Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Aku pergi dengan Dean mungkin ketemu kalian di sana,” Ginny menjawab, melambai sambil pergi.

Filch berdiri di pintu depan seperti biasanya, mengecek nama anak-anak yang mendapat izin pergi ke Hogsmeade. Proses ini makan waktu lebih lama daripada biasanya karena Filch mengecek tiga kali semua anak dengan Sensor Rahasia-nya.

“Apa persoalannya kalau kami menyelundupkan barang-barang Ilmu Hitam KELUAR?” tuntut Ron, mengawasi Sensor Rahasia yang kurus panjang dengan ketakutan. “Mestinya kan kau memeriksa apa yang nanti kami bawa MASUK?”

Kelancangannya membuatnya menerima beberapa tusukan ekstra dengan Sensor Rahasia, dan dia masih mengernyit kesakitan ketika mereka melangkah memasuki angin dan hujan yang bercampur es dan salju.

Perjalanan menuju Hogsmeade tidak menyenangkan. Harry membungkus bagian bawah wajahnya dengan syalnya, bagian yang tidak terbungkus segera terasa beku dan kebas. Jalan menuju desa penuh murid-murid yang membungkuk menahan terpaan angin dingin. Lebih dari sekali Harry membatin apakah mereka tidak akan lebih senang berada di ruang rekreasi yang hangat, dan ketika mereka akhirnya tiba di Hogsmeade dan melihat toko lelucon Zonko sudah ditutup papan, Harry menganggapnya sebagai konfirmasi bahwa kunjungan kali ini tidak ditakdirkan sebagai kunjungan yang menyenangkan. Ron menunjuk dengan tangan terbungkus sarung tangan tebal ke arah Honeydukes, yang untungnya buka, dan Harry dan Hermione terhuyung mengikuti Ron masuk ke toko permen yang ramai itu.

“Untung,” kata Ron menggigil kedinginan ketika mereka diselubungi udara yang hangat beraroma toffee, permen keras yang terbuat dari gula dan mentega. “Sudah, kita di sini saja sampai sore.”

“Harry, anakku!” kata suara membahana dari belakang mereka.

“Oh, tidak,” gumam Harry. Ketiganya menoleh dan melihat Profesor Slughorn, yang memakai topi besar berbulu dan mantel dengan kerah dari bulu yang sama, memegang sekantong besar permen nanas dan memenuhi paling tidak seperempat toko permen itu.

“Harry, sudah tiga kali kau tidak ikut makan malamku!” kata Slughorn, menusuk dada Harry dengan ramah, “Tak bisa begitu, Nak. Aku sudah bertekad kau harus datang! Miss Granger senang hadir di acara makan malamku, betul?”

“Ya” kata Hermione tak berdaya, “makan malamnya sungguh—”

“Jadi, kenapa kau tak ikut datang, Harry?” tuntut Slughorn.

“Yah, ada latihan Quidditch, Profesor,” kata Harry, yang memang menjadwalkan latihan setiap kali Slughorn mengiriminya undangan berhias-pita-ungu. Strategi ini berarti bahwa Ron tidak ditinggalkan dan mereka biasanya tertawa-tawa bersama Ginny membayangkan Hermione terperangkap bersama Mdaggen dan Zabini.

“Wah, aku betul-betul berharap kau memenangkan pertandingan pertamamu setelah semua kerja keras ini!” kata Slughorn. “Tapi sedikit rekreasi tak ada salahnya. Nah, bagaimana kalau Senin malam, kau tak mungkin mau latihan dalam cuaca begini …”

“Saya tak bisa, Profesor, saya ada—er–janji dengan Profesor Dumbledore malam itu.”

“Sial lagi!” seru Slughorn dramatis, “Ah, baiklah … kau tak bisa menghindariku selamanya, Harry!”

Dan dengan lambaian anggun, dia berjalan seperti bebek meninggalkan toko permen itu, sama sekali tidak mengacuhkan Ron, seolah Ron sekadar display Permen Kerumunan Kecoak.

“Aku tak percaya kau berhasil lolos lagi,” kata Hermione, menggelengkan kepala. “Makan malamnya tidak parah-parah amat, kau tahu … kadang-kadang malah menyenangkan …” Namun kemudian terlihat oleh Hermione ekspresi Ron. “Oh, lihat mereka jual Permen Pena-bulu Deluxe bisa tahan berjam-jam tuh!”

