Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Bagaimana Anda tahu dia di London, Sir?”

“Berkat kesaksian orang yang bernama Caractacus Burke,” kata Dumbledore, “yang, secara kebetulan yang luar biasa, membantu mendirikan toko tempat asal kalung yang baru saja kita bicarakan.”

Dia menggoyang isi Pensieve seperti yang pernah Harry lihat sebelumnya, seperti pendulang emas yang mengayak emasnya. Dari dalam pusaran keperakan itu muncul seorang lelaki tua kecil, yang berputar pelan di dalam Pensieve, perak seperti hantu, tetapi jauh lebih padat, dengan riapan rambut yang sepenuhnya menutupi matanya.

“Ya, kami mendapatkannya dalam situasi yang aneh. Kalung itu dibawa oleh seorang penyihir wanita muda tepat sebelum Natal, oh, sudah bertahun-tahun silam sekarang. Dia berkata dia sangat membutuhkan emas, yah, itu kentara sekali. Pakaiannya compang-camping dan dia hamil tua … sudah hampir melahirkan. Dia berkata kalung itu tadinya milik Slytherin. Nah, kami mendengar cerita semacam itu sepanjang waktu, ‘Oh, ini punya Merlin, betul, teko favoritnya,’ tapi ketika aku melihat liontin kalung itu, ternyata betul ada lambang Slytherin-nya, dan beberapa mantra sederhana cukup untuk memastikan kalung itu memang milik Slytherin. Tentu saja, itu membuat kalung itu nyaris tak ternilai. Perempuan itu rupanya tak menyadari kalungnya bernilai sangat tinggi. Dia senang mendapat sepuluh Galleon untuk kalung itu. Pembelian paling menguntungkan yang pernah kami buat!”

Dumbledore menggoyang Pensieve itu ekstra keras dan Caractacus Burke turun kembali ke dalam pusaran memori dari mana tadi dia muncul.

“Dia cuma memberinya sepuluh Galleon?” kata Harry berang

“Caractacus Burke tidak terkenal sebagai orang yang murah hati,” kata Dumbledore. “Jadi, kita tahu bahwa, mendekati akhir kehamilannya, Merope sendirian di London dan sangat membutuhkan uang, butuh sekali sampai dia terpaksa menjual satu-satunya miliknya yang berharga, kalung yang merupakan salah satu pusaka keluarga yang sangat dihargai Marvolo.”

“Tapi dia bisa melakukan sihir!” kata Harry tak sabar. “Dia bisa mendapatkan makanan dan segalanya untuk dirinya dengan sihir, kan?”

“Ah,” kata Dumbledore, “barangkali dia bisa. Tetapi kukira aku menduga-duga lagi, tapi aku yakin aku benar bahwa ketika suaminya meninggalkannya, Merope berhenti melakukan sihir. Kukira dia tak ingin lagi menjadi penyihir. Tentu, mungkin saja cintanya yang tak terbalas dan keputusasaan yang menderanya melemahkan kekuatan sihirnya; itu bisa terjadi. Bagaimanapun juga, seperti yang akan kau lihat, Merope menolak mengangkat tongkat sihirnya, bahkan untuk menyelamatkan nyawanya.”

“Dia bahkan tak mau hidup untuk anaknya?”

Dumbledore mengangkat alisnya.

“Mungkinkah kau merasa kasihan kepada Lord Voldemort?”

“Tidak,” kata Harry buru-buru, “tapi dia punya pilihan, kan, tidak seperti ibu saya”

“Ibumu juga punya pilihan,” kata Dumbledore lembut. “Ya, Merope Riddle memilih mati, walaupun dia punya anak yang membutuhkannya, tapi jangan menghakimi dia terlalu keras, Harry. Dia menjadi sangat lemah karena penderitaan yang panjang dan dia tak pernah memiliki keberanian yang dimiliki ibumu. Dan sekarang, kalau kau mau berdiri …”

“Kita akan ke mana?” Harry bertanya, ketika Dumbledore bergabung dengannya di depan meja.

“Kali ini,” kata Dumbledore, “kita akan memasuki kenanganku. Kurasa kau akan mendapati ingatanku sangat mendetail dan ketepatannya juga memuaskan. Kau lebih dulu, Harry …”

Harry membungkuk di depan Pensieve; wajahnya menyentuh permukaan kenangan yang sejuk dan kemudian dia terjatuh dalam kegelapan lagi … Beberapa detik kemudian kakinya menginjak tanah padat, dia membuka mata dan ternyata dia dan Dumbledore berdiri di jalan kuno London yang ramai.

