Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Merope menggelengkan kepalanya dengan menyentak, memohon, namun Morfin melanjutkan tanpa belas kasihan, “Nongkrong di jendela, menunggu dia lewat pulang, kan?”

“Nongkrong di jendela mau melihat Muggle?” kata Gaunt perlahan.

Ketiganya rupanya sudah melupakan Ogden, yang tampaknya bingung dan jengkel karena mereka lagi mendesis-desis parau tak bisa dimengerti.

“Betulkah?” kata Gaunt dengan suara mengerikan, maju satu atau dua langkah mendekati si gadis yang ketakutan. “Anakku keturunan Salazar Slytherin yang berdarah-murni mendambakan Muggle kotor, berpembuluh lumpur?”

Merope menggelengkan kepala dengan panik, menekankan tubuhnya ke dinding, tak sanggup berbicara.

“Tapi kukerjai dia, Ayah!” gelak Morfin. “Kukerjai dia waktu lewat, dan dia tidak tampan lagi dengan bintikbintik merah gatal di seluruh tubuhnya, iya kan, Merope?”

“Kau Squib menjijikkan, pengkhianat kotor!” raung Gaunt, kehilangan kendali, dan tangannya mencekik leher anak perempuannya.

Baik Harry maupun Ogden berteriak, “Jangan!” pada saat bersamaan. Ogden mengangkat tongkat sihirnya dan berseru, “Relashio!” Gaunt terlempar ke belakang, jauh dari anak perempuannya. Dia menabrak kursi dan jatuh terkapar. Dengan raung murka Morfin melompat dari kursinya dan berlari mendekati Ogden, mengayun-ayunkan pisaunya yang berlumuran darah dan melancarkan kutukan membabibuta dari tongkat sihirnya.

Ogden berlari menyelamatkan diri: Dumbledore memberi isyarat bahwa mereka harus mengikutinya dan Harry patuh. Jeritan Merope bergaung di telinganya.

Ogden berlari sepanjang jalan setapak dan tiba di jalan utama, lengannya di atas kepala. Dia menabrak kuda cokelat berkilat yang ditunggangi pemuda sangat tampan, berambut hitam. Dia dan gadis cantik di sebelahnya di atas kuda kelabu tertawa gelak-gelak melihat Ogden, yang terlempar dari panggul kuda dan kabur lagi, jasnya berkibar, dari kepala sampai kaki berlumur debu, berlari pontang-panting sepanjang jalan kecil.

“Kurasa sudah cukup, Harry,” kata Dumbledore. Dia memegang siku Harry dan menariknya. Detik berikutnya, mereka berdua melayang tanpa berat menembus kegelapan, sampai mereka mendarat mantap di kaki mereka, kembali di dalam kantor Dumbledore di senja hari.

“Apa yang terjadi pada gadis di gubuk itu?” Harry langsung bertanya, ketika Dumbledore menyalakan lampu-lampu ekstra dengan jentikan tongkat sihirnya. “Merope, atau entah siapa tadi namanya?”

“Oh, dia selamat,” kata Dumbledore, kembali duduk di belakang mejanya dan memberi isyarat agar Harry juga duduk. “Ogden ber-Apparate ke Kementerian dan kembali membawa pasukan dalam waktu lima belas menit. Morfin dan ayahnya berusaha melawan, namun keduanya berhasil diringkus, dibawa dari gubuk, dan dijatuhi hukuman oleh Wizengamot. Morfin, yang sudah beberapa kali menyerang Muggle, dihukum tiga tahun di Azkaban. Marvolo, yang sudah melukai beberapa petugas Kementerian selain Ogden, kena enam bulan.”

“Marvolo?” Harry mengulang penasaran.

“Betul,” kata Dumbledore, mengangguk gembira. “Aku senang melihatmu mengikuti perkembangan.”

“Laki-laki tua itu-?”

“Kakek Voldemort, ya,” kata Dumbledore. “Marvolo, anak laki-lakinya Morfin, dan anak perempuannya Merope adalah Gaunt terakhir, keluarga penyihir yang sangat kuno, yang terkenal tidak stabil dan suka marah, yang semakin menjadi-jadi dalam generasi-generasi berikut, karena kebiasaan mereka menikah antar-sepupu. Kurang bijaksana ditambah kegemaran besar akan kemuliaan berarti bahwa emas keluarga telah dihambur-hamburkan dan habis beberapa generasi sebelum Marvolo lahir. Dia seperti yang kau lihat tadi, hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, dengan temperamen yang meledak-ledak sangat mudah marah, keangkuhan yang luar biasa besar, dan dua pusaka keluarga yang baginya sama berharganya dengan anak laki-lakinya, dan agak lebih berharga daripada anak perempuannya.”

