Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kurasa kau pikir aku curang?” Harry mengakhiri penuturannya, sakit hati melihat ekspresi Hermione.

“Yah, itu bukan sepenuhnya hasil kerjamu, kan?” timpal Hermione kaku.

“Dia cuma mengikuti instruksi yang berbeda dengan instruksi kita,” kata Ron. “Bisa jadi malapetaka, kan? Tapi dia mengambil risiko dan berhasil.” Ron menghela napas. “Slughorn bisa saja memberiku buku yang itu, tapi tidak, aku dapat buku yang tak ada tulisannya apa pun. Pernah dimuntahi, kalau lihat tampilan halaman lima-puluh-dua, tapi”

“Tunggu,” kata suara dekat telinga kiri Harry dan dia menghirup bau bunga-bungaan seperti dalam ruang kelas Slughorn tadi. Dia menoleh dan melihat Ginny telah bergabung dengan mereka. “Apakah aku mendengar dengan benar? Kau mengikuti petunjuk yang ditulis seseorang dalam buku, Harry?”

Ginny tampak ketakutan dan gusar. Harry langsung tahu apa yang ada dalam pikirannya.

“Bukan apa-apa,” katanya menenangkan, merendahkan suaranya. “Sama sekali lain daripada, kau tahu, buku harian Riddle. Ini cuma buku pelajaran tua yang ditulisi seseorang.”

“Tapi kau melakukan apa yang dikatakannya?”

“Aku cuma mencoba beberapa petunjuk yang tertulis di tepi bukunya. Tenang, Ginny, tak ada yang aneh”

“Ginny betul,” kata Hermione, langsung gembira. “Kita harus mengecek apakah tak ada yang aneh. Maksudku, semua instruksi itu, siapa tahu?”

“Hei!” kata Harry jengkel, ketika Hermione menarik keluar buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut dari dalam tasnya dan mengangkat tongkat sihirnya.

“Specialis revelio!” kata Hermione, dengan gesit mengetuk sampul depan buku itu.

Tak ada yang terjadi. Bukunya hanya tergeletak, tampak tua dan kotor dan tepiannya compang-camping.

“Selesai?” kata Harry kesal. “Atau kau mau menunggu dan melihat kalau-kalau buku ini akan terjun berputar?”

“Kelihatannya oke,” kata Hermione, masih menatap buku itu dengan curiga. “Maksudku, kelihatannya menantang … cuma buku pelajaran.”

“Bagus. Kalau begitu kembalikan,” kata Harry, menyambar buku itu dari atas meja. Namun buku itu terlepas dari tangannya dan mendarat terbuka di lantai.

Tak ada orang lain yang melihat. Harry membungkuk rendah untuk mengambil buku itu, dan dia melihat ada tulisan sepanjang bagian bawah kulit belakang buku, dengan tulisan kecil-kecil rapat, sama dengan instruksi-instruksi yang membuatnya memenangkan sebotol Felix Felicis, yang sekarang tersembunyi aman dalam sepasang kaus kaki dalam koper di kamarnya di atas.

This Book is the Property of the Half Blood Prince

Buku ini Milik Pangeran Berdarah Campuran

-oO0O0-

10. RUMAH GAUNT

Dalam pelajaran-pelajaran Ramuan selama sisa minggu itu Harry terus mengikuti petunjuk petunjuk si Pangeran Berdarah-Campuran setiap kali instruksinya berbeda dari instruksi Libatius Borage, dengan hasil pada pelajaran keempatnya Slughorn menjadi sangat antusias tentang kemampuan Harry, mengatakan bahwa dia jarang sekali mengajar orang seberbakat Harry. Baik Ron maupun Hermione tidak senang dengan keadaan ini. Kendati Harry telah menawarkan untuk berbagi bukunya dengan mereka berdua, Ron mendapat lebih banyak kesulitan dibanding Harry dalam menafsirkan tulisan Pangeran, dan tak mungkin terus-menerus meminta Harry membaca nya keras-keras, karena itu akan menimbulkan kecurigaan. Hermione, sementara itu, dengan tegas mengikuti apa yang disebutnya instruksi “resmi”, namun dia menjadi semakin mudah-marah ketika instruksi “resmi” itu membuahkan hasil yang kurang bagus dibanding instruksi Pangeran.

Harry bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan Pangeran Berdarah-Campuran itu. Meskipun jumlah pekerjaan rumah yang diberikan kepada mereka menghalanginya membaca habis seluruh buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut, dia telah cukup membalik-balik buku itu untuk melihat bahwa nyaris tak ada satu halaman pun yang tidak diberi catatan tambahan oleh Pangeran, tidak semua catatan itu tentang pembuatan-ramuan. Di sana-sini ada petunjuk tentang mantra-mantra yang rupanya diciptakan sendiri oleh si Pangeran.

