Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Ha!” kata Harry, membuka bungkusannya yang ternyata berisi buku baru Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut, dikirim oleh Flourish and Blotts.

“Oh, bagus,” kata Hermione, senang. “Sekarang kau bisa mengembalikan buku yang banyak tulisannya itu.”

“Apa kau gila?” kata Harry. “Tidak akan kukembalikan! Lihat, aku sudah memikirkannya –”

Dia mengeluarkan buku lama Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut dari dalam tasnya dan diketuknya sampulnya dengan tongkat sihirnya, seraya menggumamkan, “Diffindo!” Sampul buku itu terlepas. Dia melakukan hal yang sama dengan bukunya yang baru. (Hermione tampak kaget). Harry kemudian menukar kedua sampul buku itu, mengetuk keduanya dan berkata, “Reparo!”

Sekarang buku Pangeran tersamar menjadi buku baru, sedangkan buku baru dari Flourish and Blotts kelihatan seperti buku bekas.

“Yang baru akan kukembalikan kepada Slughorn. Dia tak bisa mengeluh, harganya sembilan Galleon.”

Hermione mengatupkan bibir rapat-rapat, tampak marah dan tidak setuju, tetapi perhatiannya teralih oleh burung hantu ketiga yang mendarat di depannya, membawa Daily Prophet edisi hari itu. Dia buru-buru membukanya dan membaca cepat halaman depannya.

“Ada orang yang kita kenal yang mati?” tanya Ron, dengan sengaja bicara dengan nada biasa. Dia mengajukan pertanyaan yang sama setiap kali Hermione membuka korannya.

“Tidak, tapi ada lebih banyak serangan Dementor,” kata Hermione. “Dan ada yang ditangkap.”

“Bagus sekali, siapa?” kata Harry, mengharap itu Bellatrix Lestrange.

“Stan Shunpike,” kata Hermione.

“Apa?” Harry kaget.

“Stanley Shunpike, kondektur kendaraan penyihir yang populer, Bus Ksatria, ditangkap karena dicurigai soal aktivitas Pelahap Maut. Mr Shunpike, 21, ditahan larut malam kemarin setelah rumahnya di Dapham digerebek …”

“Stan Shunpike, Pelahap Maut?” kata Harry, teringat pemuda berjerawat yang pertama kali ditemuinya tiga tahun lalu. “Mana mungkin!”

“Barangkali dia kena Kutukan Imperius,” kata Ron, memberi penjelasan yang masuk akal. “Mana kita tahu.”

“Kelihatannya tidak begitu,” kata Hermione, yang masih membaca. “Dikatakan di sini dia ditangkap setelah didengar berbicara tentang rencana rahasia Pelahap Maut di rumah minum.” Hermione mengangkat muka dengan ekspresi bingung. “Jika kena Kutukan Imperius, dia tak akan menggosipkan rencana mereka, kan?”

“Kedengarannya dia berusaha membual dia tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya,” kata Ron “Bukankah dia yang menyatakan dia akan menjadi Menteri Sihir waktu dia berusaha ngobrol dengan Veela-Veela itu?”

“Yeah, dia orangnya,” kata Harry. “Aku tak tahu permainan apa yang mereka mainkan, menganggap serius omongan Stan.”

“Mereka barangkali ingin kelihatan seakan mereka melakukan sesuatu,” kata Hermione, mengernyit. “Orang-orang ketakutan kau tahu orangtua si kembar Patil menginginkan mereka pulang? Dan Eloise Midgeon sudah ditarik dari sekolah. Ayahnya menjemputnya semalam.”

“Apa!” kata Ron, terbelalak memandang Hermione. “Tapi Hogwarts lebih aman daripada rumah mereka, mestinya begitu, kan! Di sini kita punya Auror dan sihir-sihir perlindungan ekstra itu, dan kita punya Dumbledore!”

“Kurasa dia tidak selalu ada di sini,” kata Hermione, sangat pelan, mengerling meja guru dari atas Prophetnya. “Tidakkah kau perhatikan? Kursinya kosong sama seringnya dengan kursi Hagrid seminggu terakhir ini.”

Harry dan Ron memandang meja guru. Kursi Kepala Sekolah memang kosong. Sekarang kalau diingat-ingat lagi, Harry belum pernah melihat Dumbledore sejak pelajaran privat mereka seminggu yang lalu.

“Kukira dia meninggalkan sekolah untuk melakukan sesuatu bersama Orde,” kata Hermione dengan suara pelan. “Maksudku … segalanya kelihatan serius, kan?”

