Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Saya—apa—naga?” gagap Perdana Menteri.

“Ya, tiga,” kata Fudge. “Dan satu sphinx. Nah, selamat siang.”

Perdana Menteri sungguh berharap bahwa naga dan sphinx adalah yang terburuk, namun ternyata tidak. Kurang dari dua tahun kemudian, Fudge muncul dari perapian lagi, kali dengan berita bahwa ada pelarian besar-besaran dari Azkaban.

“Pelarian besar-besaran?” Perdana Menteri mengulang parau.

“Tak perlu kuatir, tak perlu kuatir!” teriak Fudge. Satu kakinya sudah di dalam lidah api. “Kami akan menangkap mereka dalam waktu singkat—hanya saja saya pikir anda perlu tahu!”

Dan sebelum Perdana Menteri bisa berteriak, “Tunggu dulu!” Fudge telah menghilang dalam siraman bunga api hijau.

Apa pun yang dikatakan pers dan partai lawan, Perdana Menteri bukanlah orang bodoh. Tidak luput dari perhatiannya bahwa, kendati Fudge meyakinkannya agar tenang dalam pertemuan pertama mereka, mereka kini agak sering bertemu, dan juga dalam setiap kunjungan Fudge semakin bingung. Walaupun dia tak suka memikirkan Menteri Sihir (atau, seperti dia selalu menyebut Fudge dalam kepalanya, Menteri yang Lain), Perdana Menteri mau tak mau cemas bahwa kali berikutnya Fudge muncul, dia akan membawa berita yang lebih menakutkan. karena itu, kedatangan Fudge, yang melangkah keluar dari perapian sekali lagi, tampak berantakan dan ketakutan dan sangat heran bahwa Perdana Menteri tidak tahu kenapa persisnya dia berada di sana, adalah hal terburuk yang terjadi selama seminggu yang luar biasa suram ini.

“Bagaimana mungkin saya tahu apa yang sedang terjadi di—er—komunitas sihir?” bentak Perdana Menteri sekarang. “Saya punya negara untuk diurus dan cukup banyak masalah saat ini tanpa—”

“Masalah kita sama,” potong Fudge. “Jembatan Brockdale tidak rusak. Dan itu bukan angin ribut. Pembunuhan itu bukan perbuatan Muggle. Dan keluarga Herbert Chorley akan lebih aman tanpa dia. Kami saat ini sedang mengatur untuk memindahkannya ke Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir. Perpindahan akan dilaksanakan malam ini.”

“Apa maksud Anda…saya rasa saya tidak…apa?” gertak Perdana Menteri.

Fudge menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Perdana Menteri, saya sungguh menyesal terpaksa harus memberitahu Anda bahwa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut telah kembli.”

“Kembali? Sewaktu Anda mengatakan ´kembali´…dia hidup? Maksud saya—”

Perdana Menteri mencari-cari dalam ingatannya rincian percakapan mengerikan tiga tahun sebelumnya, ketika Fudge memberitahunya tentang penyihir yang paling ditakuti, penyihir yang telah melakukan seribu tindak kriminal sebelum menghilang secara misterius lima belas tahun yang lalu.

“Ya, hidup,” kata Fudge. “Maksud saya—saya tak tahu—apakah orang bisa dikatakan hidup kalau dia tak bisa dibunuh? Sebenarnya saya tidak mengerti, dan Dumbledore tidak mau menjelaskan dengan gamblang—tapi bagaimanapun juga, dia jelas punya tubuh dan bisa berjalan dan bicara dan membunuh, maka saya kira untuk keperluan pembicaraan kita, ya, dia hidup.”

Perdana Menteri tidak tahu harus menanggapi bagaimana, namun kebiasaan yang telah melekat pada dirinya untuk selalu tampil serba tahu tentang topik apa saja yang muncul, membuatnya mencari-cari detail yang bisa diingatnya dalam pembicaraan mereka sebelumnya.

“Apakah Serius Black bersama—er—Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut?”

