Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Kemudian dia merasa Jubah Gaib-nya melayang dari atas tubuhnya dan suara di atasnya berkata, “Hai, Harry.”

Ada kilatan cahaya merah dan tubuh Harry bebas dari kebekuan. Dia bisa mendorong dirinya ke posisi duduk yang lebih bernartabat, buru-buru mengusap darah dari wajahnya yang lebam dan punggung tangannya, dan mengangkat wajah memandang Tonks, yang memegangi Jubah Gaib yang baru ditariknya.

“Kita sebaiknya turun, cepat-cepat,” kata Tonkz, ketika jendela-jendela kereta mulai suram terkena asap dan kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun. “Ayo kita lompat.”

Harry bergegas mengikutinya ke koridor. Tonks membuka pintu kereta dan melompat ke peron, yang rasanya meluncur di bawah mereka sementara kereta semakin cepat. Harry mengikutinya, terhuyung sedikit ketika mendarat, kemudian menegakkan diri, dan masih sempat melihat kereta uap yang merah berkilat itu meluncur, membelok di sudut, dan menghilang dari pandangan.

Angin malam yang dingin terasa nyaman bagi hidungnya yang berdenyut. Tonks mengamatinya. Harry merasa marah dan malu ditemukan dalam posisi yang begitu konyol. Tanpa bicara, Tonks mengulurkan Jubah Gaib-nya.

“Siapa yang melakukannya?”

“Draco Malfoy,” kata Harry getir. “Terima kasih atas … yah …”

“Kembali,” kata Tonks, tanpa tersenyum. Yang bisa terlihat Harry dalam gelap, Tonks masih berambut sama kusam dan wajahnya sama merananya seperti ketika Harry bertemu dengannya di The Burrow. “Aku bisa membetulkan hidungmu kalau kau berdiri diam.”

Harry tidak begitu suka ide ini. Dia bermaksud mendatangi Madam Pomfrey, matron rumah sakit, yang Mantra Penyembuh-nya sedikit lebih dia percayai, namun rasanya tidak sopan mengatakan ini, maka dia berdiri diam dan memejamkan mata.

“Episkey,” kata Tonks.

Hidung Harry terasa sangat panas, kemudian sangat dingin. Harry mengangkat tangannya dan meraba hidungnya dengan hati-hati sekali. Kelihatannya sudah betul.

“Terima kasih banyak!”

“Sebaiknya kaupakai lagi Jubah-mu, dan kita bisa berjalan ke sekolah,” kata Tonks, masih tanpa senyum. Sementara Harry mengerudungkan Jubah-nya ke tubuhnya, Tonks melambaikan tongkat sihirnya. Sesosok makhluk besar berkaki-empat muncul dari tongkat itu dan melesat ke dalam kegelapan.

“Apakah itu Patronus?” tanya Harry, yang pernah melihat Dumbledore mengirim pesan seperti itu.

“Ya, aku mengirim kabar ke sekolah bahwa aku sudah menemukanmu, kalau tidak mereka akan cemas. Ayo, lebih baik kita jangan membuang-buang waktu.”

Mereka beranjak ke jalan yang menuju sekolah.

“Bagaimana kau menemukanku?”

“Kuperhatikan kau tidak turun dari kereta dan aku tahu kau membawa Jubah-mu. Kupikir kau mungkin bersembunyi karena alasan tertentu. Ketika kulihat gorden kompartemen itu tertutup, kupikir sebaiknya aku mengeceknya.

“Tapi apa yang kau lakukan di sini sebetulnya?” Harry bertanya.

“aku ditempatkan di Hogsmeade sekarang, untuk memberi perlindungan ekstra bagi sekolah,” kata Tonks.

“Hanya kau yang ditempatkan di sini, atau –?”

“Tidak, Proudfoot, Savage, dan Dwalish juga di sini.”

“Dawlish, Auror yang diserang Dumbledore tahun lalu?”

“Betul.”

Mereka berjalan dengan susah payah sepanjang jalan yang gelap dan kosong, mengikuti jejak kereta. Harry mengerling Tonks dari bawah Jubah-nya. Tahun lalu Tonks sangat ingin tahu (sampai kadang-kadang agak menyebalkan); dia mudah tertawa, dia bergurau. Sekarang Tonks tampak lebih tua dan jauh lebih serius dan punya niat. Apakah ini dampak atas apa yang terjadi di Kementrian? Harry membayangkan dengan tak nyaman bahwa Hernione pasti akan menyarankan dia mengatakan sesuatu yang menghibur tentang Sirius kepada Tonks, bahwa kejadian itu sama sekali bukan salahnya, namun Harry tak sanggup melakukannya. Dia sama sekali tak menyalahkan Tonks atas kematian Sirius; bukan salah Tonks ataupun orang lain (Harry sendiri lebih pantas disalahkan), tetapi dia tak suka bicara tentang Sirius kalau bisa menghindarinya. Maka mereka berjalan menembus dinginnya malam dalam kesunyian, mantel panjang Tonks berkeresek di tanah di belakang mereka.

