Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Yah, siapa tahu,” kata Malfoy, tersenyum samar. “Aku mungkin sudah er menangani hal-hal lebih besar dan hebat.”

Meringkuk di atas rak bagasi di bawah Jubah-nya, jantung Harry mulai berdebar keras. Apa yang akan dikatakan Ron dan Hermione tentang ini? Crabbe dan Goyle melongo memandang Malfoy, rupanya mereka sama sekali tak tahu soal rencana menangani hal-hal lebih besar dan hebat. Bahkan wajah angkuh Zabini kini dihiasi rasa ingin tahu. Pansy meneruskan membelai pelan rambut Malfoy, tampak takjub.

“Maksudmu Dia?”

Malfoy mengangkat bahu.

“Ibu menginginkan aku menyelesaikan sekolahku, tapi aku sendiri, aku tidak menganggap itu begitu perlu sekarang ini. Maksudku, coba pikirkan … kalau Pangeran Kegelapan berkuasa, apakah dia akan peduli berapa OWL atau NEWT yang kita dapat? Tentu saja tidak … yang penting jenis pelayanan seperti apa yang dia terima, tingkat kesetiaan yang ditunjukkan kepadanya.”

“Dan kaupikir kau bisa melakukan sesuatu untuknya?” tanya Zabini pedas. “Enam belas tahun dan bahkan belum berkualifikasi?”

“Bukankah baru kubilang? Barangkali dia tidak peduli apakah aku berkualifikasi atau tidak. Barangkali pekerjaan yang dia ingin kukerjakan bukan sesuatu yang memerlukan kualifikasi,” kata Malfoy pelan.

Crabbe dan Goyle dua-duanya duduk dengan mulut ternganga seperti gargoyle. Pansy memandang Malfoy seakan belum pernah melihat sesuatu yang memesonakan seperti itu.

“Hogwarts sudah kelihatan,” kata Malfoy, kentara benar menikmati efek yang ditimbulkannya ketika dia menunjuk ke luar jendela yang gelap. “Lebih baik kita pakai jubah kita.”

Harry terlalu sibuk mengawasi Malfoy, dia tidak melihat Goyle mengambil kopernya; ketika dia mengayunkannya ke bawah, koper itu menghantam keras sisi kepala Harry. Harry mengeluarkan jerit kesakitan tertahan dan Malfoy mendongak, mengernyit memandang rak bagasi.

Harry tidak takut kepada Malfoy, namun dia tak ingin ketahuan sedang bersembunyi di bawah Jubah Gaib-nya oleh serombongan anak Slytherin yang tidak ramah. Dengan mata masih berair dan kepala masih berdenyut, dia mencabut tongkat sihirnya, berhati-hati agar Jubah tidak tertarik, dan menunggu, dengan napas tertahan. Betapa leganya dia, Malfoy tampaknya memutuskan dia hanya membayangkan suara itu. Dia memakai jubahnya seperti yang lain, menggembok kopernya dan, selagi kereta bertambah pelan seperti merayap, mengancingkan mantel bepergian baru yang tebal di sekeliling lehernya.

Harry bisa melihat koridor-koridor dipenuhi anak-anak lagi dan berharap Hermione dan Ron akan membawakan barang-barangnya ke peron. Dia terpaksa harus bertahan di tempatnya sampai kompartemen ini kosong. Akhirnya, dengan sentakan terakhir, kereta berhenti total. Goyle membuka pintu dan keluar menyeruak di antara rombongan anak-anak kelas dua, meninju mereka agar minggir. Crabbe dan Zabini mengikuti.

“Kau keluar dulu,” Malfoy berkata kepada Pansy, yang menunggunya dengan tangan terjulur, seakan berharap Malfoy akan menggandengnya. “Aku mau mengecek sesuatu.”

Pansy pergi. Sekarang Harry dan Malfoy hanya berdua dalam kompartemen. Orang-orang lewat, turun ke peron yang gelap. Malfoy bergerak ke pintu kompartemen dan menurunkan gordennya, sehingga orang-orang di koridor tidak bisa mengintip ke dalam. pia kemudian membungkuk di atas kopernya dan membukanya lagi.

Harry mengintip dari tepi rak bagasi, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Apa yang ingin disembunyikan Malfoy dari Pansy? Apakah dia akan segera melihat barang rusak misterius yang sangat penting untuk diperbaiki?

“Petrificus Totalus!”

