Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Ketika tiba di kompartemen C, mereka langsung melihat bahwa yang diundang Slughorn bukan hanya mereka berdua, meskipun dinilai dari sambutan antusias Slughorn, Harry adalah yang paling diharapkan kehadirannya.

“Harry, anakku!” kata Slughorn, melompat bangun begitu melihat Harry, sehingga perut besarnya yang terbungkus beludru seakan memenuhi sisa ruang dalam kompartemen. Kepala botaknya dan kumis peraknya yang besar berkilau dalam cahaya matahari sama terangnya dengan kancing-kancing emas di rompinya. “Senang melihatmu, senang melihatmu! Dan kau pasti Mr Longbottom!”

Neville mengangguk, tampak ketakutan. Mengikuti isyarat Slughorn, mereka duduk berhadapan di dua kursi kosong yang tersisa, yaitu yang paling dekat pintu. Harry mengedarkan pandang pada para undangan yang lain. Dia mengenali anak Slytherin yang seangkatan dengan mereka, anak laki-laki jangkung berkulit hitam, dengan tulang pipi tinggi dan mata panjang sipit; juga ada dua anak laki-laki kelas tujuh yang tidak dikenal Harry, dan terimpit di sudut di sebelah Slughorn dan tampak seakan dia tak yakin sepenuhnya kenapa dia bisa berada di sana, Ginny.

“Nah, kalian sudah kenal semuanya?” Slughorn menanyai Harry dan Neville. “Blaise Zabini di tingkat yang sama dengan kalian, tentu”

Zabini tidak menunjukkan tanda-tanda mengenali ataupun menyapa, Harry dan Neville pun tidak. Anak-anak Gryffindor dan Slytherin pada prinsipnya saling membenci.

“Ini Cormac McLaggen, mungkin kalian pernah bertemu? Belum?”

McLaggen, seorang pemuda bertubuh besar dan berambut kawat, mengangkat tangan dan Harry dan Neville membalas mengangguk kepadanya.

“dan ini Marcus Belby, aku tak tahu apakah?”

Belby, yang kurus dan bertampang-gugup, tersenyum tegang.

“dan gadis sangat menarik ini mengatakan dia mengenal kalian?” Slughorn mengakhiri perkenalannya.

Ginny menyeringai kepada Harry dan Neville dari balik punggung Slughorn.

“Wah, ini menyenangkan sekali,” kata Slughorn gembira. “Kesempatan untuk mengenal kalian sedikit lebih baik. Ini, silakan ambil serbet. Aku sudah menyiapkan makan siang sendiri. Troli, seingatku, banyak Tongkat Likor-nya, dan sistem pencernaan orang tua yang malang tak cukup kuat untuk makanan semacam itu … kalkun, Belby?”

Belby tersentak, dan menerima apa yang tampak seperti separo kalkun dingin.

“Aku tadi sedang memberitahu si Marcus ini bahwa aku senang mengajar pamannya Damocles,” Slughorn memberitahu Harry dan Neville, sambil sekarang mengedarkan sekeranjang roti. “Penyihir luar biasa, luar biasa, dan Order of Merlin-nya memang layak sekali diterimanya. Kau sering bertemu pamanmu, Marcus?”

Celakanya Belby baru saja menyuap sepotong besar kalkun. Dalam ketergesaannya menjawab Slughorn dia menelan terlalu cepat, tersedak, dan wajahnya berubah ungu.

“Anapneo,” kata Slughorn tenang, mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Belby, yang tenggorokannya langsung lega.

“Tidak … tidak sering, tidak,” sengal Belby, matanya berair.

“Yah, maklum, pasti dia sibuk,” kata Slughorn, memandang Belby ingin tahu. “Tentunya dia perlu kerja keras sewaktu menciptakan Ramuan Kutukan-Serigala!”

“Saya kira …” kata Belby, yang kelihatannya takut menyuap kalkun lagi sebelum yakin Slughorn sudah selesai dengannya. “Er … sebetulnya Paman dan ayah saya tidak begitu rukun, jadi saya tak tahu banyak tentang …”

Suaranya menghilang ketika Slughorn memberinya senyum dingin dan beralih menoleh ke McLaggen.

“Nah, kau, Cormac,” kata Slughorn, “kebetulan aku tahu kau sering bertemu pamanmu Tiberius, karena dia punya foto bagus kalian berdua sedang berburu Nogtails di Norfolk, kalau tak salah?”

