Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Ron dan Hermione cekcok sepanjang perjalanan pulang ke Sihir Sakti Weasley. Di depan toko lelucon itu mereka terpaksa berhenti cekcok, agar bisa tanpa terdeteksi melewati Mrs Weasley yang wajahnya sangat cemas dan Hagrid, yang rupanya sudah menyadari mereka tak ada. Begitu sudah dalam toko, Harry menarik Jubah Gaib-nya, menyimpannya dalam tasnya, dan bergabung dengan dua sahabatnya ketika mereka bertahan, sebagai jawaban atas tuduhan Mrs Weasley, bahwa mereka selama itu berada di ruang belakang, dan bahwa Mrs Weasley mungkin kurang teliti mencari.

-oO0O0-

 

07. KLUB SLUG

Harry menghabiskan sebagian besar minggu terakhir liburannya merenungkan makna tingkah laku Malfoy di Knockturn Alley. Yang paling mengganggunya adalah ekspresi berpuas diri Malfoy ketika dia meninggalkan toko. Yang bisa membuat Malfoy tampak begitu senang pastilah bukan berita bagus. Harry sedikit kesal, karena baik Ron maupun Hermione tidak sepenasaran dia tentang kegiatan Malfoy, atau paling tidak, mereka tampaknya menjadi bosan membicarakannya setelah lewat beberapa hari.

“Ya, aku sudah setuju itu mencurigakan, Harry,” kata Hermione agak tak sabar. Dia sedang duduk di ambang jendela di kamar Fred dan George dengan kaki ditumpangkan di atas salah satu kotak dan hanya mengangkat muka satu kali dengan enggan dari buku barunya Terjemahan Rune Tingkat Lanjut. “Tapi bukankah kita sudah sepakat bisa banyak penjelasannya?”

“Barangkali Tangan Kemuliaan-nya patah,” kata Ron, sambil lalu, selagi dia berusaha meluruskan ranting-ranting sapunya yang bengkok. “Ingat tangan keriput milik Malfoy?”

“Tapi apa maksudnya waktu dia bilang ‘Jangan lupa menyimpan yang itu’?” tanya Harry untuk kesekian kalinya. “Bagiku kedengarannya Borgin punya satu lagi barang seperti yang rusak, dan Malfoy menginginkan dua-duanya.”

“Menurutmu begitu?” kata Ron, sekarang berusaha mengerik kotoran dari gagang sapunya.

“Yeah,” kata Harry. Ketika Ron maupun Hermione tidak menjawab, dia berkata, “Ayah Malfoy di Akzaban. Tidakkah kalian pikir dia ingin balas dendam?”

Ron mengangkat muka, mengerjap.

“Malfoy, balas dendam? Apa yang bisa dilakukannya?”

“Justru itu masalahnya, aku tak tahu!” kata Harry, frustrasi. “Tapi dia akan melakukan sesuatu dan kurasa kita harus menanggapinya dengan serius. Ayahnya Pelahap Maut dan …”

Harry mendadak berhenti, matanya terpaku pada jendela di belakang Hermione, mulutnya ternganga. Pikiran mengejutkan baru saja terlintas di benaknya.

“Harry?” kata Hermione dengan suara cemas. “Ada apa?”

“Bekas lukamu tidak sakit lagi, kan?” tanya Ron gugup.

“Dia Pelahap Maut,” kata Harry perlahan. “Dia menggantikan ayahnya sebagai Pelahap Maut!” Sekejap hening, lalu Ron meledak tertawa.

“Malfoy? Dia baru enam belas tahun, Harry! Kaupikir Kau-Tahu-Siapa akan mengizinkan Malfoy bergabung?” “Rasanya tidak mungkin, Harry,” kata Hermione, dengan suara tertahan. “Apa yang membuatmu berpikir?”

“Di Madam Malkin’s. Madam Malkin tidak menyentuhnya, tapi dia berteriak dan menjauhkan tangannya ketika Madam Malkin mau menggulung lengan jubahnya. Lengan kirinya. Dia sudah dicap dengan Tanda-Kegelapan.”

Ron dan Hermione saling pandang.

“Yah …” kata Ron, kedengarannya sama sekali tak yakin.

“Menurutku dia hanya ingin keluar dari sana, Harry,” kata Hermione.

“Dia menunjukkan sesuatu pada Borgin yang tak dapat kita lihat,” Harry berkeras. “Sesuatu yang benar-benar menakutkan Borgin. Tanda Kegelapan, aku tahu dia menunjukkan kepada Borgin dengan siapa dia berurusan, kalian lihat sendiri bagaimana seriusnya sikap Borgin terhadapnya!”

