Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Saya…yah…dia akan sembuh, kan? kata Perdana Menteri cemas. Scrimgeour hanya mengangkat bahu, sudah bergerak ke arah perapian.

“Nah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya akan mengabarkan perkembangan yang terjadi kepada Anda, Perdana Menteri—atau paling tidak, saya barangkali akan terlalu sibuk untuk bisa datang sendiri, dalam hal ini saya akan mengirim Fudge ke sini. Dia sudah sepakat tetap di Kementrian dalamkapasitas sebagai penasihat.”

Fudge berusaha tersenyum, namun gagal, jadinya dia cuma seperti orangs akit gigi; Scrimgeour sudah mencari-cari dalam sakunya bubuk misterius yang mengubah warna api jadi hijau. Perdana Menteri memandang tak berdaya mereka berdua sejenak, kemudian kata-kata yang dicoba ditahannya sepanjang malam ini akhirnya meledak keluar.

“Tapi astaga—Anda berdua kan penyihir! Anda bisa melakukan sihir! Tentunya Anda bisa membereskan—yah—apa saja!”

Scrimgeour berputar perlahan di tempatnya berdiri dan betukar pandang tak percaya dengan Fudge, yang kali ini benar-benar tersenyum ketika dia berkata dengan baik hati, “Persoalannya, pihak satunya itu juga bisa sihir, Perdana Menteri!”

Dan dengan kata-kata itu, kedua penyihir melangkah bergantian ke dalam api berwarna hijau cemerlang dan lenyap.

-oO0O0-

02. SPINNER´S END

Di tempat yang berjarak berkilo-kilo meter, kabut dingin yang menekan jendela Perdana Menteri melayang di atas sungai kotor yang berkelok-kelok sepanjang tepian yang ditumbuhi semak dengan sampah berserakan. Sebuah cerobong besar, peninggalan penggilingan yang sudah tak terpakai, menjulang, seperti bayangan mengerikan. Tak ada suara selain desah air hitam dan tak ada tanda-tanda kehidupan kecuali seekor rubah kurus yang menyelinap menuruni tepian sungai, mengendus-endus penuh harap bungkus kentang dan ikan goreng di antara rerumputan tinggi.

Namun kemudian, dengan bunyi pop pelan, sosok ramping berkerudung tiba-tiba muncul di tepi sungai. Si rubah membeku, matanya yang waspada tertuju pada wujud baru yang aneh ini. Sosok itu tampak memperhatikan keadaan sekelilingnya sesaat, kemudian berjalan dengan langkah-langkah ringan dan cepat, mantel panjangnya berkeresek di atas rumput.

Terdengar bunyi pop kedua yang lebih keras, dan satu lagi sosok berkerudung muncul.

“Tunggu!”

Seruan parau ini mengejutkan si rubah, yang sedang mengendap nyaris rata di bawah semak. Rubah itu melompat dari tempat persembunyiannya dan berlari menaiki tebing. Seleret cahaya hijau menyambar, terdengar dengkingan, dan si rubah terjatuh kembali di tanah, mati.

Sosok kedua membalik binatang itu dengan jari-jari kakinya.

“Cuma rubah,” kata suara Wanita — lega dari bawah kerudung. “Kukira tadi mungkin Auror-Cissy, tunggu!”

Namun buruannya, yang tadi berhenti dan menoleh ketika cahaya menyambar, sudah merayap memanjat tebing tempat si rubah tadi tergelincir.

“Cissy Narcissa dengarkan aku–”

Wanita kedua berhasil mengejar yang pertama dan menyambar lengannya, namun si wanita pertama menariknya lepas.

“Pulanglah, Belia!”

“Kau harus mendengarkan aku!”

“Aku sudah mendengarkan. Aku sudah mengambil keputusan. Tinggalkan aku sendiri.”

Wanita bernama Narcissa mencapai tepian sungai. Di tempat itu pagar tua memisahkan sungai itu dari jalan batu sempit. Wanita yang lain, Bella, langsung menyusulnya. Mereka berdiri berdampingan memandang ke seberang jalan, ke deretan-deretan rumah bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan tertutup dalam kegelapan.

“Dia tinggal di sini?” tanya Bella dengan suara menghina. “Di sini? Di kawasan kumuh Muggle ini? Kita pasti orang pertama bangsa kita yang menginjakkan kaki–”

Namun Narcissa tidak mendengarkan; dia telah menyelinap melewati celah di pagar berkarat dan bergegas menyeberang jalan.

“Cissy, tunggu!”