“Atau Putri,” kata Hermione jengkel, mendengar Harry menceritakan ini kepada Ron di ruang rekreasi pada hari Sabtu malam. “Siapa tahu dia perempuan. Menurutku tulisannya lebih mirip tulisan anak perempuan daripada tulisan anak laki-laki.”

“The Half-Blood Prince, Pangeran Berdarah-Campuran, begitu dia menyebut dirinya,” kata Harry. “Berapa banyak anak perempuan yang jadi pangeran?”

Hermione tak bisa menjawab pertanyaan ini. Dia hanya memberengut dan menjauhkan esainya tentang “Prinsip-Prinsip Pemunculan-Kembali” dari Ron, yang berusaha membacanya secara terbalik.

Harry melihat arlojinya dan bergegas memasukkan kembali buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut-nya ke dalam tasnya.

“Jam delapan kurang lima, sebaiknya aku ke Dumbledore sekarang, kalau tidak bisa telat nanti.”

“Ooooh!” Hermione terpekik pelan, langsung mengangkat muka memandangnya. “Semoga sukses! Kami akan menunggu, kami ingin mendengar apa yang diajarkannya kepadamu!”

“Semoga lancar,” kata Ron, dan keduanya mengawasi Harry meninggalkan ruangan lewat lubang lukisan.

Harry menyusuri koridor-koridor kosong, namun buru-buru melangkah ke belakang patung ketika Profesor Trelawney tiba-tiba muncul dari tikungan, bergumam sendiri seraya mengocok satu pak kartu-lusuh, dan membacanya sambil berjalan.

“Dua sekop, konflik,” gumamnya, ketika dia melewati tempat Harry meringkuk, tersembunyi. “Tujuh sekop, pertanda buruk. Sepuluh sekop, kekerasan. Pangeran sekop, seorang pemuda berkulit gelap, kemungkinan bermasalah, tidak menyukai si penanya”

Dia mendadak berhenti, tepat di sisi lain patung Harry.

“Yah, itu tak mungkin benar,” katanya, kesal, dan Harry mendengarnya mengocok lagi kartunya dengan bersemangat, hanya meninggalkan bau sherry di belakangnya. Harry menunggu sampai dia yakin Profesor Trelawney sudah pergi, kemudian berjalan bergegas lagi sampai tiba di lantai tujuh di tempat yang ada gargoyle-nya berdiri di depan dinding.

“Soda Asam,” kata Harry. Si gargoyle melompat ke samping; dinding di belakangnya menggeser terbuka, dan tampaklah sebuah tangga batu spiral yang berputar. Harry melangkah ke tangga batu itu, sehingga dia dibawa dalam putaran-putaran lancar ke pintu kantor Dumbledore dengan pengetuk dari kuningan.

Harry mengetuk pintu.

“Masuk,” kata suara Dumbledore.

“Selamat malam, Sir,” kata Harry, memasuki kantor Kepala Sekolah.

“Ah, selamat malam, Harry,” sambut Dumbledore, tersenyum. “Kuharap minggu pertamamu di sekolah menyenangkan?”

“Ya, terima kasih, Sir,” kata Harry.

“Kau pasti sibuk, sudah langsung mendapat detensi!”

“Er …” Harry salah tingkah, namun Dumbledore tidak tampak terlalu galak.

“Aku sudah mengatur dengan Profesor Snape supaya kau menjalankan detensimu Sabtu depan.”

“Baiklah,” kata Harry, yang benaknya dipenuhi hal-hal lain yang lebih mendesak daripada detensi Snape, dan sekarang diam-diam memandang ke sekitarnya, mencari indikasi apa yang akan diajarkan Dumbledore kepadanya malam itu. Kantor bundar itu tampak sama seperti biasanya; peralatan perak yang halus rapuh di atas meja-meja berkaki kurus panjang, mengepulkan asap dan mendesing tenang; lukisan-lukisan para mantan kepala sekolah yang tertidur dalam pigura mereka; dan phoenix Dumbledore yang luar biasa, Fawkes, bertengger di tempat hinggapnya di balik pintu, mengawasi Harry dengan tertarik. Tampaknya Dumbledore tidak menyiapkan ruangan untuk berlatih duel.

“Nah, Harry,” kata Dumbledore dengan suara serius.

“Kau pasti bertanya-tanya dalam hati, aku yakin, apa yang kurencanakan untukmu selama-karena tak ada kata yang lebih bagus pelajaran ini?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.