Harry dan Ron tidak menjawab, tetapi Harry tahu

bahwa mereka semua memikirkan hal yang sama.

Hari sebelumnya terjadi insiden menyedihkan, ketika Hannah Abbot dipanggil keluar dari pelajaran Herbologi untuk diberitahu ibunya ditemukan meninggal. Mereka tidak melihat Hannah lagi sejak saat itu.

Ketika mereka meninggalkan meja Gryffindor lima menit kemudian untuk pergi ke lapangan Quidditch, mereka melewati Lavender Brown dan Parvati Patil. Teringat apa yang dikatakan Hermione tentang orangtua si kembar Patil menginginkan mereka meninggalkan Hogwarts, Harry tidak heran melihat kedua sahabat karib ini sedang berbisik-bisik, tampak sedih. Yang membuatnya heran adalah, ketika Ron melewati mereka, Parvati tiba-tiba menyenggol Lavender, yang menoleh dan memberi Ron senyum lebar. Ron mengerjap bingung, kemudian membalas senyumnya dengan ragu-ragu. Cara jalan Ron serentak digagah-gagahkan. Harry menahan keinginannya untuk tertawa, teringat bahwa Ron juga tidak menertawakannya setelah Malfoy mematahkan hidungnya. Namun Hermione menjadi dingin dan tidak ramah sepanjang perjalanan menuju stadion, melewati gerimis dingin berkabut, dan langsung pergi mencari tempat duduk di tribune, tanpa mengucapkan “semoga sukses” kepada Ron.

Seperti telah diduga Harry, uji coba Quidditch berlangsung dari pagi sampai siang. Separo dari Asrama Gryffindor tampaknya muncul, dari anak-anak kelas satu yang dengan gugup mencengkeram sapu-sapu tua sekolah yang sudah parah, sampai anak-anak kelas tujuh yang menjulang di atas peserta lainnya, seakan mengancam yang lain. Di antara anak-anak kelas tujuh ini ada seorang cowok tinggi besar berambut kawat, yang langsung dikenali Harry sebagai cowok yang pernah dijumpainya di Hogwarts Express.

“Kita bertemu di kereta, di kompartemen Sluggy,” katanya penuh percaya diri, melangkah keluar dari rombongannya untuk menjabat tangan Harry. “Cormac Mdaggen, Keeper.”

“Kau tidak ikut uji coba tahun lalu, kan?” tanya Harry, melihat betapa lebarnya tubuh Mdaggen dan membatin dia barangkali bisa memblokir tiga gawang sekaligus bahkan tanpa bergerak.

“Aku di rumah sakit ketika uji coba diadakan,” kata Mdaggen, agak menyombong. “Makan setengah kilo telur Doxy untuk taruhan.”

“Baik,” kata Harry. “Nah … silakan tunggu di sana …”

Harry menunjuk ke tepi lapangan, dekat tempat Hermione duduk. Sekilas diilihatnya kejengkelan melintas di wajah Mdaggen dan Harry bertanya dalam hati apakah Mdaggen mengharapkan perlakuan khusus karena mereka berdua sama-sama menjadi favorit “Sluggy”.

Harry memutuskan untuk mulai dengan tes dasar, meminta semua pelamar berkelompok dalam grup yang terdiri atas sepuluh anak dan terbang satu kali memutari lapangan. Ini keputusan yang bijaksana: grup pertama terdiri atas sepuluh anak kelas satu dan jelas sekali mereka hampir-hampir belum pernah terbang sebelumnya. Hanya satu anak yang berhasil tetap melayang selama lebih dari beberapa detik, dan saking, tercengangnya anak ini menabrak salah satu tiang gawang.

Grup kedua terdiri atas cewek-cewek paling konyol yang pernah dilihat Harry. Ketika Harry meniup peluitnya, mereka cuma cekikikan dan saling pegang. Romilda Vane ada di antara mereka. Ketika Harry menyuruh mereka meninggalkan lapangan mereka melakukannya dengan riang gembira dan pergi duduk di bangku penonton untuk mengganggu yang lain.

Grup ketiga berjatuhan ketika baru terbang setengah lapangan. Sebagian besar grup keempat datang tanpa sapu. Grup kelima anak-anak Hufflepuff.

“Kalau ada anak-anak lain di sini yang bukan Gryffindor;” raung Harry, yang mulai benar-benar jengkel, “silakan meninggalkan lapangan sekarang juga!”

Hening sejenak, kemudian dua anak Ravendaw kecil berlari keluar lapangan, tertawa-tawa geli.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.