Selalu ke sana naik kereta, Harry tak pernah menyadari betapa jauhnya Hogwarts dari Stasiun Hogsmeade. Lega sekali dia akhirnya melihat pilar tinggi di kanan-kiri gerbang, yang pada masing-masing puncaknya bertengger babi hutan liar bersayap. Harry kedinginan, lapar, dan sudah ingin meninggalkan Tonks baru yang muram ini. Namun ketika dia mengulurkan tangan untuk membuka gerbang, ternyata gerbang dirantai.

“Alohomora!” katanya mantap, seraya mengacungkan tongkat sihirnya ke gembok, namun tak terjadi apa-apa.

“Mantra itu tidak bisa digunakan untuk ini,” kata Tonks. “Dumbledore sendiri yang memantrainya.”

Harry memandang ke sekitarnya.

“Aku bisa memanjat tembok,” dia mengusulkan.

“Tidak bisa,” kata Tonks datar. “Semua tembok dipasangi Mantra Penolak Gangguan. Keamanan ditingkatkan seratus kali lipat musim panas ini.”

“Yah, kalau begitu,” kata Harry, mulai merasa jengkel pada Tonks yang tidak membantu sama sekali, “Kurasa aku harus tidur di sini dan menunggu pagi datang.”

“Ada yang datang menjemputmu,” kata Tonks. “Lihat.”

Ada lentera terayun di kaki kastil di kejauhan. Saking senangnya melihat lentera itu, Harry merasa dia bahkan bisa menanggung kritik serak Filch dan omelannya tentang bagaimana kedisiplinannya soal waktu akan membaik kalau secara teratur dia dikenai siksaan-ibu jari. Ketika cahaya kuning yang berpendar itu berjarak kira-kira tiga meter dari mereka, dan Harry sudah melepas Jubah Gaib-nya supaya dia bisa terlihat, barulah dia mengenali, dengan kebencian yang lansung menjalari tubuhnya, hidung bengkok mencuat dan rambut hitam panjang berminyak Severus Snape.

“Wah, wah, wah,” cemooh Snape, sembari mencabut tongkat sihir dan mengetuk gembok, sehingga rantainya meluncur mundur dan gerbang berderit membuka. “Baik sekali kau mau muncul, Potter, meskipun jelas sekali kau sudah memutuskan bahwa memakai jubah seragam sekolah akan mengurangi kekerenanmu.”

“Saya tak bisa berganti pakaian, koper saya tak –” Harry mau menjelaskan, namun Snape memotongnya.

“Tak perlu menunggu, Nymphadora. Potter cukup – ah — aman di tanganku.”

“Pesanku kumaksudkan untuk diterima Hagrid,” kata Tonks mengernyit.

“Hagrid terlambat datang untuk pesta awal tahun ajaran, sama seperti Potter ini, jadi aku yang menerimanya. Dan kebetulan,” kata Snape, mundur supaya Harry bisa lewat, “Aku tertarik melihat Patronus barumu.”

Snape menutup gerbang dengan dentang keras di depan hidung Tonks dan mengetuk rantainya dengan tongkat sihirnya lagi, sehingga rantai itu meluncur, kembali ke tempatnya semula.

“Menurutku Patronus lamamu lebih bagus,” kata Snape, kebencian dalam suaranya kentara sekali, “Yang baru ini kelihatannya lemah.”

Selagi Snape berbalik mengayunkan lenteranya, Harry melihat, sekilas, kekagetan dan kemarahan di wajah Tonks. Kemudian dia hilang ditelan kegelapan.

“Selamat malam,” Harry menoleh dan berteriak, ketika dia memulai perjalanannya menuju kastil dengan Snape. “Terima kasih atas … segalanya.”

“Sampai ketemu lagi, Harry.”

Snape tidak bicara selama kira-kira satu menit. Harry merasa seakan tubuhnya memancarkan gelombang kebencian yang sangat kuat sehingga tidak masuk akal rasanya Snape tidak merasakannya membakar tubunya. Harry sudah membenci Snape sejak pertemuan pertama mereka, namun Snape telah membuat dirinya untuk selamanya tak mungkin dimaafkan Harry karena sikapnya terhadap Sirius. Apa pun yang dikatakan Dumbledore, Harry punya banyak waktu untuk merenungkannya selama musim panas, dan dia menyimpulkan bahwa sindiran-sindiran Snape kepada Sirius tentang Sirius yang tetap aman bersembunyi sementara anggota Orde Phoenix yang lain memerangi Voldemort, barangkali menjadi pemicu utama Sirius bergegas ke Kementrian pada malam dia meninggal itu. Harry berpegang teguh pada gagasan ini, karena pendapat ini membuatnya bisa menyalahkan Snape, yang membuatnya merasa puas, dan juga karena dia tahu kalau ada yang tidak menyesal Sirius meninggal, orang yang sekarang berjalan di sebelahnya dalam kegelapan inilah orangnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.