Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Harry, Harry, orang yang ingin kutemui!” serunya ramah, seraya memilin-milin ujung kumis beruang lautnya dan menggembungkan perutnya yang luar biasa besar. “Aku berharap bisa menemuimu sebelum makan malam. Bagaimana kalau kau makan malam di ruanganku malam ini? Kita adakan pesta kecil, hanya beberapa bintang yang sedang menanjak. Mdaggen sudah bersedia datang, dan Zabini, si cantik Melinda Bobbin — aku tak tahu apakah kau kenal dia? Keluarganya punya jaringan toko obat dan, tentu saja, aku sangat berharap Miss Granger mau membuatku senang dengan kedatangannya juga.”

Slughorn membungkuk sedikit di depan Hermione ketika dia sudah selesai berbicara. Sikapnya seolah Ron tidak ada di sana. Melihat ke arahnya pun Slughorn tidak.

“Saya tidak bisa datang, Profesor,” kata Harry segera. “Saya ada detensi dengan Profesor Snape.”

“Oh, sayang sekali,” kata Slughorn, wajahnya langsung kecut menggelikan. “Wah, wah, padahal aku sangat mengharapkan kehadiranmu, Harry! Kalau begitu aku akan bicara dengan Severus dan menjelaskan situasinya. Aku yakin aku akan bisa membujuknya untuk menunda detensimu. Ya, sampai ketemu dengan kalian berdua nanti!”

Dia bergegas meninggalkan Aula.

“Dia tak mungkin membujuk Snape,” kata Harry, begitu Slughorn sudah berada di luar jangkauan pendengaran. “Detensi ini sudah ditunda sekali, Snape bersedia mengalah demi Dumbledore, tapi dia tak akan mau melakukannya untuk orang lain.”

“Oh, aku ingin sekali kau bisa datang, aku tak ingin pergi sendirian!” kata Hermione cemas. Harry tahu Hermione memikirkan Mdaggen.

“Kurasa kau tidak akan sendirian. Ginny barangkali diundang,” sergah Ron, yang tampak kesal dia diacuhkan Slughorn.

Usai makan malam mereka kembali ke Menara Gryffindor. Ruang rekreasi sangat padat, karena banyak anak yang sudah selesai makan malam sekarang, namun mereka berhasil menemukan meja kosong dan duduk. Ron, yang suasana hatinya jadi buruk sejak pertemuan mereka dengan Slughorn, melipat lengannya dan mengernyit memandang langit-langit. Hermione menjangkau Evening Prophet, yang ditinggalkan seseorang di atas kursi.

“Ada berita baru?” tanya Harry.

“Tidak sih …” Hermione telah membuka koran-sore itu dan membaca sekilas halaman-halaman dalamnya. “Oh, lihat, ayahmu ada di sini, Ron-dia baik-baik saja!” Hermione menambahkan cepat-cepat, karena Ron menoleh dengan cemas. “Berita ini cuma mengatakan dia telah mendatangi rumah keluarga Malfoy. ‘Penggeledahan kedua di tempat tinggal Pelahap Maut ini tidak membawa hasil. Arthur Weasley dari Kantor Pendeteksian dan Penyitaan Mantra Pertahanan dan Benda Perlindungan Palsu berkata bahwa timnya bertindak setelah mendapat petunjuk rahasia.´”

“Yeah, dariku!” kata Harry. “Kuberitahu dia di King’s Cross tentang Malfoy dan benda yang dia coba minta Borgin perbaiki! Yah, jika tidak ada di rumah mereka, dia pasti membawa benda entah apa itu ke Hogwarts bersamanya”

“Tapi bagaimana bisa, Harry?” kilah Hermione, meletakkan korannya dengan tampang heran. “Kita semua diperiksa ketika baru datang, kan?”

“Kalian diperiksa?” kata Harry, terkejut. “Aku tidak!”

“Oh, tentu saja kau tidak diperiksa, aku lupa kau datang terlambat … yah, Filch memeriksa kami semua dengan Sensor Rahasia waktu kami tiba di Aula Depan. Benda-benda ilmu hitam apa pun pasti ditemukan, aku melihat sendiri tengkorak-kisut Crabbe disita. Jadi, kau lihat, Malfoy tak mungkin membawa barang berbahaya!”

Untuk sementara gagasannya terhalang, Harry mengamati Ginny Weasley bermain dengan Arnold si Pygmy Puff selama beberapa saat sebelum melihat cara lain untuk menangkal keberatan Hermione.

