Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Harry masih berang ketika Hermione kembali ke meja mereka beberapa menit kemudian, membawa tiga botol Butterbeer.

“Apa Orde tidak bisa mengontrol Mundungus?” tuntut Harry kepada kedua sahabatnya dalam bisikan marah. “Tak bisakah mereka paling tidak menghentikannya mencuri segala sesuatu yang tidak terpasang kalau dia sedang di Markas?”

“Shh!” kata Hermione putus asa, memandang ke sekitarnya untuk memastikan tak ada yang mendengarkan mereka. Ada dua orang penyihir yang duduk dekat mereka sedang memandang Harry dengan penuh minat, dan Zabini bersandar malas di pilar tak jauh dari mereka. “Harry, aku juga akan jengkel. Aku tahu dia mencuri barang-barangmu–”

Harry tersedak Butterbeer-nya, untuk sementara tadi dia lupa bahwa Grimmauld Place nomor dua belas adalah miliknya.

“Ya, itu barang-barangku!” katanya. “Pantas saja dia tak senang melihatku! Akan kulaporkan pada Dumbledore apa yang terjadi, dia satu-satunya yang ditakuti Mundungus.”

“Ide bagus,” bisik Hermione, kentara dia senang Harry sudah mulai tetiang. “Ron, kau ngeliatin apa sih?”

“Bukan apa-apa,” kata Ron, buru-buru memalingkan pandang dari bar, tetapi Harry tahu dia sedang berusaha berkontak-mata dengan Madam Rosmerta, pelayan bar yang menarik dan bertubuh montok. Sudah lama Ron naksir Madam Rosmerta.

“Kukira ‘bukan apa-apa’ sedang di belakang, mengambil Wiski Api,” timpal Hermione sengit.

Ron mengabaikan sindiran ini. Dia menghirup minumannya dalam diam, yang rupanya dianggapnya sebagai diam yang anggun. Harry sedang memikirkan Sirius, dan betapa dia sebetulnya membenci piala-piala perak itu. Hermione mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di meja, matanya bergantian memandang Ron dan bar.

Begitu Harry menghirup tetes terakhir dalam botolnya, Hermione berkata, “Bagaimana kalau kita anggap cukup dan kita kembali ke sekolah?”

Kedua sahabatnya mengangguk. Kunjungan hari itu tidak menyenangkan dan cuaca makin lama makin buruk. Sekali lagi mereka merapatkan mantel, melingkarkan syal, memakai sarung tangan mereka, dan mengikuti Katie Bell dan seorang temannya keluar rumah minum dan kembali ke jalan raya. Pikiran Harry melayang ke Ginny ketika mereka bersusah payah melewati lumpur salju membeku menuju Hogwarts. Mereka tidak bertemu Ginny, tak diragukan lagi, pikir Harry, karena Ginny dan Dean pasti sedang duduk mesra di Madam Puddifoot’s, rumah minum yang sering dikunjungi pasangan-pasangan bahagia. Cemberut, dia menundukkan kepala, menghindari terpaan hujan salju, dan meneruskan berjalan.

Baru beberapa saat kemudian Harry sadar bahwa suara Katie Bell dan temannya, yang terbawa angin ke arahnya, semakin lama semakin nyaring dan keras. Harry menyipitkan mata memandang sosok samar mereka. Kedua gadis itu sedang mempertengkarkan sesuatu yang dipegang Katie di tangannya.

“Ini tak ada hubungannya denganmu, Leanne!” Harry mendengar Katie berkata.

Mereka berbelok di ujung jalan, salju turun semakin lebat dan cepat, memburamkan kacamata Harry. Tepat ketika Harry mengangkat tangannya yang bersarung tangan untuk menyeka kacamatanya, Leanne berusaha merebut bungkusan yang dipegangi Katie; Katie menariknya kembali dan bungkusan itu jatuh di tanah.

Dalam sekejap Katie terangkat ke angkasa, tidak seperti Ron, tergantung konyol pada pergelangan kakinya, melainkan dengan anggun, kedua lengannya terentang, seakan dia akan terbang. Namun ada yang tidak benar, ada sesuatu yang mengerikan … rambutnya beterbangan di sekitarnya tertiup angin, tetapi matanya terpejam dan wajahnya hampa tanpa ekspresi. Harry, Ron, Hermione, dan Leanne semua berhenti, mengawasinya.

