Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Potong lima puluh angka dari Gryffindor karena telat, kurasa,” kata Snape. “Dan, sebentar kupikirkan, potongan tambahan dua puluh karena berpakaian Muggle. Tahukah kau, rasanya belum ada asrama yang dikurangi angkanya seawal ini dalam tahun ajaran — kita bahkan belum makan puding. Kau memecahkan rekor, Potter.”

Kemarahan dan kebencian yang bergolak di dalam diri Harry berkobar hebat, namun bagi Harry lebih baik dia tidak bisa bergerak terkirim ke London daripada memberitahu Snape kenapa dia terlambat.

“Kurasa kau mau muncul secara hebat, ya?” Snape melanjutkan. “Dan tanpa adanya mobil terbang, kau memutuskan muncul di Aula Besar ketika acara makan sudah setengah jalan bisa menghasilkan efek dramatis.”

Masih saja Harry diam, kendati rasanya dadanya sudah hampir meledak. Dia tahu Snape menjemputnya untuk ini, untuk mendapatkan waktu beberapa menit ketika dia bisa memaki dan menyiksa Harry tanpa ada yang mendengarkan.

Mereka akhirnya tiba di undakan kastil dan ketika pintu depan yang besar dan terbuat dari kayu ek mengayun membuka ke Aula Depan yang luas berlantai batu, serbuan celoteh dan tawa dan denting piring dan gelas menyambut mereka dari pintu-pintu yang terbuka menuju ke Aula Besar. Harry membatin, apakah dia bisa diam-diam memakai Jubah Gaib-nya lagi, sehingga bisa tiba di tempat duduknya di meja panjang Gryffindor (yang sayangnya terletak paling jauh dari Aula Depan) tanpa dilihat orang.

Seakan bisa membaca pikiran Harry, Snape berkata, “Dilarang pakai Jubah. Masuk saja berjalan biasa supaya semua orang bisa melihatmu, kan itu yang kau inginkan, aku yakin.”

Harry langsung berputar dan berjalan memasuki pintu yang terbuka; apa saja adalah bisa kabur dari Snape. Aula Besar, dengan empat meja panjang asrama dan meja guru di ujung ruangan, seperti biasa didekorasi dengan lilin-lilin menyala yang membuat piring-piring di bawahnya berkilau gemerlap. Namun semuanya hanya seperti bayangan cahaya yang kabur bagi Harry, yang berjalan cepat sekali sehingga dia sudah melewati meja Hufflepuff sebelum anak-anak mulai memandangnya, dan ketika mereka berdiri agar bisa melihatnya lebih jelas, Harry sudah melihat Ron dan Hermione, bergegas melewati bangku-bangku menuju mereka dan menyelinap duduk diantara mereka.

“Darimana kau — astaga, kau apakan mukamu?” kata Ron, terbelalak menatapnya bersama anak-anak lain di dekatnya.

“Kenapa memangnya?” kata Harry, menyambar sendok dan menyipitkan mata mengawasi bayangannya yang terdistorsi.

“Kau berlumuran darah!” kata Hermione. “Sini –”

Hermione mengangkat tongkat sihirnya, berkata, “Tergeo!” dan menyedot darah kering di wajah Harry. “Trims,” kata Harry, meraba wajahnya yang sekarang bersih. “Bagaimana kelihatannya hidungku?”

“Normal,” kata Hermione cemas. “Kenapa tidak? Harry, apa yang terjadi? Kami dari tadi ngeri!”

“Nanti saja kuberitahu kalian,” kata Harry pendek. Dia sadar sekali bahwa Ginny, Neville, Dean, dan Seamus mendengarkan; bahkan Nick si Kepala-Nyaris-Putus, hantu Gryffindor, telah melayang di atas bangku-bangku untuk mencuri dengar.

“Tapi –”

“Tidak sekarang, Hermione,” kata Harry, dengan suara memperingatkan. Dia sangat berharap mereka semua mengasumsikan dia terlibat sesuatu yang heroik, lebih baik kalau melibatkan beberapa Pelahap Maut dan Dementor. Tentu saja Malfoy akan menyebarkan cerita ini seluas mungkin, tetapi selalu ada kemungkinan cerita itu tidak sampai ke banyak telinga Gryffindor.

Melewati Ron, dia menjangkau dua kaki ayam dan segenggam kentang goreng, namun sebelum dia berhasil mengambilnya, makanan itu lenyap, digantikan oleh puding dan kue-kue.

“Kau ketinggalan acara Seleksi,” kata Hermione, ketika Ron menyambar sepotong besar kue coklat.

