Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Kendati tidak diketahui Snape, Harry telah mengajari paling tidak separo kelas (semua yang jadi anggota LDw) bagaimana melakukan Mantra Pelindung tahun sebelumnya. Namun tak seorang pun pernah melaksanakan mantra ini tanpa mengucapkannya. Sedikit kecurangan yang masuk akal terjadi, banyak anak membisikkan mantra alih-alih mengucapkannya keras-keras. Bukan hal mengejutkan, sepuluh menit kemudian Hermione berhasil menolak Sihir Kaki-Jeli Neville tanpa mengucapkan sepatah kata pun, prestasi yang akan membuatnya mendapatkan dua puluh angka bagi Gryffindor dari guru lain yang berkelakuan layak, pikir Harry getir, namun Snape tidak mengacuhkannya. Dia berjalan di antara mereka sementara mereka berlatih, tampak seperti kelelawar besar, berhenti lama untuk melihat Harry dan Ron bersusah payah melaksanakan tugas mereka.

Ron, yang bertugas menyerang Harry, wajahnya berwarna ungu, bibirnya terkatup rapat agar dia bisa menghindari godaan menggumamkan mantranya. Harry mengangkat tongkat sihirnya, menunggu dengan tegang dan gelisah, siap menolak kutukan yang rupanya tak akan datang.

“Menyedihkan, Weasley,” kata Snape, selewat beberapa saat. “Sini kutunjukkan padamu …”

Dia mengarahkan tongkat sihirnya kepada Harry begitu cepatnya sehingga Harry otomatis bereaksi; segala pikiran tentang mantra non-verbal terlupakan, dia berteriak, “Protego!”

Mantra Pelindung-nya kuat sekali sampai Snape kehilangan keseimbangan dan menabrak meja. Seluruh kelas menoleh dan sekarang memandang Snape yang meluruskan diri, marah.

“Apa kau ingat aku memberitahu kalian kita melatih mantra non-verbal, Potter?”

“Ya,” kata Harry kaku.

“Ya, Sir.”

“Tak perlu memanggil saya ‘Sir’, Profesor.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya sebelum dia sadar apa yang dikatakannya. Beberapa anak terkesiap kaget, termasuk Hermione. Di belakang Snape, meskipun demikian, Ron, Dean, dan Seamus nyengir mendukung.

“Detensi, Sabtu malam, kantorku,” kata Snape. “Aku tidak menerima kelancangan dari siapa pun, Potter … bahkan dari Sang Terpilih pun tidak.”

“Tadi brilian sekali, Harry!” kekeh Ron, ketika mereka sudah aman dalam perjalanan akan beristirahat tak lama kemudian.

“Mestinya kau tidak mengatakan itu,” kata Hermione, mengernyit kepada Ron. “Apa yang membuatmu ngomong begitu?”

“Dia mau menyerangku, kalau kau tidak melihat!” gerutu Harry. “Aku sudah cukup muak menerima serangannya selama pelajaran Occlumency! Kenapa dia tidak mencari kelinci percobaan lain sekali-sekali? Permainan apa sih yang sedang dimainkan Dumbledore, membiarkan dia mengajar Pertahanan? Kau dengar tadi waktu dia ngomongin Ilmu Hitam? Dia menyukainya. Segala tetek bengek tentang tidak-pasti, tak terkalahkan …”

“Yah,” kata Hermione, “menurutku dia kedengarannya agak mirip kau.”

“Mirip aku?”

“Ya, waktu kau menceritakan kepada kami bagaimana rasanya menghadapi Voldemort. Katamu itu bukan sekadar mengingat segepok mantra, katamu itu hanya antara kau dan otakmu dan nyalimu nah, bukankah itu yang dikatakan Snape? Bahwa pada intinya yang paling penting adalah keberanian dan berpikir cepat?”

Harry begitu tercengangnya bahwa Hermione menganggap kata-katanya sama layaknya dihafal seperti Kitab Mantra Standar sehingga dia tidak membantah.

“Harry! Hei, Harry!”

Harry berpaling. Jack Sloper, salah satu Beater tim Quidditch Gryffindor tahun lalu, sedang bergegas mendatanginya, memegang segulung perkamen.

“Untukmu,” katanya terengah. “Kudengar kau Kapten yang baru. Kapan kau mengadakan uji coba?”

“Aku belum tahu,” kata Harry, dalam hati berpikir Sloper akan beruntung sekali kalau bisa kembali masuk tim, “Nanti kuberitahu.”

“Oh, baiklah. Aku tadinya berharap akhir pekan ini.”

