Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Sejak kapan kau panggil aku ‘Sir’?” “Sejak kapan kau memanggilku ‘Potter’?”

“Oh, pintar sekali;” gerung Hagrid. “Sangat lucu. Aku dikalahkan, begitu? Baiklah, masuklah, kalian anak-anak yang tak tahu terima kasih …”

Menggerutu galak, dia mundur agar mereka bisa lewat. Hermione berjalan cepat-cepat di belakang Harry, tampak agak ketakutan.

“Nah?” kata Hagrid masam, ketika Harry, Ron, dan Hermione sudah duduk mengitari meja kayunya yang luar biasa besar, Fang langsung meletakkan kepalanya di atas pangkuan. Harry dan membasahi jubahnya dengan air liurnya. “Ada apa? Kasihan padaku? Kalian pikir aku kesepian atau apa?”

“Tidak,” kata Harry segera. “Kami ingin bertemu kau.”

“Kami rindu padamu!” kata Hermione, suaranya bergetar.

“Rindu, ya?” dengus Hagrid. “Yeah. Betul.”

Dia berjalan mondar-mandir, menyeduh teh dalam ceret tembaga raksasanya, menggerutu sepanjang waktu. Akhirnya dia membanting tiga cangkir sebesar ember berisi teh berwarna cokelat-mahogani di depan mereka dan sepiring kuenya yang sekeras karang. Saking laparnya Harry langsung mengambil sepotong kue buatan Hagrid itu.

“Hagrid,” kata Hermione takut-takut, ketika Hagrid sudah bergabung duduk dengan mereka di belakang meja dan mulai mengupas kentang dengan brutalitas seakan setiap butir kentang telah berbuat kesalahan pribadi terhadapnya, “kami sebetulnya ingin melanjutkan Pemeliharaan Satwa Gaib.”

Hagrid mendengus keras ,lagi. Harry menduga ingusnya ada yang mendarat di kentang, dan dalam hati bersyukur mereka tidak akan tinggal untuk makan malam.

“Betul!” kata Hermione. “Tapi tak seorang pun dari kami yang bisa memasukkannya dalam daftar pelajaran kami!”

“Yeah. Betul,” kata Hagrid lagi.

Terdengar bunyi celepak aneh dan mereka semua menoleh. Hermione menjerit kecil dan Ron melompat bangun dari kursinya dan bergegas mengitari meja, menjauhi tong besar yang berdiri di sudut, yang baru saja mereka sadari ada di sana. Tong itu penuh berisi sesuatu yang tampaknya seperti belatung sepanjang tiga puluh senti; berlendir, putih, dan menggeliat.

“Apa itu, Hagrid?” tanya Harry, berusaha kedengaran tertarik alih-alih jijik, namun toh meletakkan kembali kue-karangnya.

“Cuma tempayak raksasa,” kata Hagrid. “Dan mereka akan tumbuh jadi …?” tanya Ron, tampak cemas.

“Mereka tidak akan tumbuh jadi apa-apa,” kata Hagrid. “Mereka untuk makan Aragog.”

Dan tanpa diduga, air mata Hagrid bercucuran.

“Hagrid!” seru Hermione, bergegas ke seberang meja dengan memilih jalan mengitar yang jauh, untuk menghindari tong berisi tempayak, dan melingkarkan tangannya ke bahu Hagrid yang bergetar. “Ada apa?”

“Dia …” isak Hagrid, air mata terus mengalir dari mata hitamnya yang seperti kumbang ketika dia mengelap wajah dengan celemeknya. “Dia … Aragog … kurasa dia akan mati … dia sakit musim panas lalu dan tidak jadi lebih baik … aku tak tahu apa yang akan kulakukan kalau dia … kalau dia … kami sudah bersama-sama begitu lama …”

Hermione membelai bahu Hagrid, tak tahu mau berkata apa. Harry tahu bagaimana perasaan Hermione. Dia tahu Hagrid pernah menghadiahkan boneka beruang kepada bayi naga yang ganas, pernah melihatnya bersenandung untuk kalajengking raksasa dengan sepit dan sengat berbisa, berusaha berunding dengan raksasa brutal yang adalah adik lain-ayahnya, tetapi ini mungkin yang paling tak bisa dimengerti dari seluruh kesukaannya akan monster: labah-labah raksasa yang bisa bicara, Aragog, yang tinggal jauh di dalam Hutan Terlarang. Harry dan Ron nyaris menjadi korban Aragog empat tahun yang lalu.

