Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

George menyibak tirai di sebelah Sulap Muggle dan Harry melihat ruangan yang lebih gelap, lebih sedikit pengunjungnya. Kemasan barang-barang di ruangan ini lebih lembut.

“Kami baru saja mengembangkan rangkaian produk yang lebih serius,” kata Fred. “Lucu juga terjadinya …”

“Kau tak akan percaya betapa banyak orang, bahkan orang-orang yang bekerja di Kementerian, tidak bisa melakukan Mantra Pelindung,” kata George. “Tentu, mereka tak punya kau untuk mengajari mereka, Harry.”

“Betul … yah, kami pikir Topi Pelindung sedikit menggelikan. Kau tahu, tantang temanmu untuk memantraimu ketika kau memakai topi itu dan perhatikan wajahnya ketika mantra itu terpental. Tapi Kementerian memesan lima ratus untuk semua staf pendukungnya! Dan kami masih terus menerima order dalam jumlah sangat besar!”

“Jadi, kami kembangkan menjadi Jubah Pelindung, Sarung Tangan Pelindung …”

“… memang sih, semua itu tidak akan banyak membantu untuk melawan Kutukan Tak Termaafkan, tapi untuk kutukan atau mantra ringan sampai menengah …”

“Dan kemudian kami berpikir untuk masuk ke seluruh area Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, karena bidang itu menghasilkan uang banyak sekali,” George melanjutkan dengan antusias. “Ini cool. Lihat, Bubuk Kegelapan Instan, kami mengimpornya dari Peru. Ini praktis jika kau ingin kabur secara cepat.”

“Dan Detonator Jebakan kami baru saja meninggalkan rak, lihat,” kata Fred, menunjuk sejumlah benda semacam peluit hitam berbentuk aneh yang memang berusaha kabur terburu-buru. “Kau tinggal menjatuhkan satu dengan diam-diam dan dia akan kabur dan mengeluarkan bunyi keras di tempat tak terlihat, memberimu pengalih perhatian jika kau memerlukannya.”

“Berguna,” kata Harry, terkesan.

“Nih,” kata George, menangkap dua dan melemparkannya kepada Harry.

Seorang penyihir perempuan muda dengan rambut pirang pendek menongolkan kepala dari balik tirai.

Harry melihat dia juga memakai jubah seragam staf yang berwarna ungu kemerahan.

“Ada pembeli di luar yang mencari kuali lelucon, Mr Weasley dan Mr Weasley,” katanya.

Aneh sekali kedengarannya bagi Harry mendengar Fred dan George dipanggil Mr Weasley, namun mereka menerimanya dengan tenang.

“Baik, Verity, aku akan keluar,” kata George segera. “Harry, ambil apa saja yang kau mau, oke? Gratis.”

“Tak bisa begitu!” kata Harry, yang sudah mengeluarkan kantong uangnya untuk membayar Detonator-Jebakan.

“Kau tidak bayar di sini,” kata Fred tegas, menolak emas Harry.

“Tapi …”

“Kau yang memodali kami membuka usaha ini, kami tidak lupa itu,” kata George sungguh-sungguh. “Ambil apa saja yang kau suka, dan hanya ingat beritahu orang-orang dari mana kau mendapatkannya, kalau mereka tanya.”

George berjalan melewati tirai untuk membantu melayani para pembeli dan Fred membawa Harry kembali ke ruang utama toko. Ternyata Hermione dan Ginny masih mengagumi Mantra Lamunan Paten.

“Kalian belum menemukan produk Wonder Witch istimewa kami?” tanya Fred. “Ikut aku, ladies …”

Dekat jendela berjajar barang-barang berwarna pink cerah, dikerumuni serombongan gadis yang cekikikan bersemangat. Hermione dan Ginny berhenti, keduanya tampak waspada.

“Itu dia,” kata Fred bangga. “Rangkaian ramuan cinta paling hebat yang bisa ditemukan di mana pun.”

Ginny mengangkat sebelah alis, sangsi. “Apakah ramuan itu bisa dipakai?”

“Tentu saja, sampai dua puluh empat jam sekali pakai, tergantung pada berat tubuh cowok yang diincar …”

“… dan daya tarik si cewek,” kata George, tiba-tiba muncul lagi di sebelah mereka. “Tapi kami tidak menjual ramuan itu kepada adik kami,” dia menambahkan, mendadak jadi tegas, “tidak kalau dia sudah punya lima cowok seperti yang kami …”

“Apa pun yang kahan dengar dari Ron adalah bohong besar,” kata Ginny kalem, mencondongkan diri ke depan untuk mengambil cepuk kecil merah jambu dari rak. “Apa ini?”