“Black?Black?” kata Fudge bingung, memutar-mutar topi bowlernya dengan cepat dengan jari-jarinya. “Sirius Black, maksud Anda? Jenggot Merlin, tidak, Black sudah meninggal. Ternyata kami—er—keliru tentang Black. Dia tidak bersalah. Dan dia juga tidak bersekutu dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Maksud saya,” dia menambahkan membela diri, memutar topinya lebih cepat, “semua bukti menunjuk—kami punya lebih dari lima puluh saksi mata—tapi bagaimanapun juga, seperti yang saya katakan, dia sudah meninggal. Dibunuh, sebenarnya. Di kantor Kementrian Sihir. Akan ada penyelidikan, sebetulnya…”

Perdana Menteri heran sendiri ketika dia merasa kasihan kepada Fudge saat itu. Namun rasa kasihannya segera dipudarkan oleh rada puas diri, saat terpikir olehnya bahwa, sekalipun dia tak bisa muncul dari dalam perapian, tidak pernah terjdi pembunuhan departemen pemerintahan mana pun di bawah tanggung jawabnya…belum, paling tidak…

Sementara Perdana Menteri sembunyi-sembunyi mengetuk papan mejanya, Fudge melanjutkan, “Tapi Black sudah lewat. Persoalannya sekarang, kita sedang perang, Perdana Menteri, dan harus ada langkah-langkah yang diambil.”

“Perang?” ulang Perdana Menteri gugup. “tentunya pernyataan itu agak berlebihan?”

“Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut yang kabur dari Azkaban Januari lalu sekarang sudah bergabung dengannya,” kata Fudge, berbicara makin lama makin cepat, dan memutar topinya begitu cepatnya sehingga seperti pusaran hijau-limau. “Sejak bergerak terang-terangan, mereka menyebabkan malapetaka di mana-mana. Jembatan Brockdale—dia yang melakukannya, Perdana Menteri, dia mengancam akan mengadakan pembunuhan massal Muggle kalaus aya tidak mau menyisih untuknya dan—”

“Astaga, jadi kesalahan Anda-lah orang-orang ini terbunuh dan saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tiang-penyangga berkarat dan perpanjangan-sendi keropos dan entah apa lagi!” kata Perdana Menteri berang.

“Salah saya!” kata Fudge, wajahnya memerah. “apakah Anda mau mengatakan Anda mau memfitnah saya?”

“Barangkali tidak,” kata Perdana Menteri, bangkit berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan, tapi saya akan mengerahkan segala upaya untuk menangkap si penjahat sebelum dia melakukan kekejian seperti itu!”

“Apakah Anda benar-benar mengira saya belum mengerahkan segala upaya? tuntut Fudge panas. “Semua Auror di Kementrian sudah—dan sedang—berusaha mencarinya dan menangkapi para pengikutnya, tapi yang kita bicarakan ini salah satu penyihir paling hebat sepanjang masa, penyihir yang berhasil menghindari penangkapan selama hampir tiga dekade!”

“Jadi, saya rasa Anda akan memberitahu saya dia menyebabkan angin ribut di West Country juga?” kata Perdana Menteri, kemarahannya meningkat seiring setiap langkahnya. Sungguh mengesalkan berhasil mengetahui alasan terjadinya malapetaka mengerikan ini dan tidak bisa memberitahu publik, hampir sama buruknya dengan kalau itu kesalahan pemerintahan.

“Itu bukan angin ribut,” kata Fudge merana.

“Maaf!” bentak Perdana Menteri, sekarang benar-benar mengentakkan kaki. “Pohon-pohon tercabut, atap-atap beterbangan, tiang-tiang lampu bengkok, luka-luka mengerikan—”

“Itu ulah Pelahap Maut,” kata Fudge. “Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh disebut…dan kami mencurigai keterlibatan raksasa.”

Perdana Menteri langsung berhenti berjalan seolah dia menabrak dinding yang tak kelihatan.

“Keterlibatan apa?”

Fudge meringis. “Dia menggunakan raksasa kali lalu, ketika ingin memberi efek luar biasa. Kantor Informasi yang Keliru telah bekerja dua puluh empat jam sehari, kami mengirim tim-tim Obliviator untuk memodifikasi memori semua Muggle yang melihat apa yang sesungguhnya terjadi, sebagian besar personel Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib berkeliaran di Somerset, tapi kami belum berhasil menemukan raksasanya—sungguh malapetaka!”

“Malapetaka besar!” kata Perdana Menteri gusar.

“Saya tidak membantah bahwa kami semua terpukul di Kementrian,” kata Fudge. “dengan semua kejadian itu dan kemudian kehilangan Amelia Bones.”

“Kehilangan siapa?”

“Amelia Bones, kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Kami menduga Dia yang Namanya Tak bOleh disebut sendiri yang membunuhnya, karena Amelia penyihir yang sangat berbakat—dan semua bukti menunjukkan dia melawan dengan gigih.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.