“Oh, yeah, perburuan yang sangat menyenangkan,” kata McLaggen. “Kami pergi dengan Bertie Higgs dan Rufus Scrimgeour-sebelum dia menjadi Menteri, tentu …”

“Ah, kau kenal Bertie dan Rufus juga?” wajah Slughorn berseri. Sekarang dia menawarkan senampan kecil pai; entah bagaimana, Belby tidak ditawari. “Ceritakan padaku …”

Ternyata kecurigaan Harry benar. Semua orang di sini rupanya diundang karena mereka ada hubungannya dengan orang yang penting atau punya pengaruh besar-semuanya kecuali Ginny. KZabini, yang diinterogasi setelah McLaggen, ternyata ibunya penyihir yang kecantikannya tersohor (dari yang bisa disimpulkan Harry, dia menikah tujuh kali, semua suaminya meninggal secara misterius dan mewariskan beronggok emas). Berikutnya giliran Neville, sepuluh menit yang sangat tidak nyaman, karena orangtua Neville, Auror terkenal, telah disiksa sampai menjadi gila oleh Bellatrix Lestrange dan beberapa kroni Pelahap Maut-nya. Pada akhir wawancara, Harry mendapat kesan bahwa Slughorn menunda keputusan untuk Neville, masih ingin melihat apakah dia mewarisi kecakapan orang tuanya.

“Dan sekarang,” kata Slughorn, tubuh gemuknya bergerak di tempat duduknya dengan gaya seorang pembawa acara yang memperkenalkan bintang utamanya. “Harry Potter! Mulai dari mana? Kurasa aku hampir belum menyingkap permukaannya ketika kita bertemu musim panas lalu!”

Dia memandang Harry sejenak seolah Harry sepotong besar kalkun yang lezat, kemudian berkata, “‘Sang Terpilih’, begitu mereka menyebutmu sekarang!”

Harry diam saja. Belby, McLaggen, dan Zabini semua memandangnya.

“Tentu saja,” kata Slughorn, menatap Harry lekat-lekat, “sudah ada desas-desus selama bertahun-tahun … aku ingat waktu yah setelah malam mengerikan itu LBy-James dan kau selamat dan berita yang beredar adalah bahwa kau pastilah memiliki kekuatan yang luar biasa”

Zabini terbatuk kecil, yang jelas dimaksudkan menyiratkan keraguan dan kegelian. Suara marah terdengar dari belakang Slughorn.

“Yeah, Zabini, karena kau sangat berbakat … berakting..”

“Wah, wah!” decak Slughorn senang, menoleh memandang Ginny yang sedang mendelik kepada Zabini dari balik perut besar Slughorn. “Hati-hati, Blaise! Aku melihat gadis ini melakukan Kutukan Kepak Kelelawar yang hebat sekali waktu aku melewati gerbongnya! Kalau aku, aku tak berani membuatnya marah!”

Zabini cuma tampak menghina.

“Bagaimanapun juga,” kata Slughorn, kembali berpaling ke Harry. “Begitulah desas-desus yang beredar musim panas ini. Tentu saja, kita tak tahu bisa dipercaya atau tidak, Prophet sudah diketahui mencetak data yang tidak benar, membuat kekeliruan tapi tampaknya tak diragukan lagi, berhubung banyak saksinya, bahwa memang terjadi keonaran cukup hebat di Kementerian dan bahwa kau terlibat dalam peristiwa itu!”

Harry, yang tak bisa melihat jalan keluar dari sini kecuali berbohong, mengangguk namun tetap tidak berkata apa-apa. Slughorn berseri-seri memandangnya.

“Sangat rendah hati, sangat rendah hati, pantas Dumbledore sangat menyukaimu kau memang di sana, kalau begitu? Tapi cerita-cerita yang lain-sangat sensasional, tentu saja, kita tak tahu lagi apa yang bisa dipercaya ramalan yang sangat terkenal ini, misalnya …”

“Kami tidak pernah mendengar ramalan,” kata Neville, merona semerah bunga geranium ketika mengucapkannya.

“Itu betul,” kata Ginny mengukuhkan. “Neville dan saya juga di sana, dan semua omong kosong ‘Sang Terpilih’ ini cuma rekaan Prophet seperti biasanya.”

“Kalian berdua juga di sana?” kata Slughorn sangat tertarik, bergantian memandang Ginny dan Neville, namun keduanya sudah mengatup erat seperti kerang di depan senyum membujuk Slughorn. “Ya … memang benar Prophet sering membesar-besarkan, tentu saja …” Slughorn melanjutkan, kedengarannya agak kecewa, “Aku ingat dear Gwenog memberitahuku-Gwenog Jones, maksudku, tentu, kapten Holyhead Harpies …”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.