Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tak ada yang perlu dicemaskan,” katanya ringan. “Nah … kepada murid-murid baru, selamat datang; kepada murid-murid lama, selamat datang kembali! Satu tahun penuh pendidikan sihir menanti kalian …”

“Tangannya sudah seperti itu waktu aku bertemu dengannya musim panas lalu,” Harry berbisik kepada Hermione. “Kupikir dia sekarang sudah menyembuhkannya … atau Madam Pomfrey yang menyembuhkannya.”

“Kelihatannya tangannya mati,” kata Hermione, wajahnya seperti orang mual. “Tapi ada luka-luka yang tak bisa disembuhkan … kutukan-kutukan lama … dan ada juga racun yang tak ada penangkalnya …”

“… dan Mr Filch penjaga sekolah, memintaku untuk menyampaikan, ada larangan bagi barang lelucon apa pun yang dibeli di toko yang bernama Sihir Sakti Weasley.

Mereka yang berminat bermain untuk tim Quidditch asramanya, silahkan mendaftar pada para Kepala Asrama masing-masing seperti biasanya. Kami juga mencari komentator Quidditch baru; para peminat juga silahkan mendaftar ke Kepala Asrama kalian.

“Kami gembira menyambut anggota baru dalam staf guru tahun ini. Profesor Slughorn,” Slughorn berdiri, kepalanya yang botak berkilat dalam cahaya lilin, perut besarnya yang tertutup rompi membentuk bayangan di meja di bawahnya, “adalah rekan kerja lamaku yang telah setuju mengajar Ramuan lagi.”

“Ramuan?”

“Ramuan?”

Kata itu bergaung di seluruh ruangan ketika anak-anak bertanya-tanya sendiri apakah yang mereka dengar benar.

“Ramuan?” kata Ron dan Hermione berbarengan, menoleh memandang Harry. “Tapi kau bilang –”

“Profesor Snape, sementara itu,” kata Dumbledore, mengeraskan suaranya sehingga mengatasi dengung gumam, “akan mengambil alih posisi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.”

“Tidak!” kata Harry, keras sekali sehingga banyak kepala menoleh ke arahnya. Harry tidak peduli; dia memandang meja guru, berang. Bagaimana mungkin Snape diberi tugas mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam setelah selama ini ditolak? Bukankah sudah diketahui secara luas bertahun-tahun bahwa Dumbledore tidak memercayainya untuk mengajar mata pelajaran ini?

“Tapi Harry, kau bilang Slughorn akan mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam!” kata Hermione.

“Kusangka begitu!” kata Harry, memeras otak untuk mengingat kapan Dumbledore memberitahukan ini kepadanya, tetapi sekarang jika dipikir-pikir lagi, dia tak bisa mengingat Dumbledore pernah memberitahunya mata pelajaran apa yang akan diajarkan Slughorn.

“Snape, yang duduk di sebelah kanan Dumbledore, tidak berdiri mendengar namanya disebut. Dia hanya mengangkat tangan sekadarnya untuk menanggapi aplaus dari meja Slytherin, namun Harry bisa melihat ekspresi kemenangan di wajah yang amat dibencinya.

“Yah, ada satu hal bagus,” katanya liar. “Snape akan pergi akhir tahun ajaran ini.”

“Apa maksudmu?” tanya Ron.

“Jabatan itu terkutuk. Tak ada yang bertahan lebih dari setahun … Quirrell malah mati. Aku pribadi mengharapkan kematian lagi.”

“Harry!” seru Hermione, shock dan mencela.

“Dia mungkin cuma balik mengajar Ramuan pada akhir tahun ajaran,” kata Ron masuk akal. “Si Slughorn itu mungkin tak mau mengajar jangka-panjang. Moody tak mau.”

Dumbledore berdeham. Bukan hanya Harry, Ron, dan Hermione yang bicara; seluruh Aula langsung berdengung dengan pembicaraan mendengar kabar bahwa Snape akhirnya berhasil mendapatkan jabatan yang telah lama didambakannya. Tampak tak menyadari sensasi berita yang baru saja disampaikannya, Dumbledore tidak berkata apa-apa lagi soal penunjukkan guru, melainkan menunggu beberapa detik untuk memastikan suasana sudah hening total sebelum dia melanjutkan.

“Nah, seperti semua anak di Aula ini tahu, Lord Voldemort dan para pengikutnya sekali lagi bebas dan semakin kuat.”