Namun Harry tidak mendengarkannya, dia baru saja mengenali huruf-huruf ramping, miring yang ada di perkamen. Meninggalkan Sloper di tengah kalimatnya, dia bergegas menjauh dengan Ron dan Hermione, membuka gulungan perkamennya sembari berjalan.

Dear Harry,

Aku ingin memulai pelajaran privat kita hari Sabtu ini. Datanglah di kantorku pukul delapan malam. Kuharap kau menikmati hari pertamamu di sekolah.

Salamku,

Albus Dumbledore

PS: Aku suka Soda Asam.

“Dia suka Soda Asam?” tanya Ron, yang ikut membaca pesan itu lewat bahu Harry dan tampak bingung.

“Itu kata sandi untuk melewati gargoyle di depan kantornya,” kata Harry dengan suara pelan. “Ha! Snape tidak akan senang … Aku tak akan bisa menjalankan detensinya!”

Harry, Ron, dan Hermione melewatkan seluruh waktu istirahat berspekulasi tentang apa yang akan diajarkan Dumbledore kepada Harry. Ron berpendapat kemungkinan besar kutukan dan mantra spektakuler yang jenis-jenisnya tidak dikenali para Pelahap Maut.

Hermione berkata hal-hal seperti itu ilegal, dan berpendapat kemungkinan Dumbledore ingin mengajari Harry sihir pertahanan tingkat lanjut. Usai istirahat Hermione ikut pelajaran Arithmancy, sementara Harry dan Ron kembali ke ruang rekreasi, dan dengan enggan mulai mengerjakan PR Snape. Ternyata PR ini rumit sekali sehingga mereka belum selesai ketika Hermione bergabung dengan mereka dalam jam kosong usai makan siang mereka (meskipun Hermione mempercepat proses selesainya PR). Mereka baru saja selesai ketika bel untuk dua jam pelajaran Ramuan sore itu berbunyi dan mereka menyusuri jalan yang sudah tak asing menuju ke kelas bawah tanah yang selama bertahun-tahun menjadi milik Snape.

Setiba di koridor mereka melihat bahwa hanya selusin anak yang melanjutkan ke tingkat NEWT Crabbe dan Goyle jelas gagal memperoleh nilai OWL yang disyaratkan, namun empat anak Slytherin berhasil lulus, termasuk Malfoy. Empat anak Ravenclaw ada di sana, dan satu Hufflepuff, Ernie Macmillan, yang Harry sukai kendati sikapnya agak angkuh.

“Harry,” sapa Ernie sok penting, seraya mengulurkan tangan ketika Harry mendekat, “tak sempat ngobrol waktu Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tadi pagi. Pelajaran bagus, menurutku, tapi Mantra Pelindung sih ketinggalan zaman, tentu, bagi kita anggota LD … dan apa kabar, Ron – Hermione?”

Mereka baru sempat mengucapkan “baik”, pintu ruang kelas bawah tanah sudah terbuka dan perut Slughorn mendahului keluar. Sementara mereka masuk ke dalam kelas, kumis besarnya yang seperti kumis beruang laut melengkung di atas mulutnya yang tersenyum dan dia menyambut Harry dan Zabini dengan antusiasme yang berlebihan.

Ruang bawah tanah itu, sangat lain dari biasanya, sudah penuh aroma dan bau yang aneh-aneh. Harry, Ron, dan Hermione mengendus-endus dengan tertarik ketika mereka melewati kuali-kuali besar bergelegak. Keempat anak Slytherin duduk semeja, demikian juga anak-anak Ravenclaw. Berarti Harry, Ron, dan Hermione akan berbagi meja dengan Ernie. Mereka memilih meja yang paling dekat dengan kuali warna emas yang mengeluarkan aroma paling menggairahkan yang pernah dihirup Harry. Entah kenapa aroma itu mengingatkannya sekaligus akan tar karamel, bau kayu gagang sapu, dan aroma bunga-bunga yang Harry pikir pastilah pernah dia hirup di The Burrow. Dia mendapati dirinya bernapas sangat perlahan dan dalam dan bahwa asap ramuan itu tampaknya memenuhi dirinya seperti minuman. Tubuhnya dijalari kepuasan yang luar biasa; dia nyengir kepada Ron di seberang meja, yang balas nyengir dengan santai.

“Nah, nah, nah,” kata Slughorn, sosoknya yang superbesar tampak bergetar di tengah banyak uap aroma yang bergulung. “Keluarkan timbangan, semua, dan peralatan ramuan, dan jangan lupa buku kalian Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut …”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.