Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Ogden bergerak maju tanpa suara, dan tampaknya bagi Harry, agak berhati-hati. Selagi bayang-bayang gelap pepohonan bergerak di atasnya, dia berhenti lagi, memandang pintu depan. Ada orang yang memaku ular mati di pintu itu.

Kemudian terdengar bunyi gemerisik, kertak, dan seorang laki-laki berpakaian compang-camping terjun dari pohon terdekat, mendarat dengan kakinya tepat di depan Ogden, yang melompat ke belakang cepat sekali sampai dia menginjak ujung ekor jasnya dan terhuyung.

“Kau tidak diharapkan.”

Rambut laki-laki yang berdiri di hadapan mereka kusut masai berlapis debu tebal, sehingga tak jelas apa warnanya. Beberapa giginya ompong. Matanya kecil dan gelap dan memandang ke arah berlawanan. Mestinya tampangnya bisa konyol, tapi tidak, efeknya malah menakutkan, dan Harry tak bisa menyalahkan Ogden yang mundur beberapa langkah lagi sebelum dia bicara.

“Er selamat pagi. Saya dari Kementerian Sihir”

“Kau tidak diharapkan.”

“Er maaf saya tidak mengerti ucapanmu,” kata Ogden gugup.

Harry menyangka Ogden bodoh sekali, sosok asing itu bicara jelas sekali, menurut pendapatnya, apalagi karena dia mengacung-acungkan tongkat sihir di satu tangan dan pisau pendek berlumur darah di tangan yang lain.

“Kau mengerti dia, aku yakin, Harry?” kata Dumbledore pelan.

“Ya, tentu saja;” kata Harry,-sedikit heran. “Kenapa Ogden tidak”

Namun ketika tertatap lagi olehnya ular mati di pintu, dia mendadak paham.

“Dia bicara Parseltongue?”

“Bagus sekali,” kata Dumbledore, mengangguk dan tersenyum.

Laki-laki berpakaian compang-camping itu sekarang maju mendekati Ogden, pisau di satu tangan, tongkat sihir di tangan lain.

“Tunggu dulu” Ogden berkata, namun terlambat.

Terdengar dentuman dan Ogden terkapar di tanah memegangi hidungnya, sementara cairan kental kekuningan menjijikkan menyembur dari antara jari-jarinya.

“Morfin!” terdengar teriakan keras.

Seorang laki-laki setengah-baya bergegas keluar dari gubuk, membanting pintu di belakangnya sehingga ular mati itu berayun memelas. Laki-laki ini lebih pendek daripada yang pertama, dan proporsi tubuhnya aneh; bahunya sangat lebar dan lengannya kelewat panjang, ini ditambah mata cokelatnya yang cerah, rambut pendeknya yang kaku dan wajahnya yang keriput, membuatnya tampak seperti kera tua yang berkuasa. Dia berhenti di sebelah laki-laki yang memegang pisau, yang sekarang terbahak-bahak melihat Ogden di tanah.

“Kementerian, ya?” kata si laki-laki yang lebih tua, menunduk memandang Ogden.

“Betul!” kata Ogden berang, mengelap wajahnya.

“Dan Anda, saya kira, adalah Mr Gaunt?”

“Betul,” kata Gaunt. “Menyerang wajahmu, dia?” “Ya!” gertak Ogden.

“Harusnya memberitahukan kedatangan Anda dulu, kan?” timpal Gaunt agresif. “Ini milik pribadi. Anda tak bisa masuk begitu saja dan tak mengharap anak saya membela diri.”

“Membela diri terhadap apa, coba?” kata Ogden, merangkak bangun.

“Orang-orang yang ingin tahu. Pengganggu. Muggle dan sampah.”

Ogden mengacungkan tongkat sihir ke hidungnya sendiri, yang masih mengeluarkan banyak cairan seperti nanah kuning, dan cairan itu langsung berhenti. Mr Gaunt bicara dari sudut mulutnya kepada Morfin.

“Masuk rumah. Jangan membantah.”

Kali ini, sudah siap, Harry langsung tahu itu Parseltongue. Bahkan sementara dia bisa memahami apa yang dikatakan, dia mengenali bunyi desis aneh yang mestinya hanya itu yang didengar Ogden. Morfin tampaknya akan membantah, namun ketika ayahnya melempar pandang mengancam dia berubah pikiran, beringsut menuju gubuk dengan langkah menggelinding yang aneh dan membanting pintu menutup di belakangnya, sehingga ular matinya berayun sedih lagi.