Kemudian, kira-kira dua meter di atas tanah, Katie mengeluarkan jeritan menyeramkan. Matanya mendadak terbuka, namun apa pun yang bisa dilihatnya, atau apa pun yang dirasakannya, jelas membuatnya amat sangat menderita. Dia menjerit terus-menerus. Leanne juga mulai menjerit, dan menyambar pergelangan kaki Katie, berusaha menariknya kembali ke tanah. Harry, Ron, dan Hermione berlari untuk membantunya, namun baru mereka memegang kakinya, Katie sudah terjatuh di atas mereka. Harry dan Ron berhasil menangkapnya, tetapi dia meronta-ronta keras sekali, mereka nyaris tak bisa memeganginya. Maka mereka menurunkannya ke tanah. Katie terus saja meronta dan menjerit-jerit, rupanya tak bisa mengenali satu pun dari mereka.

Harry memandang ke sekelilingnya. Tempat itu kosong.

“Kalian tetap di sini!” dia berteriak mengatasi lolong angin. “Aku akan cari bantuan!”

Harry berlari ke arah sekolah. Belum pernah dia melihat orang bersikap seperti Katie dan tak bisa berpikir apa penyebabnya. Ketika membelok di ujung jalan dia menabrak sesuatu yang kelihatannya seperti beruang raksasa yang berdiri pada kaki belakangnya.

“Hagrid!” sengalnya, seraya melepaskan diri dari pagar tanaman tempatnya terpental jatuh.

“Harry!” kata Hagrid, yang alis dan jenggotnya dipenuhi salju, dan memakai mantel kulit berang-berangnya yang besar. “Baru tengok Grawp, kemajuannya pesat kau tak akan-”

“Hagrid, ada yang terluka di sana, atau kena kutuk, atau entah kenapa-”

“Apa?” kata Hagrid, membungkuk rendah agar bisa mendengar apa yang dikatakan Harry dalam gemuruh angin.

“Ada yang kena kutuk!” teriak Harry.

“Kutuk? Siapa yang dikutuk-bukan Ron? Hermione?”

“Bukan, bukan mereka, Katie Bell — arah sini …”

Bersama-sama mereka berlari kembali sepanjang jalan bersalju. Dalam waktu singkat mereka sudah menemukan kerumunan kecil di sekeliling Katie, yang masih menggeliat dan menjerit-jerit di tanah. Ron, Hermione, dan Leanne sedang berusaha menenanakannva.

“Minggir!” teriak Hagrid. “Coba kulihat dia!”

“Dia kena sesuatu!” isak Leanne. “Aku tak tahu apa—”

Hagrid menatap Katie selama sedetik, kemudian, tanpa kata, membungkuk, menyambar dia ke dalam gendongannya dan berlari ke kastil. Dalam waktu beberapa detik jerit nyaring Katie sudah menghilang dan yang terdengar hanyalah deru angin.

Hermione bergegas mendekati teman Katie yang tersedu-sedu dan merangkulnya.

“Leanne, kan?”

Gadis itu mengangguk.

“Apakah terjadinya mendadak, atau?”

“Terjadinya waktu bungkusannya robek,” isak Leanne, seraya menunjuk bungkusan kertas-cokelat yang sekarang basah kuyup di tanah, yang sudah terbuka memperlihatkan kilau kehijauan. Ron membungkuk, tangannya terjulur, namun Harry menyambar lengannya dan menariknya mundur.

“Jangan sentuh itu!”

Harry berjongkok. Tampak sebuah kalung opal dengan banyak hiasan muncul dari dalam bungkusan yang robek itu.

“Aku pernah melihatnya;” kata Harry, menatap kalung itu. “Kalung ini dipamerkan di toko Borgin and Burkes bertahun-tahun lalu. Labelnya menyebutkan kalung itu dikutuk. Katie pastilah menyentuhnya.” Harry mendongak menatap Leanne, yang telah mulai gemetar tak terkendali. “Bagaimana Katie bisa mendapatkan kalung ini?”

“Itulah yang kami pertengkarkan. Dia kembali dari toilet di Three Broomsticks membawa bungkusan ini, katanya itu kejutan untuk seseorang di Hogwarts dan dia harus menyerahkannya. Dia kelihatan aneh waktu mengatakan itu … oh tidak, oh tidak, pasti dia kena Kutukan Imperius dan aku tidak menyadarinya!”

Leanne gemetar tersedu-sedu lagi. Hermione membelai bahunya lembut.

“Dia tidak bilang siapa yang memberikan bungkusan itu, Leanne?”

“Tidak … dia tak mau memberitahuku … dan aku bilang dia bodoh dan melarangnya membawanya ke sekolah, tapi dia tak mau mendengar kata-kataku … dan kemudian aku berusaha merebutnya darinya … dan – dan …” Leanne mengeluarkan jerit putus asa.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.