“Penghilang Jerawat dalam Sepuluh-Detik Dijamin,” kata Fred. “Manjur sekali untuk segala macam dari bisul sampai komedo, tapi jangan mengganti topik. Ya atau tidakkah kau sedang pacaran dengan cowok bernama Dean Thomas?”

“Ya,” kata Ginny. “Dan terakhir kali aku melihatnya dia jelas cuma satu cowok, bukan lima. Apa itu?”

Dia menunjuk beberapa bola bulu bundar dalam nuansa warna merah jambu dan ungu, semuanya berguling-guling di dasar sebuah sangkar dan mengeluarkan cicit nyaring.

“Pygmy Puff,” kata George. “Puffskzein mini, laris sekali. Jadi, bagaimana dengan Michael Corner?”

“Sudah kuputus, orangnya tidak bisa menerima kekalahan,” kata Ginny, menjulurkan jarinya lewat jeruji sangkar dan memandang para Pygmy Puff mengerumuninya. “Mereka imut sekali!”

“Mereka menyenangkan untuk dipeluk-peluk, ya memang, Fred menyimpulkan. “Tapi tidakkah kau berganti cowok agak terlalu cepat?”

Ginny berbalik untuk memandangnya, tangannya di pinggul. Kemarahan di wajahnya mirip sekali Mrs Weasley sehingga Harry heran Fred tidak mundur ketakutan.

“Itu bukan urusanmu. Dan aku akan berterima kasih kepadamu,” dia menambahkan dengan marah kepada Ron, yang baru saja muncul di sebelah George, membawa setumpuk barang, “kalau tidak menyampaikan cerita bohong tentangku kepada mereka berdua!”

“Semuanya tiga Galleon, sembilan Sickle, dan satu Knut,” kata Fred, memeriksa tumpukan dos di tangan Ron. “Bayar.”

“Aku kan adik kalian!”

“Dan yang kauambil itu barang-barang kami. Tiga Galleon, sembilan Sickle. Kuberi potongan satu Knut.”

“Tapi aku tak punya tiga Galleon, sembilan Sickle!”

“Kalau begitu lebih baik kaukembalikan semuanya, dan kembalikan ke raknya yang benar.”

Ron menjatuhkan beberapa kotak, mengumpat, dan membuat gerakan kurang ajar dengan tangannya kepada Fred yang celakanya dilihat oleh Mrs Weasley, yang memilih saat itu untuk muncul.

“Kalau kulihat kau melakukan itu lagi, kumantrai jari-jarimu supaya menempel,” katanya tajam.

“Mum, bolehkah aku punya Pygmy Puff?” kata Ginny segera.

“Punya apa?” tanya Mrs Weasley waspada.

“Lihat, mereka manis sekali …”

Mrs Weasley bergerak ke samping untuk melihat Pygmy Puff, dan Harry, Ron, dan Hermione selama beberapa saat bisa memandang ke luar jendela tanpa terhalang. Draco Malfoy berjalan bergegas sendirian. Ketika melewati Sihir Sakti Weasley, dia menoleh. Beberapa detik kemudian dia sudah bergerak di luar jangkauan jendela dan mereka kehilangan dia.

“Di mana ibunya?” kata Harry, mengernyit.

“Menyelinap kabur dari ibunya, kelihatannya,” kata Ron.

“Tapi kenapa?” kata Hermione.

Harry tidak berkata apa-apa. Dia berpikir terlalu keras. Narcissa Malfoy tidak akan melepaskan anaknya yang berharga dari pengamatannya dengan suka rela. Malfoy pastilah berusaha keras melepaskan diri dari cengkeramannya. Harry, mengenal dan membenci Malfoy, yakin alasannya tak mungkin tidak mencurigakan.

Harry memandang ke sekitarnya. Mrs Weasley dan Ginny sedang membungkuk menonton Pygmy Puff. Mr Weasley dengan gembira sedang memeriksa satu pak kartu permainan Muggle. Fred dan George sedang melayani pembeli. Di balik kaca, Hagrid berdiri membelakangi mereka, mengawasi jalanan.

“Masuk ke bawah sini, cepat,” kata Harry, menarik keluar Jubah Gaib dari tasnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.