Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kami tak bisa, Harry,” kata Hermione, tampak menyesal. “Ron dan aku harus ke gerbong prefek dulu dan kemudian berpatroli di koridor-koridor sebentar.”

“Oh yeah, aku lupa,” kata Harry.

“Kalian semua sebaiknya segera naik ke kereta, tinggal beberapa menit lagi,” kata Mrs Weasley, melihat arlojinya. “Nah, semoga semester ini menyenangkan, Ron …”

“Mr Weasley, boleh saya bicara sebentar?” kata Harry, yang mendadak mengambil keputusan. “Tentu,” kata Mr Weasley, yang tampak agak terkejut, namun toh mengikuti Harry sampai di luar jangkauan pendengaran yang lain.

Harry sudah memikirkannya baik-baik dan sampai pada kesimpulan bahwa, jika dia harus bercerita kepada seseorang, Mr Weasley-lah orang yang paling tepat. Pertama, karena dia bekerja di Kementerian, dan karena itu dalam posisi paling tepat untuk melakukan penyelidikan lebih jauh, dan kedua, karena Harry berpendapat tak terlalu banyak risiko Mr Weasley akan meledak marah.

Dia bisa melihat Mrs Weasley dan si Auror berwajah suram melempar pandang curiga kepada mereka berdua ketika mereka menjauh.

“Ketika kita di Diagon Alley -” Harry mulai, tapi Mr Weasley menyelanya dengan menyeringai.

“Apakah aku akan diberitahu ke mana kau, Ron, dan Hermione menghilang sementara mestinya kalian berada di ruang belakang toko Fred dan George?”

“Bagaimana Anda?”

“Harry, sudahlah. Kau bicara dengan orang yang membesarkan Fred dan George.”

“Er … yeah, baiklah, kami tidak berada di ruang belakang.”

“Baik, kalau begitu, marilah kita dengar yang terburuk.”

“Yah, kami membuntuti Draco Malfoy. Kami menggunakan Jubah Gaib saya.”

“Apa kau punya alasan khusus melakukan ini, atau hanya sekadar iseng?”

“Karena saya mengira Malfoy merencanakan sesuatu,” kata Harry, mengabaikan pandangan Mr Weasley yang menyiratkan campuran putus asa dan geli. “Dia kabur dari ibunya dan saya ingin tahu kenapa.”

“Tentu kau ingin tahu,” kata Mr Weasley, kedengarannya menyerah. “Nah? Apakah kau berhasil tahu kenapa?”

“Dia ke Borgin and Burkes,” kata Harry, “dan mengancam pemiliknya, Borgin, untuk membantunya membetulkan sesuatu. Dan dia mengatakan dia ingin Borgin menyimpan sesuatu yang lain untuknya. Kedengarannya barang yang sama seperti yang perlu diperbaiki. Sepertinya dua barang itu sepasang. Dan …”

Harry menarik napas dalam-dalam.

“Ada yang lain. Kami melihat Malfoy melompat menjauh ketika Madam Malkin mencoba menyentuh lengan kirinya. Saya rasa dia sudah dicap dengan Tanda Kegelapan. Saya rasa dia menggantikan ayahnya sebagai Pelahap Maut.”

Mr Weasley tampak kaget. Selewat beberapa saat dia berkata, “Harry, aku meragukan apakah Kau-Tahu-Siapa akan mengizinkan anak berumur enam belas tahun”

“Apakah ada orang yang betul-betul tahu apa yang akan atau tidak akan dilakukan Kau-Tahu-Siapa?” tanya Harry berang. “Mr Weasley, saya minta maaf, tapi apakah itu tidak cukup berharga untuk diselidiki? Jika Malfoy menginginkan sesuatu diperbaiki dan dia harus mengancam Borgin untuk melakukannya, barangkali itu sesuatu yang ada hubungannya dengan Ilmu Hitam atau berbahaya, kan?”

“Aku sangsi, jujur saja, Harry,” kata Mr Weasley perlahan. “Soalnya waktu Lucius Malfoy ditangkap, kami menggeledah rumahnya. Kami mengambil semua yang bisa berbahaya.”

“Siapa tahu ada yang ketinggalan,” kata Harry bandel.

“Yah, mungkin juga,” kata Mr Weasley, namun Harry tahu dia berkata begitu sekadar menyenangkannya.

Terdengar peluit kereta di belakang mereka. Hampir semua sudah naik ke kereta dan pintu-pintunya mulai menutup.