Tanpa diduga Malfoy mengacungkan tongkat sihirnya kepada Harry, yang langsung lumpuh. Seperti dalam gerakan pelan, dia terjungkal dari rak bagasi dan jatuh, dengan debam keras menyakitkan, di kaki Malfoy, Jubah Gaib terperangkap di bawahnya, seluruh tubuhnya kelihatan dengan kaki masih terlipat canggung dalam posisi meringkuk berlutut. Dia tak bisa menggerakkan satu otot pun dia hanya bisa memandang Malfoy, yang tersenyum lebar.

“Sudah kuduga,” katanya girang. “Kudengar koper Goyle menghantammu. Dan kupikir aku melihat ada sesuatu yang putih melesat di udara setelah Zabini kembali …” Matanya sejenak memandang sepatu Harry. “Rupanya kau yang memblok pintu waktu Zabini masuk?

Dia memandang Harry beberapa saat

“Kau tidak mendengar sesuatu yang penting, Potter. Tapi mumpung kau di sini …”

Dan dia menginjak, kuat-kuat, wajah Harry. Harry merasa tulang hidungnya patah, darah muncrat ke mana-mana.

“Itu dari ayahku. Sekarang, kita lihat …”

Malfoy menarik Jubah dari bawah tubuh Harry yang tak bergerak dan mengerudungkannya di atasnya.

“Kukira mereka tak akan menemukanmu sampai kereta sudah tiba kembali di London,” katanya pelan. “Sampai ketemu lagi, Potter … atau tidak.”

Dan dengan sengaja menginjak jari-jari tangan Harry, Malfoy meninggalkan kompartemen.

-oO0O0-

 

08. KEMENANGAN SNAPE

Harry tak bisa menggerakkan satu otot pun. dia tergeletak di bawah Jubah Gaibnya, merasakan darah dari hidungnya mengalir, panas,basah,di atas wajahnya, mendengarkan suara-suara dan langkah-langkah kaki di koridor. Dia langsung berpikir pasti akan ada orang yang mengecek kompartemen-kompartemen sebelum kereta berangkat lagi. Namun dia segera patah semangat menyadari bahwa,sekalipun ada yang melongok ke dalam kompartemen,orang itu tak akan melihat maupun mendengarnya. Harapan satu-satunya hanyalah ada orang yang akan masuk dan menginjaknya.

Belum pernah Harry membenci Malfoy sebesar saat itu, ketika dia tergeletak seperti kura-kura yang terbalik tak berdaya, darah menetes amis ke dalam mulutnya yang terbuka. Sungguh konyol membuat dirinya berada dalam situasi semacam ini … dan sekarang sisa langkah-langkah terakhir sudah semakin menjauh,semua orang sudah berjalan di sepanjang peron yang gelap di luar. Harry bisa mendengar seretan koper dan celoteh anak-anak.

Ron dan Hermione akan menyangka dia sudah turun dari kereta tanpa menunggu mereka. Saat mereka tiba di Hogwarts dan duduk di tempat mereka di Aula Besar, mencari-cari di sepanjang meja Gryffindor beberapa kali dan akhirnya menyadari bahwa dia tidak ada, Harry tidak diragukan lagi, sudah setengah perjalanan menuju London.

Dia berusaha membuat suara, bahkan cuma dengkur, namun tak berhasil. Kemudian dia ingat bahwa beberapa penyihir, seperti Dumbledore, bisa melakukan mantra tanpa bicara, maka dia berusaha memanggil tongkat sihirnya yang telah terlempar dari tangannya, dengan mengucapkan Accio tongkat! berulang-ulang dalam benaknya, namun tak terjadi apa-apa.

Rasanya dia bisa mendengar gemerisik pepohonan yang mengelilingi danau, dan bunyi uhu burung hantu di kejauhan, namun tak ada tanda-tanda sedang diadakan pencarian, atau bahkan (dia merasa agak mengharapkan ini) suara-suara panik mempertanyakan kemana perginya Harry Potter. Perasaan tak berdaya menjalarinya ketika dia membayangkan konvoi kereta yang ditarik oleh Thestral bergerak menuju sekolah dan gelak tawa yang terdengar dari kereta yang dinaiki Malfoy. Di dalam kereta itu tentu Malfoy akan menceritakan serangannya terhadap Harry kepada teman-teman Slytherin-nya.

Kereta menyentak, menyebabkan Harry berguling dan berbaring di sisi tubuhnya. Sekarang dia memandang bagian bawah tempat duduk yang berdebu alih-alih langit. Hogwarts Express sudah akan berangkat lagi dan tak seorang pun tahu dia masih di atasnya …

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.