Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Satu botol kecil Felix Felicis,” kata Slughorn, mengeluarkan satu botol kecil mungil bertutup gabus dari dalam sakunya dan memperlihatkannya kepada mereka semua. “Cukup untuk membawa keberuntungan selama dua belas jam. Dari subuh sampai senja, kalian akan beruntung dalam apa pun yang kalian lakukan.”

“Aku harus memperingatkan kalian bahwa Felix Felicis adalah barang terlarang dalam kompetisi yang terorganisir … pertandingan olahraga, misalnya, ujian, atau pemilihan. Jadi, siapa pun yang mendapatkannya nanti, hanya boleh menggunakannya pada hari yang biasa … dan saksikan bagaimana hari yang biasa menjadi luar biasa!”

“Jadi,” kata Slughorn, tiba-tiba menjadi penuh semangat, “bagaimana kalian bisa memenangkan hadiahku yang luar biasa ini? Dengan membuka halaman sepuluh Pembuatan Ramuan Tingkat Lanjut. Kita masih punya waktu satu jam lebih sedikit, jadi cukup waktu bagi kalian untuk mencoba membuat Tegukan Hidup Bagai Mati. Aku tahu ramuan ini lebih rumit daripada ramuan apa pun yang pernah kalian coba buat sebelurnnya, dan aku tidak mengharapkan ramuan sempurna dari siapa pun. Meskipun demikian, anak yang menghasilkan ramuan paling baik akan memenangkan sebotol kecil Felix ini. Silakan mulai!”

Terdengar derit ketika semua anak menarik kuali ke dekat mereka, dan dentang-dentang keras ketika beberapa anak mulai menimbang ramuan, namun tak seorang pun bicara. Semua anak berkonsentrasi penuh. Harry melihat Malfoy membuka-buka buku Pembuatan Ramuan Tingkat Lanjut-nya dengan penuh semangat.

Tak bisa lebih jelas lagi bahwa Malfoy menginginkan hari penuh keberuntungan itu. Harry buru-buru membungkuk melihat buku lusuh yang dipinjamkan Slughorn kepadanya.

Betapa kesalnya Harry melihat si pemilik buku sebelumnya telah menulisi halaman-halamannya, sehingga tepian buku itu sama hitamnya dengan bagian yang tercetak. Harry membungkuk rendah untuk membaca bahan-bahan yang diperlukan (bahkan di sini si pemilik membuat catatan dan mencoret beberapa hal), kemudian bergegas ke lemari bahan untuk mengambil yang diperlukannya. Selagi dia berlari kernbali ke kualinya, dilihatnya Malfoy sedang mengiris akar valerian secepat dia bisa. Valerian dikenal sebagai tanaman penyembuh-segala, dan kandungan obatnya ada dalarn akarnya.

Semua anak terus-menerus mengerling melihat apa yang dilakukan temannya yang lain. Inilah keuntungan dan kerugian kelas Ramuan, sulit menjaga kerahasiaan ramuan yang kau buat. Dalam waktu sepuluh menit, seluruh ruangan dipenuhi uap kebiruan. Hermione-lah, tentu saja, yang kemajuannya paling pesat. Ramuannya sudah mirip cairan “halus, sewarna beri hitam” yang disebritkan sebagai tahap pertengahan yang ideal.

Setelah selesai mengiris akar-akarnya, Harry membungkuk rendah di atas bukunya lagi. Sungguh sangat menjengkelkan, harus membaca petunjuknya di antara catatan-catatan bego pemilik sebelumnya, yang entah kenapa tidak menyetujui petunjuk untuk memotong-motong kacang Sopophorous dan telah menuliskan petunjuk alternatifnya:

Dikrepek dengan bagian datar belati perak akan mengeluarkan cairan lebih banyak daripada memotong-motongnya.

“Sir, saya rasa Anda mengenal kakek saya, Abraxas Malfoy?”

Harry mendongak. Slughorn baru saja melewati meja Slytherin.

“Ya,” kata Slughorn, tanpa memandang Malfoy, “aku ikut prihatin mendengar dia sudah meninggal, meskipun tentu saja itu tidak mengejutkan, cacar naga pada usianya …”

Dan dia berjalan menjauh. Harry menunduk di atas kualinya, menyeringai. Bisa ditebaknya bahwa Malfoy berharap diperlakukan seperti Harry atau Zabini; barangkali malah berharap mendapat perlakuan istimewa seperti yang diperolehnya dari Snape. Kelihatannya Malfoy tak bisa mengandalkan hal lain kecuali kemampuannya untuk memenangkan botol Felix Felicis itu.