“Anak Anda-lah yang ingin saya temui, Mr Gaunt,” kata Ogden, sambil mengelap sisa nanah terakhir dari bagian depan jasnya. “Itu Morfin, kan?”

“Ya, itu Morfin,” kata laki-laki tua itu tak acuh. “Apakah Anda berdarah-murni?” dia bertanya, tiba-tiba agresif.

“Itu tidak ada hubungannya,” kata Ogden dingin, dan rasa hormat Harry terhadap Ogden meningkat.

Rupanya yang dirasakan Gaunt agak berbeda. Matanya menyipit memandang wajah Ogden dan bergumam, dalam nada yang jelas menghina, “Kalau saya pikir-pikir, saya pernah melihat hidung seperti hidung Anda di desa.”

“Saya tidak meragukannya, jika anak Anda dilepas menyerang mereka,” kata Ogden. “Barangkali kita bisa melanjutkan diskusi ini di dalam?”

“Di dalam?”

“Ya, Mr Gaunt. Sudah saya katakan tadi, saya datang soal Morfin. Kami sudah mengirim burung hantu-”

“Burung hantu tak ada gunanya untuk saya,” kata Gaunt. “Saya tidak membuka surat-surat.”

“Kalau begitu Anda tak bisa mengeluh tak diberi tahu lebih dulu akan kedatangan tamu,” kata Ogden masam. “Saya berada di sini karena adanya pelanggaran hukum sihir yang serius, yang terjadi di sini pada pagi”

“Baik, baik, baik!” teriak Gaunt. “Masuk saja, kalau begitu. Anda kira kalau masuk lebih baik!”

Rumah itu tampaknya terdiri atas tiga ruangan kecil. Ada dua pintu menuju ruang utama, yang berfungsi sebagai dapur sekaligus ruang duduk. Morfin sedang duduk di kursi berlengan kotor di sebelah perapian berasap, menbelitkan ular beludak hidup di antara jari-jarinya yang gemuk dan menyanyi lembut kepada ular itu dalam Parseltongue:

“Desis, desis, ular kecil mendesis, Menjalar-jalar di lantai batu, Baik-baiklah kepada Morfin, Kalau tak mau dipaku di pintu.”

Terdengar keresekan di sudut dekat jendela terbuka dan Harry menyadari ada orang lain dalam ruangan itu, seorang gadis yang gaun compang-campingnya berwarna kelabu persis warna dinding batu kotor di belakangnya. Dia sedang berdiri di sebelah panci berasap di atas tungku batu kotor, dan sedang membereskan panci dan belanga yang tampak kotor di atas rak. Rambutnya tipis dan kusam dan wajahnya sederhana, pucat, agak berat. Matanya, seperti mata abangnya, memandang ke arah berlawanan. Dia tampak sedikit lebih bersih daripada ayah dan abangnya, namun Harry belum pernah melihat orang yang bertampang lebih sengsara daripadanya.

“Anak perempuan saya, Merope,” kata Gaunt enggan, ketika Ogden memandang penuh tanya ke arahnya.

“Selamat pagi,” sapa Ogden.

Gadis itu tidak menyahut, namun dengan pandangan takut ke arah ayahnya berbalik memunggungi ruangan dan meneruskan membereskan panci-panci di rak di belakangnya.

“Nah, Mr Gaunt,” kata Ogden, “kita langsung ke pokok persoalan. Kami punya alasan untuk memercayai bahwa anak Anda, Morfin, melakukan sihir di depan seorang Muggle larut malam kemarin.”

Terdengar bunyi dentang memekakkan telinga. Merope menjatuhkan salah satu panci.

“Ambil!” Gaunt membentaknya. “Ya, terus saja menggerayang lantai seperti Muggle kotor. Buat apa tongkat sihirmu? Dasar kantong sampah tak berguna!”

“Mr Gaunt, mohon jangan memaki!” kata Ogden dalam suara shock, sementara Merope, yang sudah memungut panci, wajahnya merah padam, sekali lagi pegangannya pada panci terlepas, dengan gemetar mencabut tongkat sihirnya dari sakunya, mengarahkannya ke panci dan buru-buru menggumamkan mantra yang membuat panci itu meluncur di lantai menjauh darinya, menabrak dinding seberang, dan retak menjadi dua.

Morfin terbahak-bahak. Gaunt berteriak, “Betulkan, gumpalan lumpur bego, betulkan!”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.