Bella menyusul, mantelnya melambai di belakangnya, dan melihat Narcissa berlari sepanjang jalan sempit di antara rumah-rumah, masuk ke jalan sempit yang nyaris identik. Beberapa lampu jalanan tidak menyala; kedua wanita ini berlari bergantian melewati jalanan yang diterangi seberkas cahaya dan tempat-tempat yang gelap gulita. Si pengejar berhasil mengejar buruannya tepat ketika dia akan berbelok lagi, kali ini dia berhasil menangkap lengannya dan membalikkan tubuhnya, sehingga mereka berhadapan.

“Cissy, kau tak boleh melakukan ini, kau tak bisa memercayainya–”

“Pangeran Kegelapan memercayainya, kan?”

“Pangeran Kegelapan … kurasa … keliru,” Bella tersengal, dan sekejap matanya berkilat di bawah kerudungnya ketika dia memandang berkeliling untuk memastikan mereka benar-benar berdua saja. “Bagaimanapun juga, kita sudah dipesan tidak boleh memberitahukan rencana ini kepada siapa pun. Ini pengkhianatan terhadap perintah Pangeran Kegel–”

“Lepaskan, Bella!” gertak Narcissa dan dia mencabut tongkat sihir dari bawah mantelnya, mengacungkannya dengan mengancam ke wajah pengejarnya. Bella hanya tertawa.

“Cissy, kakakmu sendiri? Kau tak akan–”

“Tak ada lagi yang tak akan kulakukan!” Narcissa mendesah, ada nada histeris dalam suaranya, dan begitu dia menebaskan tongkatnya seperti pisau, ada sambaran cahaya lagi. Bella melepas lengan adiknya seakan tangannya terbakar.

“Narcissa!”

Tetapi Narcissa telah berlari meninggalkannya. Seraya menggosok-gosok tangannya, Bella mengejarnya lagi, kali ini menjaga, jarak, ketika mereka masuk lebih jauh dalam labirin rumah-rumah bata tanpa penghuni. Akhirnya Narcissa bergegas menyusuri jalan bernama Spinner’s End — Ujung Pemintal. Di atas jalan itu cerobong penggilingan tampak menjulang, seperti jari raksasa yang sedang memberi teguran. Langkah-langkahnya bergaung di atas jalan batu ketika dia melewati jendela-jendela yang kacanya pecah dan ditutup papan, sampai dia tiba di rumah paling akhir. Di rumah itu ada cahaya temaram dari balik jendela bergorden di, sebuah ruangan di lantai bawah.

Dia telah mengetuk pintu sebelum Bella, mengutuk pelan, berhasil menyusulnya. Bersama-sama mereka berdiri menunggu, sedikit terengah, menghirup bau sungai kotor yang terbawa angin malam ke hidung mereka. Selewat beberapa saat mereka mendengar gerakan di balik pintu dan pintu membuka secelah. Dari celah sempit itu tampak seorang pria memandang mereka, pria dengan rambut panjang terbelah di tengah, seperti gorden yang membingkai wajahnya yang pucat dan matanya yang hitam.

Narcissa melempar kerudung kepalanya ke belakang. Wajahnya pucat sekali sehingga tampaknya bersinar dalam kegelapan; rambut pirangnya yang panjang dan terjurai di punggungnya membuatnya tampak seperti orang tenggelam.

“Narcissa!” kata pria itu, membuka pintu sedikit lebih lebar, sehingga cahaya mengenai dia dan juga kakaknya. “Sungguh kejutan menyenangkan!”

“Severus,” katanya dalam bisikan tegang. “Boleh aku bicara denganmu? Penting sekali.”

“Tentu saja.”

Pria itu mundur agar Narcissa bisa melewatinya masuk ke dalam rumah. Kakaknya yang masih berkerudung ikut masuk tanpa dipersilakan.

“Snape ” katanya pendek ketika melewatinya

“Bellatrix,” balasnya, mulutnya yang tipis melengkung menjadi senyum agak mengejek ketika dia menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.

Mereka masuk ke ruang duduk mungil, yang memberi kesan sel gelap berperedam. Seluruh dindingnya dipenuhi buku, sebagian besar buku-buku tua dengan sampul kulit hitam atau cokelat; sebuah sofa usang, kursi berlengan tua, dan meja reyot berkumpul dalam cahaya temaram yang disorotkan oleh lampu lilin yang tergantung di langit-langit. Tempat ini kesannya telantar, seakan biasanya tidak dihuni.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.