“Tapi mengatakan sesuatu yang menarik?” tanya Harry, mencomot sepotong tar karamel.

“Kurang-lebih sama, sebetulnya … menasihati kita semua untuk bersatu menghadapi musuh kita, kau tahu.”

“Dumbledore menyebut-nyebut Voldemort?”

“Belum, tapi dia selalu menyampaikan pidato seriusnya setelah acara makan, kan? Tak lama lagi sekarang.”

“Snape bilang Hagrid terlambat datang ke pesta –” Ron di sela-sela kegiatannya menyuap kue.

“Kebetulan saja bertemu,” kata Harry menghindar.

“Hagrid cuma terlambat beberapa menit,” kata Hermione. “Lihat, dia melambai kepadamu, Harry.”

Harry mendongak memandang meja guru dan nyengir kepada Hagrid, yang memang sedang melambai kepadanya. Hagrid tak pernah berhasil bersikap berwibawa seperti Profesor McGonagall, Kepala Asrama Gryffindor, yang puncak kepalanya mencapai pertengahan antara siku dan bahu Hagrid. Profesor McGonagall duduk di sebelah Hagrid dan tampak tidak menyetujui sambutan antusias ini. Harry heran melihat guru Ramalan, Profesor Trelawney jarang sekali meninggalkan kamar menaranya dan Harry belum pernah melihatnya dalam pesta awal tahun ajaran. Penampilannya sama eksentriknya seperti biasanya, dengan manik-manik berkelap-kelip dan syal-syal panjang, matanya diperbesar ke ukuran luar biasa oleh kacamatanya. Harry yang selama ini menganggap omongan Profesor Trelawney omong kosong belaka, menjadi shock pada akhir tahun ajaran lalu karena ternyata Profesor Trelawney-lah yang membuat ramalan yang menyebabkan Lord Voldemort membunuh orangtua Harry dan menyerang Harry sendiri. Mengetahui hal ini membuat Harry semakin segan bergaul dengan Profesor Trelawney, namun untungnya tahun ini dia tidak akan ikut pelajaran Ramalan lagi. Mata Profesor Trelawney yang besar seperti lampu mercu suar berputar ke arah Harry; Harry buru-buru menoleh memandang meja Slytherin. Draco Malfoy sedang memeragakan tulang hidung yang patah, disambut gelak tawa dan tepuk tangan. Harry menunduk memandang kue karamelnya, dibakar kemarahan lagi. Dia rela memberikan apa saja asal bisa berkelahi dengan Malfoy satu lawan satu …

“Jadi, apa yang diinginkan Profesor Slughorn?” tanya Hermione.

“Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Kementrian,” kata Harry.

“Dia dan semua orang lain yang ada di sini,” dengus Hermione. “Orang-orang menginterogasi kami soal itu di kereta, iya kan, Ron?”

“Yeah,” kata Ron. “Semua ingin tahu apakah kau benar-benar Sang Terpilih –”

“Ada banyak pembicaraan soal topik itu bahkan di antara para hantu,” sela Nick si Kepala-Nyaris-Putus, mencondongkan kepalanya yang nyaris terlepas ke arah Harry, sehingga kepala itu bergoyang mengerikan pada rimpel di sekeliling lehernya. “Aku dianggap ahli-Potter; semua hantu tahu kita bersahabat. Tapi aku sudah memberitahu komunitas hantu aku tidak akan menggerecokimu mencari informasi. ´Harry Potter tahu dia bisa memercayaiku sepenuhnya,´ begitu kataku kepada mereka. ´Lebih baik aku mati daripada mengkhianati kepercayaannya.´”

“Yee itu mah sama saja bohong, kau kan sudah mati,” ledek Ron.

“Sekali lagi kau menunjukkan kepekaanmu ibarat kapak tumpul,” kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan nada terhina, dan dia naik ke udara dan melayang kembali ke ujung meja Gryffindor, tepat ketika Dumbledore bangkit dari kursinya di meja guru. Celotehan dan tawa di sekeliling meja-meja hampir serentak menghilang.

“Selamat menikmati malam yang indah ini!” katanya, tersenyum lebar, lengannya terentang lebar, seolah memeluk seluruh ruangan.

“Tangannya kenapa?” celetuk Hermione kaget.

Hermione bukan satu-satunya yang memperhatikan tangan kanan Dumbledore tampak menghitam dan mati seperti pada malam dia datang menjemput Harry dari rumah keluarga Dursley. Bisik-bisik melanda seluruh ruangan. Dumbledore, menginterpretasinya dengan tepat, hanya tersenyum dan menggoyang lengan bajunya yang berwarna ungu dan keemasan untuk menutupi lukanya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.