakin merah.

“Kelinci Billy Stubs … nah, Tom mengatakan dia tidak melakukannya dan saya juga tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya, meskipun demikian, kelinci itu tak mungkin gantung diri di kasau, kan?”

“Saya kira tidak,” kata Dumbledore pelan.

“Tapi saya sungguh bingung, bagaimana dia bisa naik ke sana. Yang saya tahu hanyalah dia dan Billy bertengkar sehari sebelumnya. Dan kemudian-” Mrs Cole meneguk gin-nya lagi, kali ini tumpah sedikit di atas dagunya, “pada wisata musim panas kami membawa mereka keluar, Anda tahu, sekali setahun, ke pegunungan atau ke pantai — nah, Amy Benson dan Dennis Bishop tak pernah kembali wajar sepenuhnya setelah itu, dan yang bisa kami ketahui dari mereka hanyalah bahwa mereka pergi ke gua bersama Tom Riddle. Dia bersumpah mereka cuma mengeksplorasi gua, tapi sesuatu terjadi di dalam gua, saya yakin. Dan, yah, ada banyak hal, hal-hal aneh …”

Mrs Cole memandang Dumbledore lagi, dan kendatipun pipinya merah, pandangannya mantap.

“Saya rasa banyak orang akan senang melihatnya pergi.”

“Anda paham, saya yakin, bahwa dia tidak akan bersama kami sepanjang waktu?” kata Dumbledore.

“Dia harus pulang ke sini, paling tidak setiap musim panas.”

“Oh, yah, itu lebih baik daripada hidung kita terhantam pengorek api berkarat,” kata Mrs Cole sambil cegukan kecil. Dia bangkit berdiri dan Harry kagum melihat bahwa dia cukup mantap, walaupun dua per tiga gin sekarang sudah habis. “Saya rasa Anda ingin melihatnya?”

“Sangat ingin, kata Dumbledore, ikut bangkit.

Mrs Cole membawa Dumbledore keluar dari kantornya dan menaiki tangga batu, menyerukan instruksi dan teguran kepada para pembantunya dan anak-anak yang dilewatinya. Anak-anak yatim-piatu itu, Harry lihat, semua memakai semacam tunik kelabu. Mereka tampaknya cukup terpelihara, namun tak bisa disangkal bahwa ini tempat yang suram bagi anak-anak untuk dibesarkan.

“Nah, kita sampai,” kata Mrs Cole, ketika mereka berbelok di bordes kedua dan berhenti di depan pintu pertama pada koridor panjang. Dia mengetuk dua kali dan masuk.

“Tom? Ada tamu untukmu. Ini Mr Dumberton sori, Dunderbore. Dia datang untuk memberitahumu yah, lebih baik dia yang mengatakannya.”

Harry dan kedua Dumbledore masuk kamar itu dan Mrs Cole menutup pintu di belakang mereka.

Kamar itu kecil dan hanya berisi lemari pakaian tua, kursi kayu, dan tempat tidur besi. Seorang anak laki-laki sedang duduk di atas selimut kelabu terjulur di depannya, memegang buku.

Tak ada sedikit pun tanda-tanda keluarga Gaunt di wajah Tom Riddle. Harapan terakhir Merope terkabul, dia adalah miniatur ayahnya yang tampan, jangkung untuk usianya yang sebelas tahun, berambut-hitam dan wajahnya pucat. Matanya agak menyipit ketika dia melihat penampilan eksentrik Dumbledore. Sejenak sunyi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.