“Sebaiknya kau bergegas,” kata Mr Weasley, sementara Mrs Weasley berteriak, “Harry, cepat!” Harry bergegas dan Mr dan Mrs Weasley membantunya mengangkat kopernya ke kereta.

“Nah, Nak, kau akan datang di rumah kami untuk merayakan Natal. Sudah diatur dengan Dumbledore, jadi kami akan bertemu denganmu tak lama lagi,”

kata Mrs Weasley lewat jendela, ketika Harry membanting pintu di belakangnya dan kereta mulai bergerak. “Jaga dirimu baik-baik dan …”

Kereta bertambah cepat.

“… jangan nakal dan …”

Mrs Weasley sekarang berlarian mengejar kereta.

“… jangan ambil risiko!”

Harry melambai sampai kereta berbelok dan Mr dan Mrs Weasley menghilang dari pandangan, kemudian berbalik untuk melihat yang lain ke mana. Ron dan Hermione pastilah ada di gerbong prefek, tetapi Ginny tak jauh di depannya, sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Dia mendekati Ginny, menyeret kopernya.

Anak-anak memandangnya tanpa malu-malu ketika dia mendekat. Mereka bahkan menempelkan wajah ke jendela kompartemen mereka agar bisa melihatnya. Harry sudah menduga jumlah pandangan melongo dan terpesona yang akan diterimanya akan meningkat semester ini setelah munculnya desas-desus “Sang Terpilih” dalam Daily Prophet, namun dia tidak menikmati sensasi berada dalam lampu sorot yang kelewat terang. Dia menepuk bahu Ginny.

“Kita cari kompartemen yuk?”

“Aku tak bisa, Harry, aku sudah janjian dengan Dean,” kata Ginny ceria. “Sampai nanti.”

“Baiklah,” kata Harry. Dia merasakan denyut kejengkelan yang aneh ketika Ginny pergi, rambut merahnya yang panjang menari-nari di belakangnya. Harry sudah terbiasa dengan keberadaan Ginny selama musim panas, sehingga dia hampir lupa bahwa Ginny tidak bergaul dengan dia, Ron, dan Hermione di sekolah. Kemudian dia mengerjap dan memandang berkeliling, dia dikelilingi cewek-cewek yang terpesona.

“Hai, Harry!” kata suara yang sudah dikenalnya dari belakangnya.

“Neville!” kata Harry lega, menoleh melihat seorang cowok bermuka-bundar bersusah payah mendekatinya.

“Halo, Harry,” kata seorang cewek berambut panjang dengan mata redup menonjol yang ada di belakang Neville.

“Luna, apa kabar?”

“Baik sekali, terima kasih,” kata Luna. Dia menggenggam majalah di dadanya, huruf besar-besar di sampul majalah itu mengumumkan bahwa ada hadiah kacamata-hantu di dalamnya.

“The Quibbler masih laris?” tanya Harry, yang memiliki perasaan suka khusus untuk majalah itu, yang tahun lalu diberinya wawancara eksklusif.

“Oh ya, tirasnya naik terus,” kata Luna senang.

“Ayo kita cari tempat duduk,” ajak Harry, dan ketiganya berjalan sepanjang kereta melewati gerombolan anak-anak yang memandang kagum Harry. Akhirnya mereka menemukan kompartemen kosong dan Harry bergegas masuk dengan bersyukur.

“Mereka bahkan memandang kami,” kata Neville, menunjuk dirinya dan Luna, “karena kami bersamamu!”

“Mereka memandang kalian karena kalian ada di Kementerian juga,” kata Harry, seraya menaikkan kopernya ke rak bagasi. “Petualangan kecil kita ditulis besar-besaran di Daily Prophet, kalian pasti sudah melihatnya.”

“Ya, tadinya kupikir Nenek akan marah dengan adanya segala publisitas itu,” kata Neville, “tapi ternyata dia malah senang betul. Dia bilang aku mulai seperti ayahku akhirnya. Dia membelikanku tongkat sihir baru, lihat!”

Neville mengeluarkan tongkat sihirnya dan memperlihatkannya kepada Harry.

“Kayu ceri dan rambut unicorn,” katanya bangga. “Dugaan kami ini salah satu tongkat sihir terakhir yang dijual Ollivander, dia menghilang hari berikutnya, balik sini, Trevor!”

Dan Neville masuk ke kolong tempat duduknya untuk mengambil kembali kataknya yang memang sering kabur mencari kebebasan.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.