Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Harry mengangkat tongkat sihirnya lebih tinggi.

“Harry, jangan!” erang Hermione, menyambar lengan Harry dan berusaha menurunkannya. “Pikir …, kau tak boleh … kau akan dalam kesulitan besar …”

Madam Malkin menggigil sebentar di tempatnya, kemudian tampaknya memutuskan untuk bersikap seakan tak ada yang sedang terjadi dengan harapan bahwa memang tak akan terjadi apa-apa. Dia membungkuk ke arah Malfoy, yang masih mendelik kepada Harry.

“Kurasa lengan ini perlu dinaikkan sedikit, Nak, coba ku-”

“Ouch!” teriak Malfoy, menampar tangan Madam Malkin untuk menyingkirkannya. “Lihat-lihat kalau pasang jarum! Ibu-kurasa aku tak mau lagi jubah ini”

Dilepasnya jubah lewat atas kepalanya dan dilemparnya ke lantai di kaki Madam Malkin.

“Kau betul, Draco,” kata Narcissa, mengerling menghina ke arah Hermione, “sekarang setelah aku tahu sampah macam apa yang berbelanja di sini … lebih baik kita belanja di Twilfitt and Tatting’s.”

Berkata begitu, mereka berdua meninggalkan toko.

Malfoy sengaja menabrak Ron keras-keras dalam perjalanan keluar.

“Astagai” kata Madam Malkin, memungut jubah yang jatuh dan menggerakkan ujung tongkat sihirnya di atasnya seperti alat pengisap debu, untuk membersihkan debunya.

Madam Malkin tampak bingung ketika membantu Ron dan Harry mengepas jubah baru mereka, dan memberikan jubah resmi penyihir pria kepada Hermione, dan ketika akhirnya mengantar mereka keluar toko, kelihatannya dia senang sekali mereka pergi.

“Dapat semuanya?” tanya Hagrid cerah ketika mereka muncul lagi di sisinya.

“Kira-kira begitu,” kata Harry. “Apakah kau melihat Draco dan ibunya?”

“Yeah,” kata Hagrid, tidak peduli. “Mereka tak akan berani bikin masalah di Diagon Alley, Harry, jangan kuatirkan mereka.”

Harry, Ron, dan Hermione bertukar pandang, namun sebelum mereka bisa membebaskan Hagrid dari dugaan menenangkan ini, Mr dan Mrs Weasley, dan Ginny muncul, ketiganya memegang bungkusan buku yang berat.

“Semua baik-baik saja?” kata Mrs Weasley. “Sudah dapat jubah kalian? Baik, kalau begitu, kita bisa mampir ke toko obat dan Eeylops dalam perjalanan ke toko Fredw dan George jangan sampai berjauhan …”

Harry dan Ron tidak membeli apa-apa di toko obat, mengingat keduanya tak lagi mempelajari Ramuan, namun keduanya membeli kotak besar kacang burung hantu untuk Hedwig dan Pigwidgeon di Eeylops Owl Emporium. Kemudian, dengan Mrs Weasley melihat jam setiap menit, mereka berjalan terus mencari Weasleys’ Wizard Wheezes-Sihir Sakti Weasley, toko lelucon yang dikelola Fred dan George.

“Kita tak punya waktu lama,” kata Mrs Weasley.

“Jadi, kita melihat-lihat sebentar dan kemudian kembali ke mobil. Mestinya sudah dekat, itu nomor sembilan puluh dua … sembilan-empat …”

“Whoa,” kata Ron, berhenti mendadak.

Di antara toko-toko suram yang ditempeli poster, etalase Fred dan George mencolok mata seperti peragaan kembang api. Orang-orang yang lewat menoleh memandang kembali etalase itu, dan beberapa orang yang tampak tercengang malah berhenti, terpana. Eta- – lase sebelah kiri menyilaukan, penuh benda-benda yang berputar, mencuat, mengeluarkan cahaya, melompat, dan menjerit. Mata Harry mulai berair hanya memandang benda-benda itu. Etalase sebelah kanan tertutup poster besar, ungu seperti poster Kementerian, tetapi dihiasi huruf-huruf kuning yang menyala:

Kenapa Kau Mencemaskan

You-Know-Who?

Kau Seharusnya Mencemaskan

U-No-Poo-

Sensasi Konstipasi yang Melanda Seluruh Negeri!

Harry mulai tertawa. You-Know-Who (dibaca yu-knohu) adalah Kau-Tahu-Siapa, sedangkan U-NO-POO (di baca yu-kno-pu) berarti Kau-Tak Bisa-Berak. Harry mendengar seperti rintihan lemah di sebelahnya dan menoleh melihat Mrs Weasley memandang takjub poster itu. Bibirnya bergerak, tanpa suara membaca nama,

“U-no-Poo.”