“Apakah-apakah ada yang bisa kami lakukan?” Hermione bertanya, mengabaikan seringai panik dan gelengan kepala Ron.

“Kurasa tak ada, Hermione,” isak Hagrid, berusaha menghentikan banjir air matanya. “Soalnya, labah-labah yang lain, keluarga Aragog … mereka jadi aneh sekarang setelah dia sakit … jadi, agak gelisah …”

“Yeah, kurasa kami sudah melihat sifat itu pada mereka,” kata Ron pelan.

“… kurasa tak aman bagi siapa pun kecuali aku untuk mendekati koloni labah-labah saat ini” Hagrid mengakhiri ceritanya, membuang ingus keras-keras di celemeknya dan mendongak. “Tapi terima kasih telah tawari bantu, Hermione … itu berarti sekali …”

Setelah itu suasana sangat berubah, karena kendati baik Harry maupun Ron tidak menunjukkan kecenderungan untuk pergi menyuapkan tempayak besar-besar kepada labah-labah raksasa pembunuh, Hagrid tampaknya menganggap mereka ingin melakukannya dan bersikap seperti dirinya yang biasa lagi.

“Ah, aku sudah tahu sulit bagi kalian selipkan aku dalam daftar pelajaran kalian,” katanya keras, menuang tambahan teh untuk mereka. “Bahkan kalau kalian memakai Pembalik-Waktu”

“Wah, itu tidak bisa,” kata Hermione. “Kami menghancurkan semua persediaan Pembalik-Waktu Kementerian waktu kami berada di sana musim panas lalu. Diberitakan di Daily Prophet.”

“Ah, sudahlah,” kata Hagrid. “Tak ada kemungkinan kalian bisa lakukan itu … aku minta maaf selama ini aku-kalian tahu-aku cuma cemaskan Aragog … dan aku juga tanya dalam hati apakah … Profesor Grubbly Plank ajari kalian-”

Mendengar ini ketiganya menyatakan mentah-mentah dan sama sekali tidak benar bahwa Profesor Grubbly-Plank, yang beberapa kali menggantikan Hagrid, adalah guru yang parah, dengan hasil ketika tiba saatnya Hagrid melambai mengucapkan selamat tinggal kepada mereka di senja hari, dia tampak cukup gembira.

“Aku lapar banget,” kata Harry, begitu pintu sudah tertutup di belakangnya dan mereka bergegas melewati padang rumput yang gelap dan kosong. Harry menyerah terhadap kue-karangnya ketika terdengar bunyi keretak mengerikan dari salah satu gigi gerahamnya. “Dan hari ini aku detensi dengan Snape, aku tak punya banyak waktu untuk makan malam …”

Ketika tiba di kastil mereka melihat Cormac Mdaggen memasuki Aula Besar. Perlu dua kali usaha baginya untuk masuk. Yang pertama dia seperti terpantul dari ambang pintu. Ron cuma terbahak senang dan melangkah masuk Aula sesudah Mdaggen, namun Harry menyambar lengan Hermione dan menahannya.

“Apa?” tanya Hermione defensif.

“Kalau kau tanya aku,” kata Harry pelan, “Mdaggen waktu itu kelihatannya terkena Mantra Confundus. Dan dia berdiri persis di depan tempat dudukmu.”

Wajah Hermione merona merah.

“Oh, baiklah, memang aku melakukannya,” bisiknya. “Tapi kau tidak dengar apa yang dia katakan tentang Ron dan Ginny sih! Lagi pula, dia sangat pemarah, kau lihat sendiri bagaimana reaksinya ketika dia gagal terpilih kau tak akan menginginkan orang seperti dia dalam tim.”

“Tidak,” kata Harry. “Tidak, kurasa memang tidak. Tapi bukankah itu curang, Hermione? Maksudku, kau prefek, kan?”

“Oh, diamlah,” bentak Hermione, sementara Harry nyengir.

“Kalian berdua ngapain?” tuntut Ron, muncul lagi di pintu Aula Besar dan tampak curiga.

“Tidak ngapa-ngapain,” kata Harry dan Hermione bersamaan, dan mereka bergegas menyusul Ron. Aroma daging panggang membuat perut Harry melilit lapar, tapi mereka baru berjalan tiga langkah menuju meja Gryffindor, Profesor Slughorn sudah muncul di depan mereka, memblokir jalan mereka.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.