“Itu aku,” kata Dumbledore cerah, menunjuk ke depan ke sosok jangkung yang sedang menyeberang jalan di depan kereta susu yang ditarik kuda.

Rambut dan jenggot panjang Albus Dumbledore muda ini berwarna pirang. Setiba di sisi jalan, dia berjalan sepanjang trotoar, membuat banyak orang melirik penasaran melihat setelan jas beludru ungu kemerahan sewarna buah plum berpotongan mewah yang dikenakannya.

“Jas bagus, Sir,” kata Harry, sebelum sempat menahan diri, namun Dumbledore hanya tertawa kecil ketika mereka mengikuti sosoknya yang lebih muda dalam jarak dekat, akhirnya melewati gerbang besi memasuki halaman kosong di depan bangunan persegi yang agak kusam, dikelilingi pagar tinggi. Dia menaiki undakan menuju ke pintu depan dan langsung mengetuknya. Beberapa saat kemudian pintu dibuka oleh seorang gadis berantakan bercelemek.

“Selamat sore, saya ada janji dengan Mrs Cole, yang saya kira adalah pimpinan panti asuhan ini?”

“Oh, kata si gadis yang tampak bingung melihat penampilan eksentrik Dumbledore. “Urn … tunggu ‘bentar … MRS COLE!” teriaknya sambil menoleh.

Harry mendengar suara di kejauhan meneriakkan sesuatu sebagai jawaban. Gadis itu berpaling kembali kepada Dumbledore.

“Silakan masuk, dia datang.”

Dumbledore melangkah masuk ke ruang depan yang berlantai tegel hitam-putih. Seluruh tempat itu kusam namun bersih sekali. Harry dan Dumbledore yang lebih tua mengikuti. Sebelum pintu depan menutup di belakang mereka, seorang perempuan kurus bertampang bingung bergegas menuju mereka. Raut mukanya yang tajam lebih memperlihatkan kecemasan daripada ketidakramahan dan dia bicara sambil menoleh ke pembantu bercelemek lain ketika dia berjalan ke arah Dumbledore.

“… dan bawa yodium ke atas ke Martha, Billy Stubbs mengelotoki keropengnya dan Eric Whalley ngompol, seprainya basah semua-masih kena cacar air, lagi,” katanya tidak kepada siapa-siapa, kemudian terpandang olehnya Dumbledore dan dia langsung berhenti mendadak, tampak sangat kaget seakan ada jerapah yang baru masuk ke rumahnya.

“Selamat sore,” kata Dumbledore, mengulurkan tangannya.

Mrs Cole hanya ternganga.

“Nama sava Albus Dumbledore. Saya mengirim surat kepada Anda meminta bertemu dan Anda berbaik hati mengundang saya kemari hari ini.” Mrs Cole mengerjap. Rupanya memutuskan bahwa Dumbledore bukan halusinasi, dia berkata lemah, “Oh Ya. Ah kalau begitu lebih baik Anda ke kantor saya Ya.”

Dia mengajak Dumbledore ke ruangan kecil yang tampaknya sebagian dipakai sebagai ruang duduk, sebagian kantor. Ruangan itu sama kusamnya dengan ruang depan dan perabotannya tidak serasi. Dia mempersilakan Dumbledore duduk di kursi reyot dan dia sendiri duduk di belakang meja yang berantakan, mengawasi Dumbledore dengan gugup.

“Saya berada di sini, seperti telah saya sampaikan di dalam surat saya, untuk membicarakan Tom Riddwle dan pengaturan masa depannya,” kata Dumbledore.

“Apakah Anda keluarganya?” tanya Mrs Cole. “Bukan, saya guru,” kata Dumbledorc. “Suntuk menawari Tom tempat di sekolah saya.”

“Sekolah apa itu?”

“Namanya Hogwarts,” jawab Dumbledore. “Dan bagaimana Anda bisa tertarik pada Tom?” “Kami percaya dia memiliki kecakapan yang kami cari.”

“Maksud Anda dia memenangkan beasiswa? Bagaimana mungkin? Dia tak pernah melamar beasiswa.”

“Namanya sudah terdaftar di sekolah kami sejak dia lahir”

“Siapa yang mendaftarkannya? Orangtuanya?”

Tak diragukan lagi bahwa Mrs Cole wanita yang cerdas dan ini tidak menguntungkan. Rupanya Dumbledore juga berpendapat sama, karena Harry sekarang melihatnya mencabut tongkat sihirnya dari dalam saku jas beludrunya, dan pada saat yang bersamaan mengambil selembar kertas kosong dari atas meja Mrs Cole.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.