Kacang Sopophorous ternyata sulit sekali dipotong-potong. Harry menoleh kepada Hermione.

“Boleh aku pinjam pisau perakmu?”

Hermione mengangguk tak sabar, tanpa mengangkat mata dari ramuannya, yang masih berwarna ungu tua, kendatipun menurut buku seharusnya sudah berubah menjadi ungu muda sekarang.

Harry mengeprek kacangnya dengan daun belati. Dia tercengang ketika kacang itu langsung mengeluarkan banyak sekali cairan. Dia kagum kacang kisut itu bisa mengandung cairan sebanyak itu. Buru-buru Harry menuang semua cairan itu ke dalam kuali. Betapa herannya dia melihat ramuannya langsung berubah warna menjadi ungu muda persis seperti dideskripsikan oleh bukunya.

Kejengkelannya kepada pemilik buku sebelumnya langsung sirna saat itu juga, Harry sekarang menyipitkan mata membaca instruksi selanjutnya. Menurut buku, dia harus mengaduknya berlawanan arah dengan putaran jarum jam sampai ramuan itu menjadi sejernih air. Namun menurut catatan yang dibuat pemilik sebelumnya, dia harus menambahkan sekali adukan searah putaran jarum jam setiap usai melakukan tujuh kali adukan berlawanan arah jarum jam. Mungkinkah si pemilik sebelumnya benar dua kali?

Harry mengaduk berlawanan arah dengan jarum jam, menahan napas, dan mengaduk searah jarum jam sekali. Efeknya langsung terlihat. Ramuannya berubah menjadi merah muda pucat.

“Bagaimana kau melakukannya?” tuntut Hermione, yang wajahnya kemerahan dan rambutnya semakin lama tampak semakin lebat dalam uap dari kualinya; ramuannya dengan bandel masih bertahan berwarna ungu.

“Tambahkan satu putaran searah jarum jam”

“Tidak, tidak, menurut buku berlawanan arah dengan jarum jam!” kilahnya.

Harry mengangkat bahu dan melanjutkan apa yang dilakukannya. Tujuh adukan berlawanan arah dengan putaran jarum jam, satu adukan searah putaran jarum jam, berhenti … tujuh adukan berlawanan arah dengan putaran jarum jam, satu adukan searah putaran jarum jam …

Di seberang meja, Ron mengutuk pelan. Ramuannya tampak seperti obat batuk hitam kental. Harry mencuri pandang ke sekitarnya. Sejauh yang bisa dilihatnya, tak ada ramuan anak lain yang sepucat ramuannya. Dia merasa senang sekali, sesuatu yang jelas belum pernah terjadi di dalam ruang kelas bawah tanah ini.

“Dan waktunya … habis!” seru Slughorn. “Tolong semua berhenti mengaduk!”

Slughorn bergerak pelan di antara meja-meja, mengintip ke dalam kuali. Dia tidak memberi komentar, namun kadang-kadang mengaduk ramuan, atau mengendusnya. Akhirnya dia tiba di meja Harry, Ron, Hermione, dan Ernie. Dia tersenyum menyesal pada ramuan Ron yang seperti ter. Dia melewati begitu saja cairan Ernie yang berwarna biru tua. Ramuan Hermione diberinya anggukan setuju. Kemudian dia melihat ramuan Harry dan ekspresi kegembiraan dan tak percaya mewarnai wajahnya.

“Jelas inilah pemenangnya!” serunya ke kelasnya. “Luar biasa, luar biasa, Harry! Astaga, jelas sekali kau mewarisi bakat ibumu, dia pintar sekali membuat Ramuan. Lily hebat sekali! Ini dia, kalau begitu, ini dia sebotol Felix Felicis, seperti yang ku janjikan, dan gunakan ini sebaik-baiknya!”

Harry menyelipkan botol kecil mungil berisi cairan keemasan ke saku dalamnya, perasaannya campur aduk aneh, antara senang melihat kegusaran di wajah anak-anak Slytherin, dan rasa bersalah melihat kekecewaan di wajah Hermione. Ron hanya ternganga takjub.

“Bagaimana kau melakukannya?” dia berbisik kepada Harry ketika mereka meninggalkan ruang bawah tanah itu.

“Beruntung saja, kukira,” kata Harry, karena Malfoy berada dalam jarak-dengar.

Namun, begitu mereka sudah duduk nyaman di meja Gryffindor untuk makan malam, Harry merasa cukup aman untuk memberitahu mereka. Wajah Hermione semakin lama semakin membatu mendengar tiap kata yang diucapkannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.