Ron dan Hermione kembali bertukar pandang. “Aku tak yakin, Harry …”

“Yeah, aku masih berpendapat Kau-Tahu-Siapa tak akan mengizinkan Malfoy bergabung …”

Kesal, namun yakin sepenuhnya dia benar, Harry menyambar setumpuk jubah Quidditch kotor dan meninggalkan ruangan. Mrs Weasley sudah berhari-hari mendesak mereka agar tidak menunda mencuci dan mengepak koper mereka sampai saat terakhir. Di bordes Harry berpapasan dengan Ginny yang akan ke kamarnya membawa setumpuk pakaian yang baru dicuci.

“Mendingan jangan ke dapur sekarang,” Ginny memperingatkannya. “Ada banyak Dahak.”

“Aku akan berhati-hati agar tidak terpeleset,” senyum Harry.

Ternyata benar, ketika dia masuk ke dapur, Fleur sedang duduk di atas meja dapur, seru membicarakan rencana pernikahannya dengan Bill, sementara Mrs Weasley mengawasi setumpuk taoge yang mengupas sendiri, wajahnya tampak berang.

“… Bill dan saya sudah hampir memutuskan dua pengiring saja, Ginny dan Gabrielle akan tampak sangat manis berdua. Saya pikir mereka bagus pakai emas pucat soalnya pink tidak cocok untuk rambut Ginny”

“Ah, Harry!” kata Mrs Weasley keras-keras, memotong monolog Fleur. “Bagus, aku mau menjelaskan soal pengaturan pengamanan untuk perjalanan ke Hogwarts besok pagi. Kita mendapat pinjaman mobil Kementerian lagi, dan akan ada Auror menunggu di stasiun”

“Apakah Tonks akan ada di sana?” tanya Harry mengulurkan seragam Quidditch-nya.

“Tidak, kurasa tidak, dia ditugaskan di tempat lain, kata Arthur.”

“Dia membiarkan dirinya berantakan, si Tonks,” kata Fleur merenung, mengamati bayangannya sendiri yang cantik di balik sendok teh. “Kesalahan besar, menurut sa-”

“Ya, terima kasih,” kata Mrs Weasley masam, menyela Fleur lagi. “Lebih baik kau mulai berkemas, Harry. Aku mau koper sudah siap malam ini, kalau mungkin, jadi kita tak usah ribut pada menit-menit terakhir.”

Ternyata keberangkatan mereka pagi berikutnya lebih lancar daripada biasanya. Ketika mobil Kementerian berhenti di depan The Burrow, mereka sudah siap menunggu, bersama koper-koper mereka, kucing Hermione, Crookshanks, sudah aman berada dalam keranjang perjalanannya, dan Hedwig, burung hantu Ron, Pigwidgeon, serta Pygmy Puff baru Ginny yang berwarna ungu, Arnold, dalam sangkar masing-masing.

“Au revoir, ‘Arry,” kata Fleur dengan suara serakserak basah, seraya memberinya kecupan selamat tinggal. Ron bergegas maju, wajahnya penuh harap, namun Ginny menyorongkan kakinya dan Ron terjatuh, terjerembap di tanah di kaki Fleur. Marah, wajahnya merah padam, dan berlumur debu, Ron bergegas masuk mobil tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Tak ada Hagrid yang ceria menunggu mereka di Stasiun King’s Cross. Alih-alih Hagrid, dua Auror berjenggot, berwajah suram, memakai setelan jas Muggle berwarna gelap, langsung maju menyongsong begitu mobil mereka berhenti dan, mengapit rombongan, mengawal mereka ke dalam stasiun tanpa bicara.

“Cepat, cepat, melewati palang rintangan,” kata Mrs Weasley, yang tampak agak bingung dengan adanya efisiensi yang keras ini. “Harry sebaiknya masuk dulu, dengan …”

Dia menoleh dengan tatapan bertanya kepada salah satu Auror, yang mengangguk singkat, menyambar lengan Harry dan berusaha membawanya ke arah palang di antara peron sembilan dan sepuluh.

“Aku bisa jalan, terima kasih,” kata Harry jengkel, menyentakkan lepas lengannya dari pegangan si Auror. Dia mendorong trolinya ke penghalang padat, mengabaikan pengawalnya yang tidak bersuara, dan sedetik kemudian sudah berada di peron sembilan tiga perempat, tempat Hogwarts Express yang berwarna merah menunggu, menyemburkan asap di atas kerumunan orang-orang.

Hermione dan keluarga Weasley menyusulnya beberapa detik kemudian. Tanpa menunggu berkonsultasi dengan Auror-nya yang berwajah-suram, dia memberi isyarat kepada Ron dan Hermione agar mengikutinya ke peron, mencari kompartemen kosong.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.