“Jadi, Merope,” kata Harry, mencondongkan diri ke depan di kursinya dan menatap Dumbledore, “jadi, Merope adalah … Sir, apakah itu berarti dia … ibu Voldemort?”

“Betul,” kata Dumbledore. “Dan kebetulan kita tadi juga melihat ayah Voldemort sekilas. Apakah kau memperhatikan?”

“Muggle yang diserang Morfin? Laki-laki yang naik kuda?”

“Bagus sekali,” kata Dumbledore, berseri-seri. “Ya, itu Tom Riddle senior, Muggle tampan yang selalu berkuda melewati gubuk keluarga Gaunt dan terhadap siapa Merope Gaunt menyimpan cinta rahasia yang membara.”

“Dan mereka akhirnya menikah?” kata Harry tak percaya, tak mampu membayangkan pasangan yang sangat tak serasi begitu bisa saling jatuh cinta.

“Kurasa kau melupakan,” kata Dumbledore, “bahwa Merope adalah penyihir. Kurasa kekuatan sihirnya tidak berfungsi sepenuhnya ketika dia masih diteror oleh ayahnya. Begitu Marvolo dan Morfin sudah aman di Azkaban, begitu dia sendirian dan bebas untuk pertama kalinya dalam hidupnya, maka, aku yakin, dia bisa mengembangkan kemampuan sihirnya sepenuhnya dan merencanakan pelariannya dari hidup sangat menyedihkan yang telah dijalaninya selama delapan belas tahun.

“Tak bisakah kau memperkirakan, tindakan apa yang mungkin dilakukan Merope untuk membuat Tom Riddle melupakan teman Muggle-nya, dan jatuh cinta kepadanya?”

“Kutukan Imperius?” Harry mengusulkan. “Atau ramuan cinta?”

“Bagus sekali. Aku sendiri cenderung menduga bahwa dia menggunakan ramuan cinta. Aku yakin baginya itu lebih romantis dan kurasa tidak akan terlalu sulit, pada suatu hari yang panas, ketika Riddle berkuda sendirian, untuk membujuknya minum air. Yang jelas, dalam waktu beberapa bulan setelah peristiwa yang kita saksikan tadi, desa Little Hangleton menikmati skandal menghebohkan. Kau bisa membayangkan gosip yang beredar ketika anak laki-laki keluarga terhormat kabur dengan anak perempuan gelandangan Merope.”

“Namun keterkejutan penduduk desa tak seberapa dibandingkan dengan shock yang dialami Marvolo. Dia kembali dari Azkaban, mengharap anak perempuannya dengan patuh menanti kepulangannya, dengan makanan panas siap terhidang di mejanya. Ternyata yang ditemukannya debu setebal dua setengah senti dan surat perpisahan Merope, yang menjelaskan apa yang telah dilakukannya.”

“Sejauh yang berhasil kuketahui, Marvolo tak pernah lagi menyebut namanya atau keberadaannya sejak saat itu. Shock akibat ditinggalkan anak perempuannya ini mungkin menjadi salah satu sebab dia mati muda atau mungkin dia tak pernah belajar memberi makan dirinya. Azkaban telah sangat melemahkan Marvolo dan dia tidak bertahan hidup untuk melihat Morfin kembali ke gubuk.”

“Dan Merope? Dia … dia mati, kan? Bukankah Voldemort dibesarkan di panti asuhan?”

“Ya, memang,” kata Dumbledore. “Kita harus menebak-nebak di sini, meskipun kurasa tidak sulit menyimpulkan apa yang terjadi. Soalnya, beberapa bulan setelah mereka kawin lari, Tom Riddle muncul kembali di rumahnya di Little Hangleton tanpa istrinya. Desasdesus yang beredar di antara penduduk adalah dia mengatakan ‘tertipu’ dan ‘teperdaya’. Yang dia maksudkan, aku yakin, adalah bahwa dia di bawah pengaruh sihir yang sekarang telah pudar, meskipun demikian kurasa dia tidak berani menggunakan kata-kata itu, karena takut dikira gila. Namun, ketika mereka mendengar apa yang dikatakannya, penduduk desa menduga Merope telah berbohong kepada Tom Riddle, berpura-pura mengandung anaknya, dan bahwa Riddle telah mengawininya karena alasan ini.”

“Tapi dia memang melahirkan bayinya.”

“Ya, tapi baru setelah setahun mereka menikah. Tom Riddle meninggalkannya sewaktu dia masih mengandung.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.