“Ada yang mengirimnya kepadanya dengan burung hantu, kalau begitu,” katanya. “Ibunya atau orang lain.”

“Semua burung hantu juga diperiksa,” kata Hermione. “Filch memberitahu kami selagi dia menusuk-nusukkan Sensor Rahasia ke mana saja yang bisa ditusuknya.”

Benar-benar menemui jalan buntu kali ini, Harry tak bisa berkata apa-apa lagi. Tampaknya tak ada cara bagi Malfoy untuk membawa benda berbahaya atau benda ilmu hitam ke dalam sekolah. Dengan penuh harap dia memandang Ron, yang duduk dengan lengan terlipat, menatap Lavender Brown.

“Bisakah kau memikirkan dengan cara apa Malfoy-”

“Oh, sudahlah, Harry,” tukas Ron.

“Dengar, bukan salahku Slughorn mengundang Hermione dan aku ke pesta konyolnya, kami berdua tak ingin pergi, kau tahu itu!” kata Harry, tersulut.

“Nah, karena aku tidak diundang ke pesta mana pun” kata Ron bangkit berdiri lagi, “aku mau tidur.”

Dia berjalan mengentak menuju kamar anak laki-laki, meninggalkan Harry dan Hermione melongo memandangnya.

“Harry?” kata Chaser baru, Demelza Robins, yang tiba-tiba muncul di bahu Harry. “Ada pesan untukmu.”

“Dari Profesor Slughorn?” tanya Harry, duduk lebih tegak dengan penuh harap.

“Bukan … dari Profesor Snape,” kata Demelza. Hati Harry mencelos. “Dia bilang kau harus datang ke kantornya jam setengah sembilan malam ini untuk menjalankan detensimu – er — tak peduli berapa banyak undangan pesta yang kau terima. Dan dia ingin kau tahu kau akan menyortir Cacing Flobber yang busuk dari yang sehat, untuk digunakan di kelas Ramuan, dan — dan dia bilang kau tak perlu membawa sarung tangan pelindung.”

“Baiklah,” kata Harry muram. “Terima kasih banyak, Demelza.”

-oO0O0-

12. PERAK DAN OPAL

Di manakah Dumbledore dan apakah yang di lakukannya? Harry hanya melihat Kepala Sekolah dua kali selama beberapa minggu berikutnya. Dia jarang lagi muncul di saat makan, dan Harry yakin dugaan Hermione benar bahwa Dumbledore meninggalkan sekolah selama beberapa hari setiap kali pergi. Apakah Dumbledore sudah melupakan pelajaran yang dijanjikannya akan diberikan kepada Harry? Dumbledore berkata bahwa pelajaran-pelajaran itu ada hubungannya dengan ramalan. Harry tadinya merasa disemangati, dihibur, dan sekarang dia merasa agak ditinggalkan.

Kunjungan pertama mereka ke Hogsmeade dijadwalkan pada pertengahan Oktober. Harry bertanya-tanya dalam hati apakah kunjungan ini masih diizin kan, mengingat adanya langkah-langkah pengamanan yang begitu ketat di sekitar sekolah, namun Harry senang karena ternyata rencana ini akan dilaksanakan. Selalu menyenangkan kalau bisa keluar dari lingkungan kastil selama beberapa jam.

Harry terbangun pagi-pagi pada hari kunjungan ke Hogsmeade. Hari itu berbadai, dan Harry melewatkan waktu sampai saat sarapan dengan membaca bukunya Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut. Biasanya dia tidak berbaring di tempat tidur membaca buku pelajaran. Sikap seperti ini, seperti yang dikatakan Ron dengan benar, tidak pantas bagi siapa pun, kecuali Hermione, yang memang sudah ajaib dari sononya. Meskipun demikian, Harry merasa buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut milik Pangeran Berdarah-Campuran ini hampir tak bisa dikategorikan sebagai buku pelajaran. Semakin dia baca dengan teliti, semakin dia menyadari betapa banyak yang ada dalam buku ini. Bukan hanya petunjuk-petunjuk dan jalan pintas yang berguna untuk Ramuan yang membuat reputasinya di mata Slughorn semakin berkilau, tetapi juga mantra-mantra dan kutukan-kutukan kecil yang ditulis di margin buku, yang Harry yakin, ditinjau dari coretan dan revisi-revisinya, diciptakan oleh. Pangeran sendiri.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.