“Mereka akan dibunuh di tempat tidur mereka!” bisiknya.

“Tidak!” kata Ron, yang tertawa seperti Harry. “Ini brilian!”

Dan dia bersama Harry masuk lebih dulu ke dalam toko. Pembeli penuh sesak. Harry tak bisa mendekati rak-rak. Dia memandang berkeliling, memandang kotak yang bertumpuk sampai ke langit-langit. Isinya Kudapan Kabur yang disempurnakan si kembar pada tahun terakhir mereka yang tak terselesaikan di Hogwarts. Harry melihat bahwa Nogat Mimisan-lah yang paling populer, hanya tersisa satu kotak lusuh di rak. Kemudian ada berwadah-wadah tongkat sihir tipuan, yang paling murah hanya berubah menjadi ayam-ayaman karet atau celana kalau dilambaikan; yang paling mahal memukuli si pengguna yang tak waspada di kepala dan lehernya; berkotak-kotak penabulu berbagai jenis, Mengisi-Tinta-Sendiri, Mengoreksi Ejaan, dan Jawaban-Cerdas. Ada celah di antara kerumunan dan Harry menyeruak menuju konter, tempat sekerumun anak-anak berusia sepuluh tahunan menonton boneka kayu pria kecil menuruni tangga menuju tiang gantungan, dua-duanya bertengger di atas kotak yang bertulisan: ALGOJo BERAKSI BERKALI-KALI MANTRAI, KALAU TIDAK DIA MENINJUMU!

“Mantra Lamunan Paten …”

Hermione berhasil menyeruak ke display besar dekat konter dan sedang membaca keterangan di balik kotak yang menampilkan gambar warna-warni pemuda tampan dan gadis gemulai yang berdiri di atas geladak kapal perompak.

“Dengan satu mantra sederhana kau akan memasuki lamunan berkualitas-top, sangat realistis, selama tiga puluh menit, mudah diselipkan dalam pelajaran sekolah apa saja, dan secara virtual tidak terdeteksi (efek samping termasuk pandangan hampa dan sedikit mengiler). Tidak dijual bagi yang berusia di bawah enam belas tahun. Kau tahu,” kata Hermione, mendongak menatap Harry, “ini betul-betul sihir luar biasa!”

“Untuk itu, Hermione,” kata suara di belakang mereka, “kau boleh ambil satu gratis.”

Fred berdiri di hadapan mereka dengan wajah berseri-seri, memakai jubah ungu kemerahan yang kontras sekali dengan rambutnya yang merah manyala.

“Apa kabar, Harry?” Mereka berjabat tangan. “Dan kenapa matamu, Hermione?”

“Teleskop-tinju kalian,” jawabnya muram.

“Oh, ya ampun, aku lupa itu,” kata Fred. “Ini”

Dia mengeluarkan wadah kecil dari dalam sakunya dan memberikannya kepada Hermione. Hermione membuka tutupnya dengan sangat hati-hati. Isinya salep kuning pekat.

“Oleskan saja, lebamnya akan hilang dalam waktu satu jam,” kata Fred. “Kami harus menemukan obat-penghilang-lebam yang manjur, soalnya kami mengetes sebagian besar produk pada kami sendiri.”

Hermione tampak gugup. “Ini aman, kan?”

“Tentu saja,” kata Fred menenangkannya. “Ayo, Harry, kuantar kau berkeliling.”

Harry meninggalkan Hermione yang sedang mengolesi sekitar matanya dengan salep dan mengikuti Fred ke bagian belakang toko, tempat dia melihat satu rak kartu dan tali.

“Sulap Muggle!” kata Fred riang, menunjuk barang-barang itu. “Untuk orang-orang aneh seperti Dad, kau tahu, yang menyukai barang-barang Muggle. Pemasukan dari sini tidak banyak sih, tapi cukup oke … ini barang-barang baru … oh, ini dia George …”

Kembaran Fred menjabat tangan Harry penuh semangat.

“Mengantar dia keliling? Ayo ke belakang, Harry, di situlah penghasil uang yang sebetulnya tilap apa saja, dan kau akan membayar lebih dari sekadar Galleon!” dia menambahkan dengan nada memperingatkan kepada seorang anak laki-laki kecil yang buru-buru menarik tangannya dari cepuk bertulisan: KuDAPAN TANDA KEGELAPAN YANG MAKAN DIJAMIN SAKIT!

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.