Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Fudge berdehem dan, dengan susah payah, kelihatannya, berhenti memutar topi bowler-nya.

“Tapi pembunuhan itu ada di koran-koran,” kata Perdana Menteri, sejenak marahnya terlupakan. “Koran kami. Amelia Bones…hanya dikatakan dia wanita setengah-baya yang hidup sendirian. Pembunuhan yang—yang mengerikan, kan? Agak banyak dipublikasikan. Polisi bingung, soalnya.”

Fudge menghela napas. “Yah, tentu saja mereka bingung. Terbunuh dalam kamar yang dikunci dari dalam, kan? Kami sebaliknya, tahu persis siapa yang melakukannya, walaupun itu tidak membuat kami jadi selangkah lebih maju dalam usaha menangkapnya. Dan kemudian Emmeline Vance, barangkali Anda tidak dengar tentang yang ini—”

“Oh ya, saya dengar!” kata Perdana Menteri. “Terjadinya malah hanya dibalik tikungan dekat sini. Koran-koran mendapat berita seru. Pelanggaran Hukum di halaman belakang kantor Perdana Menteri—”

“Dan seakan itu semua belum cukup,” kata Fudge, hampir-hampir tidak mendengarkan Perdana Menteri, “masih ada para Dementor yang berkeliaran, menyerang orang di mana-mana…”

Suatu hari di saat yang lebih menyenangkan, kalimat ini pastilah tak dimengerti Perdana Menteri, namun sekarang dia lebih bijaksana.

“Bukankah para Dementor menjaga para napi di Azkaban?” dia bertanya hati-hati.

“Memang, dulu,” kata Fudge letih. “Tapis ekarang tidak lagi. Mereka meninggalkan penjara dan bersekutu dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Saya tak akan berpura-pura bahwa ini bukan pukulan berat.”

“Tapi,” kata Perdana Menteri, mulai merasa ngeri, bukankah Anda memberitahu saya mereka makhluk-makhluk yang menyedot harapan dan kebahagiaan dari orang-orang?”

“Betul. Dan mereka berkembang biak. Itulah yang menyebabkan adanya semua kabut ini.”

Perdana Menteri, yang lututnya mendadak lemas, ternyata duduk di kursi terdekat. Membayangkan makhlu-makhluk tak kelihatan melayang-layang di seluruh kota dan pedesaan, menyebarkan keputusasaan dan hilang harapan di antara para pemilihnya, membuatnya pusing.

“Dengar, Fudge—Anda harus melakukan sesuatu! Ini tanggung jawab Anda sebagai Menteri Sihir!”

“Perdana Menteri yang baik, masa Anda mengira saya masih tetap menjabat Menteri Sihir setelahs emua kejadian ini? Saya dipecat tiga hari yang lalu. Seluroh komunitas sihir sudah berteriak menuntut pengunduran diri saya selama dua minggu ini. Belum pernah saya melihat mereka bersatu seperti itu selama masa jabatan saya! kata Fudge, berusaha memberanikan diri tersenyum.

Perdana Menteri selama beberapa saat kehilangan kata-kata. Kendati dia jengkel ditempatkan dalam posisi terpojok, dia masih merasa agak kasihan terhadap laki-laki bertampang kuyu yang duduk di depannya.

“Saya ikut prihatin,” katanya akhirnya. “kalau ada yang bisa saya lakukan?”

“Anda baik sekali, Perdana Menteri, tapi tak ada yang bisa Anda lakukan. Saya dikirim ke sini malam ini untuk memberitahu Anda perkembangan situasi terakhir dan memperkenalkan Anda kepada pengganti saya. Saya pikir mestinya dia sudah di sini sekarang, tapi tentu saja dia sangat sibuk, dengan begitu banyak kejadian.”

Fudge berpaling memandang lukisan laki-laki kecil jelek memakai wig panjang ikal perak, yang sedang mengorek telinganya dengan ujung pena-bulu.

Menangkap mata Fudge, lukisan itu berkata, “Dia akan ke sini sebentar lagi, dia sedang menyelesaikan surat kepada Dumbledore.”

“Semoga dia beruntung,” kata Fudge, terdengar getir untuk pertama kalinya. “Aku menulis kepada Dumbledore dua kali sehari selama dua minggu terakhir ini, tetapi dia bergeming. Kalau saja dia bersedia membujuk anak itu, aku mungkin masih…yah, barangkali Scrimgeour akan lebih berhasil.”

Baru saja Fudge terdiam dan tampak sedih, keheningan dipecahkan oleh lukisan, yang tiba-tiba saja berbicara dengan suara garing dan resmi.