Keheningan rasanya menjadi tegang dan geting ketika Dumbledore bicara. Harry mengerling Malfoy. Malfoy tidak senang memandang Dumbledore, melainkan membuat garpunya melayang di udara dengan tongkat sihirnya, seolah menurutnya kata-kata Kepala Sekolah tak layak mendapat perhatiannya.

“Aku tak dapat menekankan dengan cukup kuat betapa bahayanya situasi saat ini, dan kita semua di Hogwarts harus berusaha sekuat kita untuk memastikan kita aman. Kubu pertahanan sihir kastil ini telah diperkuat selama musim panas, kita dilindungi dengan cara-cara baru yang lebih kuat, tetapi kita masih berjaga dengan amat hati-hati supaya jangan sampai terjadi kecerobohan dari pihak murid atau anggota staf guru. Maka aku menganjurkan agar kalian mematuhi peraturan keamanan yang diberlakukan guru-guru kalian, betapapun menjengkelkannya itu bagi kalian-terutama peraturan yang melarang kalian di luar tempat tidur selewat jam yang ditentukan. Aku memohon dengan sangat, seandainya kalian melihat sesuatu yang aneh atau mencurigakan di dalam atau pun di luar kastil, segeralah laporkan pada anggota staf guru. Aku berharap, dalam bersikap, kalian selalu mempertimbangkan keselamatan kalian sendiri dan juga keselamatan yang lain.”

Mata biru Dumbledore menyapu murid-muridnya sebelum dia tersenyum sekali lagi.

“Tetapi sekarang, tempat tidur kalian sudah menunggu, sehangat dan senyaman yang kalian harapkan, dan aku tahu prioritas utama kalian adalah beristirahat supaya siap menerima pelajaran esok pagi. Karena itu, mari kita saling mengucapkan selamat tidur. Pip,pip!”

Dengan bunyi derit yang memekakkan telinga seperti biasa, bangku-bangku didorong ke belakang dan beratus-ratus anak mulai meninggalkan Aula Besar, menuju ke asrama. Harry yang sama sekali tak ingin pergi bersamaan dengan anak-anak yang terpesona memandangnya, ataupun berada cukup dekat dengan Malfoy untuk memberinya kesempatan menceritakan kembali kisah penginjakan-hidung, sengaja berlama-lama, berpura-pura mengikat kembali tali sepatunya, membiarkan sebagian besar anak-anak Gryffindor mendahuluinya. hermione sudah melesat lebih dulu untuk melaksanakan tugasnya sebagai prefek, menuntun anak-anak kelas satu, namun Ron tinggal bersama Harry.

“Apa sebetulnya yang terjadi pada hidungmu?” dia bertanya, begitu mereka berada paling belakang dari kerumunan anak yang berdesakan keluar dari Aula, dan di luar jangkauan pendengaran orang lain.

Harry memberitahunya. Bahwa Ron tidak tertawa, itu menunjukkan betapa eratnya persahabatan mereka.

“Aku melihat Malfoy memeragakan sesuatu yang ada hubungannya dengan hidung,” kata Ron sebal.

“Yeah, biar saja,” kata Harry getir. “Dengar apa yang dia katakan sebelum dia tahu aku di sana …”

Harry mengharapkan Ron terkejut mendengar sesumbar Malfoy. Harry menganggap Ron sangat keras kepala, karena ternyata dia tidak terkesan.

“Sudahlah, Harry, dia kan cuma mau sok aksi di depan Parkinson … tugas macam apa yang akan diberikan Kau-Tahu-Siapa kepadanya?”

“Bagaimana kau bisa tahu Voldemort tidak memerlukan orang di Hogwarts? Ini bukan untuk pertama kali–”

“Jangan sebut-sebut nama itu lagi, Harry,” kata suara mencela di belakang mereka. Harry menoleh dan melihat Hagrid menggelengkan kepala.

“Dumbledore menggunakan nama itu,” kata Harry keras kepala.

“Yeah, begitulah Dumbledore, kan?” kata Hagrid misterius. “Jadi, kenapa kau terlambat, Harry? Aku khawatir.”

“Terhalang di kereta,” kata Harry. “Kenapa kau terlambat?”

“Aku sama Grawp,” kata Hagrid riang. “Lupa waktu. Dia punya rumah baru di gunung sekarang, Dumbledore yang atur-gua besar yang nyaman. Dia jauh lebih bahagia daripada waktu di Hutan. Kami ngobrol seru.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.