Senang Hermione mengganti topik, Harry memperlihatkan minat yang jauh lebih besar daripada biasanya terhadap Permen Pena-bulu keluaran baru yang ekstra besar, tetapi Ron tetap tampak muram dan hanya mengangkat bahu ketika Hermione menanyainya ke mana dia ingin pergi berikutnya.

“Yuk kita ke Three Broomstickz,” kata Harry “Di sana hangat.”

Mereka kembali membungkus wajah dengan syal dan meninggalkan toko permen itu. Angin dingin menerpa wajah mereka seperti pisau tajam setelah kehangatan manis dalam Honeydukes. jalan tidak terlalu ramai; tak ada yang berhenti untuk mengobrol, semua bergegas ke tempat tujuan mereka. Kecuali dua laki-laki tak jauh di depan mereka, yang berdiri persis di depan Three Broomsticks. Yang satu sangat kurus dan jangkung, menyipitkan mata di balik kacamatanya yang basah terkena air hujan. Harry mengenalinya sebagai pelayan bar yang bekerja di rumah minum lain di Hogsmeade, Hog’s Head. Sementara Harry, Ron, dan Hermione mendekat, si pelayan bar merapatkan mantelnya di sekeliling lehernya dan pergi, meninggalkan laki-laki yang lebih pendek repot dengan bawaannya. Kira-kira seperempat meter darinya, Harry menyadari siapa laki-laki itu.

“Mundungus!”

Laki-laki pendek, berkaki-bengkok dengan rambut panjang berantakan berwarna jingga terlonjak kaget dan koper antik di tangannya terjatuh. Koper itu terbuka, menampakkan isinya yang seperti seluruh etalase toko barang loakan.

“Oh, ‘alo, ‘Arry,” kata Mundungus Fletcher, dengan keramahan yang sangat dibuat-buat. “Nah, jangan biarkan aku menahan kalian.”

Dan dia mulai mengambil dan memasukkan kembali barang-barangnya ke koper dengan serabutan, seperti orang yang ingin buru-buru pergi.

“Kau menjual barang-barang ini?” tanya Harry, memandang Mundungus menyambar berbagai barang kumuh dari tanah.

“Oh, yah, kan harus cari nafkah,” kata Mundungus. “Berikan itu padaku!”

Ron telah membungkuk dan mengambil sesuatu dari perak.

“Tunggu,” kata Ron perlahan. “Ini kelihatannya tidak asing”

“Terima kasih!” kata Mundungus, menjambret piala itu dari tangan Ron dan menjejalkannya kembali ke dalam kopernya. “Nah, sampai ketemu lagi–OUCH!”

Harry menekan Mundungus ke dinding pada lehernya. Sembari menahannya kuat-kuat dengan satu tangan, dia mencabut tongkat sihirnya.

“Harry!” jerit Hermione.

“Kau mengambilnya dari rumah Sirius,” kata Harry, yang nyaris beradu hidung dengan Mundungus dan menghirup bau tak sedap tembakau lama dan minuman keras. “Ada lambang keluarga Black pada piala itu.”

“Aku-tidak-apa?” sengal Mundungus gugup, Wajahnya perlahan berubah ungu.

“Apa yang kau lakukan, kembali ke sana pada malam dia meninggal dan merampoknya?” bentak Harry.

“Aku-tidak-”

“Berikan padaku!”

“Harry, jangan!” teriak Hermione, ketika Mundurigus mulai membiru.

Terdengar bunyi ledakan dan Harry merasa tangannya terlempar dari leher Mundungus. Tersengal dan gemetar, Mundungus menyambar kopernya yang terjatuh, kemudian – DUAR — dia ber-Disapparate.

Harry mengumpat sekeras suaranya, berputar ditempatnya untuk melihat ke mana Mundungus pergi. “KEMBALI, KAU PENCURI-!” “Tak ada gunanya, Harry.”

Tonks muncul entah dari mana, rambut kelabunya basah kena hujan es dan salju.

“Mundungus barangkali sudah di London sekarang. Percuma saja kau berteriak.”

“Dia mencuri barang-barang Sirius! Mencurinya!” “Ya, tapi tetap saja,” kata Tonks, yang tampaknya sama sekali tak terpengaruh oleh informasi ini, “kau harus menyingkir dari hujan salju ini.”

Tonks mengawasi mereka masuk melalui pintu Three Broomsticks. Begitu sudah di dalam, Harry berteriak,

“Dia mencuri barang-barang Sirius!”

“Aku tahu, Harry, tapi tolong jangan teriak-teriak, orang-orang semua melihat kemari,” bisik Hermione.

“Duduklah, kuambilkan minuman.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.