“kepala Perdana Menteri Muggle. Memohon pertemuan. Urgen. Tolong segera ditanggapi. Rufus Scrimgeour, Menteri Sihir.”

“Ya,ya, baik,” kata Perdana Menteri dengan pikiran kacau, dan belum sempat dia bergerak, api dalam perapiannya sudah berubah hijau-zamrud lagi, berkobar dan memperlihatkan penyihir berpusar yang kedua di tengahnya, mengeluarkannya beberapa saat kemudian di atas permadani antik. Fudge bangkit dan setelah ragu-ragu sejenak, Perdana Menteri ikut bangkit, mengawasi penyihir yang baru datang menegakkan diri, mengebaskan debu dari jubah hitamnya yang panjang, dan memandang berkeliling.

Pikiran bodoh pertama Perdana Menteri adalah bahwa Rufus Scrimgeour tampak seperti singa tua. Rambutnya yang berwarna kuning-kecoklatan dihiasi uban di sana-sini, demikian juga alisnya yang lebat. Matanya tajam kekuningan di belakang kacamata berbingkai kawat, dan dia memiliki keanggunan yang menyiratkan dia sanggup berjalan jauh dan melompat, walaupun jalannya sedikit timpang. Kesan langsung yang timbul adalah dia cerdas dan tegar. Perdana Menteri membatin dia memahami kenapa komunitas sihir lebih memilih Scrimgeour daripada Fudge sebagai pemimpin dalam situasi berbahaya begini.

“Apa kabar?” sambut Perdana Menteri sopan, mengulurkan tanagnnya.

Scrimgeour menjabatnya singkat, matanya meneliti seluruh ruangan, kemudian dia menarik keluar tongkat sihir dari balik jubahnya.

“Fudge sudah memberitahu Anda semuanya?” dia bertanya, berjalan ke pintu dan mengetuk lubang kuncinya dengan tongkat sihirnya. Perdana Menteri mendengar bunyi “ceklek” pintunya yang mengunci.

“Er—ya,” kata Perdana Menteri. “Dan jika Anda tidak keberatan, saya lebih suka pintu tidak terkunci”

“Saya lebih suka tidka terganggu,” kata Scrimgeour pendek, “atau diintip,” dia menambahkan, mengacungkan tongkat sihirnya ke deretan jendela sehingga gordennya menutup semua. “Baik, nah, saya sibuk sekali, jadi kita langsung ke pokok masalahnya. Yang pertama, kita perlu merundingkan keamanan Anda.”

Perdana Menteri berdiri tegak dan menjawab, “Saya sudah puas dengan sistem keamanan yang saya miliki, terima ka—”

“Kami tidak,” potong Scrimgeour. “Rawan sekali bagi para Muggle kalau Perdana Menteri mereka sampai berada di bawah Kutukan Imperius. Sekretaris baru Anda di kantor luar—”

“Saya tidak bersedia memberhentikan Kingsley Shacklebolt, kalau itu yang Anda usulkan!” kata Perdana Menteri panas. “Dia sangat efisien, menyelesaikan pekerjaan dua kali lebih cepat daripada yang lain—”

“Itu karena dia penyihir,” kata Scrimgeour, tanpa senyum sedikit pun. “Auror sangat terlatih, yang ditugaskan untuk melindungi Anda.”

“Tunggu sebentar!,” tukas Perdana Menteri. “Anda tak bisa begitu saja memasukkan orang-orang Anda di kantor saya, saya yang menentukan siapa-siapa yang bekerja untuk saya—”

“Bukankah tadi Anda katakan Anda puas dengan Shcklebolt?” kata Scrimgeour dingin.

“Memang—maksud saya, tadinya—”

“Kalau begitu tak ada masalah,kan?” kata Scrimgeour.

“Saya…yah, asal kerja Shacklebolt tetap..er..hebat,” kata Perdana Menteri tertegun-tegun.

“Sekarang tentang Herbert Chorley—menteri muda Anda,” dia melanjutkan. “Yang menghibur publik dengan menirukan bebek.”

“Bagaimana dengan dia?” tanya Perdana Menteri.

“Jelas sekali itu disebabkan oleh Kutukan Imperius yang tidka sempurna,´ kata Scrimgeour. “Kutukan itu mengacaukan otaknya, tapi dia masih bisa berbahaya.”

“Dia cuma meleter!” kata Perdana Menteri lemah. ” Tentunya istirahat sedikit…barangkali mengurangi minum…”

“Tim Penyembuh dari Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir sedang memeriksanya sementara kita bicara ini. Sejauh ini dia sudah berusaha mencekik tiga di antara mereka,” kata Scrimgeour. “Saya rasa paling baik kita pindahkan dia dari masyarakat Muggle untuk sementara waktu.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.